APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ternyata Aku yang Membuat Suamiku Selingkuh

Ternyata Aku yang Membuat Suamiku Selingkuh

Niat tulus Jeni untuk menyelamatkan keponakannya dari perlakuan buruk sang ayah tiri justru menjadi bumerang yang menghancurkan hidupnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa keputusannya memberikan perlindungan akan menjadi awal dari keretakan hubungan pernikahannya sendiri. Sosok yang ia tolong dengan penuh kasih sayang kini perlahan berubah menjadi duri dalam daging yang mengancam keutuhan rumah tangganya bersama sang suami tercinta.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Nah, itu dia, Bu. Aku juga berpikir begitu. Mbak Nia itu terlalu manut dengan suaminya," celotehku menanggapi pendapat ibu mertuaku. Aku tahu ibu mertuaku pasti mendukungku, soalnya Ibu itu baik, nggak kaya cerita-cerita tentang ibu mertua yang jahat di novel-novel online. Yang agak keras itu bapak mertuaku, tapi bapak sudah nggak ada beberapa tahun silam, dan Mas Firman itu mirip banget bapak mertua sifatnya.

"Ya begitulah, Jen, kalau wanita nggak bisa berdaya sendiri. Semua tergantung sama suami. Iya kalau suaminya bener, diajak ke syurga bersama, lah kalau suaminya bejad kaya gitu, mau kabur aja mikirnya dua belas kali. Takut nggak bisa makan, takut kalau kabur nggak ada yang nafkahi. Jadi biasanya memilih bertahan walaupun suaminya kaya gitu."

Aku tahu itulah prinsip Bu Firda yang sejak dulu beliau pegang. Matanya menerawang jauh, mungkin mengingat kisahnya dengan Pak Slamet. Ia lantas mengambil gelas tehnya dan menyesap cairan berwarna cokelat itu. Bibirnya mengecap-ngecap rasa manis yang tertinggal.

"Iya, Ibu benar. Padahal dengan suaminya yang dulu, Mbak Nia itu nggak begini lho, Bu."

"Itulah kenapa Ibu nggak pernah mau menikah lagi setelah Bapak meninggal. Ibu takut kalau suami kedua nanti tak sebaik bapak."

Wajah Bu Firda berubah sendu, matanya mulai mengembun. Bapak memang memberi memori tersendiri pada Bu Firda meskipun sudah lama bapak meninggal.

Aku jadi ikut menunduk, haru, lebih tepatnya bingung juga kalau Ibu sudah mulai menangis karena mengenang bapak.

"Eh, itu kalau Ibu ya, Jen. Kalau misal suami pertama memang jahat, ya sah-sah saja menikah lagi, siapa tahu dapat suami yang lebih baik." Bu Firda memegang lengan Jeni, membuat ia sedikit terkejut.

"I ... iya, Bu. Ibu benar." Tak berani aku berkomentar apapun lagi. Meskipun aku dekat dengan ibu tapi kalau bercerita tentang suamiku juga rasanya gak enak, apalagi dia termasuk anak kesayangan ibu.

Lama kami terdiam, aku memutuskan untuk memanggil Mas Firman dan Gilang untuk makan. Baru saja badan hendak bangkit dan berputar, Mas Firman dan Gilang muncul dari ruang tengah.

"Udah mateng, yah, Bu?" tanya Mas Firman sembari menghirup wangi tempe goreng yang baru matang.

"Udah nih. Ayo pada makan semuanya!" ajak Bu Firda, ia menepuk kursi di sebelahnya seraya tersenyum pada cucu kesayangannya.

Gilang beringsut mendekat ke samping neneknya, matanya tertuju pada segelas teh di depannya.

"Ini punyaku kan, Mbah?" tanya Gilang sambil memegang segelas teh yang hangat.

"Itu punya Bapak, Lang. Nanti ibu bikinkan buat kamu, tadi ibu lupa," sahut Jeni seraya bangkit berdiri.

Sebelum beranjak, Bu Firda mencegah menantunya. "Biar ibu saja yang bikin, Jen. Kalian makan saja dulu," ucap Bu Firda seraya bangkit dan menuju ke meja tempat teh dan kopi disimpan.

Firman menyenggol lengan istrinya, alisnya naik turun memberi kode pada istrinya.

"Apa?" tanya Jeni lirih, ia melirik ke arah Ibu yang sedang mengaduk gelas berisi air putih.

"Sudah ngomong sama ibu soal Nida?" Firman membalas istrinya dengan berbisik. Ia penasaran apakah istrinya benar-benar serius dengan idenya.

"Belum." Nida menjawab acuh. Ia sendiri belum tahu bagaimana memulai percakapan itu degan Ibu. Meskipun Ibu mertuanya baik, tapi ia justru merasa segan. Mengecewakan ibu mertuanya adalah hal yang paling ia hindari selama ini. Bu Firda sudah melebihi ibunya sendiri.

Firman menghela nafas dengan lega. Ia pikir istrinya akan nekad meminta izin pada ibu.

Bu Firda datang dengan membawa segelas teh hangat. Ia lantas bergabung dengan mengambil nasi. Tidak ada percakapan diantara mereka. Sayur oyong dengan sambal dan tempe goreng membuat mereka larut dalam sarapan pagi yang sederhana namun nikmat.

"Ehm." Tenggorokan jeni terasa gatal, kata-kata yang sudah ia susun tercekat di tenggorokan. Lidahnya kelu. Sampai sarapan selesai, tak ada satupun kata-kata tentang Nida yang muncul dari mulutnya.

Setelah selesai makan, Jeni membereskan sisa makanan dan membuat air gula merah serta cendol bersama suaminya. Ia harus buru-buru menyelesaikan semua pernak -pernik membuat es cendol sebelum waktu terlalu siang. Karena kalau kesiangan, biasanya cendolnya tidak akan habis.

Karena hari ini Mas firman dan Gilang libur, Jeni jadi bisa meminta tolong ke mereka untuk membawakan bahan-bahan yang sudah siap ke gerobak dorong yang ada di depan rumah. Gula cair, santan serta cendol nanti akan ditata lebih rapi kalau sudah di lapak.

Firman membawa termos jumbo berisi santan, dan Gilang membawa toples besar berisi gula merah cair. Jeni menyusul dibelakang mereka membawa termos berisi cendol.

"Sudah semua, Mas," ucap Jeni memberi aba-aba agar gerobaknya segera dibawa ke lapak.

"Yaudah aku berangkat sekarang." Firman membawa tas di pundaknya dan mendorong gerobaknya. Jeni dan Gilang mengikuti dari belakang.

Tempat jualan mereka tak terlalu jauh, hanya beberapa meter di perempatan jalan besar. Di sana ada juga pedagang gorengan dan seblak yang sudah ready di tempat saat gerobak Jeni datang.

"Eh, lagi libur yah Mas Firman?" Renita yang jualan gorengan menyambut kedatangan mereka.

"Iya nih Mbak Ren. Udah larisan belum!?" tanya firman melongok sisa gorengan di etalase.

"Alhamdulillah, masih pagi jadi masih agak sepi. Mbak Jum tuh yang larisan dari tadi. Anak-anak SMP pada libur jadi pada nyeblak pagi-pagi," jawab Renita sambil menunjuk ke arah Mbak Jum yang sedang sibuk membuat seblak.

Mbak Jum yang ditunjuk hanya tersenyum saja.

"Udah ya, Jen. Aku sama Gilang pulang dulu," pamit Firman pada istrinya. Jeni mengangguk-angguk sambil menata lagi sedotan dan plastik di atas meja.

"Iya, Mas. Gilang kalau mau main jangan jauh-jauh ya," jeni berpesan pada anak satu-satunya.

"Iya, Bu," jawab Gilang sambil berjalan menjauh.

Siang itu Jeni cukup sibuk melayani pembeli es dawetnya. Mungkin karena cuaca di luar sedang cukup panas sehingga orang-orang banyak yang mencari es cendol. Sampai pukul 1 siang, dagangannya sudah hampir habis. Saat pembeli terakhir selesai dilayani, ia menaruh tubuhnya di kursi pelanggan.

Jeni teringat kalau tadi ia membawa ubi rebus dadi rumah. Ia mengambil bungkusan di tas yang ia bawa. Sambil mencomot ubi rebus itu, ia juga iseng membuka ponselnya yang sejak pagi belum sempat ia sentuh.

Ternyata ia mendapatkan pesan yang cukup panjang dari Nida. Saat membaca pesan itu, wajah Jeni berkerut-kerut.

[ Tante Jeni, aku dimarahin Ibu karena mengadu soal Bapak. Tadi siang saat bapak bangun tiba-tiba dia langsung ke kamarku, Tan. Bapak lihat aku habis mandi tadi, terus bapak melukin aku. Aku teriak-teriak manggil ibu. Waktu ibu masuk, aku ceritain ke ibu tentang bapak yang tiba-tiba datang, Tan. Tapi malah aku yang dimarahin. Katanya aku ceroboh nggak bisa kunci kamar. Aku takut Tante. Aku takut sama bapak, aku takut sama ibu. Apa aku kabur aja ya Tan?"]

"Astaghfirullah!!! Aduh bagaimana ini?!"

Jeni Semain bingung harus bagaimana. Sepertinya keadaan Nida semakin parah. "Ya ampun, Mbak Nia kenapa jadi kaya gitu sih!!" Kesal, Jeni meremas jadi jemarinya sendiri.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Pelakor.
9.3
Hidup Nada hancur seketika saat hari pernikahan yang seharusnya indah berubah menjadi petaka. Kehadiran sosok wanita yang mengaku sebagai istri sah calon suaminya membongkar rahasia kelam di hadapan semua tamu, meninggalkan rasa malu mendalam bagi keluarganya. Kini, Nada terjebak dalam dilema batin yang menyakitkan. Di tengah rasa kecewa dan pengkhianatan itu, ia harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya tengah mengandung benih dari pria tersebut.
Sampul Novel Alexandra Mata-mata sang CEO
9.1
Alexandra Johnson terjerat dalam kontrak rumit yang memaksa dirinya menjadi mata-mata untuk mengawasi seorang CEO ternama. Namun, sebuah insiden tidak terduga justru mengubah segalanya dan membuat nasib Alexa kini terjepit di antara dominasi dua CEO sekaligus. Terperangkap dalam situasi yang penuh risiko, ia harus menghadapi kendali dua pria berkuasa tersebut sembari menavigasi intrik dunia bisnis yang berbahaya dan penuh dengan tekanan emosional.
Sampul Novel Kronik Kenikmatan Abadi
9.6
Di balik harapan tinggi dan persahabatan baru, ia menyembunyikan sisi manipulatif yang luar biasa. Meski terlihat mendukung orang-orang di sekitarnya, ia sebenarnya mengendalikan setiap aspek kehidupan mereka melalui rangkaian pesta mewah dan perjalanan panjang. Dengan mendominasi festival serta hari libur di kotanya, ia mengubah tatanan dunia demi kepentingan pribadi. Bagi para mantan penjahat, ia adalah mimpi buruk nyata yang mengatur takdir mereka dalam kendali absolut.
Sampul Novel Oh Dania
9.8
Dania adalah sosok ibu muda yang memiliki ambisi besar untuk selalu tampil unggul dan menjadi pusat perhatian di lingkungan tempat tinggalnya. Namun, kehidupan tenangnya terusik saat ia menyadari bahwa Khamila tinggal di kompleks yang sama. Khamila merupakan wanita dari masa lalu yang pernah mengkhianatinya dengan merebut calon suaminya. Kini, Dania harus menghadapi kembali luka lama dan persaingan sengit dalam drama kehidupan bertetangga yang penuh ketegangan.
Sampul Novel Pengkhianatan Istriku
9.7
Danu harus menelan pil pahit saat Sakira, istrinya, memilih pergi demi pria kaya dan menelantarkan bayi mereka. Namun, roda kehidupan berputar drastis bagi Sakira. Setelah dicampakkan oleh suami barunya, ia kini terjebak dalam kemiskinan dan menderita kanker paru-paru yang menggerogoti fisiknya. Kehidupan mewah yang ia impikan lenyap, menyisakan penyesalan mendalam di tengah kondisi tubuh yang kian kurus dan keadaan ekonomi yang hancur total.
Sampul Novel Pesona Duda Manja
8.8
Dikhianati sang istri justru memicu Rizaldi Takki bangkit mandiri. Berbekal kecerdasan teknologi, ia sukses memikat investor global hingga menjadi pengusaha ternama. Namun, saat luka hatinya mulai pulih, Rizaldi terjebak dilema rumit. Mantan istrinya mendadak minta rujuk, sosok wanita baik hati berubah drastis, sementara gadis sederhana justru menolak dinikahi. Di balik kesuksesannya, mampukah sang duda menghadapi kerumitan cinta dan sifat manja dalam dirinya?