APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sugar Baby Milik Mafia Tampan

Sugar Baby Milik Mafia Tampan

Kehidupan Max berubah drastis setelah ia tanpa sengaja membawa pulang Ella dari sebuah pelelangan. Meski awalnya membenci gadis polos yang tampak kurang gizi tersebut, kehangatan Ella perlahan mencairkan suasana mansion yang dingin. Ella menyimpan banyak kejutan yang mengubah Max menjadi cinta. Namun, hubungan mereka diuji oleh berbagai rintangan berat, mulai dari konflik internal hingga urusan hidup dan mati. Akankah cinta mereka mampu bertahan?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Huwaaaaaahhh..." terdengar jeritan melengking dari arah taman belakang. Membuat Max tersedak kopi yang sedang ia minum.

"Uhuuuk! Ada apa sih? Kenapa gadis itu menjerit?"

"Sepertinya terjatuh ketika sedang mengejar kupu-kupu."

"Apa yang terluka?"

"Dagunya terantuk batu."

"Kenapa anak itu ceroboh sekali sih! Suruh Gwen memberi laporan setiap ada masalah!"

"Baik tuan Max."

***

Pagi sekali pasukan salon dan butik sudah sampai di mansion Max memenuhi undangan Gwen untuk membersihkan dan mendandani gadis itu.

Mereka menyambut dengan gembira jika diundang oleh keluarga kaya, mereka akan memberikan pelayanan nomor satu. Harapannya mereka akan terus di percaya melayani keluarga yang paling berpengaruh di kota ini.

"Kalian sudah siap?" tanya Gwen

"Sudah Gwen.... Apa yang akan kami lakukan? Apakah nona muda manssion ini mau melakukan perawatan?"

"Bisa dibilang seperti itu. Ini gadis desa dari keluarga jauh tuan Max, tolong di dandani dan dibersihkan hingga layak tinggal di mansion ini. Berikan baju yang sesuai umurnya dan mahal sesuai selera tuan Max."

"Baik, itu sudah menjadi keutamaan pekerjaan kami. Gwen tahu beres serahkan pada kami."

"Silakan ini Nona?"

"Dia belum mau memberitahukan namanya.. Kalian bisa mulai saja. Saya tunggu di luar."

"Kau begitu cantik nona kecil , kenapa kau tak memberitahu namamu padaku?"

"Biar tuan sombong itu yang bertanya. Aku tak mau menyebutkannya jika ia tak bertanya lebih dulu."

"Nona memiliki rambut yang indah. Juga kulit yang bagus."

"Kalian mau apa?"

"Kami mau mendandani Nona, ayo kita mandi dan mencuci rambut.. akan kami bantu."

"No.. gak usah.. aku bisa sendiri! Pergi jangan sentuh aku. Ahh.. lepas."

"Biar kami bantu Nona kecil, kalau hasil kami tidak baik kami akan dimarahi oleh tuan Max.

Usaha kami bisa bangkrut tolonglah Nona.. kami mohon." Pekerja itu mendekapkan tangannya memohon dengan tatapan penuh harap di depan gadis itu, dan berhasil meluluhkan hatinya.

"Cih.. orang sombong itu lagi! Apa dia selalu galak dan jahat? Huh.. menyebalkan."

"Tidak begitu, tuan Max sebenarnya baik asalkan kita melayani dengan baik dan memberikan pelayanan yang terbaik."

"Huuh.. terus aku harus nurut dengan orang jahat itu? Gak mau!"

"Kalau nona masih sayang nyawa Nona ya lebih baik menurut," sahut pegawai salon itu sambil menunduk.

"Hah? A..apa ia bisa menghilangkan nyawaku?"

"Hanya dengan menjentikkan tangan Nona."

Dengan mulut terbuka ia menuruti petugas salon itu.

"Nona berendam di air ini yang sudah kami campur dengan bunga dan susu."

"Untuk apa?"

"Bunga agar harum dan susu agar kulitnya halus."

"Ini susu sungguhan?" Ia mulai menyukai perawatan ini, seperti bermain air dengan bunga-bunga.

"Iya ini susu sungguhan yang sudah di saring dan diberi vitamin."

"Bisa aku minum?"

"Jangan... kan sudah tercampur bunga."

"Oh iyaa."

"Rambut Nona kecil sungguh indah, ikal dan berkilau."

"Biarpun aku miskin aku selalu mencuci rambutku dengan sampo dari petugas sosial. Atau aku mencucinya dengan santan dari sisa pabrik di dekat rumah. Bibi di sana baik suka memberi santan."

"Oh.. nona kecil sering tergores ya, nanti setiap minggu aku akan ke sini menggosok badan nona kecil hingga luka goresan ini akan hilang perlahan."

"Biarkan saja, semua goresan itu punya cerita. Ini ketika aku jatuh dari carousel bersama Ibu. Dan ini jatuh dari kereta api ketika pergi bersama Ibu. Dan ini jatuh dari perosotan ketika bersama Ibu. Katanya aku anak yang tak bisa diam.. hihihi." Sejumlah luka itu memiliki memori, sepertinya tak ingin ia lupakan.

"Wajah nona kecil sangat cantik, jangan ditutupi dengan rambut. Nanti kita ikat ke belakang ya. Agar terlihat pipi yang merah merona ini."

"Baju Nona banyak di lemari sudah kami sediakan silakan dipilih saja. Ini baju tidur, ini baju rumah dan ini baju pergi. Khusus di lemari gantung untuk gaun."

"Banyak sekali untuk apa?"

"Untuk berganti ganti.

"Bajuku di rumah dulu hanya 2."

"Gaun untuk acara formal."

"Formal? Apa itu? Aku gak akan ke formal."

"Hahha.. nona ini lucu sekali. Lihat sini.. wajah Nona kecil sangat manis.. ini bedak dan ini untuk pemerah bibir. Minggu depan aku akan kemari lagi untuk melengkapi alat dandan Nona kecil."

"Untuk apa berdandan?" banyak pertanyaan di kepalanya dan terus saja ia tanyakan.

"Agar cantik."

"Untuk apa cantik?"

"Agar tuan Max sayang padamu."

"Aku tak perlu disayang siapa pun!" dengan nada sengit dan ia memasang muka kesal. Lagi-lagi karena Max, ia tak suka dengan nama itu.

"Ya sudah, jangan dirusak yaa... di rawat dengan baik."

"Botol ini apa?" tanyanya yang penuh ingin tau. Semua hal baru baginya.

"Ini untuk disemprot di badan agar wangi.. selalu dipakai sehabis mandi. Ini pelembab untuk kulit dipakai di kaki dan tangan agar kulit lembut."

"Hmm.. aku suka wangi, aku jarang wangi, jadi wangi itu enak ya bikin ngantuk.. hihihi."

Gwen masuk ke dalam kamar.

"Sudah selesai? Nona.. cantik sekali?" Gwen takjub

"Iya gadis ini bagai mutiara dalam lumpur.. di poles sekali sudah bersinar cahayanya."

Sungguh beruntung nanti kekasihnya. Cantik alami."

"Kau bekerja sangat baik."

"Kalau begitu kami pamit dulu. Terima kasih semoga Tuan Max puas dengan pelayanan kami dan bisa bekerja sama lagi."

***

"Tuan, pegawai salon dan butik sudah melaksanakan tugasnya dengan baik." Paman Austin melapor

"Pasti mereka kerja keras untuk membuatnya layak ya. Huh, pemborosan. Apa perlu mengoperasi mukanya agar layak dipandang. Hahahha. Apa aku rubah seperti Rose? Hahahha." Max tidak bisa membayangkan gadis itu dikatakan manis.

"Tak perlu tuan wajah gadis itu manis kok. Walau belum terlihat dewasa, tapi kulitnya bersinar."

"Bagaimana bisa? Kau pasti melebih-lebihkan. Sekarang ini apa Gwen yang mengawalnya?"

"Iya tuan."

"Siapa nama gadis itu sih?"

"Saya juga tak tahu, ia hanya mau jika tuan bertanya langsung."

"Anak lusuh itu berani bermain-main denganku rupanya, lihat saja nanti! Bawa kemari!"

"Baik."

Dengan wajah merengut ia menghadap Max. Max memandang gadis yang ada di hadapannya. Matanya takjub dan tak berkata kata dalam beberapa saat. Penampilannya jauh dari gadis lusuh yang pertama kali ia beli.

"Tuan! Kenapa bengong? Aku tidak mencuri apa pun ya! Baju ini juga diberikan padaku!"

"Apa yang dilakukan pegawai salon itu? Tidak ada perubahan sama sekali? Tetap jelek dan lusuh!"

"Huh? IIiissshh.. aku sudah tau percuma kucir rambut ini dan jepit ini ..Uh!" Ia menarik semua itu dan melemparnya. Wajahnya bertambah sexy dengan bagian rambut yang menutupi wajahnya.

Max menelan ludah melihat rambut itu tergerai.

"Eh.. iya..Hey.. siapa namamu? Katakan!"

"Siapa yang mau tahu?"

"Jangan kurang ajar! Jawab setiap aku bertanya! Kurang hukuman yang aku berikan huh?" Max terpancing emosi belum ada yang mempertanyakan perkataannya.

"Huh selalu mengancam! Seperti orang jahat di tempat itu!"

"Jangan samakan aku dengan siapa pun! Siap namamu? Katakan atau kau ingin aku hukum lagi?"

"Jangaaan.. namaku Ella." Tuturnya lantang dan menjulurkan tangannya sebagai mana orang berkenalan. Tapi tangannya tak di sambut oleh Max.

"Nama apa itu? Siapa keluargamu?"

"Mana aku ingat aku sejak kecil aku ditinggal ibu dan dibesarkan oleh ayah tiriku yang jahat dan aku tak ingin memiliki marganya!" mendadak Ella menjadi emosi dan loncat meninju Max. Sebuah respons yang tak lazim.

"Hey kucing kecil, berani kau melawanku?" Max menangkap tangan Ella dan menguncinya dengan sekali putar. Hingga wajah mereka berhadapan dekat sekali. Nafas Ella terengah-engah karena emosinya tersulut dari ingatannya.

"Warna matanya sungguh indah. Aneh sekali anak ini. Galak tapi sekaligus imut. Baru sekali bertemu gadis seperti ini." pikir Max

"Le..lee..lepaskaaan!" Max melepaskan hingga Ella terjerembap.

"Jangan sekali-kali kau berani menyentuhku! Dan ingat aku yang berkuasa di sini hidup dan matimu ada ditanganku. Lihat di sana ada danau berisi buaya, mau jadi makanan buaya? Jangan macam-macam! Gwen, ajarkan gadis liar ini sopan santun."

"Baik Tuan Max."

"Ugh tuan boleh aku pergi saja dari sini..? Aku akan membayarmu dengan menyicil. Aku tak akan bohong. Aku jangan dibunuh.. jangan dikasih makan ke buaya." Ella terlihat panik mendengar kata buaya itu. Ia mengulang lagi tawarannya.

"Bagaimana kau membayarnya?"

"Aku akan bekerja."

"Bekerja apa? Gadis kurus kering bisa apa? Bekerja pada siapa? Nanti kau kabur begitu saja atau mati di musim dingin!"

"Kalau gitu pada Tuan Max saja."

"Aku tak butuh pelayan, sudah banyak dan kau tak bisa jadi pelayan di sini." Max acuh

"A..aku bisa buat muka jelek untuk menghiburmu. Pasti tuan Max jarang tertawa." Max menahan tawanya ketika mendengar tawaran kerja dari Ella.

"Cobalah sebuah wajah yang jelek! Kalau aku tertawa, kau tetap boleh di mansion ini tanpa dikurung dikamar!"

"Baiklah.. akan aku coba... Ini wajah andalan aku. Hmmmm..." Ella membuat wajah yang konyol dengan mata yang jereng dan ia menggembungkan pipinya. Max hampir saja tertawa, tapi ia tahan.

"Aku kurang suka, tidak lucu sama sekali."

"Masa sih?" wajah bingung Ella semakin menggemaskan. Dan kini ia berpikir untuk mengubah muka jeleknya.

"Baiklah sekali lagi, Ella tak pernah kalah untuk membuat orang tertawa. Lihat yaa.. Huuuppp." sekali lagi Ella membuat muka lucu, kali ini benar-benar lucu dan Max tak tahan lagi untuk tertawa. Apalagi kini Ella semakin menggemaskan.

"Bhaa.hha.. baiklah... itu cukup lucu! Kau boleh di rumah belakang! Tidak boleh ke rumah utama, dan tak boleh keluar mansion!"

"Yesss... terima kasih tuan som.. eh tuan Max." Sebentar saja Ella sudah berlarian ke luar ruangan Max dengan berteriak kegirangan.

"Benar apa yang dikatakan Park, anak ini cantik dan manis. Sebentar emosinya mudah naik turun. Seperti banyak guncangan dan trauma di masa lalunya. Tapi ulahnya yang polos membuat gemas. Penasaran juga senakal dan separah apa traumanya dimasa lalu." pikir Max.

"Eh apa ini? Paaark! Ambil yang melekat di bajuku!" suara getar Max menggema

"Se..sebentar tuan, saya juga geli.. tunggu sebentar. Saya cari alat dulu."

"Park kau itu ajudan pribadiku, seharusnya melindungiku 24 jam, mengapa kau juga takut!"

"Itu kelemahan saya tuan, lebih baik berhadapan dengan musuh dan membolongi kepalanya."

"Awas anak itu! Pasti ulahnya!"

Apa yang dilakukan Ella hingga kedua pria berbadan besar dan berotot itu ketakutan dan berteriak?

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku (Bukan) Anak Mafia
8.5
Rehan Putra Narendra adalah siswa SMA pendiam yang berubah menjadi emosional setelah sebuah insiden tragis. Di usia tujuh belas tahun, ia menghadapi tekanan besar saat dipaksa meneruskan posisi ayahnya sebagai pemimpin klan mafia. Beban hidupnya kian berat ketika ia harus menjalani pernikahan paksa dengan musuh bebuyutan di kelasnya sendiri. Rehan kini terjebak antara tuntutan dunia kriminal dan dinamika benci jadi cinta dengan sang istri.
Sampul Novel Ann The Innocent
7.8
Ann Arthurian adalah gadis jenius yang malang. Ia sering dicap sebagai anak pembunuh karena ayahnya menghabisi nyawa ibu angkatnya. Setelah kehilangan nenek, Ann menderita akibat perundungan di asrama. Namun, takdir berubah saat ia bertemu putra mafia yang menemukan buku miliknya. Kehidupan Ann berbalik total ketika ia bergabung dengan tim ilmuwan untuk memecahkan kode rahasia negara. Di tengah misi besar itu, kebenaran tentang asal-usul keluarganya yang kelam mulai terungkap.
Sampul Novel Belenggu Cinta Sang Pangeran Mafia
8.1
Pernikahan Belleza dan Rafaele hanyalah aliansi bisnis antar klan mafia yang menghancurkan impian Bella akan cinta sejati. Terjebak dalam dunia gelap, Bella terpaksa tunduk pada dominasi Rafaele demi melindungi keluarganya. Namun, kematian mendadak ayahnya di wilayah Jefferie memicu dendam membara. Di tengah kehamilan dan intrik pengkhianatan yang terungkap, Bella harus mencari kebenaran. Akankah cinta tumbuh di balik kebencian, atau justru dendam yang menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Bercinta dengan werewolf
8.3
Pasca patah hati, Alexa mencari hiburan di bar hingga mabuk berat. Di sana, ia bertemu Michael, bos mafia sekaligus manusia serigala yang mengelola tempat itu. Karena pengaruh alkohol, Alexa menggoda Michael dan mengiranya sebagai gigolo. Pertemuan itu berujung pada cinta satu malam yang panas. Hubungan kasual tersebut terus berlanjut setiap kali mereka bertemu. Akankah ikatan penuh gairah ini berubah menjadi sesuatu yang lebih serius bagi mereka?
Sampul Novel Cinta Sang Pewaris Lumpuh
8.6
Erios Danbert, pria kaya yang lumpuh, harus mencari istri meski hatinya tertutup rapat. Takdir mempertemukannya dengan Emery Olivia La Carlistee, putri keluarga pembunuh bayaran yang mengincar kekuasaan Erios. Awalnya Emery hanya memanfaatkan situasi, namun ia justru terjebak dalam pusaran bahaya yang mengintai sang pewaris. Meski saling curiga dan mengejar ambisi pribadi, benarkah ada cinta tulus saat topeng dan motif asli Emery akhirnya terungkap?
Sampul Novel DALAM CENGKERAMAN SANG MAFIA
8.3
Dominic Rodrigues, mafia kejam yang menyimpan dendam akibat pengkhianatan masa lalu, menyusun rencana licik demi menghancurkan keluarga Amanda. Demi menyelamatkan suaminya dari ancaman mutilasi permanen, Amanda terpaksa memenuhi tuntutan nafsu Dom yang penuh arogansi. Di tengah kebencian dan jeratan utang, mampukah Amanda yang tangguh melawan dominasi sang mafia? Sebuah kisah romansa dewasa yang penuh misteri, intrik, dan gejolak emosi yang sangat sulit untuk ditebak.