APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel The School Devil

The School Devil

Raka Samuel Jackson adalah remaja blasteran Amerika-Indonesia kaya raya yang dikenal sangat pemberontak di sekolah internasionalnya. Di lingkungan penuh murid bermasalah, ia tumbuh menjadi sosok dingin yang gemar membuat kekacauan demi mencari jati diri. Namun, segalanya mulai bergeser saat Mayang Lestari hadir. Guru bahasa Prancis berusia dua puluh tiga tahun yang baru lulus itu perlahan masuk ke kehidupan Raka dan membawa perubahan besar bagi sang murid nakal.
Bab
Bagikan

Bab 3

Mayang membuka pintu kamar kosnya pelan. Begitu masuk, perempuan itu langsung membaringkan badan di atas kasur berukuran sembilan puluh kali seratus dua puluh yang ia pasang lesehan di atas lantai. Meskipun kamarnya tidak terlalu luas, namun Mayang menatanya cukup rapi dan nyaman. Mau bagaimana lagi, kamar ini satu-satunya tempat untuk Mayang melepas penat setelah seharian bekerja. Lingkungan tempat kosnya pun cukup aman meskipun bukan area elit. Yang menetap di sana rata-rata adalah karyawan bank atau karyawan outlet-outlet mal.

Perempuan itu merogoh gawai yang ada di dalam tas yang ia letakkan di sampingnya. Ia menggulir layar di sebuah aplikasi food delivery untuk memilih makanan sebagai santap malamnya. Setelah menemukan menu yang cocok, ia pun memesannya. Satu paket ayam geprek pedas kesukaannya. Murah, dan mengenyangkan.

Sembari menunggu pesanan makanannya datang, Mayang memejamkan mata sejenak. Pikirannya melayang pada kejadian di toilet sekolah tadi siang. Sejujurnya ia merasa was-was. Raka si anak bengal itu mengancamnya. Pahit-pahitnya, meskipun ia tidak dipecat, ia berpikir mungkin anak itu akan membullynya. Persis seperti yang dikatakan Mega, rekan gurunya, saat ia menceritakan hal itu padanya. Jadi, Mayang harus menguatkan mentalnya lagi untuk menghadapi pembalasan dari Raka.

Terdengar suara pintu kamarnya diketuk seseorang. Ah-itu pasti si kurir yang mengantarkan pesanan makanannya. Perempuan itu segera bangkit dari atas kasur dan membuka pintu kamarnya.

"Loh? Mas Altaf?" Mayang terbengong melihat sosok yang berdiri di hadapannya.

"Ini makanan yang kamu pesan, kan?" Si pemuda berwajah manis mengangkat bungkusan plastik di tangannya.

"Kenapa ada di kamu?" tanya Mayang seraya melongok ke balik punggung pemuda yang dipanggilnya dengan nama Altaf itu. Altaf adalah menejer ritel sebuah swalayan tempatnya dulu pernah bekerja. Pemuda itu menyukai Mayang, namun hingga saat ini, perempuan itu belum memberikan jawaban apa-apa. Alhasil, untuk sementara ini, Altaf hanya puas hanya menjadi teman Mayang saja.

"Tadi datengnya barengan sama aku," sahut Altaf seraya menyerahkan bungkusan plastik pada Mayang. Lalu pemuda itu mengambil tempat duduk di depan kamar. Ada satu meja yang diapit dua kursi, diperuntukkan untuk tamu yang berkunjung.

"Aku belum bayar," ucap Mayang.

"Udah tadi," kekeh Altaf. "Sini, aku temenin makan."

"Makasih, loh, Mas. Kamu sering banget, deh, beliin aku makan." Bibir Mayang manyun. Ia tidak enak hati karena sering sekali dibayarin makan oleh pemuda itu.

"Yah, bantuin anak kos. Kesian," ledek Altaf disambut dengan sungutan Mayang. Perempuan itu duduk di kursi kosong.

"Kamu udah makan, Mas?" tanya Mayang sembari membuka wadah styrofoam berisi ayam geprek pesanannya.

"Udah tadi selesai kerja."

Bibir Mayang mencebik. "Tumben pulang cepat," gumamnya.

"Lagi nggak banyak kerjaan juga. Yang penting bulan ini udah target."

Mayang manggut-manggut sambil membentuk huruf o dengan bibirnya. Perempuan itu melahap potongan-potongan ayam geprek yang menjadi makanan favoritnya itu.

"Gimana hari pertama ngajar? Lancar?" tanya Altaf sambil merogoh saku celana dan mengeluarkan sebungkus rokok. Ia mengambilnya sebatang dan menyalakannya.

"Lancar, sih," sahut Mayang lirih. "Cuma, ya, itu ... anaknya bandel-bandel."

"Biasalah itu. Namanya usia remaja. Sabar, ya, Bu Guru." Altaf terkekeh.

"Aku sabarlah, Mas. Orang gajinya lumayan," gelak Mayang. "Uh, pedes banget, sih. Aku ambil minum dulu. Kamu mau kopi?" Mayang mengibas-ngibaskan telapak tangan ke depan bibirnya yang memerah karena kepedasan.

"Boleh," timpal Altaf sambil matanya mengikuti gerakan Mayang masuk ke dalam kamar.

Beberapa saat kemudian, perempuan itu keluar sambil membawa satu gelas air putih dan secangkir kopi. "Makasih, May," ucap pemuda itu.

"Weekend ini sibuk, nggak?" tanya Altaf. Ia menyesap kopinya dan wajahnya seketika berbinar. Kopi buatan sang pujaan hati memang selalu enak. Meskipun hanya kopi sachetan.

"Nggak. Kenapa emang?"

"Nonton, mau?"

"Film?"

"Iya, film. Udah lama juga kita nggak malem mingguan bareng, loh." Altaf terkikik.

"Kamu sibuk, sih."

"Kamunya juga banyak nolaknya," serang Altaf.

Mayang meringis. Perempuan itu menghabiskan suapan terakhirnya. "Males kejebak macet." Ia memberi alasan sekenanya.

"Alesan kamu aja itu," gerutu Altaf seraya menarik ujung rambut Mayang pelan. "Emang males aja jalan sama aku."

"Ih, nggak gitu, Mas." Mayang sedikit gugup menanggapi ucapan Altaf yang memang ada benarnya. Perempuan itu sejujurnya tidak mau memberi harapan lebih pada pemuda yang sudah pernah mengungkapkan perasaan padanya itu. Sayangnya, hatinya belum juga merasakan debaran terhadap Altaf.

"Ya, udah. Mau nggak, nih?" tawar Altaf kembali.

"Hmm ... oke, deh," sahut Mayang. Tidak enak juga ia selalu menolak ajakan Altaf. Pemuda itu tersenyum gembira. Ia menghabiskan sisa kopi dalam cangkir.

"Aku pulang dulu, May ... tadi cuma pingin mampir sebentar ngeliat kamu," kekehnya sambil beranjak dari duduknya. Mayang mencebikkan bibirnya. Ia mengantarkan pemuda itu hingga ke balik gerbang rumah kos di mana mobilnya terparkir.

***

"Owalah, Den Raka. Mesti, loh, pulang-pulang mabuk," gerutu seorang perempuan paruh baya yang baru saja membuka pintu dan memapah Raka yang berjalan sempoyongan. Namanya Mbok Kardinah. Sudah bekerja untuk keluarga Jackson bertahun-tahun. Ia hafal tabiat anak majikan satu-satunya itu.

"Cerewet banget, sih, Mbok," gerutu Raka sambil mengibaskan tangannya.

"Ish, Den Raka. Kalau Nyonya tau pasti ngomel, loh!"

Raka mendesis. Peduli setan dengan ibunya. Atau ayahnya. Mereka selalu sibuk dengan pekerjaan dan urusan mereka. Saat ini saja orang tuanya sedang berada di Los Angeles untuk beberapa minggu. Meskipun begitu, setiap kali Raka berbuat kenakalan, mereka akan berpura-pura peduli dengan menceramahinya panjang lebar. Menurut Raka, itu hanya sebatas formalitas mereka agar tidak dicap sebagai orang tua yang buruk.

"Mbok, air putih hangat, dong. Pusing, nih, kepalaku." Raka yang sudah terbaring di atas kasurnya yang empuk memijit kening. Pesta pora di bar beberapa saat lalu untuk merayakan kemenangannya dalam balap liar bersama teman-temannya cukup membuatnya kelelahan.

Sang asisten rumah tangga segera menuruti permintaan Raka. Ia keluar dari kamar luas dan mewah berdesain dark gloomy itu lalu beberapa saat kemudian kembali dengan segelas air hangat.

"Pijit bentar, Mbok, please." Raka menunjuk kepalanya.

"Ish! Den Raka ... sudah tau kalau mabuk-mabukkan pasti nggak enak akibatnya, masih saja dilakuin." Mbok Kardinah menggerutu. Namun tangannya pelan memijit kepala si anak majikan yang bengal itu.

"Bawel!" sungut Raka. Mbok Kardinah memang cerewet terhadapnya. Namun Raka tahu, perempuan itu tulus menyayanginya. Sepertinya ia lebih nyaman berada di dekat Mbok Kardinah dari pada orang tuanya sendiri. Toh, sejak kecil memang waktunya banyak dihabiskan dengan perempuan itu.

"Mbok bawel karena sayang sama Den Raka, ngerti?" tegas perempuan itu.

"Ya, ya ... terserah, deh." Raka menarik selimut menutupi badan hingga leher. Sambil menikmati pijitan Mbok Kardinah, Raka memejamkan mata. Ia memikirkan rencana untuk mengerjai guru baru bahasa Perancis besok. Belum puas rasanya kalau belum membuat perhitungan dengannya. Ia masih shock karena ada guru yang berani melawannya. Bahkan kepala sekolah pun tidak punya nyali untuk mengusiknya. Lalu apa keistimewaan guru baru bernama Mayang itu sampai-sampai ia tidak takut karirnya akan tamat. Antara kesal dan penasaran bercampur menjadi satu. Raka adalah tipe orang yang akan mengulik tuntas saat ada hal yang mengganggu pikirannya.

Raka menarik sudut bibirnya. Tunggu saja-ia akan membuat Eleanor School untuk guru baru itu seperti ia sedang menginjakkan kaki sarang penyamun.

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Atlet Sekolah Menyebalkan Jadi Suamiku
8.7
Alina hanya ingin lulus tenang dari Horizon International Academy, namun takdir menyeretnya ke hidup Arion Mahendra Kwon. Arion adalah atlet elit berkuasa yang dingin dan ditakuti. Perbedaan status sosial yang kontras tak menghalangi mereka terikat dalam rahasia pernikahan tersembunyi. Di balik kebencian yang membara, muncul benih cinta yang tak terduga. Kini Alina terjebak dalam dilema: bertahan di sisi Arion yang berbahaya atau hancur dalam api asmara mereka.
Sampul Novel Banyu-2 tak tergenggam dan yang lepas.
9.2
Banyu menerima surat misterius yang menyatakan dirinya terpilih sebagai avatar setelah pengamatan enam bulan oleh tim rahasia. Meski bingung dan curiga, ia diminta datang ke Jalan Lembayungkuning No. 17, tepat di samping kantor MNG Group, untuk mendapatkan penjelasan lengkap melalui sesi wawancara. Didorong rasa penasaran sekaligus takut, Banyu akhirnya memutuskan memenuhi panggilan tersebut. Keputusan nekat ini menjadi awal mula petualangan besar dalam hidupnya.
Sampul Novel Dimanjakankan oleh Bos Mafia Kejam
9.0
Khloe dijebak saudari kandung dan calon suaminya di hari pernikahan hingga mendekam tiga tahun di penjara. Setelah bebas, ia kembali ditindas dan dipaksa melayani pria tua demi ibunya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Henrik, bos mafia kejam yang justru melindunginya. Meski dingin, Henrik memberikan kasih sayang luar biasa bagi Khloe. Ia membantu Khloe membalas dendam pada para pengkhianat dan memastikan tak ada lagi yang berani menyakitinya.
Sampul Novel Hati Yang Terpilih
8.2
Dunia Nazwa Rengganis runtuh saat Rafi mendadak menceraikannya setelah dua belas tahun menikah. Meski terpuruk, ibu dua anak ini berhasil bangkit dan mulai membuka hati untuk Kafka, pria dari masa konselingnya. Namun, rahasia perceraian Rafi terungkap tepat saat sang mantan suami meminta rujuk. Terjepit di antara dua pria, Nazwa memilih menjauh demi ketenangan diri dan anak-anaknya. Akankah ia berani kembali meniti mahligai pernikahan atau tetap melangkah sendiri?
Sampul Novel Istri Cadangan
9.8
Nadia hancur saat memergoki suaminya, Reza, bermesraan dengan Karina di kamar tamu rumah mereka sendiri. Alih-alih menyesal, Karina dengan angkuh mengklaim cinta Reza, sementara Reza justru meminta izin untuk menikahinya. Meski dikhianati secara keji, Nadia menolak untuk hancur dan menyerah. Dengan tekad yang membara, ia bangkit menghadapi penghinaan itu dan bersumpah akan membalas rasa sakit hati serta pengkhianatan mereka dengan tuntas.
Sampul Novel Istri Kesayangan Tuan Presdir Tampan
8.4
Kehidupan Niana Fradella berubah drastis setelah pertemuan tak terduga dengan pria yang menjadi jodoh sejatinya. Awalnya ia hanya berniat melarikan diri dari perjodohan paksa orang tuanya, namun takdir justru mempertemukannya dengan sosok yang jauh lebih sempurna. Meski kini ia menemukan cinta yang luar biasa, kebahagiaan Niana terancam sirna. Penyakit yang kian parah menggerogoti fisiknya, membuatnya ragu apakah ia mampu bertahan hidup lebih lama lagi.