APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Dawson Clan

The Dawson Clan

Cliff hidup terisolasi dalam kegelapan, hanya bisa mengonsumsi darah dan terluka oleh surya. Pasca kematian ibunya, ia menemukan fakta bahwa dirinya adalah vampir blasteran dari klan bangsawan Dawson. Meski telah bergabung dengan keluarga ayahnya, Cliff justru dikucilkan dan terjebak cinta terlarang dengan tunangan kakaknya. Sebuah tragedi besar kemudian memicu dendam membara, mengubahnya menjadi pemburu yang bertekad membasmi seluruh garis keturunan Dawson.
Bab
Bagikan

Bab 2

Langit tampak cerah, dengan awan biru yang saling berarak menambah keindahannya. Burung-burung beterbangan seolah menyambut kehangatan sang surya. Kumbang-kumbang mengitari bunga-bunga seolah tak peduli akan dua insan yang sedang memperhatikan mereka.

Di sebuah taman yang dipenuhi bunga yang bermekaran dengan indah, sepasang muda-mudi duduk menikmati keindahan alam ini. Mereka tengah duduk di sebuah kursi panjang yang menghadap tepat ke arah taman. Sang wanita yang diketahui bernama Clara Huston menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang kekasih yang diketahui bernama Maxy Walter. Angin yang membelai wajahnya, membuat Clara sesekali memejamkan mata. Aroma kekasihnya yang menenangkan seolah menjadi bunga tidur baginya. Sedangkan Maxy yang menyadari Clara tertidur di dadanya membelai lembut wajah mulus gadisnya yang tanpa cela itu. Menyingkirkan rambut yang menghalangi kecantikannya.

“Ugghh ... maaf, Max, aku tertidur. Di sini nyaman sekali,” ucap Clara disertai rona merah di wajahnya, membuat Maxy tidak tahan untuk mengecupnya. Perlahan namun pasti dia mendekatkan bibir pada wajah gadisnya dan ...

CUP

Sebuah kecupan hangat dan lembut mendarat tepat di kening Clara, menambah semburat merah semakin menghiasi wajah gadis itu.

“Hari sudah siang, lebih baik kita pulang. Aku juga harus menemani ibuku membeli beberapa kain untuk acara pernikahan kita nanti.” Clara mengerucutkan bibir tampak tak senang mendengar mereka harus berpisah di saat dia masih menikmati kebersamaan mereka. Menghembuskan napas pelan, akhirnya dia tersenyum pada prianya yang selalu membuatnya nyaman ketika berada di sampingnya. Memiliki seorang kekasih, akkhh ... ralat, maksudnya memliki seorang tunangan yang begitu sempurna seperti Maxy, tak ada satu pun wanita yang tidak berpikir bahwa dia wanita yang beruntung.

Maxy Walter seorang putra dari keluarga cukup terpandang di desa mereka. Desa Tussand itulah nama desa mereka. Desa yang makmur dan damai, semua penduduknya selalu menjaga keharmonisan satu sama lain. Selain itu, dia pria yang memiliki paras rupawan dan kebaikan hatinya tak perlu diragukan lagi. Dia pria yang romantis dan perhatian, membuat Clara jatuh cinta sepenuh hatinya pada pria itu.

“Aku mencintaimu,” ucapnya yang membuat Maxy terhenyak untuk sesaat, sebelum akhirnya dia memperlihatkan senyuman menawannya.

“Aku lebih mencintaimu, Clara,” timpalnya dan dia peluk tubuh gadisnya erat seolah takut jika dia melepaskan pelukannya maka dia akan kehilangannya.

Cukup lama mereka berpelukan hingga akhirnya dengan terpaksa mereka memisahkan diri ketika mengingat aktivitas yang harus mereka lalui hari ini.

Dengan bergandengan tangan mereka berjalan menuju rumah sang gadis.

“Kau harus menjaga kesehatanmu. Ingat, dua bulan lagi kau akan menjadi istriku,” bisik Maxy tepat di telinga Clara ketika mereka telah tiba di depan rumahnya.

“Kata-kata itu harusnya kutujukkan padamu. Kaulah yang sering telat makan, tidak boleh seperti itu. Kau harus menjaga kesehatanmu,” balas sang gadis dengan tatapan seriusnya.

“Baiklah, aku mengerti. Sekarang masuklah ke dalam,” titah Maxy yang ditanggapi anggukan oleh Clara. Dia melambaikan tangannya pada Maxy sesaat sebelum dia melangkahkan kaki memasuki pintu rumahnya.

Di dalam rumahnya ... Clara berjalan dengan sesekali bersiul riang mengingat kebahagiaan yang tengah dirasakannya. Tentu dia sangat bahagia mengingat dua bulan lagi dia akan menikah dengan pria yang sangat dicintainya. Awalnya, Clara berniat menuju kamarnya. Namun, terhenti ketika dia melewati sebuah ruangan. Dia mengurungkan niat dan memutuskan untuk melihat sejenak keadaan orang yang merupakan pemilik ruangan itu.

Dia terhenyak ketika tak mendapati orang itu di tempat tidurnya. Tempat tidur itu nampak berantakan yang menandakan beberapa saat yang lalu ada seseorang yang berbaring di sana. Rasa cemas mulai menggelayutinya, tapi luntur ketika dia melihat sosok itu sedang duduk di sebuah kursi tepat di balkon kamar. Tersenyum sebentar, dia pun menghampiri orang itu.

“Nenek sedang apa di sini? Kembalilah berbaring, di sini panas sekali,” ucapnya sambil bersimpuh di depan orang itu yang tidak lain adalah neneknya. Neneknya yang terlihat masih cantik meskipun sudah masuk usia kepala tujuh, menandakan betapa jelitanya dia dulu ketika masih muda. Mungkin kecantikan yang dimiliki Clara diturunkan dari neneknya itu. Banyak orang yang mengetahui masa-masa muda neneknya, mengatakan bahwa wajah Clara sangat mirip dengannya. Namun, sayang sosok nenek yang cantik itu selalu terlihat pucat dan lemah karena sebuah penyakit yang dideritanya cukup lama, membuat Clara tak hentinya mengkhawatirkan keadaan nenek tersayangnya.

“Jika melihat sinar matahari, selalu membuatku teringat pada orang itu,” ucap nenek itu yang diketahui bernama Cleo Huston.

“Hmm ... mengingat siapa? Kakek ya?” Clara mulai tertarik dengan arah pembicaran mereka, membuatnya berpikir untuk sejenak menemani neneknya berbincang.

Cleo menggelengkan kepala pelan dengan tatapannya yang masih tertuju ke arah langit.

“Jika bukan Kakek, lalu siapa? Jangan-jangan cinta pertama Nenek ya?” Awalnya, Clara hanya berniat menggoda, tapi reaksi Cleo yang tersenyum tipis membuatnya menyadari bahwa tebakannya tepat.

“Jadi benar cinta pertama Nenek? Ceritakan padaku, Nek. Aku jadi penasaran,” ucapnya riang sambil memegangi tangan keriput Cleo.

“Hanya ibumu yang pernah mendengar cerita ini, sepertinya aku juga harus menceritakannya padamu.” Suaranya memang pelan tapi masih terdengar jelas di telinga Clara. Dia mengelus lembut kepala Clara, membuat rasa nyaman seketika menjalar di sekujur tubuhnya, hanya dengan sentuhannya ini bisa Clara rasakan betapa neneknya sangat menyayanginya.

“Dulu ... bertahun-tahun yang lalu katika aku seusiamu. Desa ini pernah didatangi seorang pria yang sangat mempesona. Aku tidak pernah melihat pria setampan itu seumur hidupku. Rambutnya hitam bagai gelapnya malam, iris matanya merah semerah darah, kulitnya putih bagaikan porselen, tatapannya tajam bagai elang, tubuhnya tinggi, tegap dan atletis seolah semua yang dimilikinya adalah bentuk kesempurnaan yang sesungguhnya.” Cleo menjeda ceritanya, Clara meneguk saliva mulai merasa antusias mendengar cerita neneknya.

“Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Namun, sayangnya aku tidak bisa bersamanya.” Cleo menundukan kepala, terlihat jelas kesedihan pada kedua matanya yang sejak tadi berbinar karena membicarakan cinta pertamanya.

“Kenapa kalian tidak bisa bersama? Apa Nenek dijodohkan sehingga Nenek tidak bisa bersamanya?” terka Clara yang hanya ditanggapi Cleo dengan gelengan kepala.

“Dia bukan manusia.” Clara terhenyak kali ini dengan kedua mata yang melebar.

“B-Bukan manusia, apa dia itu hantu?” Sekali lagi Clara mencoba menerka dan untuk kedua kalinya pula Cleo hanya menggeleng.

“Dia makhluk penghisap darah yang biasa orang memanggilnya vampir.” Bukan hanya terhenyak, kini Clara terperanjat kaget hingga tidak sadar dia berdiri dari posisinya yang sejak tadi bersimpuh di depan neneknya.

“A-Aku pernah mendengar desas-desus tentang vampir. Tapi dari yang kudengar mereka itu monster yang sangat mengerikan. Penampilan mereka sangat jelek dan tidak segan membunuh manusia.” Cleo hanya tersenyum tipis mendengarnya.

“Ya, tidak ada yang salah dari desas-desus itu. Monster yang mereka bicarakan itu memang Vampir. Lebih tepatnya manusia yang diubah menjadi vampir, tapi mereka tidak bisa mengendalikan rasa haus akan darah sehingga mereka berubah menjadi mesin pembunuh. Pria itu berbeda, dia adalah vampir darah murni, seorang vampir bangsawan yang konon semua anggota keluarganya memiliki paras rupawan bagai dewa-dewi. Dan ya, aku percaya setelah melihat pria itu yang memiliki ketampanan tak tertandingi manusia mana pun.” Clara kembali bersimpuh di depan neneknya dan memegangi tangan keriput sang nenek.

“Dia datang ke desa ini karena sebenarnya desa ini masih bagian dari wilayah kekuasaannya. Saat itu Kepala Desa mencoba berdiskusi dan mengambil jalan damai dengannya. Hasilnya dibuatlah sebuah perjanjian. Dia mengizinkan penduduk di desa ini menempati desa ini, dan hutan terlarang dijadikan sebagai garis batas dari desa ini dan wilayah kekuasaannya. Sebenarnya perjanjian ini cukup merugikan bagi penduduk desa. Walau bagaimanapun di hutan itu banyak tumbuh berbagai macam pohon yang bisa dijadikan sumber mata pencaharian. Banyak pula tanaman dan hewan yang bisa dijadikan makanan.” Cleo kembali menjeda ceritanya, tapi seulas senyum tersungging di bibirnya membuat Clara semakin penasaran ingin mendengar kelanjutan ceritanya.

“Hutan itu menjadi hutan terlarang, tidak ada seorang pun yang berani mendekatinya. Terlebih karena ada rumor yang mengatakan pria itu sering mendatangi hutan itu. Aku yang sudah dibutakan oleh cinta akhirnya melakukan tindakan yang nekat. Beberapa kali aku mengendap-endap memasuki hutan itu hanya untuk satu tujuan ... untuk menemuinya.”

“Lalu apa Nenek berhasil bertemu dengannya?” Cleo menggeleng dan raut sedih kembali menghiasi wajahnya.

“Sayangnya dia tidak pernah muncul di depanku. Akhirnya aku menyerah dan tidak pernah mendatangi hutan itu lagi. Lalu aku bertemu dengan kakekmu dan akhirnya menikah dengannya. Tapi hingga sekarang jika melihat sinar matahari, aku selalu teringat pada pria itu.”

“Kenapa begitu, Nek?” Cleo kembali tersenyum tipis sebelum akhirnya dia mengeluarkan suara pelannya lagi.

“Karena vampir tidak tahan dengan sinar matahari, kulit mereka akan terbakar jika terkena sinar matahari, karena itu mereka hanya akan muncul jika malam tiba.” Clara ber-oh pendek mendengarnya.

“Sayang sekali kita dilarang memasuki hutan itu, padahal aku dengar ada tanaman yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit tumbuh di hutan itu.” Entah untuk yang keberapa kalinya Clara terhenyak mendengar perkataan neneknya.

“Benarkah tanaman itu bisa menyembuhkan berbagai penyakit?” Tanyanya antusias.

“Bukan hanya penyakit tapi luka serius pun bisa disembuhkan dengan tanaman itu.”

“Apa nama tanamannya, Nek?” Cleo tertegun tampak sedang berpikir atau mungkin sedang mengingat-ingat sesuatu yang dilupakannya.

“Entahlah ... Nenek tidak tahu namanya,” jawabnya.

“Kalau begitu ciri-ciri tanaman itu, apa Nenek mengetahuinya?”

“Aku pernah mendengar dari rumor penduduk desa, tanaman itu berbentuk bunga yang sangat indah dengan kelopak bunganya yang berwarna ungu pekat dan aromanya sangat harum. Bahkan lebih harum dari bunga mawar,” jelasnya yang entah mengapa membuat kedua mata Clara berbinar.

“Sudahlah. Kita akhiri pembicaraan ini. Nenek ingin tidur dan kau juga bantulah ibumu menyiapkan makanan untuk makan malam.” Sontak Clara menatap ke arah jam yang bertengger indah di dinding kamar, lalu mengerucutkan bibirnya tak lama kemudian.

“Ini baru jam 3 sore, Nek. Masih lama sampai waktu makan malam tiba. Baiklah, mari aku bantu berbaring.” Clara membantu Cleo bangkit dari kursinya. Dengan memapahnya dia membantu Cleo merebahkan diri di tempat tidur.

“Tidurlah yang nyenyak ya, Nek. Aku akan mengantarkan makanan untuk Nenek jika waktu makan malam telah tiba,” ucapnya riang yang dibalas senyuman hangat oleh Cleo.

Clara pun kembali ke kamarnya, dia rebahkan tubuhnya di kasur empuk dan entah kenapa cerita dari neneknya tadi terus berkelebat di dalam pikirannya. Bukan cerita tentang vampir tampan itu melainkan tentang obat yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Dia berpikir jika dia berhasil mendapatkan tanaman itu, maka penyakit neneknya akan bisa disembuhkan.

Merasa ragu sesaat mengingat hutan itu dilarang untuk didatangi, akhirnya Clara bangkit dari tidurnya. Dia sangat menyayangi neneknya dan sudah memutuskan dia akan pergi ke hutan terlarang untuk mencari tanaman itu. Waktu masih menunjukan sore hari, masih butuh 2 jam hingga langit akan berubah menjadi gelap. Sebuah pertanda baik mengingat makhluk yang disebut vampir itu hanya akan muncul saat malam tiba. Clara pun nekat mengendap-endap pergi menuju hutan terlarang yang konon dihuni oleh makhluk penghisap darah yang bernama vampir.

Jarak hutan itu memang tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit, Clara pun tiba di depan hutan. Clara bergidik ngeri hanya dengan melihat hutan itu dari luar. Angin dingin yang berhembus dari dalam hutan lebat itu membuat bulu kuduknya meremang. Namun, demi sang nenek tercinta, dia pun dengan berani mulai melangkahkan kaki memasuki hutan.

Gelap ... mungkin itu kata pertama yang menggambarkan keadaan hutan. Di sana sangat sepi hingga suara serangga pun seolah mampu ditangkap telinga Clara. Pohon-pohon menjulang tinggi dengan banyaknya semak liar yang menambah kengerian hutan itu. Namun, sama sekali tak membuat Clara goyah akan keputusannya mencari tanaman obat legendaris itu.

Dia edarkan tatapannya ke segala penjuru hutan untuk mencari tanaman yang sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan neneknya.

“Di mana tanaman obat itu?” Gumamnya sambil memeluk tubuhnya sendiri karena hawa dingin yang nyaris tak bisa ditahannya.

“Tanaman menyerupai bunga berwarna ungu dan beraroma sangat wangi. Oh, ayolah di mana tanaman obat itu?” Gumamnya lagi berbicara pada dirinya sendiri.

Wussshhh

Angin kencang tiba-tiba berhembus dan ekor mata Clara menangkap sesuatu berkelebat dengan cepat tepat di belakangnya. Clara segera menoleh ke arah belakangnya itu, tapi nihil ... dia tidak menemukan sosok apa pun di belakangnya. Meski mulai merasa takut, Clara kembali melanjutkan langkah kakinya.

Wussshhh

Lagi ... angin itu kembali berhembus dan sekelebat itu kembali melintas dengan cepat tertangkap oleh ekor mata Clara.

“Siapa itu?!!” teriaknya dengan suara bergetar karena takut.

Kedua matanya mulai berkaca-kaca, sungguh dia mulai ketakutan saat ini. Dia memfokuskan penglihatannya pada arah belakang dan samping dengan menghiraukan arah depan. Ketika dia akhirnya menoleh ke arah depan, tiba-tiba rasa ngantuk menyerangnya dan di tengah kesadarannya yang mulai meredup, dia menangkap sosok seseorang berpakaian hitam berdiri di depannya. Setelah itu, dia tak tahu lagi apa yang sudah terjadi padanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ARANJO
8.1
Aranjo, dewi muda keturunan iblis, harus menjalani hukuman sepuluh kehidupan fana demi melewati bencana cinta. Meski tumbuh di alam langit, ia terus dikucilkan dan dijebak oleh ibu tiri serta saudarinya. Namun, Kaisar Langit memiliki rencana terselubung di balik sanksi ini. Sang Kaisar ingin Aranjo kehilangan perasaannya agar bisa meraih kekuatan absolut sebagai Dewi Agung. Akankah takdir berjalan sesuai ambisi sang penguasa, atau justru sebaliknya?
Sampul Novel BURONAN
9.5
Sammy, mantan perwira militer yang difitnah dan disiksa di penjara, berhasil melarikan diri sebagai buronan Interpol demi mencari adik angkatnya. Untuk bertahan hidup dalam pelarian, ia beralih profesi menjadi pembunuh bayaran yang dingin. Namun, hidupnya berubah saat ia jatuh cinta pada gadis jelita bernama Rheyna. Konflik batin memuncak ketika Sammy menyadari bahwa target pembunuhan berikutnya adalah orang terdekat dari wanita yang sangat ia cintai itu.
Sampul Novel DENDAM CINTA SANG MAFIA
8.3
Kehidupan seorang wanita biasa berubah drastis saat ia masuk ke dunia mafia yang kelam. Terpikat oleh pesona bos kriminal yang sangat berbahaya, ia terjebak dalam pusaran gairah mematikan dan aksi balas dendam yang brutal. Di tengah konflik berdarah ini, ia dipaksa menghadapi dilema batin yang hebat. Kini, ia harus memilih antara mengikuti kata hatinya untuk terus mencintai sang mafia atau tetap memegang teguh prinsip moralitasnya.
Sampul Novel DENDAM INDRIANA
9.0
Indriana harus menelan pil pahit saat status pengantin barunya berubah menjadi janda dalam semalam. Setelah kepergian sang ayah pasca pernikahan mendadak dengan Andi, dunianya runtuh seketika. Pengkhianatan keji dan perselingkuhan yang terungkap menghancurkan kepercayaannya pada cinta. Kini, putri terpandang itu bangkit dengan kemarahan membara untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan hidupnya. Sanggupkah ia melewati ujian ini?
Sampul Novel Fulfi
8.6
Fulfi, model cerdas berusia 20 tahun yang hidup sebatang kara, mendirikan yayasan wanita demi mencegah penderitaan serupa menimpa orang lain. Namun, hidupnya hancur setelah menjadi korban pemerkosaan hingga hamil. Saat berjuang menata ulang karier di tengah sabotase pihak yang membencinya, Fulfi justru berhadapan dengan ancaman besar yang menyeretnya bertemu dalang di balik tragedi masa lalunya. Mampukah ia bertahan dan kembali meraih kesuksesan di dunia modeling?
Sampul Novel Gadis Milik Tentara Arogan
9.3
Amore Acresia terpaksa pulang ke Kudus akibat pandemi global saat menempuh studi di Los Angeles. Namun, kepulangannya berujung petaka ketika ia tak sengaja menabrak Alexander Yudha, seorang tentara arogan yang sedang bertugas. Ponsel Alex hancur terlindas mobil akibat insiden itu, memicu kemarahan sang prajurit yang menuntut pertanggungjawaban penuh dari Acre. Meski berawal dari konflik tajam, benih asmara mulai tumbuh di antara mereka sebelum tugas memisahkan keduanya.