APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjerat Gairah Sang Lady Boss

Terjerat Gairah Sang Lady Boss

Jesslyn Margaretha Amber adalah pengusaha sukses asal New York yang dijuluki Lady Boss. Meski bisnisnya gemilang, hatinya hancur akibat pengkhianatan kekasih. Saat nyaris menyerah pada hidup, ia memacu mobilnya hingga dikejar polisi lalu lintas bernama Louis Damian. Pertemuan tak terduga ini memicu aksi nekat Jesslyn yang tiba-tiba mencium Louis dan langsung mengajaknya menikah. Akankah Louis menerima tawaran gila dari wanita asing yang baru ditemuinya tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Apakah Anda mau menikah denganku, Tuan?" Jesslyn memandang lurus ke depan kaca mobil tanpa ekspresi.

Sit ....

Louis mengerem mendadak mobil yang tengah ia kemudi.

"Hey, Nona! Apakah Anda benar-benar sudah tidak waras? Ketika tadi baru bertemu, tiba-tiba Anda menciumku. Sekarang tanpa basa-basi Anda mengajakku menikah? Oh Tuhan, kenapa aku bisa di pertemukan dengan wanita seperti ini?" Louis menggelengkan kepalanya.

"Apakah Anda mau menikah denganku? tidak perlu berkata yang lain saya hanya butuh jawaban mau dari Anda."

"Anda mengambil keputusan atas kemauan Anda sendiri. Anda pun tidak menanyakan status saya."

"Jika Anda sudah menikah, maka jadikan saya istri kedua Anda."

"Astaga, wanita macam apa Anda ini? Apakah Anda tidak memikirkan bagaimana perasaan hati wanita lain?"

"Hahaha ... Hatiku saja tidak ada yang perduli. Maka itulah yang akan aku lakukan. Aku juga bisa seperti mereka. Jika istrimu membutuhkan uang akan aku berikan berapa yang dia mau. Atau mungkin dia membutuhkan apartemen, mobil, dan perhiasan mewah? Akan aku berikan semua." Jesslyn mengucapkan semua itu begitu saja dengan raut datar tanpa ekspresi.

"Sial! Wanita macam apa yang ada di depanku ini. Hey, Nona! Tidak semua hal bisa dibeli dengan uang. Tidak ada hati wanita yang ingin diduakan cintanya. Ingat itu!"

"Jika kamu tidak ingin menduakan istrimu, maka ceraikanlah. Menikahlah denganku. Apapun yang kamu butuhkan akan kuberikan. Kamu tidak perlu lagi bekerja seperti ini."

"Keliatannya Anda memang tidak waras. Lebih baik saya segera mengantar Anda pulang saja. Di mana alamat rumah Anda?" Louis sudah mulai geram dengan Jesslyn.

"Di depanmu ada kotak kartu nama saya. Ambilah salah satu, di sana tertulis nama dan alamat lengkap saya."

"Benar-benar tidak waras!" Louis mengambil salah satu kartu nama tersebut.

"Jesslyn Margaretha Amber. Apa? Anda CEO dari lima perusahaan terkenal ini?" Louis membaca kartu nama tersebut. "Oh Tuhan, sebaik inikah Tuhan memberikan hidup mewah untuk nasib wanita gila macam dia!" Lanjut Louis sembari melajukan kembali mobil yang ia kendarai.

"Berhentilah memanggilku wanita gila. Jika kau mau menjadi suamiku, maka kau juga bisa menikmati keberuntungan hidupku," Jesslyn tetap menampilkan raut wajah tanpa ekspresi.

"Nona, mungkin tidak ada yang akan mau menikahi wanita sepertimu."

"Jaga bicaramu, Tuan!" Jesslyn menatap Louis dengan tatapan tajam.

"Anda harus memperbaiki sikap. Jangan menilai apapun dengan materi. Belajarlah mencintai dengan hati," Louis tetap fokus mengemudikan mobil.

"Maka kau lah yang ku suruh akan mengajariku, Tuan!" Jesslyn mulai geram dengan ucapan Louis.

"Maaf, Nona! Sedikitpun saya tidak tertarik dengan semua tawaran Anda."

"Aku lah yang akan membuatmu tertarik kepada diriku."

"Hahaha ... Anda terlalu percaya diri, Nona." Louis menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah yang berada di pinggiran kota New York.

"Kita sudah sampai di depan rumah Anda. Saya rasa tugas mengantar Anda pulang pun sudah selesai. Maka saya pamit untuk kembali bertugas," Louis keluar dari mobil Ferrari merah yang ia kendarai. Disusul oleh Jesslyn yang ikut keluar dari kursi penumpang mobil yang sama.

"Tunggu, Tuan!" Jesslyn menghentikan langkah Louis yang hendak pergi meninggalkannya. Seketika Louis berbalik dan menghentikan langkahnya. Jesslyn berlari mendekati Louis, tanpa basa-basi ia langsung mencium Louis seperti yang pertama ia lakukan sebelumnya. Sekali lagi Louis terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Jesslyn secara tiba-tiba. 

Tidak ada balasan dari Louis. Dia hanya berdiri terdiam mematung. Seusai mencium Louis, Jesslyn memeluk tubuh Louis dengan erat.

"Ku mohon, jangan tinggalkan aku sendiri di sini. Ku mohon!" Jesslyn memohon kepada Louis, air mata tiba-tiba mengalir begitu saja.

"Nona, tolong jangan seperti ini. Sebenarnya ada apa dengan Anda?" hati Louis tiba-tiba merasa iba kepada Jesslyn.

"Aku sudah tidak sanggup lagi untuk hidup, Tuan. Rasanya aku ingin mengakhiri hidupku saja. Aku sudah lelah dengan semua ini." Jesslyn memeluk Louis semakin erat dengan ditemani isak tangis yang akhirnya terluapkan.

"Lepaskan pelukanmu, Nona. Ini tidak benar."

"Aku tahu kau pria yang sangat bertanggung jawab dan hangat. Aku bisa merasakannya, Tuan. Tolong jangan tinggalkan aku saat ini!" Jesslyn semakin tampak rapuh dengan air mata yang semakin banyak jatuh bergulir. Hingga pundak Louis ikut basah oleh air mata Jesslyn.

"Sepertinya, Anda membutuhkan teman untuk berbicara," Louis melihat ke arah jam tangan miliknya. Jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari.

"Baiklah, saya rasa ini hari baik untuk Anda. Jam kerja saya juga sudah habis. Maka saya akan mendengarkan cerita dan keluh kesah di hati Anda saat ini."

"Terima kasih, Tuan!" Jesslyn mencium pipi Louis dan melepaskan pelukannya.

"Mari masuk ke dalam rumahku."

Jesslyn mengajak Louis masuk ke dalam rumahnya.

"Selamat datang di istana tak bertuan ini, Tuan!"

"Apa maksud Anda dengan kalimat istana tak bertuan, Nona?"

"Silahkan duduk. Anda bisa melihat isi rumah ini. Bangunan besar kuno dengan lima orang penghuni saja."

"Rumah sebesar ini hanya memiliki lima orang penghuni? Maaf, saya tidak percaya dengan hal itu."

"Tuan, di sini saya hanya tinggal bersama dua asisten rumah tangga, seorang tukang kebun, dan seorang sopir saja."

"Sedangkan keluargamu?"

"Hahaha ... Apakah Anda tidak pernah membaca artikel atau melihat berita? Jesslyn Margaretha Amber, lady boss. CEO terkaya di New York yang hanya hidup seorang diri. Kisah cintanya tidak semulus karir yang dimiliki. Bukankah judul artikel seperti itu yang sering mereka gunakan?" Jesslyn membanggakan dirinya sendiri.

"Hahaha ... saya sungguh kasihan melihat hidup Anda, Nona." Louis menyindir Jesslyn.

"Terima kasih, Tuan. Iba dari mu membuatku lebih yakin jika hidupku sangat menyedihkan," Jesslyn tersenyum tipis terlihat sangat kacau.

"Oh ya, Tuan. Kau ingin minum apa? Whiski, vodka, atau wine?" tambah Jesslyn.

"Tidak, saya butuh secangkir kopi saja untuk membuat mata saya tetap terjaga di malam ini."

"Oke, tunggulah biarkan asisten rumah tanggaku  membuat untuk anda. Alice! Grace!" Jesslyn meneriaki satu persatu nama asisten rumah tangganya.

"Mungkin mereka sudah tidur, Nona. Ini sudah lewat dari pukul satu dini hari. Biarkan mereka istirahat."

"Mereka digaji bukan hanya untuk tidur-tiduran saja!"

"Apakah Anda mengerti di jam sekian memang waktunya untuk beristirahat. sudahlah, Nona! Biarkan mereka beristirahat. Jika ada, tolong ambilkan saya segelas air mineral saja."

"Tidak! Aku akan membuatkan kopi untukmu, Tuan!"

"Baiklah, terserah Anda saja!"

"Tunggulah sebentar!"

Jesslyn menuju ke dapur sambil mengeluarkan kata-kata umpatan untuk kedua asisten rumah tangganya. 

"Bagaimana cara membuat kopi? Aduh, kenapa lebih susah membuat kopi dari pada tanda tangan berkas?" Jesslyn menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Dia mengambil teko kecil untuk merebus sedikit air. Dia siapkan cangkir dan kopi hitam di atas meja dapur. Tanpa disadari ternyata air dalam teko terlalu sedikit. Hingga akhirnya airnya habis dan mengeluarkan asap dari dalam teko.

"Aduh, ini bagaimana?" Jesslyn mengambil air dari kran wastafel kemudian menyiramkan ke teko tersebut. Bukannya asap hilang, malah api semakin membesar. Gorden di dekat jendela dapur pun ikut tersulut api. Jesslyn semakin takut melihat api yang kian membesar.

=======00000=======

*BAB 2*

"Apakah Anda mau menikah denganku, Tuan?" Jesslyn memandang lurus ke depan kaca mobil tanpa ekspresi.

Sit ....

Louis mengerem mendadak mobil yang tengah ia kemudi.

"Hey, Nona! Apakah Anda benar-benar sudah tidak waras? Ketika tadi baru bertemu, tiba-tiba Anda menciumku. Sekarang tanpa basa-basi Anda mengajakku menikah? Oh Tuhan, kenapa aku bisa di pertemukan dengan wanita seperti ini?" Louis menggelengkan kepalanya.

"Apakah Anda mau menikah denganku? tidak perlu berkata yang lain saya hanya butuh jawaban mau dari Anda."

"Anda mengambil keputusan atas kemauan Anda sendiri. Anda pun tidak menanyakan status saya."

"Jika Anda sudah menikah, maka jadikan saya istri kedua Anda."

"Astaga, wanita macam apa Anda ini? Apakah Anda tidak memikirkan bagaimana perasaan hati wanita lain?"

"Hahaha ... Hatiku saja tidak ada yang perduli. Maka itulah yang akan aku lakukan. Aku juga bisa seperti mereka. Jika istrimu membutuhkan uang akan aku berikan berapa yang dia mau. Atau mungkin dia membutuhkan apartemen, mobil, dan perhiasan mewah? Akan aku berikan semua." Jesslyn mengucapkan semua itu begitu saja dengan raut datar tanpa ekspresi.

"Sial! Wanita macam apa yang ada di depanku ini. Hey, Nona! Tidak semua hal bisa dibeli dengan uang. Tidak ada hati wanita yang ingin diduakan cintanya. Ingat itu!"

"Jika kamu tidak ingin menduakan istrimu, maka ceraikanlah. Menikahlah denganku. Apapun yang kamu butuhkan akan kuberikan. Kamu tidak perlu lagi bekerja seperti ini."

"Keliatannya Anda memang tidak waras. Lebih baik saya segera mengantar Anda pulang saja. Di mana alamat rumah Anda?" Louis sudah mulai geram dengan Jesslyn.

"Di depanmu ada kotak kartu nama saya. Ambilah salah satu, di sana tertulis nama dan alamat lengkap saya."

"Benar-benar tidak waras!" Louis mengambil salah satu kartu nama tersebut.

"Jesslyn Margaretha Amber. Apa? Anda CEO dari lima perusahaan terkenal ini?" Louis membaca kartu nama tersebut. "Oh Tuhan, sebaik inikah Tuhan memberikan hidup mewah untuk nasib wanita gila macam dia!" Lanjut Louis sembari melajukan kembali mobil yang ia kendarai.

"Berhentilah memanggilku wanita gila. Jika kau mau menjadi suamiku, maka kau juga bisa menikmati keberuntungan hidupku," Jesslyn tetap menampilkan raut wajah tanpa ekspresi.

"Nona, mungkin tidak ada yang akan mau menikahi wanita sepertimu."

"Jaga bicaramu, Tuan!" Jesslyn menatap Louis dengan tatapan tajam.

"Anda harus memperbaiki sikap. Jangan menilai apapun dengan materi. Belajarlah mencintai dengan hati," Louis tetap fokus mengemudikan mobil.

"Maka kau lah yang ku suruh akan mengajariku, Tuan!" Jesslyn mulai geram dengan ucapan Louis.

"Maaf, Nona! Sedikitpun saya tidak tertarik dengan semua tawaran Anda."

"Aku lah yang akan membuatmu tertarik kepada diriku."

"Hahaha ... Anda terlalu percaya diri, Nona." Louis menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah yang berada di pinggiran kota New York.

"Kita sudah sampai di depan rumah Anda. Saya rasa tugas mengantar Anda pulang pun sudah selesai. Maka saya pamit untuk kembali bertugas," Louis keluar dari mobil Ferrari merah yang ia kendarai. Disusul oleh Jesslyn yang ikut keluar dari kursi penumpang mobil yang sama.

"Tunggu, Tuan!" Jesslyn menghentikan langkah Louis yang hendak pergi meninggalkannya. Seketika Louis berbalik dan menghentikan langkahnya. Jesslyn berlari mendekati Louis, tanpa basa-basi ia langsung mencium Louis seperti yang pertama ia lakukan sebelumnya. Sekali lagi Louis terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Jesslyn secara tiba-tiba. 

Tidak ada balasan dari Louis. Dia hanya berdiri terdiam mematung. Seusai mencium Louis, Jesslyn memeluk tubuh Louis dengan erat.

"Ku mohon, jangan tinggalkan aku sendiri di sini. Ku mohon!" Jesslyn memohon kepada Louis, air mata tiba-tiba mengalir begitu saja.

"Nona, tolong jangan seperti ini. Sebenarnya ada apa dengan Anda?" hati Louis tiba-tiba merasa iba kepada Jesslyn.

"Aku sudah tidak sanggup lagi untuk hidup, Tuan. Rasanya aku ingin mengakhiri hidupku saja. Aku sudah lelah dengan semua ini." Jesslyn memeluk Louis semakin erat dengan ditemani isak tangis yang akhirnya terluapkan.

"Lepaskan pelukanmu, Nona. Ini tidak benar."

"Aku tahu kau pria yang sangat bertanggung jawab dan hangat. Aku bisa merasakannya, Tuan. Tolong jangan tinggalkan aku saat ini!" Jesslyn semakin tampak rapuh dengan air mata yang semakin banyak jatuh bergulir. Hingga pundak Louis ikut basah oleh air mata Jesslyn.

"Sepertinya, Anda membutuhkan teman untuk berbicara," Louis melihat ke arah jam tangan miliknya. Jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari.

"Baiklah, saya rasa ini hari baik untuk Anda. Jam kerja saya juga sudah habis. Maka saya akan mendengarkan cerita dan keluh kesah di hati Anda saat ini."

"Terima kasih, Tuan!" Jesslyn mencium pipi Louis dan melepaskan pelukannya.

"Mari masuk ke dalam rumahku."

Jesslyn mengajak Louis masuk ke dalam rumahnya.

"Selamat datang di istana tak bertuan ini, Tuan!"

"Apa maksud Anda dengan kalimat istana tak bertuan, Nona?"

"Silahkan duduk. Anda bisa melihat isi rumah ini. Bangunan besar kuno dengan lima orang penghuni saja."

"Rumah sebesar ini hanya memiliki lima orang penghuni? Maaf, saya tidak percaya dengan hal itu."

"Tuan, di sini saya hanya tinggal bersama dua asisten rumah tangga, seorang tukang kebun, dan seorang sopir saja."

"Sedangkan keluargamu?"

"Hahaha ... Apakah Anda tidak pernah membaca artikel atau melihat berita? Jesslyn Margaretha Amber, lady boss. CEO terkaya di New York yang hanya hidup seorang diri. Kisah cintanya tidak semulus karir yang dimiliki. Bukankah judul artikel seperti itu yang sering mereka gunakan?" Jesslyn membanggakan dirinya sendiri.

"Hahaha ... saya sungguh kasihan melihat hidup Anda, Nona." Louis menyindir Jesslyn.

"Terima kasih, Tuan. Iba dari mu membuatku lebih yakin jika hidupku sangat menyedihkan," Jesslyn tersenyum tipis terlihat sangat kacau.

"Oh ya, Tuan. Kau ingin minum apa? Whiski, vodka, atau wine?" tambah Jesslyn.

"Tidak, saya butuh secangkir kopi saja untuk membuat mata saya tetap terjaga di malam ini."

"Oke, tunggulah biarkan asisten rumah tanggaku  membuat untuk anda. Alice! Grace!" Jesslyn meneriaki satu persatu nama asisten rumah tangganya.

"Mungkin mereka sudah tidur, Nona. Ini sudah lewat dari pukul satu dini hari. Biarkan mereka istirahat."

"Mereka digaji bukan hanya untuk tidur-tiduran saja!"

"Apakah Anda mengerti di jam sekian memang waktunya untuk beristirahat. sudahlah, Nona! Biarkan mereka beristirahat. Jika ada, tolong ambilkan saya segelas air mineral saja."

"Tidak! Aku akan membuatkan kopi untukmu, Tuan!"

"Baiklah, terserah Anda saja!"

"Tunggulah sebentar!"

Jesslyn menuju ke dapur sambil mengeluarkan kata-kata umpatan untuk kedua asisten rumah tangganya. 

"Bagaimana cara membuat kopi? Aduh, kenapa lebih susah membuat kopi dari pada tanda tangan berkas?" Jesslyn menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Dia mengambil teko kecil untuk merebus sedikit air. Dia siapkan cangkir dan kopi hitam di atas meja dapur. Tanpa disadari ternyata air dalam teko terlalu sedikit. Hingga akhirnya airnya habis dan mengeluarkan asap dari dalam teko.

"Aduh, ini bagaimana?" Jesslyn mengambil air dari kran wastafel kemudian menyiramkan ke teko tersebut. Bukannya asap hilang, malah api semakin membesar. Gorden di dekat jendela dapur pun ikut tersulut api. Jesslyn semakin takut melihat api yang kian membesar.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Cinta Yang Kandas
8.7
Tiga tahun Aveline mengabdi dalam pernikahan tanpa cinta demi Damian, bahkan rela menyerahkan bakat arsitekturnya agar suaminya bersinar. Namun, pengkhianatan Damian di depan publik menyadarkannya. Aveline memilih bercerai dan bangkit membangun firma de la Fontaine miliknya sendiri. Kini, ia kembali sebagai arsitek kelas dunia yang sukses mengalahkan dominasi perusahaan Blackwood. Di tengah puncak kejayaan, akankah ia membiarkan cinta masuk kembali ke hatinya?
Sampul Novel Cinta Sang Pewaris
9.4
Nathaniel Albar, pewaris bisnis dingin yang terobsesi pada nama baik, bertemu Alya Nabila, gadis sederhana yang gigih. Awalnya, Nathan terus menguji dan mencoba menjatuhkan Alya setelah insiden wawancara kerja yang fatal. Namun, di balik sikap kerasnya, Nathan memiliki rencana terselubung saat merekrutnya. Ketika masa lalu kelam Nathan terkuak, Alya harus memilih antara cinta atau keselamatan diri. Mampukah ketulusan Alya mencairkan ambisi beku sang pewaris?
Sampul Novel Diperas Mafia Tengil
8.6
Hidup Rania penuh cobaan, mulai dari gagal menikah hingga diceraikan karena tak punya anak lelaki. Saat ingin berhenti menjadi asisten pribadi, ia justru diperas oleh bosnya yang seorang mafia, Radin. Namun, Radin malah melindungi Rania dan putrinya dari gangguan sang mantan suami. Sikap kontradiktif ini membuat Rania bingung akan niat asli Radin. Ternyata, Radin menyimpan rahasia besar tentang masa lalu mereka yang menjadi alasan di balik kebaikannya.
Sampul Novel Harem milik Suamiku
9.1
Demi lepas dari desakan orang tua, Marigold memutuskan menikah dengan Maximilian. Sang miliarder sendiri terikat ramalan untuk menyunting tujuh istri bernama bunga demi kejayaan bisnisnya. Di sebuah mansion mewah, ketujuh wanita ini bersaing ketat demi status sosial, harta, dan gengsi sebagai pendamping pria sempurna. Maximilian pun harus menghadapi dinamika serta pesona unik para istrinya setiap hari. Siapakah yang akhirnya akan memenangkan hati sang tuan tanah?
Sampul Novel Mr. CEO dan Gadis Lugu
8.9
James Myre adalah CEO muda terkaya di Prancis yang sangat tampan. Saat Mr. Benkins gagal melunasi utang sebesar USD 100 juta, James meluapkan amarahnya. Terdesak, Benkins menawarkan keponakannya yang cantik, Adelia Benkins, sebagai jaminan kontrak. Gadis lugu ini terpaksa melayani segala hasrat liar James demi menebus utang pamannya. Akankah Adelia sanggup menjalani peran kelam tersebut, atau justru benih cinta tulus akan tumbuh di antara mereka berdua?
Sampul Novel Satu-PD155
9.7
Sam menikahi Sinta demi mengambil ginjalnya untuk Ayu, teman masa kecilnya. Sinta yang hancur setelah tahu dirinya hanya cadangan medis pun memalsukan kematiannya. Usai Ayu sembuh, Sam baru menyadari sifat asli Ayu yang egois dan rasa cintanya pada Sinta. Lima tahun berlalu, Sinta kembali sebagai wanita sukses. Meski Sam memohon ampun, segalanya sirna saat Ayu dipenjara karena jahat. Sam hidup menderita, sementara Sinta meraih bahagia tanpa bayang masa lalu.