APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjerat Pesona Dosen Tampan

Terjerat Pesona Dosen Tampan

Agnesia Putri Hutama adalah aktris ternama yang terpaksa mengambil jeda dari dunia hiburan demi meraih gelar sarjana. Di tengah perjuangan akademisnya, ia justru bersinggungan dengan Kevin, dosen muda menawan yang menyimpan kebencian mendalam terhadap profesi selebritas. Situasi menjadi semakin rumit saat sebuah keadaan memaksa keduanya untuk tinggal bersama di bawah satu atap. Akankah benci berubah jadi cinta saat dua dunia mereka yang kontras saling beradu?
Bab
Bagikan

Bab 3

Tok Tok Tok

“Masuk!” seru Kevin saat seseorang mengetuk pintu ruangan kerjanya. Kevin tahu siapa yang datang, karena dia memang sudah memiliki janji dengan adik sahabatnya siang ini.

Namun, saat kepala gadis itu menyembul masuk dari pintu ruangan kerjanya, kedua bola matanya membulat seketika. Sosok perempuan itu adalah gadis yang ditemuinya di lorong kampus tadi, yang dengan seenaknya melemparkan tamparan padanya kemudian kabur.

“Kamu –“

Kevin sengaja menggantungkan ucapan, terlalu terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini. Apa mungkin gadis usil ini adalah adiknya Ammar? Dia? Kevin merasa pusing sendiri hanya dengan memikirkannya.

“Kok lo bisa ada di sini?” tanya Agnes, masih belum memahami keadaan yang terjadi.

“Seharusnya saya yang menanyakan itu. Untuk apa kamu datang ke ruangan saya?” sarkas Kevin, masih merasa kesal dengan tamparan di lorong tadi. Dia bahkan tidak melakukan kesalahan apapun, tetapi gadis yang tengah mengerutkan dahi di hadapannya itu justru bertindak tidak sopan.

“Gue ada janji sama Pak Kepin,” ujarnya, sekali lagi berhasil memancing emosi Kevin karena gadis itu tidak menyebut namanya dengan benar.

Detik kemudian, saat Agnes menyadari tatapan tajam yang dilemparkan oleh Kevin, dia meralat perkataannya sendiri. “Maksud gue tuh Pak Kevin. Iya, ini ruangannya ‘kan?”

Kali ini Kevin menaikkan sebelah alisnya, menelisik penampilan gadis itu dari atas sampai ke bawah. Bahkan dia juga memperhatikan gestur wajah gadis itu yang jika diperhatikan memang benar mirip dengan Ammar. “Jadi benar, kamu adiknya Ammar?” tanyanya, ingin memastikan jawaban.

Awalnya Agnes pun terkejut, tetapi dengan cepat dia menetralkan ekspresi dan bertanya kemudian dengan wajah polosnya. “Kok tahu?”

Kevin hanya mengendikkan bahu acuh seraya tatapannya mengarah pada dirinya sendiri dan tulisan di meja ruangannya yang bertuliskan nama “Kevin Julio Chandra”

Detik itu juga, Agnes spontan membulatkan matanya, mengangkat jari telunjuknya di depan Kevin dan berujar, “Lo yang namanya Kevin?!”

Kevin menyunggingkan sebelah sudut bibirnya saat menyadari bahwa gadis itu sekali lagi bersikap tidak sopan terhadapnya. Sepertinya Kevin perlu memikirkan ulang keputusannya yang ingin menerima gadis itu sebagai mahasiswa bimbingannya.

Diam-diam dalam hati, Agnes sekali lagi merutuki kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa dia merusak kesan pertamanya pada Kevin, satu-satunya orang yang bisa membantunya saat ini? Mampus! Agnes ingin sekali menenggelamkan dirinya ke dasar bumi karena merasa malu.

“Eheem!” Agnes lebih dulu berdehem, mengumpulkan keberanian untuk mulai memperbaiki kesan pertamanya yang buruk, “maaf soal perbuatan saya tadi, ya, Pak. Tangan saya ini memang suka lepas kendali, melakukan sesuatu tanpa saya suruh,” ujarnya, sembari menepuk tangannya sendiri berkali-kali, seakan sedang menyalahkan tangannya.

Kevin yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala heran, selain tidak sopan, rupanya gadis itu juga aneh.

“Baiklah, akan saya maafkan asal kamu menjawab jujur pertanyaan saya,” balasnya. Tidak ada salahnya memberi kesempatan gadis itu untuk menjelaskan.

“Apa, Pak?”

“Kenapa kamu menampar saya tadi?” tanya Kevin, melangkah maju untuk lebih dekat dengan Agnes. Gadis itu sampai menelan ludahnya sendiri, merasa gugup karena jarak mereka yang terlampau dekat.

“I – itu Pak,” Agnes mendadak merasa gugup, takut salah bicara dan berakhir pria itu akan menolak untuk membantunya, “harus banget saya jawab jujur?” tanyanya lagi, kali ini kalimatnya terdengar lebih lancar.

“Ya, kalau kamu masih mau saya maafkan.”

“Eh – eh jangan, Pak! Saya jawab, saya jawab!” sahutnya lebih dulu. Menghirup udara yang terasa menipis dan menghembuskannya beberapa kali. “Saya gugup karena bapak terlalu tampan!” Agnes mengatakannya dengan sekali tarikan napas, membuat Kevin yang masih belum bisa mencerna perkataan Agnes pun hanya diam tanpa memberikan respon apapun.

Kesempatan itu lalu dimanfaatkan oleh Agnes untuk kembali kabur, menyelamatkan dirinya sendiri dari peristiwa paling memalukan.

“Ma – maaf Pak, sepertinya saya pamit dulu sekarang. Besok saya datang lagi, ya, Pak!” Bersamaan dengan kalimat itu terlontar, secepat kilat Agnes melarikan diri keluar dari ruangan Kevin. Sementara pria itu justru menarik kedua sudut bibirnya tanpa sadar.

Memikirkan bagaimana tingkah laku Agnes saat sedang merasa malu membuat Kevin merasa terhibur. Entahlah, dia hanya merasa bahwa gadis itu sangat lucu, polos dan juga menyebalkan secara bersamaan. Kevin baru kali pertama bertemu dengan spesies perempuan seperti itu.

Sebuah pesan masuk dalam ponselnya membuat perhatian Kevin teralih. Sebelah tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel dan membuka chat room milik sahabatnya.

Ammaris Putra Hutama

| Sudah bertemu dengan Agnes, Kev?

| Kalau belum, ini foto adik gue.

Ammar kemudian mengirimkan satu gambar seorang perempuan, gadis yang ditemuinya barusan. Terlihat cantik dengan tawa dan pipi bulatnya, sekali lagi membuat Kevin mengeluarkan senyum terbaiknya. Baru kali ini dia tersenyum lebih dari tiga kali dalam kurun waktu sesingkat ini.

Satu pesan kembali masuk, masih tetap sama, dari Ammar.

Ammaris Putra Hutama

| Cantik, ‘kan?

Tanpa sengaja Kevin mengetikkan sebuah balasan di luar kendalinya, diiringi senyum yang sedari tadi masih membias sempurna di wajah.

| Iya, cantik dan lucu.

Sent.

Singkat, pesan yang tidak terlalu panjang tetapi berhasil membuat Ammar yang tengah di seberang sana sampai hampir melemparkan ponselnya karena terkejut.

Kevin menepuk jidat dengan keras saat melihat balasan pesannya sendiri. Dia tidak sadar saat melakukannya. Dia baru akan menghapus pesan itu tetapi balasan pesan lainnya lebih dulu masuk dari Ammar.

Ammaris Putra Hutama

| Hei, ada apa dengan pria dingin ini?

| Lo suka sama adik gue?

Kevin memejamkan matanya sejenak, meredam emosi yang siap meledak kapan saja. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kevin sungguh ingin menenggelamkan dirinya sendiri di samudera paling dalam agar tidak ditemukan oleh siapapun.

***

Agnes merebahkan diri di kasur setelah seharian berkelana di kampus. Rasanya badan remuk redam, padahal juga tidak melakukan apapun tadi. Tidak biasanya tubuhnya selemah itu, syuting sinetron stripping saja kuat.

Tok Tok Tok

Suara ketukan di pintu membuat perhatian Agnes teralih. Meski dia malas bergerak, Agnes tetap bangkit dari posisinya dengan sisa tenaga yang dia punya untuk membuka pintu karena terdengar suara seruan Ammar dari luar.

“Kenapa pakai ketuk pintu segala sih, Bang! Biasanya juga langsung masuk,” gerutunya, memandang Ammar dengan malas.

Ammar mengabaikan omelan adiknya lalu masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang Agnes.

“Kamu sudah ketemu sama Kevin, ‘kan?” tanyanya, sementara Agnes hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Terus gimana?” Agnes sengaja mengabaikan pertanyaan Ammar, karena rasa kantuk tengah menyerangnya. Membuat Ammar lalu menarik tangan Agnes untuk bangkit.

“Duh, resek banget sih Abang! Adek lagi capek, nih!” serunya, merengek dengan tatapan memelas. Kebiasan Ammar suka seenaknya sendiri, keistimewaan anak tertua!

“Ya makanya jawab dulu! Gimana tadi ketemu Kevin?” desak Ammar, membuat Agnes enggan untuk mengakui bahwa dia baru saja melakukan dua hal memalukan pada sahabat dari abangnya itu.

Pertama, dia sudah seenaknya menampar orang lalu mengakuinya tampan di depan yang bersangkutan. Ammar pasti akan mati-matian meledeknya jika tahu mengenai kejadian memalukan itu.

“Dek.”

“Abang mending keluar, adek mau tidur!” Daripada Agnes kelepasan bercerita karena Ammar terus mendesaknya lebih baik diusir saja dari kamar.

“Kamu ngapain Kevin sampai dia jadi suka sama kamu?”

Ha? Nggak salah dengar? Mana ada orang habis ditampar jadi suka? Batin Agnes mengelak. Pasti Ammar sedang ingin menggodanya. Pikir Agnes.

“Dia muji kamu tuh!”

“Bohong pasti,” sahut Agnes.

Ammar mendengkus, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya, menunjukkan chatroom miliknya dan Kevin.

“Nih, kalau nggak percaya baca aja sendiri!”

Terlanjur penasaran, Agnes menerima ponsel dari tangan abangnya, kemudian membaca isi pesan itu. Kedua matanya membulat sempurna setelah membaca isi pesan Kevin yang bertuliskan “cantik dan lucu” itu.

Ini gue nggak salah lihat ‘kan, ya? Atau jangan-jangan gue rabun? Agnes bahkan tidak mempercayai penglihatannya sendiri, aneh jika seorang dosen kaku seperti Kevin akan memujinya seperti itu.

Dibajak dajjal kali, ya, ponselnya? Agnes benar-benar dibuat speechless hingga tidak bisa berkata-kata.

“Tadi aja jutek, sekarang senyum – senyum. Kenapa? Berubah pikiran untuk tertarik sama Kevin?”

“Apa sih, Bang!” Agnes memukul Ammar menggunakan bantal kasurnya, kemudian melarikan diri ke kamar mandi, sebelum Ammar akan semakin meledeknya setelah tahu bahwa pipinya sudah berubah merah seperti kepiting rebus sekarang.

Gue kenapa sih?! Tanya Agnes pada dirinya sendiri.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam Menantu Kaya Raya
9.2
Tiga tahun lamanya Liam Hanza hidup menderita sebagai menantu yang dihina dan diperlakukan bak budak oleh mertuanya. Semua penghinaan itu ia telan demi sang istri, Yolanda Liandra. Namun, kesetiaannya hancur saat ia memergoki Yolanda berselingkuh. Kecewa dan terluka, Liam akhirnya membongkar identitas aslinya sebagai pewaris tunggal kekayaan ribuan triliun. Kini, keluarga Liandra bersujud memohon ampun, tetapi Liam siap membalas dendam dengan segala kekuasaannya.
Sampul Novel Ikatan Hati
8.9
Kediaman Bimantara mendadak kacau saat sesosok bayi ditemukan di depan pintu rumah mereka. Sebuah pesan misterius yang menyertai bayi tersebut mengklaim bahwa ia adalah darah daging Adrian Bimantara. Penemuan tak terduga ini memicu kepanikan luar biasa bagi seluruh anggota keluarga. Siapakah sebenarnya orang tua bayi tersebut? Kini, Adrian harus menghadapi tuduhan serius ini sementara misteri tentang asal-usul Abian mulai mengancam ketenangan hidupnya.
Sampul Novel Istri Pengganti
9.7
Rayhan yang hancur karena dikhianati calon istrinya nekat memaksa Zahra menikahinya demi melampiaskan rasa kecewa. Zahra pun terkejut dan menolak mentah-mentah tawaran gila tersebut. Namun, Rayhan tak menyerah dan menjanjikan sebuah butik sebagai imbalan jika Zahra mau menggantikan posisi mempelai wanita yang kabur. Akankah Zahra menerima kesepakatan ini dan sanggup menjalani kehidupan sebagai istri pengganti bagi pria dingin seperti Rayhan?
Sampul Novel Modal Dusta
9.4
Kecewa atas sikap suami yang kasar dan abai dalam menafkahi, seorang wanita terjebak dalam kehampaan. Di tengah luka itu, ia tak sengaja mengenal sosok pria tampan melalui temannya. Komunikasi yang awalnya biasa berubah menjadi pelarian emosional saat pria itu dengan tulus mendengarkan keluh kesahnya. Getaran cinta mulai muncul lewat pesan singkat yang intens. Kini, ia terjebak dalam romansa terlarang dengan pria yang jauh lebih muda. Akankah hubungan penuh dusta ini bertahan?
Sampul Novel My Husband Ex-GIGOLO
8.8
Fadly, pemuda yang terusir, beralih profesi menjadi gigolo setelah bertemu Sandra. Namun, hidupnya kian rumit saat ia menghamili Saraswati dan jatuh cinta pada Soraya, mahasiswi yang ternyata putri Dahlia, cinta pertamanya. Di tengah kemelut asmara, Fadly mewarisi 90 persen saham ayahnya, Tuan Surya Adjie. Kini ia harus memilih: bangkit memimpin perusahaan besar tersebut atau tetap menjadi pecundang selamanya. Sebuah dilema antara harga diri dan amanah.
Sampul Novel Naughty Neighbor
8.0
Rania Swaraswati terpaksa mencari nafkah sebagai peretas dari rumah demi menghindari gunjingan tetangga dan tuntutan ekonomi. Meski meraup keuntungan besar, ia tak menyadari bahwa Zean, pria sempurna yang baru pindah ke depan rumahnya, terus mengawasinya. Hubungan mereka yang kian akrab justru membuat Rania lengah akan bahaya profesinya. Di balik romansa yang tumbuh, risiko besar mengintai nyawanya akibat kelalaiannya dalam menjaga rahasia pekerjaan.