APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel TAK MAU DIMADU

TAK MAU DIMADU

Lima tahun membina rumah tangga yang harmonis dan penuh cinta, kebahagiaan itu seketika hancur berkeping-keping. Kehadiran sosok wanita dari masa lalu Ilham mengubah segalanya, melenyapkan gairah hidup serta merusak pernikahan yang telah lama dijaga. Impian untuk menua bersama hingga maut memisahkan kini terancam sirna akibat pengkhianatan orang ketiga. Sanggupkah hubungan ini bertahan saat bayang masa lalu datang memporak-porandakan segalanya?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Maksud, Bu Retno apa?" Aku menarik tangan dari genggamannya. Ini sungguh mengagetkan. Bagaimana bisa, Bu Retno yang menjabat sebagai atasanku bertindak se-berani ini? Tanpa aba-aba, tanpa persetujuan, seenaknya meraih tangan bawahannya yang sudah beristri.

"Masa kamu nggak paham, Ilham?" Dia menggigit bibir bawahnya. Tidak terlihat keragu-raguan di wajah bulat itu, yang ada gerakan seduktif menanti respon positif dariku.

Maaf, aku tidak akan tergoda.

"Maksud, Ibu, apa?" Aku pura-pura bertanya. Nggak usah pakai kode, aku sudah hapal betul apa yang beliau inginkan.

"Aku 'kan belum menikah, Ham." Dia mulai bergerak-gerak gelisah. "kalau yang lain bawa pasangan, aku malu lah nggak bawa pasangan sendirian. Kayak nggak laku aja." Netranya mengerling, sambil menunduk malu-malu. Air muka yang sulit diartikan itu membuatku risih, ingin segera pergi dari tempat tak nyaman ini.

Memang, di usianya yang hampir empat puluh tahun dia masih belum bersuami. Beliau bisa terbilang cantik, terlihat lebih muda dari usia aslinya. Badan berisinya terlihat kencang, nampaknya beliau rajin berolahraga guna menjaga bentuk badan. Rambut lurus sebahunya tergerai rapi nan terawat. Aset bagian belakangnya pun enak dipandang.

Astaghfirullah, kenapa aku jadi membayangkan wanita lain? Jangan sampai aku goyah.

"Hubungannya sama saya apa, Bu?" Aku geram. Kenapa pula beliau menceritakan masalah pribadinya padaku? Ini benar-benar di luar konteks atasan dan bawahan. Hubungan kami tidak sedekat itu, hingga bisa saling membagi masalah.

"Yah, pokoknya jangan bawa aja." Bu Retno memalingkan wajah, lalu beranjak dari kursinya. Melangkah keluar dengan tergesa, meninggalkan aku yang masih dirundung gelisah.

Kenapa harus aku? Bawahannya yang sudah menikah bukan hanya diriku saja. Bukankah ini termasuk menyalah gunakan jabatan? Semena-mena pada bawahan juga termasuk melanggar hak asasi manusia. Kesal.

***

"Assalamualaikum, Dek." Dengan langkah gontai aku memasuki rumah setelah beberapa kali mengetuk pintu dan tak kunjung terbuka.

"Wa'alaikumsallam," sahut istriku yang sedang rebahan manja di sofa depan TV.

"Mas pulang kok gak dibukain pintu, Dek?" Aku duduk di sisi kosong sebelah wanita berdaster merah motif bunga-bunga itu.

"Maaf, Mas, adek lagi lemes banget, perut bolak-balik keram. Biasa, lagi hari pertama, Mas," katanya sambil meremas perut, kemudian merubah posisi menjadi duduk. Meraih tangan kananku yang terulur, lalu mengecupnya dengan takzim.

"Sudah minum obat?" Khawatir menyelimuti melihat wajah wanitaku tidak secerah biasanya. Pucat.

"Tadi sudah minum teh tawar anget, Mas. Sebentar lagi juga enakan, kok." Dia tersenyum tipis. Bibir seputih kertas dan pecah-pecah itu pasti sulit membuat lengkung lebar.

Dia selalu begini saat tamu bulanannya datang, apa memang haid itu sesakit ini? Alangkah baiknya aku sebagai kaum Adam selalu mengerti, dan siap sedia saat dibutuhkan, sigap saat wanitanya meminta pertolongan.

"Yah, mas puasa seminggu dong, Dek," selorohku, berharap mampu mengurangi rasa sakit pada perutnya.

"Kamu itu, Mas, kayak baru pertama kali puasa aja!" Bibirnya mencebik, menggemaskan sekali saat dia melakukan itu.

Aku tersenyum, lalu mencubit pipinya.

"Capek banget hari ini, Mas?" tanya Ina setelah aku menyandarkan kepala pada ujung sandaran sofa. Helaan napas panjang, dan anggukan kepala dariku menjawab semuanya.

Ya, lelah sekali hari ini. Apalagi, perbuatan Bu Retno siang tadi yang membuatku gusar, dan terus kepikiran. Ingin rasanya melampiaskannya semalaman bersama Ina di balik selimut, tapi malang tak dapat ditolak, istriku sedang datang bulan.

****

"Dek, dua hari lagi mas berangkat dinas ke Bandung, dengan rekan-rekan satu divisi," ucapku setelah merebahkan badan di tempat peraduan kami yang hangat.

"Berapa hari, Mas?" Wanita tiga puluh tahun sebelahku mengerutkan kening.

"Tiga hari dua malam, Dek." Ada raut kecewa pada wajah manisnya. Usianya sudah tak lagi muda, tapi untuk masalah manja kala merajuk dia ahlinya. Sulit sekali dikendalikan. Padahal usia kita sama, tetapi aku diharuskan untuk lebih banyak mengalah darinya, agar rumah tangga ini selalu baik-baik saja.

"Lama banget, Mas." Bibirnya mengerucut. Aku tahu maksud tersiratnya wajah itu. Langsung saja kutarik dia masuk ke dalam dekapan. Meninggalkan kecupan bertubi-tubi pada puncak kepalanya.

Andai, tidak ada penghalang di bawah sana sudah pasti kulakukan lebih dari ini. Pembuatan anak, misal.

"Kamu ikut, ya," pintaku. Persetan dengan permintaan tak masuk akal dari atasan. Hakku untuk mengajak sang istri turut serta.

Dia menggeleng. "Nggak, Mas, aku risih. Pergi-pergi saat datang bulan membuatku tak nyaman. Apalagi sampai menginap," tolaknya menenggelamkan wajahnya di dadaku.

"Aku bakal kesepian, Mas," lanjutnya membuat dadaku berdesir.

"Minta Bu Minto untuk menginap." Beliau adalah tetangga sebelah rumah.

"Mana mungkin, Mas, nggak enak aku. Suaminya lagi di rumah pasti lebih penting nemenin suami dari pada aku." Intonasinya melemah.

"Sebentar kok, Sayang, nanti aku bawain bolu susu Lembang favorit kamu," bujukku, lalu mengecup keningnya cukup lama, berharap rayuan ini akan mengendurkan keningnya yang sedari tadi berkerut.

"Tiga ya, Mas. Aku mau kasih Bu Minto, dan Bu RT. Mereka kalau masak lebih, sering dibagi ke kita, Mas," katanya mulai antusias.

Kuamati wajahnya mulai berbinar saat membahas bolu kesukaannya itu. Syukurlah, dia bisa menerima kepergian sementaraku.

"Iya," sahutku singkat. Menghela napas panjang, sebenarnya ingin sekali aku mengadukan perbuatan Bu Retno siang tadi kepada istri. Namun, aku takut membuatnya kepikiran. Dan, Ina adalah tipe wanita pencemburu, aku tidak mau rumah tangga ini menjadi taruhannya.

Bu Retno memang lumayan aktif merayu pria-pria yang berada disekitarnya. Bukan hanya aku, Anton pun tak jarang mendapatkan kedipan mata menggoda darinya. Tapi, kejadian siang tadi sudah tidak dapat diabaikan lagi.

****

Dua hari telah berlalu begitu cepat, waktunya untuk pergi pun tiba.

"Mas berangkat dulu ya, Dek, sudah dijemput Anton dan Andi," teriakku dari ruang tamu. Seketika, wanita dengan jilbab lebar itu keluar dari kamar. Berlari menghampiri.

"Iya, Hati hati, Mas," ucapnya sambil membetulkan kerah kaos polo yang kukenakan. Wajahnya yang terlipat membuatku berat untuk pergi.

"Kenapa, Dek? kok lesu gitu? Mas nggak usah pergi aja, ya." Aku mengusap puncak kepalanya yang berbalut jilbab abu tua.

"Gak tahu, Mas, perasaanku mendadak nggak enak."

"Mas di rumah aja, wajahmu masih pucat, Dek." Tanganku turun ke keningnya. Nggak panas.

"Sudah sana berangkat, sudah ditungguin. Dinas ini 'kan juga penting untukmu, Mas." Diraihnya tanganku dan mengecup cukup lama. Mendorongku sampai keluar rumah.

Aku tersenyum, sambil melambaikan tangan dan mengucapkan salam. Sungguh, berat meninggalkan dia seorang diri. Akan tetapi, dinas ini pun aku harus mengikutinya sebagai bukti tanggung jawab pada pekerjaan.

Seringkali, firasat buruk istriku selalu berakhir pada kenyataan. Membuat hatiku tak tenang dan gelisah. Semoga Allah selalu menjaga hatiku dari wanita penggoda di luaran sana.

***

"Loh, Bu Retno belum datang, Ham?" Terlihat Anton tengah melihat sekeliling. Sekarang kami sudah sampai di tempat tujuan, Lembang Bandung.

Pemandangan yang asri dengan pohon pinus menjulang tinggi membuatku terpesona, benar-benar mengagumkan panorama ini. Tanpa sadar aku mengabaikan pertanyaan dari Anton, mata ini masih terfokus pada ciptaan Tuhan yang menyejukkan hati ini.

"Dewi, kamu nggak bareng Bu Retno?" tanya Andi pada Dewi, juniornya.

"Nggak, Mas, aku sama suamiku."

"Tadi Bu Retno minta bareng aku, tapi sudah penuh. Ada istri bersama satu anakku, ditambah Anton dan istrinya juga ikutan, Ilham juga satu mobil dengan kita. Haduh, untung kamu nggak bawa istri, Ham. Kalau bawa ya nggak muat mobilku."

Aku menoleh pada Andi saat mendengar namaku disebut. Seandainya dia tahu, aku menyesal tak membawa istri turut serta. Wanitaku pasti bahagia melihat keindahan alam yang asri ini.

Dinas yang memperbolehkan membawa keluarga, bukankah ini kesempatan yang tak boleh dilewatkan? Akan tetapi, aku menjadi orang bodoh yang menyia-nyiakannya.

"Eh, lihat itu Bu Retno, dibelakangnya siapa itu?" Dewi mendadak heboh, mengarahkan telunjuknya ke arah dua wanita yang tengah berjalan dengan anggunnya menuju berkumpulnya kami.

"Wanita yang sama Bu Retno, kenapa terlihat nggak asing ya, Ham?" tanya Anton, membuatku tertarik siapa gerangan wanita itu. Aku menajamkan penglihatan pada dua sosok hawa yang tengah berjalan semakin dekat.

"Wah, kalian sudah sampai?" Sapa wanita dengan kemeja putih itu setelah sampai di tempat kami. "kenalkan, ini Monita, keponakanku." Beliau menunjuk wanita yang berdiri tepat di belakangnya.

"Nita bakalan kerja bareng kita mulai senin depan, sebagai asistenku," jelas Bu Retno.

Monita? Nita? kenapa wajah dan namanya seperti tak asing buatku? Siapa dia sebenarnya? Pikiranku terus bertanya-tanya.

Wanita baru itu menjabat tangan seluruh rekan yang datang. Sekarang, tiba giliranku menjabat tangannya, tanda perkenalan.

"Mas Ilham, gimana kabarnya? pasti lupa ya sama aku?" Senyumnya terkembang.

"Eh?" Dia mengenalku rupanya. Ini menjelaskan memang kami pernah bertemu sebelumnya.

"Aku Nita, adik kelas Mas Ilham dan Mas Anton di SMA dulu," katanya melihatku dan Anton bergantian.

"Ap-apa?" Aku terperangah. Apa dia ... Nita yang itu? Nita yang pernah disukai Anton sewaktu SMA? Bukan hanya Anton, aku pun memiliki masa lalu bersamanya. Masa lalu yang susah payah kuhilangkan dalam benak.

Dan kini dia kembali. Tak hanya itu, wanita itu juga menjadi rekan kerjaku.

Dia begitu berbeda dari jaman SMA dulu. Jauh lebih cantik. Dan, masa lalu bersamanya dulu tiba-tiba berkelebat dalam benak. Membuat perasaanku tak enak.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Whore Mate
9.1
Layla, Alana, dan Zeline adalah mahasiswi Universitas Pembangunan yang berbagi rumah. Sejak awal, gerak-gerik Zeline yang sering keluar malam memicu kecurigaan Layla. Meski jarang kuliah, nilai Zeline secara misterius melampaui Alana. Rahasia mulai terkuak saat Zeline membiayai pengobatan ayah Layla. Ketegangan memuncak ketika Roger, kekasih Alana, ternyata mengenal Zeline sebagai penyedia jasa pemuas nafsu. Ternyata, selama ini mereka tinggal bersama seorang pelacur.
Sampul Novel Aku Tidak Akan Pernah Diam Saat Keluargaku Terancam
9.6
Adikara, duda berkuasa yang divonis mandul, melampiaskan rasa frustrasinya melalui hubungan singkat yang ceroboh. Takdir mempertemukannya dengan Alara, model 19 tahun sekaligus putri bawahannya. Setelah malam tragis yang merenggut kesucian Alara, kejutan besar muncul sebulan kemudian saat Alara mengaku hamil. Kini, di tengah perbedaan usia 15 tahun dan rahasia medisnya, Adikara harus memilih: bertanggung jawab atau menghancurkan masa depan gadis itu demi egonya.
Sampul Novel Benalu di Rumahku Ketika Suamiku Terkena PHK
8.5
Pasca Fajar kehilangan pekerjaan, Alisya berjuang sendirian demi menopang ekonomi keluarga besarnya. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan pahit. Di atas ranjangnya sendiri, ia memergoki suaminya sedang memadu kasih dengan Desy, sosok benalu yang selama ini menumpang di rumah mereka. Hancur melihat pemandangan keji itu, Alisya kini berada di persimpangan jalan. Haruskah ia pergi begitu saja, atau tetap bertahan demi merancang pembalasan bagi mereka?
Sampul Novel Cinta Diantara
8.9
Demi kehormatan keluarga, Aisyah terpaksa menikahi pria asing yang ternyata sudah memiliki putra bernama Haidar. Seiring waktu, benih cinta mulai tumbuh, namun Aisyah justru menemukan sisi gelap sang suami yang tersembunyi rapat. Saat rahasia kelam dan bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia terjebak dalam dilema besar. Haruskah ia tetap bertahan, menghadapi masa lalunya, atau memilih untuk hidup sendiri? Sebuah kisah penuh rahasia dan pilihan hati.
Sampul Novel Cinta Palsumu Menghancurkan Hidupku
9.4
Bagi Pratama, Dewi hanyalah persinggahan sementara sebelum ia kembali ke pelukan kekasih masa lalunya. Setelah mencampakkan Dewi, ia membiarkan wanita itu hancur dalam hinaan keluarganya. Di tengah kegelapan masa depan yang penuh luka akibat janji palsu, Dewi bertemu Reza. Pria ini menawarkan ketulusan yang sangat berbeda dari pengkhianatan sebelumnya. Kini, Dewi harus memilih antara menutup diri atau kembali membuka hati di bawah bayang-bayang trauma masa lalu.
Sampul Novel DESTINY OF LOVE
9.7
Setiap wanita memimpikan pernikahan abadi, namun Reyna justru terjebak dalam takdir kelam. Gadis desa yang polos ini harus mengalami dua kali kegagalan rumah tangga dari total tiga kali pernikahannya. Penderitaannya bermula saat ia salah mencintai Riko sewaktu kuliah hingga hamil di luar nikah. Meski dipaksa menggugurkan kandungan, Reyna bertahan demi buah hatinya. Walau akhirnya menikah sah, hubungan itu hancur dan menyisakan trauma mendalam bagi Reyna terhadap laki-laki.