APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Guardian Devil

The Guardian Devil

Cindy baru menyadari bahwa hidupnya yang tenang selama ini adalah berkat perlindungan rahasia Mr. Auredo. Namun, segalanya berubah drastis saat posisi pelindung beralih ke tangan putranya, Chris. Meski Chris menjalankan tugasnya, sifat egois dan dominasinya membuat Cindy merasa tertekan. Bagi Cindy, Chris lebih menyerupai iblis daripada malaikat penjaga. Di tengah jeratan kuasa sang miliarder, mampukah Cindy bertahan menghadapi cara perlindungan Chris yang kejam?
Bab
Bagikan

Bab 3

Cindy memiringkan kepalanya untuk mengingat-ingat, apakah dia pernah mendengar nama Christhoper Auredo sebelumnya? Jika memang pria itu kaya dan mempunyai perusahaan tentu dia akan tahu bukan? Cindy masih berpikir dengan keras sampai akhirnya Violet datang dengan tubuhnya yang basah.

"Astaga, Violet! Kenapa bisa basah seperti ini?"

Cindy memasukkan kartu nama itu ke dalam tas dan menghampiri Violet yang sedang mengerucutkan bibirnya kesal. Dielusnya rambut Violet agar air tidak menetes pada wajahnya. Ingin rasanya Cindy mengomel tapi saat melihat bibir maju itu, dia mengurungkan niatnya. Semenyebalkan apapun Violet, dia tetap menyayanginya. Cindy tidak akan tega jika memarahi gadis cantik itu.

"Ada apa, hm?" tanya Cindy sekali lagi.

“Laki-laki bodoh itu tidak bisa bermain skateboard! Karena dia aku jadi masuk ke dalam kolam," ucap Violet menunjuk ke arah kolam air mancur tempatnya bermain tadi. Di sana terdapat laki-laki muda yang sedang tersenyum canggung padanya.

"Dia tidak sengaja Violet." Cindy berusaha untuk meredamkan amarah gadis kecil di hadapannya.

"Tapi tetap saja dia bodoh!"

Cindy meringis saat mendengar ucapan tidak sopan itu, "Apa kau mengatainya bodoh secara langsung?"

"Tentu saja! Saat aku masuk ke dalam kolam aku langsung mengatainya bodoh."

"Violet dengar..." Cindy menunduk dan menyamakan tingginya dengan Violet, "Kau tidak boleh berkata seperti itu. Kau perempuan dan kau juga masih kecil. Itu bukanlah kalimat yang bagus untuk kau ucapkan."

"Tapi dia menyebalkan, Cindy!"

"Aku tahu, apa dia sudah meminta maaf?" Violet hanya mengangguk dan mengerucutkan bibirnya kesal.

"Lihat, dia bahkan sudah meminta maaf. Seharusnya kau tidak boleh marah lagi. Jadilah gadis baik dan jangan buat Ibumu sedih."

"Baiklah, aku minta maaf."

"Pintar," ucap Cindy sambil memasangkan jaket rajut miliknya pada Violet agar tidak kedinginan.

"Karena aku menurut, bisakah kau membelikanku lollypop?" Minta Violet dengan polosnya.

"Tentu saja, tapi tunggu aku gajian." Cindy tersenyum lebar dan Violet hanya memutar bola matanya jengah.

"Violet, sudah berapa kali aku bilang jangan memutar—"

"Ya ya ya.. jangan memutar mata karena itu tidak sopan." Cindy kembali tersenyum dan merapikan barang miliknya.

Setelah itu dia berlalu pergi bersama dengan Violet yang menggenggam tangannya erat. Sudah jam 9 pagi dan seharusnya Rose sudah pulang sekarang. Seperti biasanya, saat pagi dia harus mengantar Violet ke sekolah tapi karena sekarang hari libur, maka dia harus membawa Violet jalan-jalan. Hal itu sudah menjadi permintaan Rose, Ibu Violet. Dia tidak ingin anaknya melihat dirinya datang dalam keadaan kacau setelah usai bekerja di kelab semalaman.

Semua yang Cindy lakukan itu tidak luput dari pandangan Chris. Pria itu masih berada di mobil dan mengawasi gerak-gerik gadis itu. Tidak ada yang mencurigakan dan seharusnya Chris tidak sepenasaran ini pada Cindy.

"Jalan," ucap Chris saat Cindy sudah pergi.

"Baik, Tuan."

"Aku masih belum mengerti apa alasan Ayah memintaku untuk menjaga gadis itu, aku harap kau segera menemukannya," kata Chris pada Anton.

"Baik, Tuan."

"Dan satu lagi, cari tahu siapa anak kecil itu."

"Sudah ada di dalam data, gadis kecil itu bernama Violet. Selain bekerja di toko bunga Bibi Jane, Cindy juga menjaga Violet saat Ibunya bekerja." Chris hanya mengelus dagunya saat mendengar penjelasan dari asistennya itu.

"Ton, aku minta kau siapkan 1 slot beasiswa di sekokah desain milik Nenek untuk Cindy," ucap Chris saat mengingat penawaran yang dia ajukan pada Cindy. Itu hanya pikiran spontan, Ayahnya meminta dia untuk menjaga Cindy dan dia sedang berusaha untuk melakukan itu sekarang.

"Baik, Tuan."

Chris tersenyum tipis, dia yakin hidupnya akan berubah mulai dari sekarang. Entah kenapa dia berpikir jika jalannya dalam menjaga Cindy akan terasa sulit. Namun dia menyukainya, karena dia menyukai tantangan.

Saat sedang terdiam memikirkan Cindy, tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi. Dengan kesal Chris mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya saat ini. Chris menekan tombol merah begitu mengetahui siapa yang menghubunginya. Siapa lagi jika bukan Lexa. Hanya dia yang berani menghubunginya di jam-jam seperti ini. Seakan tidak menyerah, Lexa kembali menghubungi Chris dan membuat pria itu jengah. Akhirnya mau tidak mau Chris harus mengangkat panggilan itu.

"Apa?" jawab Chris datar.

"Kau ini ke mana saja?! Aku sudah menunggu di restoran sejak tadi!" teriak Lexa dari seberang sana.

Chris memejamkan matanya saat sadar jika dia sudah melupakan Lexa, padahal dia sudah berjanji untuk sarapan bersama, "Aku lupa," sahut Chris tanpa merasa bersalah.

"Lupa?! Kau selalu saja seperti ini! Apa kau ingin membuatku mati kelaparan, hah?!"

"Berhenti berteriak Lexa! aku sudah di jalan." Chris ikut emosi mendengar suara Lexa yang tidak berhenti berbicara itu.

"Kau sangat menyebal—"

"Aku matikan sekarang." Detik itu juga Chris segera menutup panggilan itu. Dia muak mendengar suara nyaring milik Lexa.

"Ke restoran sekarang." Perintah Chris pada Anton.

***

Cindy tersenyum saat mendapati mobil Rose sudah terparkir di parkiran apartemen. Sepertinya wanita itu datang lebih awal, "Lihat Ibumu sudah pulang." Tunjuk Cindy pada mobil tua milik Rose.

"Yes! Mom pasti akan membawa pizza. Dia sudah berjanji semalam." Cindy kembali tersenyum dan mulai masuk ke dalam apartemen yang menjadi tempat tinggal Rose bersama Violet.

"Kau tidak seharusnya terus memakan pizza. Itu tidak sehat."

"Apa salahnya? Pizza itu enak. Kau saja sering makan makanan instan. Apa bedanya?" Cindy terdiam saat mendengar ucapan Violet yang begitu menohoknya. Bukan tanpa alasan dia sering makan makanan instan karena dia memang harus memberikan makanan yang sehat terlebih dahulu untuk Caleb dan Ibunya. Cindy tidak masalah jika tidak makan sekalipun asalkan Ibu dan adiknya tetap bisa makan.

Cindy membuka pintu apartemen milik Rose dan meletakkan semua barangnya di sofa. Violet langsung berlari untuk menemui Ibunya tanpa memperdulikan bajunya yang basah.

"Mom!" teriak Violet mencari Ibunya.

"Di dapur, Sayang."

Cindy terduduk dengan lelah. Selama seminggu ini dia bekerja secara penuh. Mulai dari bekerja di toko bunga sampai menjaga Violet. Dia melakukannya dari pagi hingga malam. Meskipun sekarang hari minggu, dia harus tetap bekerja di toko bunga setelah ini. Tidak ada hari libur untuknya.

"Kau apakan anakku sampai basah seperti ini, Cindy?" Cindy membuka matanya saat melihat Rose menghampirinya sambil menggosok rambut basah milik Violet.

"Violet berenang di kolam tadi," jawab Cindy menggoda Violet.

"Aku tidak berenang!" ucap Violet dengan kesal, kemudian dia beralih pada Ibunya, "Mom, tadi ada anak yang bermain skateboard dan menabrakku, karena itu aku jatuh ke kolam dan jadi basah seperti ini."

"Benarkah?" Bukannya merasa khawatir, Rose malah tertawa geli.

"Kau sudah makan Cindy?" tanya Rose pada Cindy yang terlihat lelah.

Cindy membuka matanya dan menatap Rose lekat, "Kau tahu jika aku tidak suka sarapan, Rose."

Rose mendengus dan mengambil duduk di sebelah Cindy, "Ada pizza di dapur, makanlah."

"Baiklah jika kau memaksa." Tanpa membutuhkan banyak waktu, Cindy langsung beranjak ke dapur untuk menghampiri Violet yang sedang memakan pizza-nya.

"Bilang saja jika kau memang lapar! Dasar keras kepala." Rose terkekeh dan masuk ke dalam kamarnya.

Cindy meminum air putihnya saat sudah memakan 3 potong pizza. Setidaknya perutnya sudah terisi dan dapat bertahan sampai siang nanti. Tangannya meraih tisu dan mengelap bibir Violet yang masih memakan pizza-nya dengan tekun. Setelah Violet selesai makan, dia akan langsung ke toko. Hari minggu seperti ini pasti akan ramai sekali nantinya.

"Ini, gajimu selama seminggu." Rose memberikan amplop coklat pada Cindy.

Cindy memandang Rose dengan bingung, "Bukannya kau akan memberikan gaji setiap bulan? Kenapa jad— Astaga! Kau akan memecatku, Rose? Aku tidak menyangka hanya karena Violet jatuh ke kolam kau akan melakukan ini padaku."

"Mom kau akan memecat Cindy?" tanya Violet ikut sedih.

"Astaga, kalian ini berlebihan sekali! Aku tidak memecatmu, Cindy. Hanya saja mulai dari sekarang aku akan memberikan gajimu setiap minggu. Aku tahu kau pasti membutuhkan uang ini."

Cindy menghela nafas lega, "Aku pikir kau benar akan memecatku tadi."

"Tidak, aku masih membutuhkanmu di sini."

"Baiklah. Terima kasih, Rose." Cindy tersenyum dan menerima uang itu. Setelahnya, dia pamit untuk kembali bekerja di toko bunga milik Bibi Jane.

***

Chris mengelap bibirnya dengan tisu saat dia sudah menghabiskan makanannya. Sejak dia datang tadi, Lexa terus saja diam sebagai aksi marahnya. Chris malah bersyukur karena tidak mendengar suara melengking wanita itu sehingga dia bisa makan dengan tenang.

"Aku selesai," ucap Chris dan berdiri.

Lexa terkejut dan ikut berdiri, "Kau akan pergi lagi?"

"Aku harus ke kantor."

"Demi Tuhan! Sekarang hari minggu Chris." Lexa berbicara dengan wajah yang memerah. Sepertinya wanita itu akan marah lagi.

Chris menghela nafas lelah dan kembali duduk. Dia bersyukur jika Lexa memesan ruang privat untuk sarapan mereka, jika tidak dia akan malu melihat tingkah Lexa seperti ini.

"Jadi apa maumu sekarang?" tanya Chris mencoba untuk bersabar.

Lexa hanya tersenyum dan menghampiri Chris, secara tak terduga wanita itu langsung duduk di pangkuan Chris. Pria itu hanya mengerutkan dahinya saat Lexa mulai melingkarkan tangannya di lehernya.

"Apa kau tidak merindukanku?" tanya Lexa dengan nada yang menggoda.

"Aku harus ke kantor," ucap Chris sambil berusaha untuk melepaskan tangan wanita itu dari lehernya.

"Tapi aku merindukanmu." Setelah mengucapkan itu Lexa langsung mencium bibir Chris.

Mereka masih berciuman sampai akhirnya Chris melepaskan ciuman mereka, "Ke tempatku sekarang." Setelah itu Chris berdiri dan Lexa langsung tertawa senang karena usahanya berhasil.

***

TBC

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BAYAR dengan Tubuhmu
9.6
Celina terpuruk dalam kehancuran setelah dikhianati oleh tunangannya sendiri. Tak hanya difitnah, ia bahkan dijadikan jaminan hutang demi melindungi saudara laki-lakinya. Kini, ia terpaksa menyerahkan dirinya kepada Mikhael, seorang pria berkuasa yang dingin. Namun, saat Celina datang dengan wajah sembab penuh duka, Mikhael justru mencemooh kondisinya yang menyedihkan. Di tengah tekanan keji ini, Celina harus bertahan melayani pria yang terang-terangan menghinanya.
Sampul Novel Cintaku Tersesat di CEO Gila
9.5
Ziana Hauwel terjebak dalam obsesi mendalam Andreas Johnson, seorang CEO yang bersumpah tidak akan pernah melepaskannya. Meski merasa tertekan oleh cinta yang posesif, Zia tak mampu membohongi tubuh dan hatinya yang haus akan sentuhan pria itu. Di tengah kegilaan sang miliarder, Zia bergelut dengan batinnya yang perlahan mulai luluh. Akankah hubungan penuh gairah ini berakhir dengan kebahagiaan sejati atau justru kehancuran? Simak kisah romansa dewasa yang intens ini.
Sampul Novel Gairah Tersembunyi Bos Killer
8.6
Nina, lulusan terbaik yang penuh ambisi, harus menghadapi kenyataan pahit saat bekerja di bawah kendali Nathan. Sang bos yang dikenal kejam itu terus mempersulit langkahnya di kantor. Namun, suasana berubah drastis ketika sebuah lembur malam mengungkap sisi hangat Nathan yang tak terduga. Meski benih cinta mulai tumbuh, mereka terpaksa menjalin asmara secara sembunyi-sembunyi. Kini Nina terjebak dalam dilema antara karier, intrik kantor, dan rahasia besar.
Sampul Novel HOT AND DANGEROUS BILLIONAIRE
8.0
Geby terjebak dalam pernikahan paksa dengan Jeremy Loghan, miliarder kejam yang menyimpan dendam mendalam. Meski Geby masih mencintai kakak Jeremy, kebencian suaminya justru berujung pada perlakuan kasar di ranjang. Di tengah konspirasi licik keluarga bangsawan di Yorkshire, rahasia besar mulai terungkap. Jeremy pun bimbang saat rasa cinta mulai tumbuh untuk wanita yang seharusnya ia benci. Akankah ia memilih balas dendam atau perasaannya pada Geby?
Sampul Novel Istri Balas Dendam
8.7
Eleanor tewas dalam kecelakaan tragis tepat sebelum hari pernikahannya. Sang kekasih, miliarder Kieran Lancaster, diselimuti dendam terhadap putri sopir truk penyebab tragedi itu, Vivianne. Di bawah ancaman hukum bagi ayahnya, Vivianne terpaksa menikahi Kieran sebagai pengganti Eleanor. Hidupnya berubah menjadi neraka karena kebencian dan perlakuan dingin suaminya. Namun, seiring waktu, Kieran mulai goyah saat menyadari bahwa Vivianne hanyalah korban yang tidak bersalah.
Sampul Novel Kekayaan Setelah Pengkhianatan
7.9
Tepat di usia ke-20, Tristan dikhianati oleh kekasihnya hingga hancur secara emosional. Namun, tetesan darahnya tanpa sengaja mengaktifkan detektor garis keturunan kuno pada cincinnya yang telah lama mati. Rahasia besar terungkap, mengubah nasibnya dari mahasiswa miskin menjadi miliarder penguasa berbagai bisnis global. Kini, sang pemuda terkaya di dunia menghadapi mereka yang dulu menghina dan mengkhianatinya saat mereka datang bersujud memohon ampun padanya.