APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terpaksa Pelakor

Terpaksa Pelakor

Kebebasan Levin Mahendra terenggut sejak kecelakaan tragis membuat istrinya koma bertahun-tahun. Di bawah tekanan ibunya yang mendesak untuk segera memiliki keturunan, sang dokter tampan merasa dilema karena kesetiaannya pada sang istri yang masih bergantung pada alat medis. Namun, takdir mempertemukannya dengan Asley, remaja depresi korban pemerkosaan yang nyaris mengakhiri hidup. Demi menyelamatkan Asley dan janinnya, Levin pun memutuskan menikahinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kamu tak bisa seperti ini terus, Levin. Kamu tak bisa selamanya menunggu Laura sadar dari koma, Mama tak tega!" Berta pagi-pagi sudah datang dan mencecar putranya.

Levin tetap tenang memasangkan dasinya sambil tersenyum menanggapi setiap cecaran itu yang sudah bagaikan sarapan pagi baginya.

"Levin, Mama serius. Mama juga mau punya cucu, sama seperti orang normal lainnya. Mau sampai kapan kamu seperti ini? Menunggu mayat hidup tanpa ada ujungnya."

Levin mengeraskan rahang. Bagaimanapun cerewetnya wanita itu, baru kali ini ia melontarkan sebuah kalimat yang begitu pedas dan ,mengusik ketenangan pribadinya.

"Aku pamit dulu, Moms." Ia mengecup lembut dahi ibunya. "Hari ini ada operasi di rumah sakit." Tanpa menoleh lagi, ia segera meraih jasnya yang sejak tadi tersampir di sisi sofa dan pergi dengan menahan segala rasa sakit atas kalimat pedas itu.

Laura, bagaimana pun ia adalah satu-satunya wanita yang tak dapat tergantikan dalam hati Levin.. Bahkan kecelakaan itu kini masih tergambar dengan jelas di kepalanya.

Ia benar-benar telah merasa gagal, sebagai seorang suami sekaligus dokter, tentu harusnya dapat menjaga dan menyembuhkan Laura seperti sedia kala.

Seperti biasa, Levin akan mengunjungi kamar perawatan istrinya sebelum ia menunaikan tugas sebagai seorang dokter. Mata itu masih setia tertutup dengan rapat, tanpa ingin melihatnya sedikitpun.

Mungkin Laura marah padanya hingga ia menghukum Levin sampai sedemikian menyiksanya.

"Bangun, sayang. Aku merindukanmu." Jemarinya menaut dan mengecup lembut sambil tak terelak air mata itu mengalir.

Tak ada jawaban, selain hanya pasien monitor yang selalu setia menjadi teman kesunyiannya di ruangan itu. Tiga tahun sudah ia menunggu, bahkan kulit istrinya sudah tak lagi sekencang dan sesegar dulu.

"Dok." Seorang suster datang dengan mendorong troli berisi nampan yang membawa obat yang mungkin akan disuntikkan.

"Ah, iya." Levin menyeka air matanya.

"Sudah waktunya ganti infus."

"Biar saya saja, Sus."

Levin meraih troli itu dan mempersilahkan suster untuk berlalu.

Rutinitasnya setiap pagi. Meski ia mendapat tugas malam pun, tetap harus dirinya yang menggantikan botol infus untuk istrinya itu.

Ya, sebenarnya beberapa dokter di rumah sakit itu telah menyarankan jika beberapa alat yang tertancap di tubuh Laura itu dicabut saja, karena sudah tidak memungkinkan bagi istrinya untuk hidup. Namun, Levin bersikukuh untuk tetap mempertahankannya dan percaya jika suatu saat istrinya itu akan membuka mata, serta melahirkan beberapa orang malaikat kecil untuknya.

Sungguh bayangan yang teramat indah yang entah kapan akan terwujud.

Samar terdengar di luar terjadi keributan yang baru saja melintas di depan bangsal kamar yang ditempati Laura. Sesaat levin menyelesaikan pekerjaannya dan merasa penasaran untuk melihat siapa yang menciptakan keributan di depan kamar istrinya.

Sepasang suami istri tengah saling merangkul sambil mengiringi beberapa suster mendorong brankar dengan tergeletak seorang gadis di atasnya. Nampaknya ia baru saja dipindahkan ke ruang rawat. Entah apa pula yang menyebabkan si istri membuat keributan dengan tangisan yang sedemikian rupa.

"Dokter Levin. Maaf sekali. Pagi ini saya ada operasi jadi tidak bisa menangani pasien lebih lanjut. Mohon anda untuk menanganinya sementara, tolong."

Sesaat levin berfikir, menoleh ke arah pasien yang baru saja masuk ke kamar di sebelah ruangan Laura dirawat. Mungkin tidak apa-apa. Lagipula hanya bersebelahan.

"Baiklah."

Tanpa pikir panjang lagi, Levin segera menuju ruangan di mana tempat pasien dengan orang tua yang histeris itu berada. Seorang gadis dengan kepala terlilit perban yang nampaknya ia baru saja mengalami kecelakaan.

"Selamat pagi," ujar levin menyapa kedua orang tua yang masih saling berangkulan itu. "Saya Levin yang sementara ini menggantikan Dokter Adam untuk menangani putri anda." Levin memeriksa laju infus yang baru saja dipasangkan dua orang suster itu.

"Putrinya kenapa, Bu?" Bertanya tanpa menoleh dan masih fokus pada putaran atur infusan.

"Jatuh dari jembatan, Dok," jawab wanita itu sambil tak henti terisak.

Sesaat Levin mengerutkan dahinya. "Jembatan? Kenapa bisa?"

"Emh, dia ... melakukan percobaan bunuh diri," jawab suaminya kemudian.

Levin melirik sesaat pada kedua orang yang kini mulai duduk pada sofa tersedia di ruangan itu. Ia melihat sekilas jika istrinya mencubit si suami, mungkin ia merasa hal ini sebuah rahasia yang tak perlu diumbar.

"Oh, tidak apa. Sebentar lagi putri anda akan segera sadar." Mencoba untuk menenangkan tanpa menunjukan ekspresi mengejek sedikitpun. "Saya permisi dulu, nanti satu jam kemudian akan kembali memeriksa."

Tanpa menunggu jawaban lagi, Levin segera ke luar dari ruangan itu menuju ke kantin mengingat jika perutnya belum termasuk apapun semenjak kemarahannya pada Berta di rumah tadi.

Biasanya, Levin hanya akan mendengarkan ocehan ibunya yang tiada henti itu sambil tersenyum dan mereguk sereal sebagai sarapan pagi. Namun, mendengar ucapan menyakitkan itu bagaikan tersambar sesuatu yang kian meluluh lantakkan perasaannya.

Mayat hidup!

Bagaimana mungkin Berta mampu melontarkan kata-kata itu terhadap istri yang sangat dicintainya? Sakit sekali rasanya.

Levin mereguk pahit kopi tanpa gula itu. Kedua matanya memejam, erat sekali. Entahlah, rasa pahit pada kopi tanpa gula itu bahkan lebih nikmat dari kalimat yang Berta lontarkan tadi pagi.

"Levin. Boleh aku duduk di sini?"

Anandita. Usianya hanya setingkat di atas Levin. Dia cantik, tapi entah kenapa hingga usia yang hampir menginjak kepala tiga tak juga tertarik untuk menjalin sebuah komitmen dalam hidupnya.

"Tidak ada larangan kan?" jawab Levin sambil tersenyum.

Semangkuk bubur ayam yang dipenuhi lekatnya kecap manis. itu memang kesukaan gadis itu. Eneg sebenarnya jika harus turut merasai. Tapi Levin hanya tersenyum sambil menggeleng kepala saja.

"Kamu itu udah manis, ngapain sih musti makan bubur dengan penuh kecap manis segala?"

"Ya, manis mungkin iya, tapi sayangnya tak dapat merenggut hati si kopi pahit." Anandita tertawa hambar.

Levin sesaat terdiam, entah sudah ke berapa kali lontaran candaan itu terasa begitu pahit. Mereka dulu satu kampus, beberapa kali memang Anandita menyatakan perasaannya semenjak Levin belum bertemu dengan Laura. Namun, entah apa pula yang membuat ia tak mampu menerima perhatian gadis itu hingga membuat Anandita tak bersedia menikah seumur hidupnya, terlebih ketika Levin resmi mempersunting Laura.

Pada awalnya, hubungan mereka sempat merenggang. Hingga Anandita kembali memberanikan diri untuk mendekat, setahun setelah Laura dinyatakan koma.

"Gimana kabar istrimu?" Anandita melahap bubur yang penuh dengan kecap itu.

Sesaat levin menghembuskan nafas lelah. "Masih seperti kemarin." Pandangan matanya melayang ke arah penghuni kantin yang belum terlalu ramai pagi ini.

"Aku yakin Laura kuat. Kamu juga harus kuat." Anandita tersenyum pahit dan kembali melahap sarapan paginya.

"Mungkin, tapi entah sampai kapan juga. Hukuman yang dia berikan terlalu berat."

"Laura kuat, buktinya sampai sekarang dia masih bertahan untuk kamu."

"Kamu? Bertahan untuk siapa?"

Pertanyaan itu cukup membuat Anandita menunduk dan menggigit bibir bawahnya. "Apaan sih?' Tiba-tiba gadis itu menonjok pelan pundak Levin. "Kepo deh." Anandita pura-pura merajuk.

"Haha, ya sorry Nona Kecap."

Matanya Anandita membulat mendengar julukan yang sungguh terasa aneh itu. Nona Kecap?

"Ih, apaan sih, Levin?'"

"Haha, tapi itu cocok buat kamu."

"Okedeh Tuan Kopi Pahit. Impas kan? Haha."

***

Satu jam menghabiskan waktu di kantin bersama Anandita. Levin kembali ke ruangan dimana gadis tadi dirawat untuk memeriksa keadaannya saat ini. Wajahnya masih merona membayangkan bagaimana menggemaskannya si Nona Kecap tadi ia godai.

Seorang suster berlari ke arahnya, nampaknya memang tengah terjadi sesuatu di ruangan pasien itu. Pasalnya ini adalah salah satu suster yang menangani pasien tadi pagi.

"Dok, pasien di kamar VIP 02 histeris."

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam Cinta Sang Mafia
8.3
Milea melarikan diri demi menghindari pernikahan paksa dengan putra sulung keluarga mafia yang memiliki gangguan mental, sebuah kesepakatan untuk melunasi hutang ayahnya. Elvan, putra bungsu keluarga tersebut, merasa terhina dan bersumpah akan membalas dendam atas penderitaan kakaknya. Ia berhasil memburu Milea untuk menghancurkan hidup gadis itu. Akankah Milea sanggup meloloskan diri, atau justru Elvan yang akan melepaskan cengkeramannya dari masa depan Milea?
Sampul Novel GODAAN BIRAHI
9.0
Alex Spencer hanyalah pria pengangguran yang menggantungkan hidup pada istrinya, Tracy. Namun, ia justru terobsesi pada Tessa, istri dari seorang kapten pasukan elit bernama Leo Willborwn. Meski Leo unggul dalam segala hal, kesibukannya bertugas membuat Tessa sering merasa kesepian. Celah inilah yang dimanfaatkan Alex untuk menjerat Tessa dalam pusaran nafsu yang berbahaya. Akankah Tessa mampu bertahan dari godaan birahi yang terus menghimpit kesetiaannya?
Sampul Novel Hasrat Nikmat Perselingkuhan
9.7
Zhea merintih dalam gairah yang memuncak, meremas dadanya sendiri sambil menanti penetrasi dari suaminya, Muchlis. Meski kulit putih dan tubuhnya sudah siap menerima sentuhan intim, Muchlis yang berusia 34 tahun justru mengalami kendala seksual. Alat vitalnya tak kunjung menegang meski Zhea sudah sangat mendamba. Dalam kekecewaan yang tertahan, Zhea akhirnya hanya bisa pasrah dan membiarkan suaminya sekadar bergesekan demi mencapai kepuasan sepihak di ranjang mereka.
Sampul Novel Kekayaan Setelah Pengkhianatan
7.9
Tepat di usia ke-20, Tristan dikhianati oleh kekasihnya hingga hancur secara emosional. Namun, tetesan darahnya tanpa sengaja mengaktifkan detektor garis keturunan kuno pada cincinnya yang telah lama mati. Rahasia besar terungkap, mengubah nasibnya dari mahasiswa miskin menjadi miliarder penguasa berbagai bisnis global. Kini, sang pemuda terkaya di dunia menghadapi mereka yang dulu menghina dan mengkhianatinya saat mereka datang bersujud memohon ampun padanya.
Sampul Novel Memikat Hati Pangeran Kelas
9.2
Vindreya Sanjaya, gadis 17 tahun yang ceria namun sedikit urakan, bertekad menaklukkan hati dua pangeran di kelasnya. Ada Kenzo yang dingin dan antisosial, serta Elvano yang populer dan berbakat seni. Perjuangan cintanya penuh aksi kocak hingga momen berbahaya yang mengancam nyawa. Saat takdir mendekatkan mereka, Kenzo dan Elvano justru berbalik mencintai Vindreya. Terjebak dalam cinta segitiga rumit, mereka harus memilih antara pengorbanan atau kebahagiaan sejati.
Sampul Novel Menikah dengan kakak ipar
9.0
Hanifah yang mandul mendesak suaminya, Raihan, untuk menikahi sang adik, Nur Naila Habibah, demi mendapatkan keturunan. Naila merasa tak layak bagi Raihan, dosen agama yang religius, karena ia adalah mahasiswi nakal yang belum berhijab. Tanpa mereka sadari, Naila sebenarnya bukan saudara kandung Hanifah, melainkan anak sahabat ibunya. Akankah Naila menerima permintaan kakaknya itu atau justru menolak pernikahan tersebut karena merasa terlalu berbeda?