APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak Gairah Terlarang

Terjebak Gairah Terlarang

Julian, siswa SMA pecinta basket, menyimpan hasrat pada Tante Namira, pemilik rental PS. Sebuah permintaan pijat sederhana berubah jadi pertemuan intim yang meruntuhkan norma. Pengalaman itu memicu dahaga Julian akan sensasi terlarang dengan wanita-wanita dewasa lainnya, mulai dari dominasi di kelas hingga kehangatan perawat. Di tengah pusaran gairah dan rasa bersalah, ia terus menguji batas moral. Akankah pilihan berisiko ini membakar dirinya atau mengungkap rahasia yang lebih dalam?
Bab
Bagikan

Bab 3

Aku terus menduga-duga, sementara kesepuluh jemariku tak berhenti memijat punggungnya. Ibu jariku memberikan tekanan yang lebih dalam, mencoba meredakan ketegangan yang mungkin dirasakannya, atau mungkin juga ketegangan yang kurasakan sendiri.

Bersamaan dengan itu, hasrat dalam diriku bergejolak semakin liar. Ini reaksi alami seorang lelaki normal. Seorang pemuda di puncak vitalitas yang tiba-tiba disuguhi pemandangan seorang wanita cantik tanpa busana. Kejantananku, yang tadinya malu-malu, kini bangkit dengan pongahnya, menuntut perhatian.

Duduk tepat di belakang tubuh telanjangnya terasa seperti siksaan yang nikmat. Meskipun pandanganku terbatas pada punggungnya, sesekali kucuri pandang ke arah samping, dan sekilas lekuk tubuhnya yang menggairahkan itu tertangkap mata. Siluet pinggangnya yang ramping mengarah ke pinggul yang montok, membangkitkan imajinasi liar tentang sentuhan di sana.

Sambil menarik napas dalam-dalam, aku memutuskan untuk mengakhiri siksaan yang memabukkan ini. Aku butuh kepastian, jawaban atas teka-teki yang diciptakan Tante Namira.

"Ngomong-ngomong tante, aku punya cara memijat yang baru tante. Cara mijat jaman now," ucapku, berusaha menyembunyikan getar dalam suara.

"Oh ya, cara memijat yang baru? Seperti apa?" tanyanya, terdengar tertarik.

"Tante ingin aku mencoba?" Aku menawarkan, jantungku berdebar kencang.

"Ya silakan aja," jawab Tante Namira, tanpa keraguan sedikit pun.

Aku menghentikan pijatan dengan jemari. Perlahan, sangat perlahan, aku mendekat. Dan kemudian, tanpa ragu lagi, aku mengecup punggungnya yang terbuka itu. Bibirku menyentuh kulitnya yang lembut dan terasa sedikit lembap.

Aku mencium tepat di bagian tengah punggungnya. Sensasi kulitnya yang halus dan hangat di bibirku mengirimkan gelombang kejut ke seluruh tubuh. Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar kecil.

Namun ia tidak menolak. Tak ada teguran. Tak ada kata-kata protes yang keluar dari bibirnya. Keheningan ini, entah mengapa, terasa lebih menggoda daripada seribu rayuan.

Karena tak ada penolakan, hasratku semakin membuncah. Aku terus mencium. Memulai dari bahu kirinya, merasakan kelembutan kulitnya di sana. Kemudian berpindah ke bahu kanan, menikmati setiap sentuhan.

Tante Namira tetap diam. Tubuhnya bergerak sedikit, mungkin karena geli atau mungkin karena sensasi lain yang tak bisa kubaca. Tapi ia tidak berkata apa-apa.

Aku kembali mengecup bagian tengah punggungnya, memperdalam ciuman itu, menghirup aroma tubuhnya yang memabukkan. Karena masih tak ada penolakan, aku memberanikan diri untuk melakukan hal lain.

Sambil terus mencium punggungnya, perlahan jemari tangan kananku menyelinap di paha Tante Namira. Kulitnya terasa halus dan lembut di bawah sentuhanku.

Awalnya, aku khawatir ia akan menyingkirkan tanganku, menganggap tindakanku ini terlalu lancang. Tapi dugaanku salah. Tante Namira tetap tak bereaksi. Ia membiarkanku membelai pahanya, merasakan lekuknya yang menggoda di bawah telapak tanganku. Ia juga tak mengeluarkan suara ketika bibirku terus menjelajahi punggungnya.

Ketidaktolakannya adalah lampu hijau. Sebuah sinyal bagiku untuk berani melangkah lebih jauh, meskipun jantungku berpacu dengan liar.

Tapi apa yang harus kulakukan selanjutnya? Rasa takut dan ragu masih menghantuiku. Menyentuh payudaranya yang pasti terasa kenyal dan lembut? Atau menjelajahi area sensitif di antara pahanya? Pikiran itu membuatku merinding sekaligus membangkitkan gairah yang membakar.

Aku tahu ada peluang untuk melakukan itu. Tapi aku memutuskan untuk bermain aman, bergerak perlahan tapi pasti. Membangun intensitasnya sedikit demi sedikit.

Aku terus mencium punggungnya, lalu turun ke pinggangnya. Aku mengecup pinggang sebelah kanannya, memberikan sedikit isapan lembut di sana.

"Ihh, geli Jul..."

Itu adalah kata-kata pertama yang keluar dari bibir Tante Namira sejak aku memulai "teknik memijat jaman now" yang nakal ini. Ia tertawa kecil, kegelian ketika bibirku mencium pinggangnya. Karena geli, tubuhnya bergerak, dan ia berbalik. Tante Namira yang tadinya memunggungiku, kini duduk menghadapku, bersandar di sofa.

Sesaat, aku mengira ia akan menutupi bagian tubuhnya yang paling pribadi, menyembunyikan payudaranya yang indah dan celah di antara kedua pahanya.

Tapi ternyata tidak.

Tante Namira sama sekali tidak berusaha untuk menutupi apa pun. Ia membiarkan mataku menelanjangi tubuhnya, menikmati pemandangan yang membuat napasku tercekat. Payudaranya yang montok, dengan puting yang menantang, tersembul jelas di balik dadanya. Dan di antara kedua pahanya, aku bisa melihat samar-samar hutan keriting yang gelap, mengundangku untuk menjelajahinya lebih dalam.

Aku merasa seperti mendapatkan kebebasan penuh. Aku melanjutkan ciumanku, kini di perutnya yang masih rata. Lidahku ikut bermain, menjilati kulit perutnya yang halus, lalu fokus pada pusarnya, mengitarinya dengan gerakan sensual.

Tante Namira menggeliat. Desahan kecil lolos dari bibirnya. Tapi ia tetap diam, tidak menolak.

Keberanianku semakin besar. Perlahan, bibirku merayap ke atas, menyentuh bagian bawah payudara kirinya. Kulitnya terasa sangat lembut di bibirku. Dengan hati-hati, bibirku mengitari bulatan payudara itu, merasakan berat dan kelembutannya, hingga akhirnya tiba di puncak.

Secara sekilas, bibirku melewati puting payudaranya yang mengeras, memberikan sentuhan lembut yang membuatku semakin bergairah. Hanya sekadar melewati, karena bibirku kini sudah berpindah ke payudara sebelah kanan

Sambil bibirku beraksi di sepasang payudara yang menjulang indah, bagai dua gunung kembar yang ranum, jemari tangan kananku tak mau ketinggalan untuk merasakan keindahan itu. Jemariku merayap di paha sebelah kanan, kulitnya sehalus sutra yang menggelinjang di ujung sentuhan. Sentuhan yang membangkitkan hasrat, seakan menyalurkan aliran listrik halus ke seluruh tubuhku. Kehalusan yang menggetarkan, membuatku semakin penasaran dengan apa yang tersembunyi di baliknya.

Jemariku terus merayap, mengikuti lekuk indah paha Tante Namira, hingga akhirnya tiba di perbatasan dunia terlarang. Jemariku bisa merasakan bulu halus yang tumbuh di antara kedua paha. Bulu-bulu lembut itu terasa menggelitik di ujung jariku, mengirimkan sinyal yang membakar ke otakku. Sebuah janji kehangatan dan kenikmatan yang tersembunyi.

Untuk sejenak, debaran jantungku meningkat. Ada keraguan dan keinginan yang saling berbenturan dalam diriku. Apakah aku perlu melanjutkan aksi jemariku di lembah kenikmatan antara kedua paha itu? Sebuah wilayah pribadi yang selama ini hanya menjadi imajinasiku.

Setelah berpikir sejenak, atau mungkin hanya sepersekian detik yang terasa lama, rasa ingin tahu yang membuncah mengalahkan keraguanku. Aku memutuskan untuk melanjutkan, meski awalnya dengan sentuhan yang masih ragu. Perlahan jemariku hinggap di bagian di antara kedua paha. Jemariku menyentuh sesuatu yang lembut, kenyal, dan hangat. Daging mungil yang lembut, terasa berdenyut halus di bawah sentuhanku.

Namun, seperti menggoda, jemariku hanya melewati dan kini kembali berada di paha. Aku mengulangi, tanganku merayap melewati belahan itu, menyentuh lipatan lembut, merasakan kehangatan yang menjalar, menyentuh daging dan "bibir" di bagian itu, dan terus ke atas, kembali ke pangkal paha. Setiap sentuhan singkat itu terasa seperti sengatan listrik yang menyenangkan, membuatku semakin menginginkan lebih.

Jemariku hanya melewati saja, sekadar menyentuh, seolah memberi janji akan sentuhan yang lebih intim nanti. Sebuah permainan menggoda yang membuatku dan mungkin juga Tante Namira semakin penasaran.

Sementara itu, bibirku terus beraksi, memberikan perhatian yang sama pada kedua payudara indah itu. Bibirku merayap hingga ke puting payudara sebelah kanan. Sama seperti di bagian kiri, bibirku dapat merasakan kalau puting di sebelah kanan sudah mengeras seperti batu. Sentuhan bibirku membuatnya semakin menonjol, seolah memanggil untuk mendapatkan lebih banyak perhatian.

Namun, bibirku hanya melewati, naik ke atas ke leher Tante Namira. Aroma tubuhnya yang memabukkan menyeruak, bercampur dengan sedikit parfum yang manis. Dengan lembut aku mengecup leher yang jenjang itu. Kulitnya terasa halus dan hangat di bibirku.

Tante Namira menggerakkan kepalanya, sedikit mendongak, memberi kesempatan yang lebih leluasa kepadaku untuk mencium lehernya. Sentuhan bibirku membuatnya mendesah pelan, sebuah melodi indah yang memacu adrenalin dalam darahku. Aku merasakan denyut nadinya yang semakin cepat di bawah bibirku.

Sambil bibirku mengecup dan menjilati lehernya, memberikan perhatian penuh pada setiap inci kulitnya, jemari tangan kiri yang sejak tadi menganggur kini ikut beraksi. Jemariku itu merayap di perutnya yang rata, merasakan setiap lekukan dan konturnya, ke kaki payudara sebelah kanan, dan akhirnya hinggap di puting sebelah kanan.

Dengan lembut, namun pasti, jemariku meremas puting itu. Sebuah sentuhan yang sederhana namun memiliki kekuatan yang luar biasa untuk membangkitkan gairah.

Jemariku memilin puting yang mengeras itu. Gerakan kecil itu terasa membakar di antara jemariku. Tante Namira menarik napas dalam-dalam, desahannya kali ini terdengar lebih jelas dan dalam, sebuah indikasi bahwa sentuhanku telah menyentuh titik sensitifnya.

Jemari tangan kananku tak mau kalah dalam permainan kenikmatan ini. Dengan keberanian yang semakin membuncah, jemari tangan kanan kini hinggap di belahan antara kedua paha. Tidak lagi sekadar menyentuh atau melewati, kini jari tengah dan jari manisku bermain dan mencari lubang di belahan itu. Sentuhan awal itu membuat Tante Namira sedikit mengangkat pinggulnya dari sofa, memberikan akses yang lebih leluasa kepada jemariku untuk menjelajahi pintu gerbang menuju surga duniawi itu. Cairan hangat dan licin menyambut kedatangan jariku, sebuah undangan terbuka untuk menjelajahinya lebih dalam....

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anything For You
9.7
Andre memendam cinta mendalam pada Samantha, namun segalanya rumit saat pertunangannya di ambang kehancuran. Di tengah kebimbangan Andre, muncul Yansen, dokter yang merawat Samantha. Yansen jatuh hati dan berjanji akan setia mendampingi wanita itu dalam kondisi apa pun. Kini Samantha berada di antara dua pria dengan komitmen berbeda. Siapakah yang akhirnya berhasil memenangkan hatinya di tengah konflik emosional yang kian pelik ini?
Sampul Novel Balas Dendamku: Menikahi Bos Mantan Suamiku
9.3
Vyora Arabelle merelakan impian demi cinta, namun pernikahan tanpa restu itu justru berujung pengkhianatan. Suaminya yang tergiur harta tega meninggalkannya akibat hasutan keluarga. Di tengah kehancuran, seorang pria misterius hadir menawarkan bantuan untuk membalas dendam pada sang mantan. Terluka oleh hinaan, Vyora menerima tawaran itu. Akankah misi ini menumbuhkan benih cinta baru bagi Vyora, atau ia justru akan tetap terbelenggu oleh bayang-bayang masa lalunya?
Sampul Novel Lupakan Aku
8.0
Sita terjebak dalam romansa indah bersama Raka, pria yang menjadi cinta pertamanya sejak masa kuliah. Hubungan mereka awalnya terasa sempurna dan penuh kebahagiaan. Namun, kenyataan pahit mulai muncul saat Sita menyadari jurang status sosial di antara mereka. Sebagai gadis dari keluarga sederhana, ia merasa terancam oleh posisi Raka sebagai putra pengusaha ternama. Akankah restu berpihak pada mereka, ataukah perbedaan kasta ini mengakhiri segalanya?
Sampul Novel Mencuri Hatimu
8.8
Terikat kesepakatan rahasia, seorang wanita mengandung benih dari pria asing sebelum akhirnya menikah dengan tunangan masa kecilnya. Meski pernikahan tersebut awalnya dianggap sebagai transaksi formal semata, benih cinta justru tumbuh di antara mereka. Namun, saat masa persalinan tiba, ia justru mengajukan gugatan cerai. Sang suami yang baru menyadari kekeliruannya kini memohon agar ia kembali, mengakui bahwa wanita itu adalah satu-satunya cinta sejatinya.
Sampul Novel Pengantin Pengganti
9.6
Kehidupan Ainayya Hikari Salvina mulai membaik saat pernikahannya menyembuhkan luka masa lalu. Namun, keharmonisan itu hancur seketika saat pengkhianatan melanda, memaksanya pergi meninggalkan rumah. Kini, Albara Demian Dominic harus berjuang memperbaiki puing-puing rumah tangga yang ia rusak sendiri. Mampukah Albara menebus kesalahannya dan mengobati hati istrinya? Ikuti perjuangan panjang Albara dalam mengejar kembali cinta yang sempat ia sia-siakan.
Sampul Novel Possessive Husband
7.9
Kehidupan Kiara berubah drastis saat dipaksa menikahi gurunya, Keith Wilson, di usia 17 tahun akibat perjodohan mendadak. Berbeda dengan Kiara yang menolak, Keith justru menerima pernikahan ini dengan maksud terselubung. Setelah menikah, Keith menunjukkan sisi posesif yang mengekang kebebasan Kiara. Konflik pun memuncak saat rahasia masa lalu terungkap dan kehadiran wanita lain menguji kesetiaan. Di tengah luka hati, mampukah Kiara memaafkan Keith yang mulai ia cintai?