APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Takdir Cinta Siluman Rubah

Takdir Cinta Siluman Rubah

Air mata Dean tumpah saat melihat Lee Dari menjauh. Sejak terdampar di pulau terpencil, cinta beda dunia mereka tumbuh meski penuh resiko. Dean sadar kepergiannya mengancam nyawa Dari, karena gadis itu hanya bisa bertahan hidup di dekat jantung hatinya. Namun, Dean memilih pulang ke dunianya dan meninggalkan Dari sendirian. Dari menyaksikan pengkhianatan itu dengan pedih; kepergian diam-diam Dean perlahan membunuhnya dalam kesedihan yang mendalam.
Bab
Bagikan

Bab 3

Teriakan orang-orang yang berhasil selamat dan berusaha berenang ke pinggiran pantai terdengar semakin melemah.

Sementara langit yang terlihat mendung semakin mengguncang jiwa-jiwa yang berharap agar badai tak datang untuk kedua kalinya.

Dean masih mencoba menggerakkan tangan sebelah kanannya untuk berenang ke tepi pantai. Tubuhnya terhempas jauh dari kapal yang meledak dan terbakar, namun dirinya masih selamat.

“Vania! Rafael! Bastian!”

Dean mencoba sesekali berteriak memanggil nama ketiga temannya yang terpisah dengannya. Detak jantung Dean berdegup amat kencang.

Matanya berkaca-kaca menahan tangis. Dean sangat berharap jika ke tiga temannya itu masih selamat dan mereka bisa bertemu kembali.

“Pak Budi!”

Dean lagi-lagi mencoba berteriak memanggil nama orang-orang yang dikenalnya, tapi tetap saja tidak ada jawaban.

Lengan tangannya terasa mulai keram sementara tepian masih terlihat sangat jauh. Tubuhnya terombang-ambing oleh ombak di tengah lautan.

“T-tolong!” Dean mencoba berteriak meminta pertolongan. Berharap akan ada nelayan yang melihatnya dan bisa menolongnya.

Namun, lagi-lagi harapannya harus kandas karena sepanjang matanya menatap, ia tak melihat ada kapal nelayan yang berada dekat dengannya.

Tak ada satupun manusia yang terlihat ada di sana. Hanya air laut yang berubah menjadi merah darah yang terlihat sangat menyeramkan.

Tiba-tiba saja ombak besar datang dari arah belakang menggulung tubuhnya hingga tak terlihat dan menghempaskan tubuhnya jauh dari tempatnya terjatuh.

Dean tak sadarkan diri karena ombak yang menggulung menyembunyikan tubuhnya dan membawanya entah kemana.

Rintik gerimis perlahan jatuh membasahi wajahnya hingga mengenai kelopak matanya dan memberikan sensasi dingin yang menyejukkan.

Perlahan Dean membuka matanya yang terasa berat. Kepalanya terasa sangat pusing dan perutnya terasa perih karena lapar.

Tubuhnya pun terlihat sedikit pucat karena kedinginan. Bajunya yang koyak di beberapa bagian membuat angin dan air yang mengenai tubuhnya lebih leluasa.

“Ah ... Aku di mana ini,” kata Dean dengan terbata sembari mencoba bangun dari posisinya yang terbaring di tepian pantai.

Sementara hari terlihat sudah sedikit gelap dan gerimis yang mulai turun memaksa Dean harus segera menyadarkan dirinya.

Dean bangun dan masih menerka-nerka dimana dirinya sekarang. Sebuah tempat yang sangat-sangat asing baginya.

Sepi, gelap, dan terasa sedikit menyeramkan. Suara burung-burung yang beterbangan hendak kembali ke singgasananya setelah seharian berkelana mencari makan terdengar begitu jelas.

Dean terduduk di antara hamparan pasir putih yang basah terkena hempasan ombak laut. Matanya memandang ke arah depan dan menatap laut yang begitu sangat luas hingga tak lagi menampakkan daratannya.

“Aku dimana ini,” kata Dean lagi.

Dirinya benar-benar terlihat sangat bingung. Seorang diri di sebuah tempat yang asing dengan latar belakang pepohonan besar yang hampir mirip dengan hutan rimbun yang tak pernah terjamah.

Tempat itu terlihat seperti tempat yang tak pernah terjamah oleh manusia. Hutannya terlihat masih sangat terawat dengan keasrian alam yang masih terjaga.

Dean bangkit dan mengamati sekitarnya. Ia semakin yakin bahwa tidak ada orang di sana. Beberapa kali Dean mencoba memanggil guru dan juga ke tiga temannya tapi tak ada jawaban. Ia pun berteriak meminta pertolongan, tapi tak ada jawaban yang meresponsnya.

Angin yang berembus semakin membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Ia tak mungkin lagi berdiri lebih lama di tempat itu. Angin yang bertiup kencang membuatnya tak tahan belum lagi ombak yang terlihat besar membuatnya merinding jika harus berlama-lama berada di tepian pantai.

Rintik gerimis masih belum usai dan Dean sudah mencoba melangkahkan kakinya memasuki hutan meski terlihat sangat gelap. Kelelawar yang beterbangan membuat suasananya semakin terasa mengerikan bak film horor.

Bulu kuduknya mulai berdiri satu-persatu dan Dean hanya bisa menggosoknya pelan untuk menenangkan dirinya.

“Ah gila! Aku ada dimana ini? Kok sepi banget sih,” gumam Dean masih melangkahkan kakinya tak tentu arah.

Ia menoleh ke kanan-kiri berharap bertemu dengan orang yang bisa dimintai pertolongan. Kali ini Dean hanya bisa berharap ada pemukiman warga yang bisa dimintai pertolongan meski dirinya tak tahu harus melangkahkan kemana kakinya untuk mewujudkan harapannya itu.

“Huh capek banget. Aku haus, laper juga,” kata Dean yang kemudian memutuskan untuk menghentikan langkah kakinya.

Ia berhenti di bawa sebuah pohon yang besar sehingga bisa melindunginya dari rintik gerimis yang tidak begitu deras. Baju di bagian pundak kiri sudah sobek seukuran telapak tangannya. Dean hanya bisa memonyongkan bibirnya meratapi keadaannya.

Namun, meski begitu dirinya masih merasa bersyukur karena Tuhan mendengarkan doanya agar diselamatkan meski dirinya tak tahu bagaimana nasib teman-temannya dan gurunya.

“Gimana sama yang lain ya. Apa mereka selamat?” kata Dean lagi. Matanya berkaca-kaca setiap kali mengingat kejadian terakhir saat pesawat akan jatuh dan meledak.

Hanya ada suara tangis dan teriakan histeris yang terekam di ingatannya dan itu membuatnya menjatuhkan butiran kristalnya tanpa sadar.

Ia akhirnya memutuskan untuk beristirahat dan menyandarkan tubuhnya pada batang pohon yang ia tidak tahu namanya.

Tiba-tiba Dean menyadari bahwa ada sesuatu di dalam saku celananya yang masih dibawanya. Benda itu adalah satu-satunya benda yang masih terselamatkan dan bersama dengannya.

***

“Boneka ini ... Ternyata ngga bilang,” ucap Dean senang. Meski boneka itu tampak basah, tapi masih terlihat sangat cantik dan menggemaskan.

“Setidaknya masih ada benda yang terselamatkan. Aku janji akan menjagamu dengan baik,” kata Dean. Tak lama Dean mengecup kepala boneka rubah yang basah itu hingga membuat bibirnya basah.

“Temani aku ya sampai aku menemukan teman-temanku dan jalan keluar dari tempat ini,” ucapnya lagi sembari tersenyum pada boneka rubah itu seolah tengah bercengkerama.

Lama Dean memandang boneka berbentuk rumah yang ada di tangannya. Semakin ia menatap, ia seperti terlena akan boneka yang menurutnya memiliki keunikan itu.

Dean memang tidak berharap ia akan diselamatkan dan dipertemukan dengan teman-temannya oleh boneka itu hanya saja saat itu hanya boneka rubah itu yang menjadi teman dan menemaninya.

Malam dan suasana yang terasa sangat sunyi berhasil membangkitkan bulu kuduk Dean yang saat seolah mengerti bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

Reaksi normal pada manusia setiap kali merasakan sesuatu yang terasa mengerikan atau tak nyaman di dalam hatinya.

Beberapa kali Dean sempat menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa tempat itu aman untuk ia singgahi saat itu.

"Oke kalau begitu kita tidur dulu ya. Besok baru kita cari yang lainnya," ucap Dean menatap boneka rubah itu dan bermonolog seorang diri.

Bibirnya berhasil mencium ujung moncong boneka itu hingga membuat bibirnya terasa hangat dan sedikit geli oleh bulu-bulu dari boneka rubah itu.

Tak lama Dean pun menutup matanya dengan rapat untuk beristirahat, namun saat ia tengah memejamkan matanya. Sesuatu terjadi tanpa sepengetahuannya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam Sang Pelukis: Cinta yang Ditebus
8.6
Alana Maheswari terjebak dalam pernikahan ketiga yang tragis. Damian, sang tunangan, justru menyiksanya demi menenangkan Elina. Setelah karier melukisnya dihancurkan dan tubuhnya ditinggalkan bersimbah darah di hutan, Alana menolak menyerah. Demi melindungi keluarga dan bisnisnya, ia menghubungi sosok misterius dari masa lalu. Ia sepakat menyerahkan seluruh asetnya dan melakukan pernikahan kontrak demi pelarian dan balas dendam yang setimpal.
Sampul Novel Elegi of Rosr
9.1
Pasca gagal menikah, hidup Ayu Suwarjo hancur hingga ayahnya terpaksa menjaminkan dirinya pada Roy Punda demi menyelamatkan bisnis keluarga. Lewat kontrak enam bulan, Ayu terikat pernikahan paksa dengan pria sombong tersebut demi kebahagiaan ibunya. Meski awalnya menolak, Ayu harus berjuang menjaga sikap di depan suami barunya. Di tengah rahasia dan petualangan yang menguji kesetiaan, akankah sandiwara pernikahan sementara ini berubah menjadi ikatan cinta yang abadi?
Sampul Novel I'm Not a Gangster
9.8
Seorang pemuda desa terpaksa merantau ke kota besar demi menyambung hidup. Dengan tekad sederhana, ia bercita-cita menjadi seorang pengawal profesional. Namun, takdir justru menyeretnya ke dalam gelapnya dunia kriminal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tanpa disadari, ucapan masa lalunya menjadi kenyataan pahit yang menuntunnya menjadi sosok gangster. Kini ia terjebak dalam pusaran konflik bawah tanah yang menguji prinsip serta keberaniannya.
Sampul Novel King Of King
8.2
Di Negeri Awan, Elisabet yang merupakan selir keempat Kaisar Oro melahirkan putra bernama Starling di bawah naungan bintang raksasa. Namun, hasutan dukun keji membuat Kaisar percaya bahwa bayi itu hasil perselingkuhan Elisabet dengan Jenderal Robert. Demi keselamatan abadi istana, sang Kaisar dituntut untuk menjadikan darah dagingnya sendiri sebagai tumbal persembahan. Akankah ambisi kekuasaan mengalahkan naluri ayah saat nyawa Starling terancam di tangan Oro?
Sampul Novel Pendekar Naga Biru
9.3
Ribuan tahun naga dianggap mitos di Kamandaria, hingga hadirnya Candaka mengubah segalanya. Sebagai titisan Pendekar Naga Biru yang diramalkan, ia bertekad mengakhiri penderitaan rakyat dari kekejaman raja lalim. Dalam petualangan penuh aksi ini, Candaka harus membuktikan eksistensi naga sekaligus memburu Kitab 9 Naga, pusaka silat terkuat di jagat raya. Mampukah ia menggulingkan tirani, mengalahkan Iblis Naga Hitam, dan merebut takhta demi kedamaian Bumi Karimun?
Sampul Novel Pendekar Pedang Patah
7.9
Pancaka dikenal sebagai musuh besar bagi seluruh golongan persilatan, mulai dari sekte hitam hingga putih. Tanpa alasan jelas, ia menghancurkan organisasi tersebut dengan pedang tanpa bilah miliknya yang legendaris. Namun, kejayaan sang pendekar berakhir setelah ia menderita kekalahan telak. Secara misterius, Pancaka terlempar kembali ke masa lalu. Kini, ia harus memilih untuk memperbaiki perilakunya atau justru menjadi sosok yang jauh lebih kejam dari sebelumnya.