APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel TULANG RUSUK

TULANG RUSUK

Ikuti perjalanan lima pria mapan yang tengah berjuang dalam misi pencarian pasangan hidup sejati mereka. Di tengah kemapanan yang telah diraih, mereka harus menghadapi berbagai lika-liku emosional demi menemukan sosok tulang rusuk yang selama ini dinantikan. Akankah setiap langkah dan usaha yang mereka tempuh akan berujung pada akhir bahagia yang mulus, atau justru rintangan tak terduga akan datang menguji kesungguhan cinta mereka?
Bab
Bagikan

Bab 1

Dina dan Jimmy saling berpandangan dan melempar senyum.

“Beneran kalian sudah jadian?” tanya Dina kepada Neil dan Anita.

Neil menganggukkan kepalanya sedangkan Anita menggeleng disaat bersamaan.

“Oh, jadi masih ragu-ragu rupanya? Awas lho nanti Neil kecantol ciwi syantek,” goda Simon kepada Anita yang sekarang sudah mendelik kepada Simon.

Anita sudah tidak canggung lagi berinteraksi dengan keluarga Neil yang memang humoris dan yang pasti sangat suka menggodanya.

“Jangan!” Isyarat Anita dengan raut wajah memelasnya.

“Wah, untung kalian masih di sini. Dedek cantik apa kabar?” Suara Alex menyapa dari belakang punggung Neil.

Serentak semua mata menoleh ke asal suara. Di sana tampak Alex meringis memamerkan deretan gigi putihnya bersandingan dengan Hilya beserta kedua anak kecil berumur tujuh dan empat tahun. Alex sedikit canggung ditatap sedemikian rupa oleh para sahabatnya itu.

“Mau piknik keluarga ini rupanya?” goda Neil dengan satu alisnya yang terangkat ke arah Alex dan Hilya. Hilya adalah sekretaris pribadi Neil di perusahaan pria tersebut.

“Bukan begitu Pak Neil. Ini Pak Alex ngajakin jalan sama anak-anak saja.” Hilya gugup memberikan alasan. Ini merupakan kali pertama sepupu bosnya itu mengajak dirinya bertemu dan juga kedua anaknya di luar urusan kantor. Hilya adalah seorang janda dengan dua orang anak.

“Ya, itu namanya piknik,” timpal Jimmy tiba-tiba, dengan kedua alisnya yang naik turun kemudian mengerling menggoda ke arah Alex, yang dibalas olehnya dengan memutar kedua matanya malas sedangkan Dina menatap Jimmy dalam-dalam seraya tersenyum tipis. Banyak pemikiran bersarang dibenaknya saat ini. Terutama tentang keberadaan pria di sebelahnya ini, yang kadang bisa sangat menjadi seorang pemaksa dan bisa terlihat biasa saja jika bersama dengan teman-temannya.

'Ternyata pria kaku ini bisa bercanda juga selain 'hot' tentu saja.' Batin Dina.

Ponsel Alex bergetar ia kemudian segera mengangkat panggilan yang ternyata dari saudaranya Marco.

“Halo Bang.”

“Aku sudah temukan sepupu kita yang tersayang.”

“Oh ya, lalu?”

“Dan dia tidak mau ikut kembali karena ternyata dia sudah menikah.” Tampak sekali jika Marco sedang menggeram kesal. Memang Marco kadang tampak tidak sabaran menghadapi tingkah polah satu-satunya sepupu perempuan mereka. Maka dari itu Catty sangat dicintai oleh keduanya.

“Menikah? Lalu bagaimana sekarang, bagaimana dengan tante Tari?”

“Dia bungkam dan hanya mau bicara padamu.”

“Astaga! Gadis itu memang!” seru Alex tidak habis pikir seraya menggelengkan kepala dan mendengkus. Selalu saja begitu sedari mereka kecil, Catty selalu sembunyi di belakang punggungnya guna mencari dukungan jika wanita itu melakukan kesalahan. Catty yang berusia dua tahun lebih muda dari Alex memang lebih dekat dengan pemuda periang itu.

“Abang, tolong Dedek! Abang Marco galak, mana bawa cewek lagi ke sini,” rengek Catty dengan nada merajuk nan manja, sangat jelas terdengar di seberang sana dan itu hanya berlaku untuk Alex saja.

Di seberang sana Juli yang memang datang bersama dengan Marco dan juga Johan saling berpandangan melihat adegan saling mengadu di depan mereka.

Marco mendengus seraya berkacak pinggang ia tahu kali ini Alex tidak akan mudah luluh dengan bujuk rayu Catty.

Enam bulan sebelumnya

Anita segera mengemasi pakaiannya dan segera keluar dari rumahnya padahal waktu masih menunjukkan pukul empat pagi. Suasana jalanan depan rumahnya masih sangat sepi. Setelah Anita menaruh kunci di tempat biasa, lalu ia segera bergegas menuju jalan raya seraya mendekap tas jinjingnya menghalau rasa gugup, takut dan dinginnya udara pagi hari ini. Beberapa kali pandangannya mengawasi sekitar. Anita pergi dari rumah, kabur tepatnya.

Kini Anita berdiri di depan gerbang rumah mewah yang menjulang tinggi di hadapannya saat ini. Ia sempat ragu apakah Tarsih benar tinggal di sini, jika benar sangat keren sekali pikirnya. Anita membuka tas bulat kecil yang menggantung di bahu kirinya. Ia segera mengeluarkan kertas yang terlipat rapi dalam dompet kecil souvenir pembelian perhiasan. Nomor rumah dan alamat di depannya saat ini sama persis dengan yang tertulis dalam secarik kertas itu.

Ia melihat dua buah tombol yang menempel pada tembok pagar namun saat ia akan menekan tiba-tiba pintu gerbang di depannya terbuka dengan sendirinya. Anita cepat-cepat menyingkir ke samping dan bersandar pada tembok batas pagar karena ada mobil mewah yang mau keluar.

Hari sang penjaga rumah, melihat Anita dan tersenyum. Ia tahu siapa gadis itu karena Tarsih sudah berpesan padanya sebelumnya. Hari mendekat ke arah Anita dan berdiri tak jauh dari gadis itu, sesaat setelah mobil sang majikan berlalu.

Mobil mewah itu sempat berhenti dan menurunkan kaca samping kemudi, sang pengemudi adalah seorang pria yang sangat tampan dan modis menatap penampakan Anita kemudian tersenyum tipis. Sementara Anita tak bisa melihat mata pria tersebut karena pria itu memakai kacamata hitam yang pastinya tak kalah mahal dengan penampilannya. Anita terpaku dan terpana ditatap sedemikian rupa oleh pengemudi tersebut. Andai saja Anita bisa bersuara pasti ia akan menyapa dengan santun.

Terbersit kecemasan di benaknya bagaimana jika pria itu nantinya akan berpikir jika dirinya tidak sopan? Ah, semoga saja pria itu hanya tamu di rumah mewah ini. Anita melirik mencuri pandang ke halaman depan rumah tersebut.

“Sini Neng, ayo Akang antar ke dalam,” sambut Hari ramah.

Anita mendekat ke arah Hari dengan tersenyum lembut kemudian mengikutinya ke dalam lewat pintu samping yang dikhususkan untuk para pekerja di rumah yang megah bagai istana.

“Eh iya Neng, si Eneng teh udah lulus sekolah?” tanya Hari.

Anita mengangguk dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.

Hari yang mendapatkan senyum ramah sampai menelan salivanya kasar. 'Aduh senyum si Eneng mah bikin dada aing jedak jeduk. Kalau jaman enow bilang termehek-mehek, jiwa muda meronta.'

Hari yang memang masih berusia muda sekitar dua puluh dua tahun, bersih dan tampan kini merasa geli dengan pemikirannya sendiri.

'Ternyata tetangga Bi Tarsih cantik sekali walaupun tuna wicara tak apalah asal bisa masak, beberes rumah. Semoga teh, Neng Anita mau dengan aing.'

Walaupun jelas Anita memiliki kekurangan, tetapi dengan tubuhnya yang tinggi dengan bentuk tubuhnya semampai dengan ukuran dada yang diatas rata-rata, serta pinggul ramping bagaikan biola. Kulit yang putih bagaikan porselen dan memiliki pori-pori wajah yang tak terlihat. Laki-laki yang sehat pasti akan terpesona kepadanya. Oh ya, tidak lupa juga rambutnya yang panjang terurai sepanjang tulang belakangnya, tergerai indah dan harum. Matanya yang sedikit sipit, tulang pipi tinggi yang masih sedikit tertutup bulatnya pipi sisa-sisa penampakan masa kanak-kanaknya dan bibir sedikit mungil tetapi penuh dengan warna merah muda alami tanpa polesan.

Bahu Hari yang sedang melamun menikmati pemandangan indah di depannya itu, ditepuk oleh Tarsih dari belakang. Anita yang memang sudah melihatnya hanya tersenyum geli menatap keduanya. Serta kekagetan Hari merupakan hiburan bagi Anita. Hari saja tidak sadar jika sampai air liurnya hampir menetes, memalukan bukan?

“Hayo, bengong aja,” tegur Tarsih.

Hari hanya meringis karena kekagumannya. “Tau nggak Bi, tadi teh aing kira ketemu bidadari waktu membuka gerbang eh ternyata beneran. Bidadari bumi mendarat mulus di tempat kerja aing yang megah ini. Duh tambah betah kerjanya kalau begini.” Setelah berkata demikian, Hari kemudian kembali lagi ke pos jaganya.

“Da ... da .... Eneng cantik, sampai jumpa lagi!” pamitnya sambil berlari kecil ke depan membukakan gerbang saat bersamaan ada suara klakson mobil.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Whore Mate
9.1
Layla, Alana, dan Zeline adalah mahasiswi Universitas Pembangunan yang berbagi rumah. Sejak awal, gerak-gerik Zeline yang sering keluar malam memicu kecurigaan Layla. Meski jarang kuliah, nilai Zeline secara misterius melampaui Alana. Rahasia mulai terkuak saat Zeline membiayai pengobatan ayah Layla. Ketegangan memuncak ketika Roger, kekasih Alana, ternyata mengenal Zeline sebagai penyedia jasa pemuas nafsu. Ternyata, selama ini mereka tinggal bersama seorang pelacur.
Sampul Novel AFTER THAT NIGHT (CEO)
8.8
Darren Hawk, CEO teknologi di New York, berencana melamar kekasihnya, Angela Rawllies, seorang desainer ternama di Paris. Namun, ambisi cintanya terhambat oleh perjodohan ibunya dengan Xavia Price, model papan atas dari kalangan elit. Meski Darren bertekad menjaga jarak, sebuah insiden dalam satu malam mengubah segalanya dan menjebaknya dalam dilema besar. Kini, ia harus memilih antara cintanya pada Angela atau tanggung jawabnya kepada Xavia yang mendesak.
Sampul Novel Asisten Pribadi CEO yang Terlalu Mempesona
8.2
Demi membalas budi sahabat yang membiayai pengobatan anaknya, Wilona Anastasia bertahan menjadi asisten Marten Dewangga Yanuardi. Meski Marten adalah CEO muda yang arogan dan keras kepala, pesona Wilona perlahan melunakkan sifat kekanakannya hingga ia terobsesi pada asistennya itu. Namun, sebuah rahasia besar membayangi hubungan mereka yang kian intens. Akankah cinta Marten tetap bertahan saat mengetahui bahwa Wilona sebenarnya adalah seorang janda beranak satu?
Sampul Novel Cinta tak terduga dari pembantu menjadi menantu
8.7
Sari merupakan asisten rumah tangga yang penuh dedikasi di kediaman keluarga Hartanto. Selama bertahun-tahun ia mengabdi tanpa pernah menduga bahwa nasibnya akan berubah drastis. Segalanya mulai bergejolak saat Rendra, putra sulung keluarga tersebut, pulang dari perantauan di luar negeri. Kehadiran Sari yang tulus ternyata menyentuh hati Rendra, hingga ia menyadari betapa berartinya wanita itu. Sebuah romansa tak terduga pun mulai tumbuh di antara mereka.
Sampul Novel DOKTER FORENSIK
7.9
Randa adalah dokter forensik yang terjebak di antara realitas dan imajinasi akibat penyakitnya. Kondisi ini membuatnya merasa mampu berkomunikasi dengan jenazah. Dilema muncul saat ia mencintai dua wanita, Evlyn dan Avita. Randa akhirnya memilih Evlyn, namun ia tersadar bahwa Evlyn sebenarnya telah tiada sejak tujuh bulan lalu. Di tengah upaya Avita menyadarkannya, Randa harus memilih antara terus bersembunyi dalam halusinasinya atau kembali menghadapi kenyataan pahit.
Sampul Novel Kala Senja Berakhir
9.1
Dalam saku kemeja Rendy, ditemukan sepucuk surat perpisahan yang tak sempat ia berikan. Kertas kusut itu berisi curahan hati mendalam untuk Reika Abigaillis, sosok terindah yang menyempurnakan hari-harinya. Rendy sadar saatnya untuk pergi telah tiba, namun ia tetap mendoakan agar Reika menemukan kebahagiaan baru bersama orang-orang yang menyayanginya. Akankah kisah cinta yang emosional ini berakhir manis? Ikuti perjalanan mereka dalam narasi romansa yang menyentuh hati.