APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjerat Cinta Dosen

Terjerat Cinta Dosen

Hubungan Ryan dan Amelia kini berada di ujung tanduk karena restu sang ibu yang tak kunjung didapat. Ryan dengan tegas menolak perjodohan sepihak yang diatur ibunya, namun tekanan tidak berhenti di situ. Sang ibu justru melancarkan berbagai taktik licik demi memaksa mereka berpisah selamanya. Di tengah manipulasi dan paksaan keluarga yang kian memanas, mampukah cinta Ryan dan Amelia bertahan, ataukah rencana jahat sang ibu berhasil menghancurkan segalanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Seorang gadis melangkah masuk, "Assalamulaikum," sapa ines melangkah masuk rumah. Masih berseragam putih biru baru pulang sekolah. Ia kelas tiga SMP. 

"Walaikumsalam!" Jawab   Ningsih. Amelia yang mendengar dari dalam kamar   menjawabnya di dalam hati. Amelia kembali browsing mencari  Universitas yang mengadakan beasiswa. Ia menemukan  Universitas Bonafid di Kota Semarang yang mengadakan beasiswa penuh. Amelia kemudian mendaftar secara online. 

Ines melangkah menuju kamar kakaknya. 

"Kak!" Suara Ines dari luar kamar. tanganya mengetok pintu kamar Amelia. 

"Ya!" balas Amelia dari dalam. Ia membuka pintu masuk ke kamar Amelia dan langsung duduk di pinggir Bed kamar tidur. 

"Ada apa Ines? tanya Amelia menatap lekat adik kesayanganya. 

"Kakak bajunya tidak di corat- coretkan?" tanya Ines memastikan. 

"Nggak de, tenang saja!" Amelia tersenyum mendengar pertanyaan adiknya. 

"Syukurlah." Ines bernafas lega. Mereka duduk saling berhadapan.

"Kakak hari ini pengumuman kelulusan kan?" Ines ingin tau. 

"Iya, emang kenapa?" tanya Amelia. 

"Kakak rangking berapa?" tanya Ines. 

"Yah, kakak hanya rangking lima dari seluruh siswa–" raut wajah Amelia sedih. 

"Kakak tak bisa rangking satu !"  Amelia menunduk. 

Ines mengenggam tangan kakaknya. 

"Tak apa kak, rangking lima aja udah bagus ko!"  Ines membesarkan hati kakaknya. 

 "Ya sih." 

"Kalau kamu  udah ujian  belum?" Amelia balik tanya. 

"Belum kakakku sayang, ujiannya minggu depan," jawab Amelia. 

"Oh ya, belajar yang rajin. Biar dapet rangking satu ya!" pesen Amelia mengusap kepala adiknya. 

"Nggak tau juga kak, aku kan tak sepintar kakak !" Wajah Ines berubah sendu. 

"Kata siapa, adikku ini juga pintar. Cantik lagi !" Puji Amelia sembari mengelus kepala Ines. 

 "Kakak, ingin kuliah Nes !" kata Amelia sendu. Ines memahami keinginan kakaknya. 

"Tapi kak–" 

"Kondisi orang tua kita? Ines protes. 

"Kakak, akan mencari beasiswa!" ucap Amelia semangat. 

"Baiklah, kalau itu aku dukung. Tapi  nanti siapa yang akan ngajak aku berantem?"  Ines mencebikan bibirnya.

"Mumpung kakak belum pergi, aku akan menghajarmu!" Amelia melempar bantal ke muka Ines. Mereka kemudian perang bantal di sertai teriakan. Ningsih mendengar anak- anaknya sedang bercanda di dalam kamar. 

"Amell... Iness !!" Kalian kalau becanda kelewatan. Nanti kalau ada yang nangis tak jewer kupingnya satu- satu !" teriak Ningsih kesal. 

Mereka langsung menghentikan perang. Ibu negara sudah marah. Ines menyebut  ibunya dengan sebutan ibu negara. 

****

Sore beranjak menuju malam, mereka sekeluarga makan malam bersama. Amelia membuka suara dan meminta ijin pada Ayahnya. 

"Yah, besok aku minta ijin ke kota besar.   Trisno Ayahnya Amelia langsung  menatap anaknya.  

"Mau kemana?" tanya  Trisno 

"Mau daftar kuliah ambil beasiswa ,Ayah," jawab Amelia. Trisno langsung meletakan sendoknya di atas piring. Ia senang dan bahagia anaknya ingin kuliah. Tapi juga sedih  tak mampu membiayai sekolah putri sulungnya. Anaknya harus mencari beasiswa.  

"Nak, Ayah minta maaf.  Tak bisa membiayai kamu. Ayah mendukungmu kalau kamu ingin mendapatkan beasiswa. Ayah akan selalu mendoakanmu, agar jadi orang sukses," kata Trisno mendoakan anaknya. namun aura sedih sangat kelihatan di wajah Trisno. 

"Iya... Ayah, Tapi Ayah tak usah minta maaf. Amelia sangat  bersyukur jadi anak Ayah," ucap Amelia tersenyum manis. Haru menyelimuti hati Trisno.

"Ibu, juga hanya bisa mendoakanmu nak. Moga kamu lolos dan berhasil mendapat beasiswa," ucap Ningsih

"Makasih Ayah, Ibu doa kalian yang terpenting!" Amelia menatap Ayah dan Ibunya secara bergantian. 

"Baiklah, besok Ayah antar!" ucap Trisno 

"Tapi nganternya sampai ke terminal aj ya, yah!" pinta Amelia. 

"Lah kenapa?" Trisno heran. Apa anakku malu? 

"Aku udah gede Ayah, aku juga bareng Mita."  Amelia beri alasan. 

"Baiklah..." Lega karena anaknya ada temenya.    

Suasana yang sederhana tapi menghangatkan. Amelia bersyukur dalam keluarga ini. 

   Adzan subuh berkumandang, Amelia bangun kemudian beranjak sholat subuh. Sebelum ke dapur ia sempetkan belajar dulu. Tapi baru buka beberapa lembar buku, Amelia mendengar Ibunya memasak. Ia kemudian tutup bukunya dan beranjak ke dapur. 

"Masak apa Bu, aku bantu ya," kata Amelia sembari menyentuh telur yang akan digoreng. 

"Iya," kata Ninsih. 

Masak hari ini menunya juga sederhana. Telur goreng dan tumis sawi putih. Ketika sedang memecahkan telur ia di kagetkan dengan suara Ayahnya. 

"Nanti kamu berangkat jam berapa Amel?" tanya Trisno

"Jam tujuh." 

Trisno kemudian mengeluarkan motor maticnya. Ia akan pergi  mencari pinjaman buat uang saku anaknya.Ia pergi ke kakak keduanya.   Trisno tiga bersaudara. Dua kakaknya nasibnya lebih beruntung dibanding dirinya. Kakak pertama seorang  bidan.  Sedangkan kakak kedua punya Usaha galon dan gas. Hanya dirinya yang petani merangkap tukang ojek. Sebenarnya ia malas untuk berurusan dengan kakaknya yang nomer dua ini. Ia selalu memandang rendah dirinya. Tapi karena kebutuhan yang mendesak. Sedang kakak pertamanya sering membantu dirinya, ia merasa tak enak.

 Trisno berdiri di depan pagar  besi tinggi menjulang. Rumah mewah bercat putih itu juga di jaga satpam. Mencoba memencet bel. Tak lama kemudian satpam keluar.

"Selamat pagi pak Trisno," sapa satpam ramah. Karena ia tahu  Trisno saudara kandung dengan majikanya.

"Silakan masuk pak!" satpam menyilahkan masuk. Trisno melangkah kakinya menuju teras. Ia duduk di teras depan menunggu kakaknya keluar. Tak lama kemudian kakaknya keluar. 

"Ada apa pagi-pagi kemari? Ganggu orang tidur aja!"  Trisno menelan ludahnya. Ia tau pasti akan mendapat omongan seperti ini. 

"Anu kak, si amel sudah lulus SMA. Ia ingin daftar beasiswa. Aku pingin pinjem uang satu juta aja buat uang sak Amel! Mohon Trisno dengan hati- hati. 

"Ha...ha..haa.. Eeh.. kalau Amel udah lulus yah di kawinin aja. Ngapain kamu kuliah   segala. Perempuan itu juga ujung-ujungnya kawin !!" Kakak Trisno berkacak pinggang. 

"Nggak ada, uangku buat muter usaha   lagi !" teriak kakak Trisno. 

 Astagfirullah,  Trisno mengelus dadanya mendengar suara keras kakak keduanya ini.

"Hei, kalau orang miskin nggak usah mikir untuk sekolah tinggi. Cukup makan aja udah alhamdulilah!" Kakak Trisno semakin menghinanya. 

Tak tahan mendengar hinaan dari kakaknya ia langsung beranjak dan pergi. 

Satpam membukakan pintu untuk  Trisno

"Hati- hati di jalan ya pak," ucap satpam tak tega  melihat ia  dihina oleh kakaknya sendiri. 

"Ya, makasih Mang Udin." Nama satpam itu Mang Udin. Trisno kemudian menjalankan motor maticnya meninggalkan rumah mewah itu. Trisno kemudian menjalankan motor maticnya ke rumah kakak kandungnya yang pertama. Dia seorang bidan. Namanya  Wati.  Trisno mengetuk pintu rumah kakak yang pertama. 

Tok.. tok.. 

Bude Wati kemudian membuka pintu. Ia tersenyum saat yang datang adiknya. 

"Apa kabar Trisno baru kelihatan Masuklah!" 

 Trisno kemudian duduk di sofa ruang tamu.  Trisno  menghela nafas pelan. Bude Wati heran melihat wajah  Trisno tampak tegang. 

"Ada apa kayaknya kamu tegang banget?" Wati heran melihat wajah adiknya. 

"Gini Mbak, si Amel udah luluSMA. Dia ingin melanjutkan kuliah di kota S  Ia ingin dengan mendapatkan beasiswa. Tapi aku ingin memberinya uang saku. Buat bekal dia saat di kota. Karena ujiannya  dua hari dan perlu kos. Aku ingin pinjem uang mbak Wati satu juta boleh?" pinta Trisno hati- hati. 

"Aah, keponakanku pinter ya, ingin kuliah dengan mendapatkan beasiswa. Bentar aku ambil uangnya dulu. Dan nggak usah pinjem ya, ini untuk hadiah kelulusan untuk Amel!" ucap Wati tersenyum. 

"Alhamdulilah!" gumam  Trisno lega. 

 Bersambung.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Itu Hanya Sebuah Kebohongan
8.3
Demi Rangga, aku merelakan desain terbaikku agar ia menang. Namun, di malam perayaan, pengkhianatannya terungkap. Ia menyebutku alat bisnis dan mengumumkan pertunangan dengan Zahira. Setelah malam intim kami, ia justru menyuruhku meminum pil pencegah kehamilan. Sepuluh tahun cintaku hancur seketika. Aku pun pergi menjauh untuk menata hidup baru. Saat aku mulai bahagia, Rangga tiba-tiba muncul kembali dan terobsesi mengejarku meski dulu telah membuangku.
Sampul Novel Jerat Cinta Lelaki Muda
8.6
Rafka Mahendra, playboy kampus yang gemar menaklukkan wanita, menerima tantangan teman-temannya untuk memacari dosen baru yang dingin dan tegas, Sarah Adisty Mahira, dalam sebulan. Meski terus diabaikan, Rafka nekat melakukan segala cara, termasuk menyewa mata-mata demi menyelidiki rahasia masa lalu Sarah. Saat menemukan titik lemah sang dosen, Rafka memanfaatkannya sebagai ancaman. Akankah intrik ini memaksa Sarah tunduk, ataukah permainan cinta Rafka justru berujung di luar kendali?
Sampul Novel Kesemptan Kedua Juna
8.9
Penyesalan mendalam menghantui Juna tepat setelah sidang perceraiannya selesai. Dalam sebuah insiden tragis, Dara justru mengorbankan diri demi menyelamatkan nyawa Juna dari maut. Peristiwa memilukan ini menjadi awal terungkapnya berbagai rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat. Juna akhirnya mengetahui identitas asli di balik nama pena D'SecretAdmirer, sosok misterius yang selalu mengiriminya puisi cinta selama ini. Kini, kebenaran mulai terkuak.
Sampul Novel Kopi Es Tanpa Kafein
7.8
Kathy meminta suaminya, Jared, seorang profesor, membelikan kopi saat menjemputnya. Namun, Jared justru memberikan kopi tanpa kafein yang tidak diinginkannya. Kathy langsung membuang minuman itu dan menuntut cerai di hadapan asisten baru Jared, Diana Riley. Meski Diana menganggapnya masalah sepele dan Jared merasa Kathy berlebihan, keputusan Kathy sudah bulat. Ia bertekad mengakhiri pernikahan mereka dan membawa surat perceraian keesokan harinya.
Sampul Novel Menikah dengan Pria Lain Setelah Tunanganku Menunda Pernikahan
9.7
Tepat tiga hari sebelum hari bahagia, Eliana dikhianati oleh kekasihnya yang memilih menikahi teman masa kecilnya dengan alasan penyakit Alzheimer. Pacarnya meminta Eliana menunggu hingga wanita itu lupa segalanya. Tanpa air mata, Eliana mengambil langkah drastis dengan menghubungi keluarganya. Ia setuju menikahi pewaris keluarga Barton yang dikenal dingin melalui perjodohan lama. Eliana memastikan pria itu akan muncul di pelaminan bersamanya.
Sampul Novel Mertuaku perusak hidupku
8.6
Pernikahan yang semula diharapkan menjadi sumber kebahagiaan justru berubah menjadi dilema besar bagi sang tokoh utama. Kehadiran ibu mertua yang masih berusia muda menciptakan ketertarikan tak terduga yang sulit untuk dihindari. Terbuai oleh pesona serta rayuan yang terus dilancarkan, sang menantu kini terjebak dalam godaan terlarang. Di tengah pengkhianatan ini, mampukah ia tetap setia dan mempertahankan rumah tangganya yang kini berada di ambang kehancuran?