APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SUAMIKU SEORANG PENDUSTA.

SUAMIKU SEORANG PENDUSTA.

Kinanti Hans, sang pewaris tunggal konglomerat, terpaksa menikahi Bramasta demi menyelamatkan aset ayahnya. Namun, cinta tulus yang ia yakini selama dua belas tahun hanyalah tipu muslihat. Bram ternyata berkhianat dengan menikahi Neni, sahabat Kinanti sekaligus mantan kekasihnya. Demi menguasai harta, mereka bersekongkol menghabisi nyawa anak dan ibu Kinanti secara licik. Kini, Kinanti menjadi target terakhir dalam rencana keji suaminya yang penuh dusta itu.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Siapa lagi yang mau pesan? Ini ada berlian murah, model terbaru!" suara Rita sebagai bendahara dalam arisan grup Rumpis dengan membuka kotak perhiasan berwarna merah beludru sebesar kotak kue. Ia memperlihatkan sebuah kalung bermata berlian.

Aku duduk diam, di sudut ruangan rumah Nora sebagai ketua arisan Rumpis. Aku hanya memandang teman-teman arisan yang berusaha mencoba perhiasan secara bergantian.

"Halo Jeng Neni, pengantin baru nggak ingin membeli perhiasan terbaru?" tanya Rita tersenyum memandang Neni.

Neni yang merasa terpanggil tersenyum segera mengarahkan pandangannya ke arah Rita. "Maaf Bu Rita, suami saya sudah membelikan hadiah," ucapnya dengan sopan dan melontarkan senyum khas.

Aku tersentak saat mendengar percakapan antara Rita dan Neni. Hatiku bertanya-tanya hingga berpikiran menanyakan pada Ratih yang duduk di sebelahku.

"Lho Bu, apa Mbak Neni menikah? Kapan? Kok saya nggak diundang?"

Ratih mengernyit kan dahinya menatapku dengan gugup.

"Ooo iya Jeng, tapi memang Jeng Neni tidak menyebar undangan, ia nikah diam- diam. Hanya ibu-ibu yang mengetahui saja yang datang."

Aku bingung, seribu pertanyaan singgah dalam pikiranku. Dengan tak taunya aku dalam pernikahan Neni yang merupakan teman dekatku.

Serta tak ada pemberitahuan ataupun undangan padaku.

Padahal ibu- ibu arisan tau, akulah orang yang paling dekat dengan Neni dibanding ibu- ibu arisan lainnya.

Apalagi setiap kali ada teman yang ingin mengadakan acara, pasti diposting di dalam grub whatsapp.

Mereka dengan antusias merundingkan pakaian apa yang harus mereka kenakan nanti? Warna yang sama atau tidak? Di mana harus berkumpul? Tapi kenapa di grub juga sepi tanpa ada pemberitaan.

Nita juga begitu, padahal berangkat dan pulang arisan selalu bersama naik mobilku. Tapi Nita tidak mengatakan apa-apa kepadaku.

Rasa penasaranku muncul.  Aku segera berdiri, melangkah mendekati tempat duduk Neni.

Kebetulan di samping Neni ada kursi kosong.

"Ya Allah Mbak, aku nggak tau kalau Mbak Neni menikah. Kapan Mbak? Aku kok nggak di undang?"

Kuhempaskan tubuhku di atas kursi dan kugeser kursinya agak mendekat pada Neni.

Neni tampak gugup, ia berusaha tersenyum membalas pertanyaanku.

"Tidak apa-apa Mbak? Acaranya sederhana kok. Sebenarnya saya nggak mengundang siapa-siapa Mbak? Ibu-ibunya saja yang tiba-tiba datang!" ucap Neni yang usianya lebih muda dari usiaku. Dan masih dikaruniai anak satu perempuan yang baru berumur dua tahun. Ia menjanda satu tahun yang lalu sebab suaminya meninggal mendadak.

Aku pun berkali-kali mengucapkan maaf. Dan hari ini juga aku berencana hendak ke rumahnya sekedar ingin menebus kesalahan dengan tidak hadirnya dalam pernikahan Neni.

Namun Neni menolaknya secara halus dengan alasan ia hendak pergi bulan madu ke Bali.

Akupun menyadari hal itu. Yang menjadi ganjalan hatiku. Neni begitu baik sama aku.

Bahkan waktu aku punya hajatan khitanan Jenar anakku, ia merelakan utuk bermalam di rumahku selama dua hari untuk membantuku menyiapkan acara itu hingga selesai.

Akupun  sering berbagi kebahagiaan menceritakan Mas Bram yang sangat memperhatikan aku. Dan Neni juga menyanjung kesetiaan Mas Bram.

Pikiranku tetap tak enak. Hingga perjalan pulang otakku terus berpikir soal tidak taunya aku tentang pernikahan Neni.

Nita yang duduk di sampingku saat di dalam mobilku, aku cerca dengan berbagai pertanyaan.

"Bu Nita, kenapa Mbak Neni menikah gak memberitahuku? Padahal Mbak Neni itu sudah kuanggap seperti saudara sendiri."

Nita menjawabnya dengan enteng.

"Ya kapan- kapan Jeng Kinan bisa datang sendiri ke rumah Jeng Neni. Waktu masih panjang, gak usah terlalu dipikirkan."

Aku mangut- manggut membenarkan ucapan Nita.

Tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri, dalam benakku merasakan kekecewaan yang mendalam. Dan bertanya- tanya tak diundangnya aku dalam acara penting.

Padahal dua hari yang lalu Neni sempat chatingan sama aku. Tapi tak sedikitpun Neni menyinggung soal pernikahan. Bahkan Neni tak pernah menceritakan calon suaminya. Neni cenderung tertutup walau aku sama Neni sering ngobrol. Malahan aku sering mengajaknya ke restoran makan bersama dengan Mas Bram dan belanja bareng.

Neni sudah seperti adikku sendiri sebab aku merasa tak punya saudara.

Timbul rasa penasaranku dan ingin tau siapa suami Neni. Sebab selama ini Neni tak pernah membicarakan soal calon suaminya.

"Suaminya Mbak Neni itu orang mana sih Bu, aku kok gak pernah dengar dia punya calon suami? Dia juga gak pernah cerita sama saya?"

Nita yang hadir waktu acara pernikahan Neni dengan antusias menceritakan

kalau suami Neni itu pengusaha muda yang sukses, orang terpandang. Duda tanpa anak walau usianya terpaut delapan tahun lebih tua dibanding usia Neni.

"Tapi waktu ibu- ibu kesana, tidak bertemu suaminya. Suaminya kebetulan barusan keluar ada kepentingan keluarga," jelas Nita.

Mendengar cerita dari Nita aku ikut merasa bahagia, bagaimanapun juga Neni aku anggap adikku.

Aku tak mempunyai sedikitpun rasa kesal walau dalam pernikahannya aku tak diberitahu. Aku hanya bisa berpikir, Neni memang sengaja tak menyebar undangan atau memberitahu siapapun sesuai perkataannya tadi.

"Ya, mungkin itu sudah jodohnya Mbak Neni. Aku juga turut senang Bu Nita?" ucapku dengan fokus mengendarai mobil.

"Tapi dengar-dengar anak jeng Neni itu juga anak hasil dari suami yang sekarang lho, Jeng. Jadi sebelum suaminya meninggal Jeng Neni itu sudah selingkuh duluan!"

"Ooh ya, benarkah itu Bu?" ucapku agak terkejut dan hampir tak percaya,

Hingga sampai di rumah kata-kata Nita masih terngiang di telingaku.

Cepat-cepat aku turun dari mobilku setelah kunci mobil aku serahkan Dodi satpam rumahku untuk memasukkan ke garasi mobil. Itu sudah menjadi kebiasaan Dodi.

Langkah kakiku kupercepat masuk rumah, untuk menemui suamiku dan menceritakan tentang Neni.

Aku tarik gagang pintu kamarku. Aku tau kalau suamiku sudah pulang sebab pertama aku masuk halaman rumah kulihat mobil suamiku sudah bertengger di halaman.

"Lho sudah pulang, Sayang?" Tanya Bramasta suamiku yang mana aku memanggilnya mas Bram.

Aku bengong saat melihat suamiku memasukkan pakaian ke dalam koper. Belum juga aku menjawab pertanyaannya. Berbagai pertanyaan aku lontarkan pada Mas Bram.

"Mas mau kemana? Kenapa bawa pakaian banyak? Dan kenapa tidak memberitahu aku sebelumnya kalau Mas hendak ke luar kota?"

Mas Bram tersenyum mendekati aku. Sebuah kecupan hinggap di keningku.

"Aku harus ke Singapura Sayang? Ada acara mendadak, tentang perusahaan kita. Jadi aku tak sempat memberitahu kamu?"

"Kenapa mendadak Mas? Bukankah kemarin hampir seminggu Mas Bram sudah pergi ke Surabaya? Kok bukan asistennya saja yang berangkat!" protesku dengan menghempaskan tubuhku ke pinggiran ranjang, kutunjukkan rasa kesalku di depan Mas Bram.

"Nggak lama Say, cuma satu minggu. Kamu pesan apa?" rayu Mas Bram lembut, tangannya mengusap- usap rambutku.

Aku hanya menggelengkan kepala. Aku percaya penuh kalau Mas Bram laki-laki setia. Ia juga perhatian sama Jenar putra satu-satunya. Apalagi apapun yang aku minta Mas Bram selalu menurutinya.

"Mas, Mbak Neni menikah. Tapi kenapa gak memberitahu kita?" tanyaku memandang Mas Bram yang melangkah hendak ke kamar mandi dengan meraih handuk.

Mas Bram tampak kaget. Ia memandangku. "Mbak Neni teman arisan kamu? Yang sering kamu ajak jalan- jalan itu?"

"Iya?" jawabku singkat.

Mas Bram hanya manggut- manggut tampak cuek. Ia melangkah masuk ke kamar mandi, tanpa merespon ucapanku.

Pikiranku masih terbawa tentang Neni yang tidak mengundangku dalam pernikahan. Dalam hatiku sangat kecewa.

Seribu pertanyaan terus bergelayut dalam otakku dengan meraba- raba mungkin aku ada salah dengan Neni. Namun pikiranku tak menemukan titik temu.

Tiba-tiba terdengar dentingan ponsel chat masuk dari ponsel suamiku yang tergeletak di meja.

Aku malas untuk merespon, paling dari teman bisnisnya. Toh aku jarang membuka ponsel Mas Bram. Menurutku itu sebuah privasi. Apalagi aku percaya penuh siapa Mas Bram, tak mungkin Mas Bram berbuat aneh- aneh.

Namun tiba-tiba pikiranku berubah, rasa ingin tau dan penasaran untuk mengetahui siapa yang chat suamiku. Apalagi dengan keberangkatannya ke Singapura.

Aku berdiri, kuraih ponsel mas Bram dan kubuka layar berwarna biru. Beruntung aku mengetahui kunci ponsel mas Bram hingga dengan mudah aku membuka ponsel mas Bram.

"Andre?" gumamku, saat melihat nama yang tertera dalam ponsel itu. Aku mengenal Andre orang kepercayaan Mas Bram.

Aku hendak meletakkan kembali ponsel Mas Bram. Sebab selama menikah aku tak pernah membuka isi ponsel Mas Bram.

Namun baru saja ponsel hendak aku letakkan, sepintas aku melihat fto profil yang tertera pada nomor ponsel Andre. Seorang wanita menggendong

anaknya yang masih kecil.

Aku berpikir seperti nya aku pernah tau profil ini. Rasa penasaran untuk membuka profil itu kembali menguak.

Profil aku buka dan aku zoom hingga tampak jelas siapa pemilik nomor yang bernama Andre.

Mataku terbelalak. Jantungku berdetak kencang saat melihat

fto seorang wanita menggendong anak perempuan imut, lucu, cantik.

Fto itu tak asing buatku sebab aku juga mempunyai nomor whatsapp nya.

Bersambung.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO Bucin
9.2
Amanda, gadis panti asuhan yang sederhana, tak menyangka akan terikat pernikahan dengan CEO tampan bernama Antonio. Bukannya bahagia, Amanda justru menderita karena sikap dingin sang suami dalam rumah tangga tanpa cinta itu. Saat Amanda hampir menyerah akibat luka hati yang mendalam, Antonio justru menyadari bahwa kehadiran istrinya telah mengubahnya menjadi pria yang lebih baik. Ia pun berbalik mengejar cinta Amanda. Akankah Amanda memberi kesempatan kedua?
Sampul Novel Dendam Seorang Adik
8.6
Duka mendalam Amara atas kematian tragis kakaknya, Danisa, berubah menjadi ambisi balas dendam yang membara. Ia bertekad menghancurkan keluarga Pramudya yang telah mengkhianati Danisa hingga sang kakak mengakhiri hidupnya. Dengan pesonanya, Amara menyusup dan mulai menjerat mantan suami, mertua, serta ipar Danisa dalam rencana penghancuran reputasi dan harta mereka. Namun, mampukah ia tetap dingin saat perasaan tak terduga mulai mengancam misi utamanya?
Sampul Novel Diawali Dengan Penceraian
8.2
Setelah diusir dari Keluarga Wilton, Gerald harus menjalani hidup penuh kemiskinan selama lima belas tahun. Nasibnya kian terpuruk saat ia dicap sebagai menantu tidak berguna dan diceraikan oleh Clarisa setelah dua tahun mereka membina rumah tangga. Namun, siapa sangka bahwa perpisahan pahit tersebut justru menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Inilah awal dari babak baru perjalanan Gerald yang penuh kejutan setelah statusnya sebagai suami berakhir.
Sampul Novel Gadis buta Milik CEO
8.8
Dunia Laras mendadak gelap setelah insiden tragis merenggut penglihatannya. Mantan mahasiswi ceria ini kini hidup menderita akibat perundungan penggemar fanatik Damar, CEO yang dulu ia cintai. Damar sempat menjauh demi kebaikan Laras, namun keputusannya justru berujung kehancuran bagi sang gadis. Kini, Damar kembali dengan penyesalan mendalam. Ia bertekad menebus kesalahan masa lalu dan berharap Laras mampu melihat ketulusan hatinya di balik kegelapan abadi.
Sampul Novel JANDA YANG TERNODA
9.4
Tigran, sang pewaris takhta Mayori Group yang mendominasi pasar pangan Asia, terpikat pada Naomi, seorang ibu tunggal dengan satu putri bernama Kayla. Meski cinta mereka kuat, orang tua Tigran menentang keras hubungan ini demi menjaga reputasi keluarga dari skandal publik. Pantang menyerah, Tigran nekat menikahi Naomi tanpa restu. Melalui perjuangan panjang yang menguras emosi, mereka akhirnya mendapat pengakuan keluarga dan resmi membangun hidup baru yang bahagia.
Sampul Novel Jangan Jatuh Cinta, Ini Hanya Kontrak
7.9
Demi menyembunyikan kelemahan pribadinya, Arga Satria Wicaksana memutuskan untuk mencari seorang istri sewaan. Tak disangka, keputusan kontrak tersebut membawa perubahan drastis dalam hidupnya. Penyakit kronis yang telah membelenggu Arga selama bertahun-tahun secara ajaib mulai membaik berkat kehadiran wanita yang ia bayar tersebut. Hubungan formal ini pun menjadi kunci kesembuhan yang selama ini mustahil ia dapatkan dari pengobatan mana pun.