APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Unexpected Feeling

Unexpected Feeling

Indira tak menyangka hukuman dari Fajar, senior yang dikenal sering berganti pasangan, adalah menjadi pacarnya. Meski bingung dan takut menolak, Indira terjebak dalam hubungan ini. Bagi Fajar, Indira adalah harapan baru untuk sembuh dari trauma masa lalu yang gagal diatasi kekasih sebelumnya. Seiring waktu, hubungan mereka tumbuh dewasa tanpa saling tahu rahasia masing-masing. Namun, apakah Fajar benar-benar mencintai Indira atau hanya menjadikannya obat semata?
Bab
Bagikan

Bab 1

“Dik, nanti istirahat ketemu saya di ruang kesehatan.”

Indira menatap bingung dengan apa yang dilakukan pria itu, pria yang tidak lain seniornya. Mengalihkan kembali pandangan ke depan dan mencoba fokus tapi tetap saja memikirkan perkataan senior tadi, menatap Mita yang berada disampingnya dengan tatapan bingung.

“Tadi siapa?” bisik Indira.

“Kayaknya senior deh, kamu nanti jangan lupa kesana.” Mita mengatakan tanpa menatap Indira.

Materi yang disampaikan berjalan cukup lama, Indira mulai mencatat apa saja yang penting. Mendengarkan semuanya tanpa ada yang terlewatkan, menjelang istirahat tugas diberikan dengan membentuk kelompok berdasarkan absen.

“Jangan lupa ke ruang kesehatan,” ucap Mita mengingatkan.

“Hampir aja lupa,” ucap Indira sambil memukul keningnya pelan.

“Kalian ke kantin?” tanya Lia, salah satu mahasiswi baru sama seperti Indira dan Mira.

“Aku yang ke kantin,” jawab Mita.

“Kamu?” Lia menatap Indira.

“Dipanggil sama senior, kalian ke kantin aja. Aku nitip minum sama roti ya.” Indira memberikan uang pada Mita.

Mereka bertiga keluar dari ruangan, langkah Indira berhenti di salah satu pintu sedangkan kedua temannya melanjutkan langkahnya menuju kantin. Indira menatap pintu bingung, tidak tahu siapa nama senior yang memanggilnya tadi.

“Cari siapa?” tanya salah satu senior wanita.

“Gue panggil dia,” sahut senior pria yang tadi memanggil Indira sebelum membuka mulut “Ayo ikut.”

Indira memilih mengikuti langkah senior yang memanggilnya, memasuki ruangan yang tampak sepi. Menutup pintu dengan pikirannya masih bertanya-tanya tentang apa kesalahan yang baru saja dirinya lakukan sampai-sampai harus dipanggil oleh senior, tidak berani menatap senior pria yang bersandar di meja dengan Indira dihadapannya.

“Indira Pradipta, kamu tahu letak kesalahan kamu kenapa saya panggil?” Indira langsung menggelengkan kepalanya “Kamu tidak menghargai senior yang berbicara di depan sampai-sampai melamun?”

Indira menatap senior pria dihadapannya dengan tatapan terkejut, seketika dirinya ingat berada dimana sekarang. Fakultas psikologi, orang-orang yang berada disini pastinya belajar membaca bahasa tubuh dan ekspresi wajah jadi tahu apa yang ada didalam isi kepala atau dipikirkan oleh orang tersebut.

“Kenapa diam? Benar kata-kata saya? Apa senior kamu terlalu membosankan sampai-sampai kamu tidak mau mendengarkan?”

“Bukan begitu, kak.” Indira langsung membantahnya.

“Lalu?”

“Tiba-tiba aja blank.” Indira memberikan alasan yang sangat masuk akal.

Senior dihadapannya hanya menggelengkan kepalanya “Kamu beruntung karena saya yang tahu coba kalau senior lain pasti habis.”

“Maaf, kak.” Indira menundukkan kepalanya merasa tidak enak dan bersalah.

“Kamu tahu siapa saya?” Indira langsung menggelengkan kepalanya “Fajar Putra Mardani panggilannya Fajar, ingat nama ini baik-baik.”

“Baik, kak.” Indira menganggukkan kepalanya masih tidak berani menatap seniornya, Fajar.

“Saya mau kasih hukuman buat kamu.”

Indira mengangkat kepalanya terkejut dengan kata-kata Fajar, tidak menyangka akan mendapatkan hukuman di hari pertamanya masuk perguruan tinggi. Menatap Fajar dengan harapan yang di dengarnya tidak benar, bisa dikatakan salah mendengar apa yang dikatakan Fajar.

“Kamu mau tahu hukumannya?” tanya Fajar.

Indira menganggukkan kepalanya ragu tanpa melepaskan tatapan pada Fajar, senyum kecil terlihat di bibir Fajar membuat Indira menatap terkejut. Menggelengkan kepalanya cepat, tidak boleh terpesona dengan senior yang baru dikenalnya ini.

“Bagaimana mau tahu hukumannya?” Fajar bertanya lagi yang diangguki Indira “Saya nggak tahu kamu mau tahu atau tidak, memang kamu mau dihukum?”

“Nggak mau dihukum, kak.” Indira menjawab cepat.

Indira melihat Fajar memberikan kantong plastik yang tadi dibawanya, menatap bingung atas kantong plastik yang diberikan Fajar. Tatapan mereka bertemu, Fajar seakan memberitahukan Indira untuk mengambil kantong plastik, sedikit ragu Indira mengambilnya dengan tatapan bingung.

“Kamu makan dulu,” ucap Fajar dengan menunjukkan kantong plastik yang ada di tangan Indira “Saya nggak tahu kamu suka atau tidak.”

“Terima kasih, kak. Pasti aku makan setelah ini.” Indira langsung menjawabnya.

Fajar menganggukkan kepalanya “Lebih baik kamu istirahat dulu masalah hukuman saya pikirkan terlebih dahulu.”

“Baik, kak.” Indira menanggapi dengan sopan.

Keluar dari ruangan dengan bertanya-tanya, seharusnya bukan hanya dirinya saja yang tidak memperhatikan orang berbicara didepan tapi kenapa hanya dirinya saja yang dipanggil. Menggelengkan kepalanya untuk tidak berpikir aneh-aneh, bisa saja memang dirinya yang sedang apes.

Melangkahkan kakinya menuju musholla untuk melakukan ibadah, langkah Indira terhenti saat melihat Fajar berada didepan dan mereka akan melakukan jamaah. Melihat itu membuat Indira langsung menggunakan mukena dan bergabung bersama, setelah selesai Indira kembali ke ruangan dan teringat kantong plastik yang diberikan Fajar dengan segera dibuka dan dimakannya.

“Ini pesanan kamu,” ucap Lia yang mengambil tempat duduk disamping Indira “Kamu satu kelompok sama siapa?”

“Makasih, aku belum ketemu anak-anaknya yang mana. Mita kemana?”

“Mita di musholla, memang siapa saja anak-anaknya?” Indira langsung mengambil catatan dan memperlihatkan pada Lia “Shinta, tadi duduk disampingku kalau yang lain nggak tahu aku.”

“Nanti aku cari,” ucap Indira langsung menerima bukunya.

Memilih tidak banyak bicara dengan menikmati pesananannya, Indira sudah makan dua bungkus roti. Lia sendiri masih setia duduk disamping Indira dengan memainkan ponselnya, mencoba untuk tidak peduli dengan menikmati makanannya.

“Aku tadi lihat ada senior cakep banget.” Lia membuka suara membuat Indira menatap kearahnya “Tadi memang kamu kemana? Habis melakukan kesalahan apa?”

“Dipanggil ke ruang kesehatan, nggak tahu salahnya apa mungkin lagi apes aja.” Indira mengangkat bahunya saat menjawab.

Indira juga tidak bertanya tentang senior yang dimaksud, bagi dirinya senior semua sama. Tampan atau tidak bukan utama dirinya mencari pasangan, Indira lebih menyukai pria dewasa dengan ibadahnya yang bagus.

“Indira ya?” suara seseorang membuat Indira menatap kearahnya “Tio, kita satu kelompok. Nanti selesai acara ngerjain tugasnya ya.”

“Ok, yang lain udah tahu siapa saja?” Indira langsung menanggapi Tio.

“Sudah, tapi ada beberapa yang belum. Kita ketemu di gazebo ya nanti.” Tio menjawab yang diangguki Indira.

Menatap Tio yang berjalan menjauh dari mereka, tampaknya memang Indira harus mengenal banyak anak disini. Menatap sekitar dan ruangan terisi penuh, tampaknya yang keterima di tahunnya sangat banyak dan tidak mungkin mengenal mereka satu per satu dengan cepat.

“Mas Wahyu tadi bilang kalau angkatan kita paling banyak dibanding tahun sebelumnya,” ucap Lia seakan paham dengan yang dilakukan Indira dan membuat Indira menatap kearahnya.

“Gimana bisa kenal sama mereka cepat?”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BELENGGU CINTA MANTAN
9.3
Andini hancur saat Ardian, cinta pertamanya, pergi setelah merenggut kehormatannya. Tiga tahun berlalu, Ardian kembali dengan pesona yang sulit ditolak meski kini Andini telah menjadi istri Hendra. Walau Hendra tulus mencintai, Andini justru terjerat kembali dalam rayuan mantan kekasihnya itu. Akankah pilihan Andini membawa kebahagiaan di pernikahan keduanya? Bagaimana nasib suami pertama dan putra kecil mereka yang ditinggalkan dalam luka mendalam?
Sampul Novel Gairah Duda Keren
8.1
Moreno Dava Mahendra berubah menjadi sosok dingin sejak kepergian sang istri. Meski galak, duda tampan ini tetap jadi rebutan. Di sisi lain, Aira Cecilia harus bekerja di rumah bordil demi melunasi utang ayahnya. Nasib mempertemukan mereka dalam sebuah jebakan hingga berakhir di ranjang yang sama. Moreno terkejut melihat wajah Cecil yang sangat mirip mendiang istrinya. Ia pun menuntut pernikahan. Akankah cinta bersemi di tengah luka masa lalu mereka?
Sampul Novel Iparku Ayah Anakku
8.0
Andini memulai babak baru sebagai sekretaris di kantor Rama, kakak iparnya sendiri. Namun, sebuah insiden fatal saat Rama mabuk membuat Andini mengandung darah dagingnya. Rama yang sangat mendambakan keturunan memohon agar Andini bersedia menjadi istri kedua. Terjepit antara rasa bersalah pada Anjani dan tuntutan situasi, Andini harus menghadapi dilema besar. Mampukah rahasia ini terkubur, ataukah pengkhianatan tak sengaja ini akan menghancurkan kebahagiaan kakaknya?
Sampul Novel Istri mandul CEO bucin
8.8
Lima tahun membina rumah tangga, Asmaraloka dan Cadis Diraizel dikenal sebagai pasangan harmonis yang saling mencintai. Namun, kebahagiaan mereka mulai goyah saat Ara divonis mandul oleh dokter. Meski sang CEO tetap setia dan menerima kondisi tersebut tanpa menuntut keturunan, rasa minder Ara memicu keretakan. Situasi kian pelik ketika pihak ketiga hadir memperkeruh suasana dengan berbagai kesalahpahaman. Mampukah cinta tulus mereka bertahan menghadapi cobaan ini?
Sampul Novel Kanjeng Ratu Minta Mantu
9.5
Menjadi sekuel dari Tante, Mau kan jadi Mamaku?, kisah ini mengeksplorasi dilema horor yang tak biasa. Mana yang lebih menakutkan: teror makhluk halus atau desakan menikah setiap hari? Bagi sang protagonis yang baru saja menyandang status sarjana, tekanan sang ibu yang sangat ambisius mencari menantu jauh lebih mencekam daripada gangguan gaib. Ikuti perjuangannya menghadapi tuntutan keluarga di tengah situasi yang penuh komedi dan nuansa misteri.
Sampul Novel Masa Puber Naldo
9.4
Naldo, putra konglomerat yang kesepian, tumbuh dewasa tanpa kasih sayang ibu. Meski ayahnya, Tuan Anggoro, sangat baik, kesibukan bisnis membuatnya jarang di rumah. Naldo hanya memiliki asisten rumah tangga yang merawatnya sejak bayi. Saat diminta memilih ibu baru, Naldo teringat sosok wanita misterius yang terus muncul dalam mimpinya. Ketika akhirnya bertemu wanita itu di dunia nyata, Naldo bertekad mengejar cintanya meski perbedaan usia menghalangi mereka.