APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tunangan Kontrak Grand Duke

Tunangan Kontrak Grand Duke

Terjebak dalam novel fantasi, Cette menyadari dirinya adalah putri bangsawan yang ditakdirkan tewas di tangan Morrigan, sang Grand Duke berjuluk Pria Musim Dingin. Demi menghindari maut dari pria kejam yang akan merebut takhta itu, Cette mencoba menjauh sebisa mungkin. Namun, rencana pelariannya justru berantakan saat Morgan tiba-tiba datang menawarinya sebuah pertunangan kontrak. Akankah kesepakatan berbahaya ini mengubah nasib tragis yang sudah tertulis?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kak ...,kakak ...,kakak sudah bangun? Kakak sudah sadar?" —sayup Jia mendengar suara entah dari mana asalnya.

Jia berpikir bahwa ia baru jatuh dari atas gedung lantai tujuh. Jadi wajar bila mendengar suara-suara seperti itu.

"KAK!!!" Suara yang awalnya hanya terdengar sayup, kini berubah menjadi teriakan.

"Aneh. Kenapa sejak tadi teriakan itu terus memanggil kakak? Apa ini semacam kilas balik kehidupanku? Tapi di kehidupanku yang sekarang aku tidak punya adik. Apa ini kilas balik dari kehidupanku yang sebelumnya? Eiy, masa iya?" batin Jia masih terus berbicara entah pada siapa.

Anehnya, Jia masih bisa berpikir macam-macam dikepalanya.

"Ayah! Ayah! Kakak sudah sadar." Suara teriakan yang sama terus menggema.

"APA?! Cette sudah siuman?" Disambut oleh suara dari orang yang lainnya.

Perlahan Jia membuka mata.

"Duh, kira-kira di neraka atau di surga ya?" batin Jia agak risau kalau saja ia malah berakhir di neraka.

Jia pernah mendengar bahwa di neraka sangat menyiksa. Walaupun Jia bukan orang yang benar. Tapi ia juga tidak ingin berakhir di neraka.

"Aku tidak merasakan hawa panas sedikitpun. Apa aku harus bersyukur?" batin Jia sedikit lega.

Setelah matanya terbuka, hal pertama yang Jia lihat adalah seorang pria paruh baya yang menatapnya penuh cemas, juga seorang wanita berusia belasan duduk di sebelahnya sambil memegangi tangannya dan menangis.

"Kak, kakak sudah sadar? Kakak benar-benar sudah sadar?" isak si gadis remaja dengan memegangi tangan Jia.

"Kakak? Apa-apaan gadis ini? Kenapa dia memanggilku kakak dan kenapa dia menangis segala?" batin Jia merasa bingung dengan aksi si gadis remaja itu.

Mata Jia menangkap sesuatu yang lebih aneh lagi. Ia melihat si gadis remaja mengenakan gaun yang sangat berlebihan. Warna rambut dan matanya juga tidak biasa.

"Kenapa pakaiannya seperti pakaian bangsawan abad pertengahan begitu? Mereka sedang syuting film dokumenter zaman kerajaan atau bagaimana, sih?" batin Jia masih sempat menebak-nebak dalam pikirannya.

"Cette, anakku! Ayah senang karena kamu sudah sadar. Ayah sangat takut dan khawatir. Tapi syukurlah," ucap si bapak paruh baya dengan tatapan berkaca-kaca.

"Ini apa lagi, sih? Nama aneh dari mana lagi itu? Om, namaku itu Jia bukan Cette. Lagian aku bukan anak kamu. Asal om tahu ya, aku sudah membuang jauh-jauh keluargaku yang tidak membanggakan itu," batin Jia panjang lebar mendadak menggebu-gebu.

"Panggilkan tabib keluarga!" titah si Pria paruh baya entah pada siapa.

"Tabib? Hello, om! Aku itu butuhnya dokter bukan tabib. Eh bentar deh!" Tiba-tiba Jia mengingat sesuatu. "Aku jatuh dari lantai tujuh, masa iya aku masih hidup?"

Perlahan Jia mengangkat tangan kirinya. Ia semakin bingung dan merasakan banyaknya keanehan.

"Tidak ada bekas luka sayatan yang aku terima dua tahun lalu di lengan kiriku. Jelas-jelas bekasnya tidak bisa hilang dan membekas. Kenapa sekarang tidak ada?" batin Jia semakin larut dalam kebingungan.

Kini pandangannya kembali terlempar ke setiap sudut ruangan yang sedang ia tempati saat ini. Jia melihat ornamen-ornamen yang memenuhi ruangan itu tidak biasa.

"Apa-apan kamar luas yang mewah ini? Aku sebenarnya ada di mana, sih?" Jia benar-benar tidak memahami situasinya.

"Tuan, tabib sudah datang!" ungkap seseorang dari depan pintu.

"Biarkan masuk!" titah si Pria paruh baya itu.

Begitu tabib yang dimaksud masuk, Pria paruh baya itu menghampiri si tabib dan menyeretnya untuk langsung mendekat pada Jia.

"Tolong periksa Putri saya!" pinta si Pria paruh baya kepada si tabib yang baru saja datang.

Tabib yang perawakannya cukup tua dengan jenggot putihnya yang panjang nan lebat, mendekat pada Jia dan memeriksa denyut nadinya.

"Nona, apa Anda bisa melihat saya?" tanya si Tabib pada Jia. Jia mengangguk saja. "Apa ada bagian tubuh Anda yang terasa sakit?"

Jia yang sejak membuka mata memang merasakan sakit yang sangat mencekam di bagian kepalanya, menyentuh bagian kepalanya yang sakit untuk memberitahu kepada si tabib, agar memeriksanya.

"Saya akan meresepkan obat untuk sakit kepala Anda," ujar si tabib kepada Jia dengan tenang.

"Resep obat? Hello? Annyeonghaseyo mang tabib?" batin Jia sambil membelalakkan mata di depan si tabib. "Aku ini bukan lagi pusing karena kelelahan atau migrain. Apa dia tidak tahu kalau aku baru jatuh dari gedung yang tinggi ya? Aku harus di CT-Scan, kepalaku harus di periksa. Bagaimana kalau aku sampai gegar otak? Bahaya banget, kan? Ya ampun," batin Jia tidak habis pikir dengan si tabib yang hanya ingin meresepkan obat saja.

"Apa mungkin Anda masih kesulitan berbicara?" tanya si tabib ketika melihat Jia hanya bungkam sejak kedatangannya.

"Lah iya yak!" batin Jia terkesiap mendengar pertanyaan si tabib. "Ngapa aku dodol banget ngomong dalam hati mulu dari tadi." Jia malah merasa konyol sendiri.

Jia perlahan membuka mulut untuk mengeluarkan suara pertamanya setelah kejadian tragis itu.

"Ahhhhrrrr ...." Jia mulai mengeluarkan suara. Tapi ia merasa sakit yang mencekam pada tenggorokannya.

Jia kesulitan mengeluarkan suara. Ia berpikir rasa sakit pada tenggorokannya dikarenakan Aziel sempat mencekik lehernya.

"Pantas saja!" batin Jia seraya mengelus pelan lehernya. Karena ia kesulitan mengeluarkan suara, akhirnya Jia menggelengkan kepalanya kepada si tabib menandakan kalau ada yang salah dengan tenggorokannya.

"Apa tenggorokan Anda sakit?" tanya si tabib dan Jia mengangguk. "Itu efek luka goresan yang megenai leher Anda. Nanti saya akan menyuruh murid saya untuk mengganti perban di leher dan kepala Anda. Apa masih ada lagi yang sakit?" lanjut si tabib dan Jia hanya menggeleng. "Baiklah!" Kemudian si tabib menjauh darinya dan langsung menemui Pria paruh baya yang tadi.

"Nona Luvena perlahan akan stabil kembali. Mungkin karena sudah tertidur selama hampir sebulan ...."

"Wait —WHAT? SEBULAN??? Lah udah selama itu? Padahal kayak baru semenit yang lalu aku jatuh," batin Jia sambil membelalakkan kedua matanya ke arah si tabib yang berbicara dengan si Pria paruh baya.

"....jadi sistem motoriknya masih belum berfungsi dengan baik, karena sudah terlalu lama vakum. Tuan Penguasa, Nona Muda, atau para pelayan bisa pelan-pelan membantunya pulih dengan cara menggerak-gerakkan atau memijit-mijit tubuh Nona. Itu akan sangat membantu," jelas si tabib pada si pria paruh baya.

"Saya akan mengirimkan murid saya untuk mengganti perban dan membawa beberapa obat yang saya resepkan untuk Nona Luvena. Kalau begitu saya permisi," sambung si tabib.

Setelah kepergian si tabib tua berjenggot itu, kini tinggal si gadis remaja, si pria paruh baya, dan Jia saja.

"Kak, syukurlah kakak sudah sadar. Aku sangat kesepian dan sangat takut karena kakak tidak kunjung bangun," isak si gadis remaja yang masih berada di sebelah Jia dan memeluknya.

"Cette, kamu benar-benar sudah sembuh, kan, Nak? Ayah sangat takut kehilangan kamu. Apa yang akan ayah katakan kepada ibumu yang tidak bisa menjagamu ini nanti. Maafkan ayah, mulai sekarang ayah akan lebih melndungimu dan menjagamu. Ayah berjanji!" Si Pria paruh baya juga turut terisak sambil memegangi tangan kiri Jia.

"Apa ini? Kenapa mereka sesedih itu? Aku bukan siapa-siapa mereka. Aku bahkan tidak tahu siapa mereka," batin Jia karena merasa banyak hal yang tidak ia mengerti sedang terjadi.

Tiba-tiba saja ingatan-ingatan yang sepertinya bukan milik Jia —dengan cepat dan secara paksa melintas di kepalanya.

'Kalau kalian tidak menjauh, aku akan menggores leherku dengan pecahan kaca ini. Jadi aku mohon menjauhlah!'

'Anda tidak boleh melakukan itu, Nona. Anda tidak boleh membuat bekas di tubuh Anda.'

'Lepaskan aku, Dav!'

'Pangeran akan segera mati. Jadi kalau kamu terlalu mencintainya, kenapa kamu tidak mengorbankan nyawamu saja!'

*

"Ingatan siapa itu? Kenapa ingatan yang tidak pernah aku alami melintas di kepalaku? Astaga! Kepalaku sakit sekali," batin Jia sambil memegangi kepalanya yang sakit. Ia bahkan memejamkan paksa matanya karena rasa sakit itu.

"Kakak kenapa?" teriak si gadis remaja ketika melihat Jia menutup mata sambil memegangi kepala.

"Tuan, tabib muda sudah datang!" seru seseorang dari depan pintu.

"Persilakan masuk!" titah si Pria paruh baya.

"Saya Zien. Saya diminta guru untuk mengganti perban Nona Luvena," tutur si tabib wanita begitu ia sampai.

"Tolong sekalian diperiksa karena Putri saya baru saja mengerang kesakitan," balas si pria paruh baya yang langsung mempersilakan Zien untuk mendekat pada Jia.

Zien mendekat kepada Jia dan bertanya, "Nona, apa Anda mengenal Nona ini?" tanya Zien sambil menunjuk ke arah si gadis remaja.

Jia yang memang tidak tahu gadis itu siapa, langsung menggelengkan kepala tanpa keraguan.

"Ka-kakak tidak ingat siapa saya?" Si gadis remaja kembali memasang raut wajah sedih. "Kak, ini saya Gitte —adikmu!"

"Apa kamu juga tidak mengingat ayah?" tanya si pria paruh baya yang turut menanyakan tentangnya juga.

Jia kembali mengangguk.

"A-apa yang terjadi pada Putri saya? Kenapa Cette tidak mengingat kami?" tanya si Pria paruh baya pada Zien mulai panik.

"Bingung, kan, kalian? Sama! Aku juga. Kalian kenal aku, sementara aku tidak kenal siapa kalian. Bahkan aku tidak tahu sedang berada di mana dan kenapa masih hidup. Yaps, mari bingung bersama. Hehe ....!" Jia malah senyum-senyum sendiri karena saking bingungnya.

"Kita hanya bisa berharap agar Nona tidak mengalami amnesia," tutur Zien dengan sangat berberat hati.

Namun, di tengah pembahasan itu, tiba-tiba seorang kesatria kediaman Luvena menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut.

"Tuan!" pekik si kesatria tergopoh-gopoh mendapatkan si pria paruh baya, langsung menghadap dan menunduk.

"Ada apa?" tanya si pria paruh baya kepada kesatria yang baru saja datang itu.

"Maafkan atas kelancangan saya. Tapi Lord ...."

Kesatria itu belum selesai menyampaikan maksudnya, seseorang sudah berdiri di belakangnya.

Jia melihat Zien langsung menyingkir dari tempat tidur, kemudian menundukkan kepalanya ke sebuah arah.

Tidak hanya Zien, bahkan si gadis remaja yang mengaku bernama Gitte turut menundukkan kepala mengikuti Zien.

Kini si Pria paruh baya tengah menatap kepada seseorang tersebut. Walaupun Jia belum bisa melihatnya lebih jelas karena posisi Jia saat ini masih berbaring.

"Hormat kami kepada Lord Glenn, Sang Bulan Kerajaan!" tutur si Pria paruh baya pelan, lalu turut menundukkan kepalanya juga.

"Lord Glenn? Aku seperti tidak asing dengan nama itu," batin Jia bingung.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Brontak Dalam Sempak
9.0
Ujang menantang Datok dengan penuh amarah demi menunjukkan kekuatannya yang selama ini terpendam. Meski baru berusia dua puluh tahun, ia kini mengerahkan seluruh kemampuannya melalui teknik Tisu Magic yang mengubah tubuhnya menjadi lapisan baja kokoh. Di sisi lain, Datok bersiap dengan jurus Telo Rasa Meki yang mengeluarkan uap panas membara. Keduanya melesat secepat kilat hingga menciptakan ledakan dahsyat saat ajian pamungkas mereka saling berbenturan di udara.
Sampul Novel Genderang Perang Manusia Elektrokinesis
8.2
Manfred Argianta Bergmans atau Gian menjalani hidup penuh penderitaan akibat perundungan keluarga dan teman sekolahnya. Hanya Alicia yang setia mendukungnya, meski hal itu memicu intimidasi yang lebih parah. Setelah menolong kucing malang, Gian menerima warisan kekuatan elektrokinesis dari sosok misterius dalam mimpi. Didampingi seekor tikus putih sebagai mentor, ia memulai misi balas dendam. Namun, saat dianggap monster dan Alicia menjauh, sanggupkah Gian memenangkan perang ini?
Sampul Novel Hati Alpha yang Terlambat
7.9
Vanessa Price rela mengorbankan sumsum tulangnya demi Timothy Oliver, tanpa menyadari itu hanyalah bagian dari 100 rencana balas dendam kejam sang pria. Selama empat tahun, Timothy menyiksa Vanessa demi membela ibu tirinya, Bryanna. Namun, penyesalan mendalam baru datang saat Timothy menemukan jasad Vanessa beserta tes kehamilan di reruntuhan tambang. Kini, Vanessa bangkit untuk melawan balik segala tipu daya cinta yang telah menghancurkan hidup dan kariernya.
Sampul Novel Jodoh Serigala Putih yang Ditolak Sang Alpha
8.2
Pameran seni pertamaku hancur saat Baskara, Alpha pasanganku, justru melindungi wanita lain di berita. Dia mengabaikan ikatan kami demi aliansi baru dan menyebut karyaku sekadar hobi, bahkan mencuri ide bisnis triliunanku. Setelah empat tahun dihina sebagai Omega penurut, kesabaranku habis. Melalui dokumen palsu yang dikira pengalihan hak seni, aku menjebaknya untuk menandatangani Ritual Penolakan. Kesombongannya akan menjadi senjata penghancur dirinya sendiri.
Sampul Novel Nilakandi
9.6
Selama enam tahun, Diwana terjebak dalam siklus mimpi misterius tentang seorang gadis bergaun biru yang selalu diiringi aroma harum dan bunyi lonceng. Aturan magis mencegahnya menyentuh atau berbicara dengan sosok tersebut hingga ia merasa hampir gila. Namun, delusi itu mendadak nyata saat Diwana bertemu Nilakandi, wanita yang wajahnya identik dengan bayangan mimpinya. Kehadiran Nilakandi yang penuh rahasia mulai mengungkap tabir takdir hidup Diwana yang selama ini tersembunyi.
Sampul Novel Pawang Hati
9.6
Dalam sebuah kisah romansa fantasi yang memikat, sosok pangeran yang dikenal memiliki kepribadian sedingin es ini menyimpan rahasia tak terduga. Di balik sikapnya yang kaku dan tidak tersentuh, ia secara perlahan mulai menunjukkan sisi hangat yang mampu meluluhkan perasaan siapa pun di sekitarnya. Kehadirannya yang misterius membawa keajaiban tersendiri, mengubah suasana dingin menjadi penuh kehangatan saat ia diam-diam menaklukkan hati.