APKDock Logo
Sampul Novel Tiga Puluh Delapan Perceraian, Satu Pengkhianatan

Tiga Puluh Delapan Perceraian, Satu Pengkhianatan

8.0 / 10.0
Lima tahun menikah, Bram sudah meminta cerai sebanyak 38 kali demi menebus rasa bersalah pada sahabatnya, Clara. Puncaknya, Clara mendorongku hingga celaka, namun Bram justru membiarkan bukti CCTV lenyap. Saat aku diculik dan memohon bantuan, Bram mengabaikan teleponku. Di tengah luka dan pelarian maut dari van penculik, aku menyadari pengkhianatannya telah tuntas. Tak akan ada kesempatan ke-39 untuknya. Kini, aku memilih untuk menghilang selamanya.

Tiga Puluh Delapan Perceraian, Satu Pengkhianatan Bab 1

Hari ini adalah ulang tahun pernikahanku yang kelima. Ini juga hari di mana suamiku, Bram, memintaku bercerai untuk ke-38 kalinya.

Dia melakukan ini demi Clara, teman masa kecilnya. Wanita yang menabrakkan mobilnya di hari pernikahan kami, membuatnya tidak akan pernah bisa punya anak. Sejak saat itu, Bram terus membayar utang rasa bersalah, dan akulah harga yang harus dibayarnya.

Selama lima tahun, aku menahan siklus perceraian dan rujuk yang tak berkesudahan. Tapi kali ini berbeda. Clara mendorongku dari atas tangga.

Bram menemukanku bersimbah darah dan berjanji akan menuntut keadilan. Dia bersumpah akan membuat Clara membayar perbuatannya.

Tapi beberapa hari kemudian, polisi menelepon. Rekaman CCTV insiden itu telah terhapus secara misterius. Tidak ada bukti, tidak ada kasus.

Malam itu, Clara menyuruh orang menculikku. Saat anak buahnya merobek pakaianku di belakang sebuah van, aku berhasil menelepon Bram.

Dia menolak panggilanku.

Aku melompat dari van yang sedang melaju. Dan saat aku berlari menyelamatkan diri, berdarah-darah di aspal yang dingin, aku bersumpah.

Kali ini, tidak akan ada rujuk yang ke-39.

Kali ini, aku akan menghilang.

Bab 1

Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami yang kelima.

Bram Wijaya, suamiku, berdiri di hadapanku. Dia setampan hari pertama kami bertemu, dengan mata yang tajam dan hidung yang mancung. Tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya bukanlah yang kau harapkan di hari jadi pernikahan.

"Kita cerai saja."

Aku tidak kaget. Aku tidak sedih. Aku hanya menatapnya, hatiku datar, setenang garis lurus.

"Kau tahu ini perceraian kita yang ke-38?" tanyaku.

Sekilas rasa putus asa melintas di matanya. Dia menghindari tatapanku.

"Clara Santoso mengancam mau lompat dari atap," katanya dengan suara rendah. "Dia bilang tidak akan turun kecuali aku menceraikanmu. Kau tahu dia punya gangguan kecemasan..."

Aku memotongnya. "Hmm, aku tahu."

Aku sudah tahu selama lima tahun. Aku sudah tahu melalui tiga puluh tujuh perceraian sebelumnya.

"Jadi, yang kali ini akan berlangsung berapa lama?" tanyaku, suaraku tetap datar.

Dia tampak terkejut, seolah mengharapkan air mata atau teriakan. Dia tidak pernah lagi mendapatkan apa yang dia harapkan dariku.

"Begitu suasana hatinya stabil, kita akan rujuk lagi," janjinya. Dia mengulurkan tangan untuk menyentuh bahuku, lalu tangannya berhenti di udara dan jatuh kembali ke sisinya. "Oke?"

Aku menatap wajahnya, melihat konflik di matanya, dan tiba-tiba aku merasa ini lucu. Sangat, sangat lucu.

"Oke," kataku. "Lagipula, kita memang berutang padanya."

Staf di Pengadilan Negeri sudah hafal dengan kami.

"Datang lagi?" Petugas, seorang wanita bernama Bu Ratna, menaikkan kacamatanya. Dia mengeluarkan formulir yang sudah akrab tanpa perlu melihat. Dia sudah ahli dalam perceraian kami.

"Kali ini masih cerai baik-baik?"

Aku mengangguk dan mengambil pulpen yang dia tawarkan.

Bram menandatangani namanya di samping namaku. Pulpen itu menggores kertas, suara yang tajam dan tegas. Dia telah melakukan ini tiga puluh tujuh kali sebelumnya. Dia jago dalam hal ini.

Saat giliranku, pulpen itu melayang di atas kertas. Aku merasakan jeda singkat di dalam diriku, secercah perasaan lama.

Ini yang ke-38 kalinya.

Pertama kali, aku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak bisa bernapas.

Kedua kali, aku bertanya padanya, "Kenapa, Bram? Kenapa?"

Ketiga, keempat... kabur dalam rasa sakit dan kebingungan.

Pada kali kesembilan, aku bisa masuk ke sini dan tertawa bersama Bu Ratna. "Tolong cepat ya, Bu," kataku, "Kami ada acara."

Aku menarik napas dalam-dalam. Aku menandatangani namaku dengan teliti, Anya Larasati. Kali ini, aku menulisnya dengan sangat hati-hati. Setiap hurufnya sempurna, final.

Saat kami melangkah keluar, Clara sudah menunggu. Bukan di atap, tapi di sana, di tangga pengadilan, tampak lemah dan penuh kemenangan.

Dia melewatiku dan langsung menerjang ke pelukan Bram.

"Bram! Aku tahu kau akan memilihku! Aku tahu kau lebih mencintaiku!"

Tubuh Bram menegang. Dia menatapku dari balik bahu Clara, matanya dipenuhi sesuatu yang tidak bisa kuberi nama. Rasa bersalah? Permintaan maaf? Tidak penting lagi.

Dia mencoba mendorong Clara dengan lembut. "Clara, sudah cukup."

Clara hanya memeluknya lebih erat, sama sekali tidak peduli. Dia merebut surat cerai dari tangan Bram dan melambaikannya di depan wajahku seperti piala.

"Lihat ini, Anya? Dia milikku sekarang. Dia selalu jadi milikku."

Aku tidak mengatakan sepatah kata pun. Aku hanya memperhatikan mereka. Aku sangat lelah.

"Clara!" Suara Bram tajam karena kesal. "Hentikan."

Clara langsung mengubah taktik. Wajahnya berkerut, dan dia mulai terisak di dada Bram. "Maaf, Bram. Aku hanya terlalu bahagia. Ayo kita rayakan! Kumohon?"

Lalu, dia menatapku, kilatan jahat di matanya yang berlinang air mata.

"Kenapa kita tidak ajak Anya? Untuk merayakan awal baru kita. Dan akhir hidupnya."

Bram menatapku, ekspresinya penuh permintaan maaf. Dia memintaku dengan matanya untuk ikut saja. Sekali ini lagi saja.

Untuk alasan yang aku sendiri tidak mengerti, aku mengangguk. "Tentu."

Kami semua masuk ke mobilnya. Clara duduk di depan, bersandar pada Bram, tangannya dengan posesif diletakkan di atas kaki Bram. Aku duduk di belakang, hantu dalam kehidupanku sendiri.

Aku melihat jari-jarinya menelusuri pola di paha Bram. Aku melihat Bram mencengkeram setir, buku-buku jarinya memutih, tapi dia tidak menghentikannya. Dia tidak pernah menghentikannya.

Diam. Pembiaran. Kompromi. Itulah tanggapannya pada Clara selama lima tahun ini.

Hujan mulai turun di luar, tetesannya menggores kaca seperti air mata. Pemandangan itu membawaku kembali ke masa lalu.

Lima tahun yang lalu. Hari pernikahan kami.

Bram dan aku adalah pasangan emas di Universitas Indonesia. Dia mahasiswa bisnis yang brilian, dan aku seniman yang menjanjikan. Kami jatuh cinta dengan cepat dan dalam. Dia begitu lembut saat itu. Dia akan memegang tanganku, tangan yang memegang kuas cat, dan mengatakan itu adalah tangan terindah di dunia.

Clara selalu ada, di latar belakang. Teman masa kecilnya. Gadis yang terobsesi padanya, yang mengikutinya ke mana-mana.

"Dia sudah seperti adikku sendiri," katanya, menepis kekhawatiranku. "Jangan khawatir, Anya. Aku hanya mencintaimu."

Aku percaya padanya.

Di hari pernikahan kami, saat aku berdiri dalam gaun putihku, ponselnya bergetar tanpa henti. Itu Clara.

"Jangan diangkat, Bram," kataku, rasa tidak nyaman mulai mengganjal di perutku. "Tidak hari ini. Hari ini untuk kita."

Dia tersenyum, mencium keningku, dan mematikan ponselnya. Itu adalah hari terbaik dalam hidupku, selama beberapa jam.

Kemudian, kami tahu apa yang terjadi. Saat kami mengucapkan janji suci, Clara, dalam keadaan mabuk dan histeris, menabrakkan mobilnya. Kecelakaannya parah.

Dia dilarikan ke rumah sakit. Tubuhnya hancur. Dokter mengatakan dia tidak akan pernah bisa punya anak.

Rasa bersalah menghancurkan Bram. Dia merasa bertanggung jawab karena mengabaikan panggilannya.

Sejak hari itu, sebuah utang terbentuk. Utang yang dia rasa harus dia, dan juga aku, bayar.

Luka fisik Clara sembuh, tapi pikirannya tidak. Dia didiagnosis menderita gangguan kecemasan dan depresi berat. Dia mulai menggunakan kerapuhannya sebagai senjata.

Setiap kali Bram dan aku bahagia, dia akan kambuh. Serangan panik. Ancaman bunuh diri.

Dan setiap kali, Bram akan menyerah.

Untuk menenangkannya, dia akan menyetujui tuntutannya. Dan tuntutan terbesarnya selalu sama: "Ceraikan Anya."

Jadi kami melakukannya. Pertama kali, dia memelukku saat aku menangis dan berjanji itu hanya sandiwara.

Setelah beberapa minggu, ketika Clara "stabil" lagi, dia akan datang pada kami, menangis dan meminta maaf. Bram akan memaafkannya. Dan kami akan rujuk.

Lalu siklus itu berulang.

Dan berulang.

Tiga puluh delapan kali.

Aku beralih dari penderitaan menjadi mati rasa, lalu menjadi kelelahan yang merasuk hingga ke tulang dan jiwaku. Kuas catku berdebu. Warna-warni duniaku memudar menjadi abu-abu.

Di dalam mobil, aku memperhatikan profil Bram saat dia mengemudi. Dia masih tampan, masih pria yang kucintai. Tapi dia juga orang asing yang membiarkan wanita lain menghancurkan hidup kami.

Dia baru saja membiarkannya menyentuhnya. Dia membiarkannya duduk di kursiku. Dia membawa kami untuk merayakan perceraianku.

Sebuah keputusan, dingin dan jernih, terbentuk di hatiku.

Kali ini adalah yang terakhir. Tidak akan ada rujuk ke-39.

Aku mengeluarkan ponselku dan mengirim pesan ke kakakku.

[Ayah sama Ibu di rumah?]

Dia membalas hampir seketika. [Iya. Kenapa?]

[Aku ke sana sejam lagi. Kita perlu bicara.]

Lalu aku mengirim pesan ke orang tuaku. [Aku mau ninggalin dia. Selamanya. Aku mau pindah. Jauh. Ayah Ibu mau ikut?]

Balasan ibuku adalah serangkaian emoji khawatir. Balasan ayahku sederhana dan langsung.

[Kami selalu ada untukmu. Selalu.]

Setetes air mata yang tidak kusadari masih kumiliki, mengalir di pipiku. Aku cepat-cepat menyekanya. Aku sudah cukup banyak menangis untuk pria ini. Aku tidak akan menangis lagi.

Kami tiba di sebuah restoran mewah. Clara bersikeras duduk di sebelah Bram, bergelayut di lengannya seperti anak kecil. Bram mencoba melepaskan diri, tapi Clara mulai merengek.

"Bram, kau benci aku sekarang, ya? Setelah semua yang kualami..."

Bram menghela napas, kalah, dan membiarkannya. Dia memotongkan steak untuknya, menuangkan anggur untuknya. Orang-orang di meja lain menatap mereka, tersenyum. Mereka tampak seperti pasangan yang sedang dimabuk cinta.

Aku merasa tak terlihat. Sebuah ban serep.

Tasku ada di kursi di sebelahku. Tas itu tergelincir, dan sebuah buku sketsa kecil jatuh. Aku sudah berbulan-bulan tidak menggunakannya.

Clara melihatnya. Wajahnya berubah.

"Apa itu?" bentaknya. "Kau mau pamer? Mau mengingatkannya pada dirimu yang dulu?"

Dia menerjang ke seberang meja, matanya liar.

Sebelum aku bisa bereaksi, dia menyambar mangkuk sup panas di depannya dan menyiramkannya tepat ke wajahku.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Tiga Puluh Delapan Perceraian, Satu Pengkhianatan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Anisa Rahma memulai hidup baru sebagai istri Seno Bagaskara, pria kaya raya yang membawanya tinggal di kediaman besar keluarga. Namun, situasi menjadi rumit karena mereka harus berbagi atap dengan saudara ipar lainnya. Di balik kemewahan tersebut, Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno dan suami dari iparnya menyimpan hasrat terlarang kepadanya. Kini, Anisa terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah itu. Sanggupkah ia bertahan?
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Shila merintih kesakitan saat Sam mulai merasuki dirinya dengan penuh gairah. Dalam suasana yang mencekam dan penuh risiko, Sam berbisik lirih agar Shila mengecilkan suaranya. Ia memperingatkan gadis itu bahwa orang tuanya bisa mendengar aktivitas rahasia mereka di dalam rumah tersebut. Ketegangan memuncak saat mereka berusaha menyembunyikan hubungan terlarang ini dari pendengaran ayah dan ibu Shila yang berada sangat dekat dengan mereka.
Sampul Novel Istri Untuk Tuan Alex
7.9
Gadis terpaksa menjadi pengantin pengganti demi menjaga martabat ibu angkatnya. Namun, kesalahpahaman besar membuat Alex membencinya hingga bersikap kasar. Gadis tidak tinggal diam menghadapi perlakuan tersebut, sambil tetap menyembunyikan rahasia besar mengenai jati diri aslinya. Akankah Alex berhasil mengungkap misteri yang tersimpan rapat itu? Ikuti kelanjutan kisah penuh ketegangan dan emosi mereka yang kini tersedia secara lengkap di Bakisah.
Sampul Novel Janda Bertemu Dengan Duda
8.1
Pasca kehilangan Rizal, Sonia pindah ke apartemen kecil bersama dua anaknya, Alif dan Hana, demi lari dari duka. Di sana, ia bertemu Yudha, seorang duda karismatik yang membesarkan putrinya, Mira, sendirian setelah tragedi serupa. Meski sama-sama terluka, pertemuan di lorong apartemen itu memicu percikan emosi. Kini, mereka harus memilih: tetap terbelenggu kenangan pahit masa lalu atau meruntuhkan dinding ketakutan demi menyambut cinta baru yang hadir di depan mata.
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Penyesalan mendalam menghantui setelah perpisahan yang tak terelakkan terjadi. Kesadaran yang datang terlambat hanya menyisakan duka, karena tangisan tak mampu mengubah kenyataan. Kehadiran sosokmu sebelumnya telah memberi warna dan mengajarkan arti kesetiaan serta pengorbanan yang tulus. Meski mengenalmu membawa rasa sakit dan kesedihan, di sana pula kutemukan kebahagiaan sejati. Kini, andai waktu bisa diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik bersamamu.
Sampul Novel LEMBAYUNG CINTA
9.2
Rangga terjebak dalam obsesi mendalam terhadap Davina. Pria itu rela melakukan segala cara demi mencuri perhatian sang wanita impian. Setiap tindakan yang Rangga ambil dirancang khusus untuk memikat hati Davina agar mau membalas perasaannya. Di tengah ambisi tersebut, ia terus berjuang memancing simpati Davina demi mendapatkan cinta yang ia dambakan. Inilah kisah perjuangan seorang pria yang tak kenal lelah mengejar wanita pilihannya dalam balutan romansa modern.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan