APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suara Bayi di Ponsel Suamiku

Suara Bayi di Ponsel Suamiku

Kehidupan rumah tangga Suci mulai terusik sejak ia mendengar suara tangisan bayi yang misterius saat sedang menelepon suaminya. Meski awalnya mencoba untuk tetap berpikir positif dan menepis segala kecurigaan, Suci justru mulai menemukan berbagai kejanggalan lain yang semakin memperkuat keraguannya. Satu per satu rahasia yang tersembunyi mulai terkuak, membawanya pada kenyataan pahit yang tak terduga di balik sikap tenang sang suami selama ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Aku masih menatap layar ponsel yang terus berkedip. Kuberanikan diri untuk meraihnya.

"Halo," ucapku menjawab panggilan.

Namun, tak ada suara yang menjawab di seberang sana.

"Halo, dengan siapa ini?" tanyaku dengan suara yang lebih keras.

Tetap tak ada jawaban. Tapi detik berikutnya aku dikagetkan dengan suara tangis bayi di seberang sana.

Tut!

Sambungan telepon terputus. Lawan bicaraku memutuskan panggilan tanpa bersuara.

"Kenapa?" tanya Mas Haris.

Ia terbangun dari tidurnya dan tak kusadari itu. Cepat aku menggeleng dan menyimpan ponsel di nakas.

"Tadi ada telepon, Mas. Dari Mami Zyan. Tapi waktu aku angkat malah mati," jawabku.

Dahi Mas Haris berkerut. Diraihnya ponsel kemudian ia terlihat mengusap layarnya dengan gusar.

"Lain kali gak usah diangkat," ucapnya ketus sambil menyimpan kembali ponsel itu.

"Memang siapa Mami Zyan, Mas. Kok telpon malem-malem?" tanyaku penasaran.

"Oh, langganan yang suka ngerental mobil. Udah tidur lagi," ucapnya seraya merebahkan diri di ranjang.

Jujur saja aku masih belum puas dengan jawabannya. Semalaman mataku tak bisa terpejam. Aku memikirkan esok hari. Bagaimana agar Mas Haris tak jadi menggadaikan SK ku tapi ia juga tak marah padaku.

***

"Gimana? Sudah ada keputusan?" tanya Mas Haris seraya menarik kursi meja makan dan duduk di sana.

Aku yang sedang mengaduk nasi goreng untuk sarapan kami, berhenti sejenak kemudian menatapnya.

"Kalau mobil yang lama gak bisa dibetulkan lagi, Mas?" tanyaku.

"Lho, muter lagi. Kan sudah kubilang mobil itu sudah sering mogok."

"Aku takut gak bisa bayar kalau nominalnya segitu, Mas."

"Oh, ya, sudah. Sertifikat rumah saja mana?" ketusnya.

"Mas, kalau sertifikat rumah digadaikan untuk beli mobil, rugi jatuhnya. Mending kalau bisa bayar, kalau gak," aku mejelaskan dengan selembut mungkin.

Brak! Tak kusangka Mas Haris akan menggebrak meja karena ucapanku.

"Kamu kok perhitungan banget ya jadi orang!" bentak Mas Haris.

"Gak sebanding, Mas. Kenapa, sih gak diam di rumah aja? Toh aku juga gak masalah Mas Haris gak kerja. Sudah cukup dari uang pesangon kita gak dapat apa-apa. Aku cuma ingin masa tua kita tenang gak punya hutang," cecarku.

Wajah Mas Haris memerah. Aku yakin amarahnya sudah di ubun-ubun. Biar sajalah.

"Kalau tahu begini, malas aku dulu menguliahkanmu!" ucapnya ketus. Ia beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan ke depan. Terdengar dari pintu depan yang dibuka dan ditutup kasar, aku yakin ia ke luar.

Tak lama kemudian, terdengar mesin mobil menyala. Entah ke mana ia akan pergi. Aku tak peduli, selama setahun ini aku sudah biasa hidup tanpanya. Awalnya aku memang sangat percaya padanya, mengingat bagaimana ia memperlakukan aku sebagai seorang istri selama ini. Namun, belakangan sikapnya semakin aneh. Aku seperti gak mengenalinya. Baru kali ini kami ribut soal harta sampai begini. Biasanya aku yang akan mengalah menuruti kemauannya.

Namun, sudah cukup. Mulai saat ini, aku harus waspada. Bukan aku tak mau membalas jasanya padaku dahulu. Tetapi alasan yang ia buat terlalu mengada-ada. Aku memang sangat mencintainya. Sungguh tak terpikirkan olehku jika harus berpisah dengannya. 99% hatiku penuh oleh rasa cinta padanya.

Namun, rasa tidak percayaku yang tersisa satu persen memberikan sinyal agar kali ini aku waspada. Biarlah jika perpisahan yang harus terjadi. Hanya satu yang aku syukuri saat ini, anak-anak tak ada di rumah ketika orang tua mereka bertikai. Kedua bujangku merantau di Ibukota sedangkan si bungsu saat ini sedang berlibur di rumah tantenya.

Aku bergegas ke kamar. Merapihkan semua sertifikat berharga yang aku punya.

SK PNS dari awal pengangkatan sampai terakhir, golongan IV/b. Sertifikat sertifikasi guru. Buku tabungan. Semuanya aku masukan dalam satu tas. Aku akan mengamankan ini.

Aku takut, Mas Haris akan nekat dan memaksaku untuk menggadaikan semua itu.

Setelah semuanya beres. Aku pergi ke rumah orang tuaku. Tak ada tempat kembali paling nyaman selain orang tua. Sedih rasanya jika harus mengabarkan perpisahan pada mereka yang sudah sepuh diumur pernikahan kami yang sudah lebih dari seperempat abad. Tapi aku harus kuat.

Sekitar tiga puluh menit aku mengendarai motor matic kesayanganku. Ya, motor ini yang selalu menemaniku kemana-mana sejak dahulu.

"Assalamualaikum, Bu, Pak," ucapku sambil masuk ke dalam.

"Waalaikumussalam," lirih terdengar jawaban salam dari dalam kamar. Suara Ibu.

Bergegas aku ke kamar menemui wanita yang telah melahirkanku lima puluh tahun yang lalu. Bersyukur di umur yang sudah tua ini, aku masih bisa melihatnya. Meski badannya tak sesegar dahulu dan matanya tak sejelas beberapa tahun yang lalu. Ia masih terlihat cantik diusianya yang saat ini menginjak 75 tahun.

Di sampingnya duduk Bapak melakukan hal yang sama. Mulutnya komat-kamit mengucap dzikir mengagungkan asma Allah.

"Bu, Pak," sapaku.

"Siapa yang datang?" tanyanya. Tangannya tetap memutar butiran tasbih.

"Suci, Bu," jawabku. Melihat wajahnya yang teduh, tak tega aku mengatakan permasalahan rumah tanggaku.

"Ci, datang sendiri? Mana Haris?" tanyanya Bapak.

Ingin kutahan air mata yang mulai jatuh. Mas Haris, memang selalu menjadi menantu kesayangan Bapak dan Ibu. Jika kami bertengkar ia selalu dibela oleh kedua orang tuaku ini.

Cepat kuseka air mata yang mulai luruh. Bersyukur Bapak dan Ibu tak dapat melihat dengan jelas wajahku.

"Suci sendiri, Bu, Pak," jawabku dengan mengatur suara senetral mungkin. Aku tak ingin mereka tahu bahwa anaknya sedang sedih saat ini.

"Kalian sedang ada masalah, Ci?" tanya Ibu.

Allah, harus kujawab apa pertanyaan Ibu ini? Serapat apapun aku tutupi ternyata ia mengetahui juga.

"Rumah tangga bermasalah sudah biasa, Ci. Tinggal bagaimana cara kalian menghadapinya. Semuanya harus diselesaikan dengan kepala dingin. Jangan pakai emosi." Bapak menasehatiku dengan lembut.

"Iya, Pak," jawabku.

Dahulu, aku membayangkan pernikahan kami bisa seperti Bapak dan Ibu. Selalu bersama sampai maut memisahkan. Namun, entah kenapa saat ini aku tak yakin bisa seperti mereka.

***

Puas bertemu dengan Bapak dan Ibu serta menyampaikan maksudku datang ke kediaman mereka, aku segera kembali ke rumah.

Segala surat berharga telah aku amankan. Namun, tiba-tiba saja aku teringat ada yang tertinggal, pikiran yang sedang kalut membuatku tak dapat berpikir jernih. Surat tanah dan buku nikah kami. Entah kenapa tiba-tiba aku kepikiran buku itu. Walaupun belum jelas kami akan berpisah atau tidak. Bahkan masalah kami pun, aku masih memikirkannya. Hanya perkara uang. Mungkin dengan perlahan bisa diselesaikan. Ya, jika hanya uang masalahnya aku bisa terima. Namun, jika pengkhianatan aku tak bisa. Berpisah adalah jalan terbaik.

Sesampainya di rumah, aku bergegas ke kamar. Membuka lemari dan aku terkejut.

Buku nikah yang berada satu bendel dengan sertifikat rumah kami bersama kartu keluarga serta kotak perhiasan yang aku simpan dalam lemari sudah tak ada di tempatnya.

Sejak kapan semua benda itu hilang? Memang aku tak memperhatikan ini sejak lama. Aku yakin aman karena lemari ini selalu terkunci dan kuncinya aku pegang sendiri. Tak ada kerusakan atau apapun di pintu lemari ini. Kunci pun masih berfungsi dengan baik.

Tapi ke mana hilangnya benda itu? Apa Mas Haris?

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dilahirkan Sebagai Ancaman
9.3
Zaira Callista Ramadhani tumbuh dalam kebencian ibunya sendiri. Meski sang kakek memberi nama 'Kliwon' sebagai pelindung, Zee tetap menjadi sasaran amarah dan hukuman tanpa alasan di rumahnya. Kontras dengan kakaknya, Ayla, yang dimanja, Zee justru dianggap aib masa lalu. Kelelahan batin mengubah Zee menjadi gadis dingin yang mulai memberontak. Saat sebuah rahasia besar tentang kelahirannya terungkap, ia akhirnya berani melawan takdir yang selama ini menindasnya.
Sampul Novel Ghost Writer
8.3
Kisah ini menyoroti dinamika cinta kaum urban dan fenomena penulis bayangan. Cassandra adalah penulis berbakat yang kemampuannya dieksploitasi oleh Ayu, klien setianya yang tidak memiliki talenta menulis. Di sisi lain, seorang editor sekaligus sahabat Cassandra menyadari potensi besar tersebut. Ia berjuang keras mendorong Cassandra agar berani meraih kesuksesan dengan karyanya sendiri tanpa harus terus bersembunyi di balik nama kliennya.
Sampul Novel Kau Sakiti Orang Yang Salah
9.0
Dendam atas kematian kakek dan neneknya membuat Reza Adyatama nekat menghancurkan hidup Luna Daniel. Luna yang tak bersalah menjadi sasaran kemarahan Reza hingga mereka berpisah. Empat tahun kemudian, Reza terkejut menemukan bocah tiga tahun yang sangat mirip dengannya. Menyadari itu anak kandungnya, penyesalan mendalam menghantui Reza. Kini ia bertekad mengejar Luna kembali. Akankah Luna memaafkan masa lalu kelam demi masa depan sang buah hati?
Sampul Novel Ketika Pernikahan Palsu Menjadi Nyata
8.1
Kapten Leon Hartmann terjebak dalam pernikahan paksa dengan Aveline Laurent akibat salah paham warga desa saat ia menolongnya di hutan. Padahal, Aveline segera menikah dengan tunangannya, sementara Leon menjalin hubungan serius dengan seorang dokter. Namun, formalitas ini justru membongkar rahasia gelap pasangan masing-masing yang selama ini tersembunyi. Di tengah pengkhianatan dan misteri, perasaan baru mulai tumbuh di antara mereka meski hati masih terikat masa lalu.
Sampul Novel MENIKAHI CEO LUMPUH
9.1
Demi kesembuhan sang ayah, Sofia yang baru berusia 19 tahun terpaksa menikahi Yesaya, seorang CEO lumpuh berumur 33 tahun. Awalnya penuh tekanan, perasaan Sofia berubah menjadi cinta tulus saat menemukan surat wasiat bunuh diri suaminya. Namun, cinta itu justru dibalas penolakan. Yesaya sengaja menjauhkan diri dan melakukan tindakan ekstrem demi melindungi rahasia serta kebahagiaan Sofia, meski hal tersebut malah menghancurkan hidup istrinya.
Sampul Novel Pacar Kedua dan Istri Rahasia
8.5
Pasca insiden maut, Rafka menyembunyikan Adiva di London tanpa sepengetahuan siapa pun. Meski menyadari hati istrinya milik pria lain, Rafka tetap setia melindungi. Namun, Adiva justru merencanakan pelarian demi membalas dendam pada masa lalunya. Ia menjebak saudara kembarnya, Agatha, untuk bertukar posisi agar bisa mengecoh pengawal Rafka. Saat Agatha terjebak di London, Adiva mencuri identitas saudarinya untuk kembali menemui sang ayah dan memulai aksi balas dendam.