APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjerat Birahi Direktur Dingin

Terjerat Birahi Direktur Dingin

Pasca tewas tertabrak truk akibat dikhianati tunangannya, Raisa Anastasya terbangun di raga baru dengan nama yang sama. Mengandalkan kecantikan fisiknya, ia bersiap menuntut balas. Namun, rencana itu goyah saat Zefan, direktur dingin yang mabuk, merenggut kesuciannya karena salah mengira identitasnya. Terjebak dalam gairah malam yang adiktif bersama sang bos, Raisa kini bimbang antara obsesi balas dendam atau mengikuti tarikan takdir yang membingungkan.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Ssst!" desis Linda untuk memanggil Raisa yang masih fokus dengan pekerjaannya. Saking fokusnya, desisan Linda jadi seperti angin lalu saja.

"Ssst! Hus! Ca! Caca!"

Raisa mendongak untuk melihat siapa yang di situasi sibuk begini malah berisik. Saat tau kalau itu adalah Linda, sebelah alisnya terangkat naik. "Apa sih, Lin?"

Linda menganggukkan dagunya untuk menunjuk Arzan yang terlihat berada di dekat ruang divisi perencanaan. Raisa jadi ikut menoleh ke tempat yang Linda tunjuk.

"Arzan?"

"Dia bukannya mau ketemu kamu? Coba samperin! Siapa tau penting?" ucap Linda.

Apa yang disampaikan Linda benar juga. Lantas Raisa beranjak dari tempatnya untuk mendatangi Arzan.

"Kenapa, Zan?" ucap Raisa ketika berada di dekat Arzan.

"E--eh, Caca? Enggak kok, bukan apa-apa. Aku cuma lagi penasaran sama proyek yang digarap divisi perencanaan. Sekali-kali aku boleh mampir nggak, sih?" kata Arzan dengan senyuman lebar.

Raisa memiringkan kepalanya. Lagi-lagi Arzan tampak aneh, tidak seperti biasanya. Memang sudah dua minggu Raisa tidak bertukar kabar atau menghabiskan waktu berdua, tapi hal itu biasa terjadi karena kesibukan masing-masing setiap ada proyek besar. Dan juga, toh mereka akan bertemu di kantor. Jadi baik Raisa maupun Arzan tak terlalu mencemaskan masalah komunikasi.

Tapi kali ini aneh. Arzan tidak terlihat seperti lelah karena lembur. Dia malah tampak bersemangat.

"Kamu baik-baik aja, Zan?"

"Iya, dong!" Arzan terkekeh. "Jadi gimana? Boleh?"

Raisa menggaruk pelipisnya. "Boleh-boleh aja, sih. Tapi anak-anakmu di divisi nggak pada nyariin?"

"Santai aja."

Sejak saat itu, sejak Raisa mengijinkan Arzan untuk datang ke ruangannya kapan saja, Arzan jadi sering terlihat di divisi perencanaan. Raisa memang tak terlalu terganggu. Toh, Arzan juga banyak membantu di sini.

Tapi yang aneh adalah keakrabannya dengan Anjani. Raisa tak tau sejak kapan mereka terlihat lebih dekat daripada kali pertama bertemu di lift dulu. Apa mungkin Raisa hanya terlalu cemas saja?

"Kalau yang ini gimana, Jan?" tanya Anjani sambil menunjuk layar laptop. Lantas Arzan menundukkan tubuhnya dan membantu Anjani menyelesaikan hal itu.

"Yakin nggak cemburu?" tanya Linda yang tiba-tiba sudah duduk di sebelah Raisa. Gadis itu ternyata menarik kursinya sampai di samping kursi Raisa. "Mau nutup mata dan telinga sampai kapan, sih? Jelas-jelas tunanganmu itu lagi pacaran sama mantannya. Jangan sok-sok-an pengertian kalau soal kayak gini!"

Raisa mendorong kursi Linda darinya. "Aku percaya sama Arzan."

"Percaya kok sama cowok? Percaya tuh sama Tuhan!"

Benar kalau dibilang Raisa tidak berprasangka buruk pada Arzan, tapi jelas dia mencemaskan sikap Anjani. Entah mengapa gadis itu seolah berusaha membuat Raisa tidak kasatmata.

Sepulang dari kantor, seperti biasanya Raisa hendak menunggu Arzan untuk pulang bersama. Tapi sudah dua jam Raisa menunggu dan Arzan tak kunjung turun juga. Karena cemas, Raisa memutuskan untuk masuk gedung lagi. Dia memilih naik tangga darurat karena lift sudah diisi banyak orang.

Baru sampai di lantai lima, langkah Raisa berhenti. Dia segera berbalik dan sembunyi di balik tembok. Terdengar bunyi tawa dari seseorang yang sangat Raisa kenal. Saat mengintipnya kembali, Raisa melihat Anjani yang berdiri di dalam kukungan lengan Arzan. Keduanya tampak senang. Bahkan saling melemparkan gurauan dan berakhir berciuman.

Ya, mereka berciuman.

Spontan Raisa menutup bibirnya. Dia tak percaya dengan apa yang dia lihat. Semuanya terlalu tiba-tiba. Arzan yang selalu dia percaya kini berkhianat. Apalagi hubungan mereka bukan hanya setahun dua tahun pacaran, tapi kenapa kepercayaan yang sudah terbentuk kuat dihancurkan semudah ini?

"Kenapa ... Zan?" Tangis Raisa mulai luruh. Dia susah payah untuk menghapus air mata.

Tiba-tiba sebuah sapu tangan diulurkan di sampingnya. Raisa tak mengerti, tapi dia terima saja sapu tangan itu karena malu. Raisa gunakan sapu tangannya untuk menghapus air mata dan ingusnya.

"Dia nggak pantas untukmu."

Raisa tau, di situasi begini orang akan mudah menilai kalau Raisa baru saja diselingkuhi. "Terima kasih," jawabnya seadanya tanpa berusaha menatap orang itu.

Kemudian Raisa beranjak pergi dari sana. Dia tidak bisa berpikir jernih lagi kalau terus melihat adegan itu.

Sampai di depan gedung, Raisa menutup wajahnya. Tangisnya masih belum juga berhenti. Dia tidak tau harus bereaksi seperti apa. Semuanya terlalu tiba-tiba. Kalau sudah begini, bagaimana dengan orang tuanya? Bagaimana dengan rencana pernikahan mereka? Bagaimana dengan perbincangan yang sudah didiskusikan dua keluarga? Bukankah semuanya akan hancur seketika jika Raisa langsung memutus hubungan mereka?

Apalagi ... Raisa sangat mencintai Arzan. Bagaimana semuanya bisa jadi begini? Apa salah Raisa pada Arzan? Apa yang membuat Arzan merasa kurang puas dengan Raisa?

"Caca!"

Raisa mendongak. Dia mulai menghapus semua air mata itu lagi dan berbalik. Dia lihat Arzan yang tersenyum lebar di samping Anjani.

"Hari ini Anjani nebeng kita juga, ya? Kasihan dia pulang sama taxi. Malam-malam begini kan susah carinya," ucap Arzan yang tak terlihat merasa bersalah sama sekali. Saat Raisa menatap bibir Arzan, di ujungnya ada bercak lipstik yang Anjani kenakan. Karena hari ini mereka akan makan malam bersama keluarga Raisa, Raisa tak ingin kejadian ini sampai disadari orang tuanya.

Raisa mengangguk. Dia berjalan mendekati Arzan lalu mengulurkan tangannya. Dia usap bibir Arzan dengan ibu jarinya untuk menghapus bekas itu.

"Ca--Caca?"

Raisa tersenyum miris. Dia menarik napas dalam-dalam dan meminta Arzan untuk segera menyiapkan mobilnya.

***

"Bagaimana kabar kamu, Nak Arzan?" tanya papa Raisa.

Sontak Arzan tersenyum lebar. Dia genggam tangan Raisa begitu eratnya. "Sangat bahagia, Pa! Karena Caca selalu ada di samping Arzan."

"Hahaha, kalian kelihatan kasmaran sekali. Papa jadi ingin cepat-cepat ngemong cucu," ucap papa Raisa.

"Iya, nih! Nggak sabar banget lihat anak mirip Arzan sama Caca," kata mama Raisa yang ikut mendesak.

Mendengar itu, Arzan terkekeh canggung. "Sesegera mungkin, Pa, Ma. Arzan dan Caca sedang mengusahakan agar tahun ini naik jabatan. Proyek kali ini besar, jadi akan cukup berpengaruh."

"Waduh! Keren-keren!"

Arzan melirik Raisa yang sepanjang makan malam hanya diam saja. Ini rasanya aneh. Padahal biasanya Raisa akan merebut celah untuk menjawab pertanyaan orang tuanya sendiri.

"Pelan-pelan aja, Ma, Pa. Kalau buru-buru takut hasilnya nggak sesuai ekspektasi," ucap Raisa akhirnya, tapi bukannya membantu membela, Raisa malah terdengar seperti mulai meragukan Arzan.

"Ca?"

Raisa tak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis sebagai balasan.

"Ya sudah. Yang penting papa sama mama akan selalu mendukung kalian. Soalnya kami sudah merasa cocok sama hubungan kalian. Terus sama-sama, ya?" ucap mama Raisa.

"Pasti, Ma," kata Arzan yang begitu yakin

Raisa jadi meliriknya. Apa maksud ucapan Arzan, pria itu akan tetap bersama Raisa walau sudah menemui perempuan lain di belakangnya? Ini jadi semakin tidak benar.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bermandikan Api: Kisah Reinkarnasi Seorang Putri
8.0
Terlahir kembali di tubuhnya yang berusia delapan tahun, Putri Yun Shang kini membawa beban ingatan dari masa depan yang kelam. Di kehidupan sebelumnya, ia hancur akibat pengkhianatan suami, kehilangan anak tercinta, dan kekejaman kakak perempuannya sendiri. Berbekal trauma dan pengetahuan masa lalu, Yun Shang bersumpah untuk membalikkan takdir. Ia tidak akan lagi menjadi korban yang lemah, melainkan sosok yang siap menuntut balas pada semua musuhnya.
Sampul Novel Ditolak oleh Jodohku, Direbut oleh Alfa Musuh
8.6
Sepuluh tahun mengabdi, impian Luna menjadi hancur saat Alpha Bara mengkhianatiku demi selingkuhannya, Dina. Bara memfitnahku mandul dan memerintahkan hukuman cambuk perak hingga aku sekarat di hutan. Di ambang kematian, aku justru terbangun sebagai tawanan Alpha Reno Mahesa, musuh bebuyutan kawanan kami. Sambil menatap lukaku, dia mengulang hinaan yang menghancurkan hatiku: benarkah aku hanya serigala betina tak berguna yang kini dibuang?
Sampul Novel Dunia Mimpi Para Jomblo
8.1
Rino Rahman, seorang pemuda yang baru menyelesaikan studinya di Bandung, mendambakan pengalaman asmara yang selama ini belum pernah ia rasakan. Di tengah kesendiriannya, sosok misterius hadir menawarkan bantuan untuk mewujudkan keinginan Rino melalui alam mimpi. Akankah janji pria tersebut menjadi kenyataan indah bagi Rino, ataukah tawaran itu hanyalah bualan kosong belaka? Ikuti perjalanan unik Rino dalam mencari cinta di antara realita dan imajinasi.
Sampul Novel Rahasia Kerajaan Terlarang: Petualangan Sensual di Dunia Fantasi
8.6
Aiden, seorang pemuda, tanpa sengaja menemukan pintu rahasia menuju kerajaan legendaris saat tersesat di hutan. Di sana, ia bertemu Elara, wanita penyihir yang kuat. Sambil mengungkap rahasia kelam dan ancaman kekuatan gelap di balik kemegahan istana, benih cinta dan hasrat sensual tumbuh di antara mereka. Meski terjebak intrik politik serta pengkhianatan, keduanya harus bersatu demi menyelamatkan kerajaan dan melindungi hubungan mereka dari kehancuran total.
Sampul Novel Gadis Titisan Harimau Putih
8.1
Naiya, guru kontrak yang mempesona, dipindahkan oleh Faisal ke Desa Blang Bungong demi rencana rahasia. Di sana, Laila yang cemburu mencoba membunuhnya lewat dukun, namun gagal karena Naiya adalah titisan harimau putih sakti. Desa itu pun dicekam kutukan Nyai Beulangong yang menumbalkan gadis-gadis untuk jin. Saat Naiya disekap Faisal, Razi datang mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya. Akankah Naiya menyadari cinta Razi di tengah ancaman para dukun jahat ini?
Sampul Novel HARLEIN
9.8
Harlein, sang pewaris takhta Kerajaan Fortania, terjebak dalam dilema asmara dengan Anggara Mahesa. Meski Harlein percaya cinta melampaui kasta, Anggara justru merasa tidak layak bersanding dengannya karena perbedaan status sosial mereka. Anggara memilih menjauh demi kebaikan bersama, namun Harlein menuntut perjuangan yang setara. Di tengah penolakan dan rasa lelah karena terus mengemis perhatian, mampukah sang putri mempertahankan perasaannya saat pasangannya sendiri menyerah?