APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Fate That Bind Us

The Fate That Bind Us

Freya percaya bahwa setiap luka memiliki tujuan. Rencana liburan romantis ke Venesia hancur setelah ia dikhianati kekasihnya. Meski terpukul, ia tetap berangkat demi menyembuhkan diri. Di sana, sebuah insiden kopi mempertemukannya dengan pria asing yang memikat. Dari obrolan tentang kehilangan, Freya mulai belajar memaafkan dan menata kembali hatinya yang hancur. Di balik kanal Venesia, ia harus memilih antara cinta baru atau mencintai dirinya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 2

Tidur yang tidak sepenuhnya nyenyak membuat Freya terbangun lebih pagi dari biasanya. Ia menggeliat malas di atas kasur, masih merasa lelah setelah pertemuan yang penuh kejutan dengan Aideen. Pikirannya masih dipenuhi bayangan pria asing yang ditemuinya kemarin. Aideen-nama itu terus bergema dalam benaknya.

"Kenapa aku masih memikirkannya?" gumam Freya sambil meregangkan tubuhnya. Sinar matahari pagi dari jendela kamarnya di penginapan kecil itu terasa hangat, tetapi entah mengapa tak mampu mengusir rasa gelisah dalam dadanya.

Setelah mandi dan sarapan ringan di lounge hotel, Freya mengambil peta yang sudah ia beli kemarin sore. Freya memutuskan untuk memanfaatkan hari ini dengan berkeliling Venezia. Ia memeriksa kembali daftar barang titipan teman-temannya di Jakarta, memastikan tak ada yang terlewat.

Ketika Freya melangkah keluar hotel, ia memutuskan untuk memulai harinya di Rialto Market, tempat yang terkenal dengan berbagai barang unik dan suasana lokal yang khas. Sepanjang perjalanan, ia menyempatkan diri berhenti di sebuah kedai kecil untuk membeli secangkir cappuccino. Aroma kopi yang hangat menemaninya melintasi jembatan Rialto yang ramai dengan turis.

Namun, di tengah langkahnya di sekitaran Rialto Market, ponselnya bergetar. Sebuah nomor asing muncul di layar. Dengan ragu, Freya mengangkatnya.

"Halo?"

"Freya, ini Aideen," suara di seberang terdengar tenang, tetapi ada nada mendesak di dalamnya.

"Oh, Tuan Aideen. Ada apa, ya?"

"Saya ingin bertemu. Bisa?"

Freya terdiam. Apa maksud pria ini ingin bertemu lagi? Kemarin saja ia merasa sudah cukup canggung berurusan dengannya. Tapi suara Aideen terdengar berbeda-seperti ada sesuatu yang penting.

"Boleh tahu alasannya, Tuan?" tanya Freya hati-hati.

"Ini tentang kejadian kemarin. Saya merasa belum benar-benar meminta maaf," jawabnya singkat.

Freya menghela napas. Ia tidak suka berutang budi, tetapi rasa ingin tahu mengalahkan keraguannya. "Baiklah. Di mana?"

Piazza San Marco

Freya tiba lebih dulu di lokasi yang dijanjikan. Tempat itu dipenuhi turis yang sibuk berfoto, tetapi Freya merasa dadanya sedikit sesak. Dia tidak tahu mengapa, tetapi perasaan tidak nyaman mulai menyusup.

"Apa yang aku lakukan?" gumamnya sambil mengalihkan pandangan ke arah kanal. Tapi sebelum sempat memikirkan lebih jauh, suara seseorang memanggil namanya.

"Freya."

Freya menoleh. Aideen berdiri tidak jauh darinya, mengenakan celana khaki dan kaos henley berwarna navy dibuka satu kancing paling atas serta sepatu kets. Ia sengaja tidak menggunakan pomade serta kacamata hitam, membuat penampilannya lebih santai, tetapi tetap berwibawa. Pria itu melangkah mendekat, membawa sekotak kecil di tangannya.

"Ini," ucap Aideen sembari menyodorkan kotak itu. "Ganti rugi kecil untuk kejadian kemarin."

Freya ragu-ragu mengambilnya. "Tidak perlu sebenarnya, Tuan. Lagipula saya sudah melupakan insiden itu."

"Tetapi saya belum." Aideen menatapnya serius. "Terimalah. Anggap saja sebagai permintaan maaf saya."

Freya membuka kotaknya perlahan. Di dalamnya ada sebuah syal sutra berwarna biru laut dengan pola sederhana tetapi elegan.

"Ini terlalu mewah," gumam Freya, bingung harus berkata apa.

"Tidak ada yang terlalu mewah untuk permintaan maaf," balas Aideen santai.

Freya hanya bisa tersenyum kecil. "Terima kasih, Tuan."

Mereka berjalan menyusuri kanal. Freya merasa suasana menjadi lebih santai setelah beberapa saat. Namun, rasa penasaran masih menggelayut di pikirannya.

"Tuan Aideen, bolehkah saya bertanya sesuatu?" Freya akhirnya membuka percakapan.

"Tentu. Apa itu?"

"Kenapa Anda bisa berbicara bahasa Indonesia dengan sangat lancar? Maksud saya, Anda tidak terlihat seperti orang Indonesia pada umumnya."

Aideen tersenyum kecil. "Ayah saya orang Indonesia. Saya sering berbicara bahasa Indonesia dengannya di rumah. Meskipun saya lebih sering tinggal di luar negeri, saya selalu ingat akar saya."

"Oh, begitu." Freya mengangguk. "Berarti Anda sering ke Indonesia?"

"Tidak seberapa sering," jawab Aideen, raut wajahnya sedikit berubah. "Ada beberapa alasan yang membuat saya jarang ke sana."

Freya tidak ingin menekan lebih jauh, tetapi rasa ingin tahunya sulit dibendung. "Apa Anda punya keluarga di sana?"

Aideen terdiam beberapa detik sebelum menjawab. "Saya punya. Tapi hubungan kami tidak terlalu baik."

Nada suaranya yang mendadak dingin membuat Freya menyesal bertanya. Dia tahu ada luka di balik kata-kata itu, tetapi tidak ingin mengungkitnya lebih jauh.

"Maaf kalau saya terlalu banyak bertanya," ucap Freya pelan.

"Tidak apa-apa," balas Aideen sambil kembali melangkah. "Kadang pertanyaan kecil justru membuka hal-hal yang kita tutupi terlalu lama."

Setelah berjalan cukup jauh, Aideen berhenti di depan sebuah kafe kecil. "Saya ingin mengundangmu makan siang. Tidak perlu merasa terbebani. Anggap saja ini bagian dari permintaan maaf saya."

Freya menggeleng cepat. "Tuan, ini sudah lebih dari cukup."

"Tapi saya belum merasa cukup." Aideen menatapnya tajam, tetapi tidak mengintimidasi. "Lagipula, saya jarang punya waktu untuk menikmati hari seperti ini. Anggap saja kamu menemani saya."

Freya merasa bingung. Di satu sisi, dia merasa ada sesuatu yang lebih besar di balik sikap Aideen. Di sisi lain, dia tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa pria ini berbeda dari kebanyakan orang yang pernah dia temui.

"Baiklah," jawab Freya akhirnya. "Tapi saya yang traktir minuman."

Aideen tertawa kecil. "Kita lihat nanti."

Di sela-sela kafe kecil dan hiruk pikuk Venezia, dua orang dengan latar belakang berbeda mulai menemukan jalan cerita mereka sendiri. Namun, di balik senyuman Aideen dan sikap santainya, ada misteri yang perlahan terungkap. Dan Freya, tanpa ia sadari, sedang berjalan menuju sesuatu yang lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan.

-To Be Continue-

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alice and The Blue Sea
8.6
Alice nyaris tewas terseret ombak sebelum diselamatkan oleh Archer, sosok pria misterius yang ternyata adalah seekor duyung jantan. Meskipun sempat tidak percaya, Alice akhirnya yakin setelah menyentuh langsung ekor Archer yang berotot. Pertemuan ajaib ini berujung pada sebuah permohonan bantuan dari Archer kepada Alice. Akankah kehidupan normal Alice berubah total setelah terlibat dalam takdir sang penghuni laut? Simak kisah fantasi romansa modern yang penuh keajaiban ini.
Sampul Novel CAUGHT IN A BAD CHARACTER
9.1
Pasca kematian tragis, Juwita Chou terbangun sebagai Sallyana Fedelian, putri bangsawan antagonis yang ditakdirkan mati muda. Meski Sallyana asli dikenal bengis dan agresif, Juwita bertekad mengubah nasib demi bertahan hidup. Ia harus menghadapi kewaspadaan lima tokoh utama pria sambil merusak alur cerita orisinal. Namun, seiring berjalannya waktu, Juwita mulai menyadari adanya rahasia takdir kelam yang menghubungkan dirinya dengan sosok Sallyana yang asli.
Sampul Novel I'm Not a Gangster
9.8
Seorang pemuda desa terpaksa merantau ke kota besar demi menyambung hidup. Dengan tekad sederhana, ia bercita-cita menjadi seorang pengawal profesional. Namun, takdir justru menyeretnya ke dalam gelapnya dunia kriminal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tanpa disadari, ucapan masa lalunya menjadi kenyataan pahit yang menuntunnya menjadi sosok gangster. Kini ia terjebak dalam pusaran konflik bawah tanah yang menguji prinsip serta keberaniannya.
Sampul Novel Money Bowl ( Cara Cepat Kaya )
8.5
Moana menemukan mantra ajaib yang mampu mendatangkan kekayaan melimpah. Memiliki ambisi mulia, ia ingin menggunakan kekuatan tersebut untuk memperbaiki kondisi ekonomi orang banyak. Sayangnya, niat tulus Moana justru dimanfaatkan oleh pihak-pihak licik demi kepentingan pribadi yang kotor. Kini, Moana harus berjuang keras untuk meluruskan kembali tujuannya dan memastikan ilmu sakti tersebut digunakan pada jalan yang benar sesuai fungsi aslinya.
Sampul Novel Mr. Devil
8.1
Kehidupan Ellena berubah menjadi mimpi buruk saat ayah kandungnya sendiri menjualnya demi ambisi bisnis gelap. Kini, ia terperangkap di sebuah mansion mewah milik Hogue, pria kejam dengan hasrat seksual menyimpang yang tidak segan menyiksa fisiknya. Di tengah kekejaman sang vampir yang menganggapnya tak lebih dari sekadar budak, Ellena harus menghadapi penderitaan tanpa henti. Sanggupkah ia bertahan hidup di bawah kendali pria sadis tersebut?
Sampul Novel Om Bule Menjadi Kekasihku
8.4
Ela, karyawan swasta, menikmati liburan 12 hari di Luzern dan bertemu Ali, pengusaha properti asal Libanon. Kedekatan mereka memicu skandal saat paparazzi menuduh Ela sebagai orang ketiga dalam hubungan Ali dengan artis Nihan. Di luar dugaan, Ali justru mengakui Ela sebagai kekasihnya saat konferensi pers. Meski Ela ragu karena perbedaan negara, Ali membuktikan keseriusannya dengan menyusul ke Jakarta demi memperjuangkan cinta mereka berdua.