APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terlalu Lelah Untuk Bertahan

Terlalu Lelah Untuk Bertahan

Hidup Liana kian terpuruk saat ia harus berjuang mencari sisa makanan di pasar demi anaknya. Bukannya dukungan, ia justru menerima nasi basi dari Nina, mertuanya yang tak berempati. Penderitaan Liana semakin perih karena pengabaian Damar, suaminya yang justru menyalahkannya soal keuangan. Di tengah rasa lapar dan luka hati yang mendalam, Liana mulai menyadari bahwa ia tak bisa terus terjebak. Meski lelah, api perlawanan muncul demi masa depan buah hatinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, Liana terbangun lebih awal dari biasanya, meskipun tubuhnya terasa lelah, dan pikirannya masih diliputi keputusasaan. Ia menatap sekeliling kamar yang kecil, dimana lampu minyak tadi malam masih menyala redup, hampir habis. Bayangan kamar yang sempit dan sederhana seakan mengingatkan pada hidupnya yang terbatas, seolah tak ada ruang untuk bermimpi atau berharap. Hanya ada perjuangan yang tak pernah berakhir.

Nadya masih tidur dengan tenang di ranjang kecil mereka, wajahnya yang polos membuat Liana merasa sedikit tenang, meskipun hatinya penuh dengan kecemasan. Anak itu adalah alasan ia masih bertahan. Tanpa Nadya, mungkin Liana sudah menyerah sejak lama. Namun, ia tahu bahwa untuk Nadya, ia harus tetap hidup, meskipun tak ada jaminan kebahagiaan atau kenyamanan dalam hidupnya.

Liana menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Beberapa kali, ia ingin menyerah, ingin pergi dari semua penderitaan ini. Namun, apa yang akan terjadi pada Nadya jika ia melakukannya? Bagaimana dengan masa depan anak itu? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui Liana, membuatnya semakin bingung dengan apa yang harus dilakukan.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki di luar kamar. Damar, suaminya, sudah bangun. Liana bisa mendengar suara ponsel Damar berbunyi, menandakan bahwa ia tengah sibuk dengan dunia luar yang tampaknya jauh lebih penting daripada kehidupan di rumah mereka. Tanpa berkata sepatah kata pun, Damar masuk ke kamar, hanya melemparkan pandangannya sekilas pada Liana yang sedang duduk di tepi ranjang.

"Jangan lupa ambil uang belanja dari dompetku," ujar Damar dengan suara datar, tidak peduli dengan kondisi Liana. "Aku akan pergi ke kantor sebentar."

Liana menatap suaminya dengan tatapan kosong. Sejak pernikahan mereka, Damar selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ia sering kali pulang larut malam, tidak peduli dengan keadaan rumah atau keluarganya. Yang ia tahu, hanya pekerjaannya dan teman-temannya. Seakan-akan ia sudah kehilangan rasa empati terhadap istrinya.

"Kenapa kau tidak peduli sedikit saja dengan kami, Damar?" Liana akhirnya bersuara, meskipun hatinya sudah terlanjur hancur. "Anak kita butuh perhatianmu. Aku sudah berjuang sekuat tenaga untuk kita, tapi kau..." Liana terhenti, kata-katanya tertahan di tenggorokan, perasaan sakit dan kecewa menghalangi kelanjutan kalimatnya.

Damar hanya mengangkat bahu dan berjalan menuju pintu. "Kau selalu berlebihan, Liana. Aku sudah bekerja keras untuk keluarga ini. Kau yang tidak tahu bersyukur."

Liana merasa hatinya semakin hancur mendengar kata-kata itu. Apa yang salah dengan dirinya? Kenapa suaminya tidak melihat semua yang telah ia lakukan untuk keluarga mereka? Setiap usaha, setiap pengorbanan yang ia buat seolah tidak dihargai. Ia merasa seperti bayangan, sesuatu yang tidak penting dalam hidup Damar.

Setelah Damar pergi, Liana berdiri dan pergi ke dapur. Ia menyiapkan sarapan seadanya untuk Nadya, meskipun hanya ada sedikit nasi yang tersisa dan sayur yang sudah agak layu. Tidak ada yang lebih buruk daripada melihat anaknya yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa menunggu makanan yang sangat terbatas.

Saat ia menyantap sarapan bersama Nadya, Liana merasa seperti terkunci dalam sebuah lingkaran yang tidak ada habisnya. Ia bekerja keras, berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya, tetapi kenyataan justru semakin pahit. Ia tidak punya teman untuk berbagi, tidak ada tempat untuk mencurahkan perasaannya. Damar semakin menjauh, dan Nina, ibu mertuanya, selalu memandangnya dengan mata penuh penghinaan. Rasanya, dunia ini tidak memberi ruang bagi Liana untuk bernafas.

Namun, ada satu hal yang tetap menguatkan hatinya-harapan. Meskipun hatinya hancur, ia masih percaya bahwa ada jalan keluar dari semua ini. Ia merasa bahwa suatu hari, kehidupan akan membawanya ke arah yang lebih baik. Dan hari itu, mungkin akan datang lebih cepat dari yang ia bayangkan.

Pagi itu, seperti biasa, Liana kembali ke pasar. Ia berjalan cepat, mencoba menutupi kelelahan di wajahnya, berusaha menjaga semangatnya agar tetap hidup. Walaupun ia tahu bahwa ia akan kembali dengan tangan kosong, ada sedikit harapan dalam dirinya bahwa suatu hari ia akan menemukan cara untuk mengubah hidupnya.

Namun, ketika ia melewati sebuah toko kecil di pasar, matanya tertuju pada sesuatu yang sangat jarang ditemukan-sebuah kotak berisi barang bekas yang bisa dijual lagi. Liana menghentikan langkahnya, memandangi kotak itu dengan penuh rasa ingin tahu. Mungkin ini adalah kesempatan yang ia tunggu-tunggu.

Ia mulai memilah barang-barang itu, mencari sesuatu yang bisa ia jual atau tukar dengan makanan. Setelah beberapa menit, ia menemukan sebuah kalung kecil yang tampak cukup tua, namun masih bisa dijual dengan harga yang lumayan. Hatinya mulai berbunga. Setidaknya, ia bisa membawa pulang sesuatu yang bisa memberinya sedikit uang.

Liana tidak menyadari bahwa di belakangnya, ada seorang pria yang memandangnya dengan penuh perhatian. Seorang pria paruh baya, dengan penampilan rapi dan wajah yang ramah. Pria itu mendekat, tersenyum lembut.

"Kalung itu cukup bagus," ujar pria itu. "Jika kau ingin menjualnya, aku bisa membelinya."

Liana terkejut, tetapi tidak bisa menolak. "Berapa harganya?" tanyanya, berharap pria itu akan memberinya harga yang adil.

Pria itu memandang kalung tersebut sejenak, lalu dengan senyum penuh pengertian, ia menyebutkan harga yang lebih tinggi dari yang Liana harapkan. Itu cukup untuk membeli makanan untuk beberapa hari. Hatinya seketika terasa lebih ringan. Mungkin ini adalah titik balik yang ia butuhkan, kesempatan untuk keluar dari kesulitan ini.

"Terima kasih," ujar Liana dengan suara yang hampir pecah, matanya mulai berkaca-kaca. Pria itu hanya tersenyum dan mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya. Liana menatap kalung itu sejenak, merasa bahwa hidup memberinya sedikit ruang untuk bernapas. Dengan langkah ringan, ia berjalan menuju pasar, dengan uang di tangan dan sedikit harapan di hatinya.

Liana tahu, ini baru permulaan. Tetapi suatu hal dalam dirinya mulai terasa berbeda-sebuah keyakinan bahwa tidak ada yang mustahil jika ia berusaha. Dan hari itu, ia merasa bahwa hidup memberikan kesempatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Setiap langkah yang ia ambil, meskipun berat, mulai membawa Liana lebih dekat pada jalan yang mungkin bisa mengubah hidupnya. Dan ia bertekad untuk terus berjalan, dengan segala keterbatasan dan tantangan, hingga akhirnya ia menemukan kebebasan yang selama ini ia dambakan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BELENGGU CINTA MANTAN
9.3
Andini hancur saat Ardian, cinta pertamanya, pergi setelah merenggut kehormatannya. Tiga tahun berlalu, Ardian kembali dengan pesona yang sulit ditolak meski kini Andini telah menjadi istri Hendra. Walau Hendra tulus mencintai, Andini justru terjerat kembali dalam rayuan mantan kekasihnya itu. Akankah pilihan Andini membawa kebahagiaan di pernikahan keduanya? Bagaimana nasib suami pertama dan putra kecil mereka yang ditinggalkan dalam luka mendalam?
Sampul Novel Cinta yang Terkhianati
8.1
Pernikahan Aulia dan Arman kini hampa, menyisakan luka akibat sikap Arman yang dingin dan sering mabuk. Keadaan semakin memburuk saat Rika mengungkap perselingkuhan Arman dengan Maya. Hancur oleh kebenaran ini, Aulia memutuskan untuk mengakhiri sandiwara mereka. Ia langsung mengonfrontasi Arman dan menuntut kejujuran. Meski Arman terpojok, luka Aulia sudah terlalu dalam. Kini, ia harus memilih antara mempertahankan rumah tangga atau pergi demi harga dirinya.
Sampul Novel Cute My Husband
7.9
Zalfa merupakan guru PNS sekaligus janda dua anak yang tak menyangka akan berjodoh dengan Edgar. Edgar sendiri adalah mantan muridnya yang berkepribadian pendiam dan sulit bersosialisasi. Meski baru lulus SMA dan sedang menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian, Edgar mantap menikahi Zalfa. Namun, hubungan mereka terhalang restu ayah Edgar yang menentang keras pernikahan tersebut. Sanggupkah keduanya melewati ujian berat demi mempertahankan cinta mereka?
Sampul Novel Dangerous Touch (Sentuhan Berbahaya)
9.7
Pasca kehilangan ibu dan kakaknya, Isabel menjalani hidup yang penuh duka. Beban sebagai Putri Mahkota terasa kian menyesakkan tanpa keluarga di sisinya. Namun, takdir mempertemukannya dengan Joseph, seorang miliarder playboy yang terbiasa hidup mewah. Pertemuan tersebut memicu gairah membara di antara keduanya. Meski ketertarikan mereka begitu kuat, jalan menuju kebahagiaan terhalang rintangan besar. Mereka dipaksa berjuang melawan badai masalah yang mengancam hubungan tersebut.
Sampul Novel Diary Cinta Naelsa: Macaca Lova
8.5
Naelsa tidak sengaja menemukan kembali buku harian lamanya yang penuh kenangan. Saat membuka tiap lembarannya, ia terkejut teringat kembali pada kisah romansa masa sekolah yang manis. Tulisan itu membawanya bernostalgia tentang cinta monyet dengan seorang teman sekelas. Kenangan emosional tersebut sering disebut oleh sahabatnya, Myna, dengan istilah unik Macaca Lova. Sebuah perjalanan masa lalu yang kembali hadir membuka memori yang sempat terlupakan.
Sampul Novel KETIKA CINTA BERTASBIH
9.3
Meski ikhtiar telah maksimal, takdir tetap menjadi penentu akhir sebuah hubungan. Kisah ini menyoroti dilema cinta beda keyakinan antara dua insan yang mustahil bersatu dalam ibadah. Sebagai hamba Allah, ia tak mungkin menjadikan seseorang yang berbeda iman sebagai imamnya. Namun, rasa cinta yang telanjur mengakar kuat membuatnya sulit untuk melepaskan. Akankah perasaan ini berujung di pelaminan, atau ia harus mengikhlaskan perpisahan demi prinsipnya?