APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Untouchable Man

Untouchable Man

Di usia 32 tahun, Rezal Mahesa merasa nyaman melajang tanpa drama percintaan meski kariernya sangat mapan. Ia memilih pasrah pada takdir Tuhan alih-alih aktif mencari pasangan hidup. Namun, ketenangan itu terusik saat Naya, seorang mahasiswi magang yang unik dan konyol, hadir di kantornya. Kedewasaan Naya yang tak terduga perlahan meruntuhkan dinding hati Rezal yang beku. Akankah pertemuan ini membawa Rezal segera melangkah ke pelaminan?
Bab
Bagikan

Bab 1

Naya keluar dari kamarnya dengan mulut yang menguap. Tangannya terangkat untuk menggaruk rambutnya sambil berlalu masuk ke dapur. Di sana, Naya melihat Ibunya sudah berkutat dengan adonan kue yang akan dijual nanti.

"Nay, ini kuenya Ibuk yang anter ke kampus atau kamu?" tanya Ibu Naya tanpa menatap anaknya. Tangannya masih sibuk memeras santan dari kelapa. Meskipun ada santan instan, tapi Ibu Naya tetap menggunakan cara yang alami. Baginya, cara seperti ini akan mempertahankan cita rasa dari resep turun-temurun milik keluarganya.

"Aku aja, Buk."

"Kamu kan nggak ada kelas hari ini." Naya bersandar pada pintu kulkas sambil meminum air putihnya.

"Nanti aku mau ke kampus, mau ngurus proposal magang."

Ibu Naya berbalik dan terkejut melihat penampilan anaknya. Daster batik lusuh yang sudah sobek di ketiak, rambut acak-acakan, dan wajah yang jauh dari kata menarik.

"Ya Allah, Nak!" Ibu Naya ingin menangis melihat penampilan anaknya yang tidak mencerminkan seorang wanita yang anggun. "Ini udah siang! Kenapa masih kecut?!"

Naya tersenyum lebar, "Baru tidur subuh tadi, Buk. Habis maraton film."

"Mandi sana! Umur kamu itu udah 21, masih aja kelakuan kaya bocah! Kaya gini katanya mau dapet suami kaya"

Naya berdecak, "Apaan sih, Buk! Aminin kek aku dapet suami kaya. Kan lumayan bisa buatin Ibu toko kue."

"Bantah kamu?!"

Melihat Ibunya yang sudah memegang sendok besar, Naya pun berlari masuk ke kamarnya. Dia tidak mau jika sendok itu akan menghantam kepalanya keras.

Naya sadar di usianya yang sudah kepala dua ini seharusnya dia bisa bersikap dewasa. Namun entah kenapa sisi liarnya masih mendominasi. Apalagi di rumah ini hanya ada dia dan ibunya, siapa lagi yang akan meramaikan rumah jika bukan dirinya?

Saat sampai di dalam kamar, bukannya mandi Naya malah kembali duduk di meja belajarnya, berhadapan dengan layar laptop yang menampilkan hasil video yang sudah dia edit semalaman. Dia berbohong pada ibunya tadi. Naya tidak menonton film semalaman, melainkan bekerja. Ya, dia menyebutnya sebagai pekerjaan karena mendapat uang dari hasil jerih payahnya itu. Untung saja Naya memiliki bakat mengedit sehingga bisa meringankan beban ibunya.

"Halo, Lif?" sapa Naya saat panggilan teleponnya diangkat. "Video lo udah jadi, nih. Nanti ketemu ya di kampus."

"Jam dua ya, masih ada kelas nih. Ini langsung gue transfer ya bayarannya."

"Nggak lo periksa dulu? Kali aja ada yang perlu diubah."

"Nggak, gue udah percaya sama lo."

"Oke sip, ntar gue telpon kalo udah di kampus."

"Oke, makasih, ya."

Naya mematikan teleponnya dan tersenyum melihat notifikasi uang kiriman dari Alif, salah satu teman kampusnya yang sering menggunakan jasa edit-nya.

"Alhamdulillah, dapet cuan. Lumayan buat beliin Ibuk Mini Cooper."

***

Naya masuk ke kantin kampus dan menghampiri salah satu penjual di mana dia sering menitipkan kue-kue buatan ibunya. Dia tersenyum saat melihat Mas Nolan tampak sibuk menggoreng udang tepung di wajan besar.

"Gimana Mas jualannya kemarin?" tanya Naya mulai menata kue baru di atas meja.

"Eh, Neng Naya. Tumben kok siang nyetoknya?"

"Lagi nggak ada kelas, Mas. Makanya hari ini bawa cuma sedikit."

Mas Nolan mendekat dengan uang di tangannya, "Alhamdulillah, kemarin kue-mu habis. Ini hasilnya, bagianku udah aku diambil."

"Mantap!" Naya menerima uang itu dengan perasaan lega. Lagi-lagi kue jualannya habis. Tuhan memang tidak pernah salah dalam memberi rezeki.

"Kalo gitu aku ke ruang dosen dulu ya, Mas."

"Iya, Neng. Kalo ada apa-apa kabarin Mas Nolan aja."

Naya tertawa geli, "Mas Nolan, Mas Nolan. Nama Mas Noto aja dipanggil Nolan," celetuknya dan berlari pergi sebelum Mas Nolan meneriakkinya.

***

"Kamu ngajuin kapan ini, Nay?" tanya Ibu Ningsih, selaku kaprodi jurusannya.

"Libur semester nanti, Bu."

"Berapa bulan?"

"Dua bulan, Bu."

Bu Ningsih mengangguk dan langsung memberikan tanda tangannya tanpa banyak bertanya.

"Langsung kamu apply ke perusahaan, biar cepet dikabari."

"Siap, Bu!” Naya tersenyum senang. Setidaknya proposal yang dia buat tidak perlu revisi.

"Oh ya, Nay. Kamu bawa kue jualan kamu nggak?" tanya Ibu Ningsih mulai berdiri dari duduknya.

"Udah saya kasih ke Mas Nolan, Bu."

"Ibu bisa minta tolong? Ambil semua kuemu di Noto dan anter ke ruang rapat. Saya mau rapat sama Pak Dekan."

Mata Naya membulat mendengar itu, "Semua, Bu?"

"Iya semua." Bu Ningsih berlalu keluar dari ruangannya diikuti Naya di belakangnya.

Baru saja akan berbelok ke kantin, Bu Ningsih kembali memanggilnya.

"Oh ya, Nay. Nanti kalau ada orang yang telpon kamu namanya Pak Bayu, itu dari humasnya kampus."

Kening Naya berkerut, "Kok bisa, Bu?"

"Saya yang kasih nomer kamu. Pak Bayu lagi nyari editor buat konten video kampus di you tube. Nanti kamu bantuin dia ambil gambar ya."

Lagi-lagi Naya dibuat terkejut mendengar itu. Kenapa Bu Nigsih begitu mempercayainya untuk mengerjakan projek besar ini? Dia memang membuka jasa edit video, tapi keahliannya dalam edit belum seberapa. Dia hanya menerima jasa dari teman-teman jurusan lain yang kesulitan dalam mengedit.

"Buk." Naya tidak bisa berkata-kata. Dia menatap Bu Ningsih dengan mata yang berkaca-kaca.

"Nggak usah lebay!" Ucapan Bu Ningsih langsung merubah suasana. Naya mengerucutkan bibirnya kesal.

"Kok nggak pake fotografer luar, Buk?

"Saya punya banyak mahasiswa yang berbakat. Kenapa harus pakai orang luar?" Setelah itu Bu Ningsih berbalik pergi meninggalkan Naya yang lagi-lagi terdiam. Dia selalu merasa kagum dengan Bu Ningsih, pantas saja wanita itu menjabat sebagai kaprodi jurusannya.

***

Rezal mendengus saat ponselnya kembali berbunyi. Dia melirik sebentar dan mematikan panggilan yang masuk. Tak lama, ponselnya kembali berdering membuatnya mematikan ponselnya lagi. Rezal melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 8 malam. Seharusnya dia sudah berada di restoran saat ini, namun entah kenapa kursi kantornya jauh lebih nyaman untuk diduduki sekarang.

Perlahan dia meraih tas dan berdiri, bersiap untuk pulang. Dia harus menyiapkan telinga akan omelan ibunya yang terus menghubunginya sejak tadi siang.

Dia keluar dari ruangan yang bertuliskan 'Manager Humas' itu dan mendapati beberapa karyawannya masih berada di kantor.

"Kenapa belum pulang?" tanya Rezal menuju salah satu meja karyawannya.

"Lagi lanjutin edit, Pak. Sekalian nemenin Mbak Fira yang lagi buat Press Release," jawab Jedi, selaku editor foto dan video di departemen humas.

Rezal beralih pada Fira dengan kening yang berkerut, "Suami kamu nggak protes, Fir?"

"Nggak, Pak. Dia kan lagi di luar kota." Fira tertawa pelan.

"Pak Rezal mau pulang?" tanya Raga, salah satu karyawan yang tampak bersantai dengan gitar di pangkuannya.

"Iya."

"Padahal mau saya ajak live instagram. Saya kan mau pansos, Pak."

Rezal tersenyum tipis mendengar itu. Dia mengeluarkan tiga lembar uang dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja, "Ini, buat beli makanan sambil nemenin lembur."

"Alhamdulillah, Pak Rezal peka!" Jedi mengusap tangannya senang.

"Kalau gitu saya pulang dulu."

"Iya, Pak. Hati-hati," sahut karyawannya kompak.

Salah satu hal yang membuatnya betah di kantor adalah karyawannya. Sengaja Rezal memilih karyawan yang masih muda dan selalu bersemangat karena divisi humas sendiri membutuhkan energi positif setiap saat. Bertemu dengan tamu penting perusahaan setiap hari tentu membutuhkan kegesitan dalam bekerja. Maka dari itu dia berusaha untuk membuat suasana divisinya menjadi santai dan hangat, seperti keluarga agar karyawannya merasa nyaman.

***

Rezal memasuki rumahnya yang tampak sepi. Mungkin orang tuanya sudah berada di kamar sekarang. Itu yang dia inginkan memang, setidaknya dia harus menghindari ibunya lagi kali ini.

"Rezal Mahesa!" Suara menggelegar itu menghentikan langkah Rezal yang akan menaiki tangga. Dia memejamkan mata sebentar dan berbalik untuk melihat Ibunya yang tengah menatapnya marah."Kamu ini ya! Kenapa nggak pernah nurut sama Mama?!"

Rezal berdecak pelan, jika tidak ingat wanita di hadapannya itu adalah Ibunya tentu dia akan berbalik pergi menuju kamarnya.

"Aku nggak suka sama Wulan, Ma."

Wajah Ibu Rezal semakin memerah mendengar itu, "Terus sukanya sama siapa? Joko? Sadili?!"

"Aku masih suka yang empuk-empuk, Ma." Rezal menjawab malas.

"Makanya Mama kasih Wulan, dia juga empuk!"

"Tapi aku nggak suka, Ma. Udah ya, Rezal capek."

Setelah itu, dia benar-benar berlalu ke kamarnya. Tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu, Rezal menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.

"Apa salahnya belum nikah?" Tangannya memijat keningnya pelan, "Bisa aja jodohku masih disayang sama orang lain."

***

TBC

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly adalah siswi berprestasi yang mengidap galaktorea, sebuah kondisi hormon yang membuatnya memproduksi ASI meski belum pernah hamil. Suatu hari, rasa sakit akibat penumpukan cairan itu tak tertahankan hingga ia terpaksa meminta bantuan gurunya di sekolah. Kejadian tak terduga di ruang guru tersebut lantas mengubah segalanya. Berawal dari rahasia medis yang memalukan, hubungan mereka berkembang menjadi jalinan asmara yang rumit dan penuh risiko.
Sampul Novel Ayah CEO Pengen Pelukan
9.1
Nadia menghabiskan malam bersama pria asing setelah dikhianati orang terdekatnya. Meski sempat menyesal, ketampanan pria itu justru membuatnya malu hingga ia nekat meninggalkan uang sebelum pergi. Kresna, sang pria misterius, merasa sangat terhina karena dianggap sebagai pria bayaran. Dengan amarah yang meluap, ia segera memerintahkan asistennya melacak identitas Nadia melalui rekaman CCTV hotel demi membalas perbuatan wanita tersebut.
Sampul Novel DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU
9.6
Alvino Rakha Satyawidjaya, putra tunggal konglomerat properti Asia, memilih mandiri sebagai guru meski bergelimang harta. Di sisi lain, Rachelia Amora Dirgantara adalah primadona SMA Cakrawala yang menjalin kasih dengan Leonel Grestavio. Hubungan harmonis mereka seketika hancur saat Rachel mengetahui rencana perjodohan dirinya. Tak disangka, sosok calon suaminya adalah gurunya sendiri di sekolah. Konflik pun bermula saat cinta dan kewajiban mulai berbenturan.
Sampul Novel Janji yang Diingkari, Hati yang Sejati
8.7
Pasca penglihatannya pulih, Della terkejut mendapati Hurst Owen, adik kekasihnya, yang justru menjadi suaminya. Rahasia terbongkar saat ia mendengar Brady Owen lebih memilih Betty Kirk ketimbang dirinya yang buta demi dia. Meski Brady berjanji kembali dalam sebulan dan menganggap pernikahan adiknya palsu, Hurst mulai menyimpan rasa. Tanpa mengungkap kesembuhannya, Della justru membawa Hurst meresmikan ikatan mereka demi menjadi istri sejatinya.
Sampul Novel Mimpi Kelam Lilian
9.0
Lilian Audrey Grey menyimpan rahasia kelam dan kemampuan unik yang mengubah hidupnya. Ia terjebak konflik dengan Jaden, pria kasar yang membencinya karena masalah warisan sang nenek. Jaden yang menganggapnya penipu licik, memaksa Lilian masuk ke dalam kontrak mesum sepihak yang penuh intimidasi. Akankah Lilian menyerah pada perjanjian berbahaya ini? Mampukah Jaden melihat sisi lain Lilian saat rahasianya terungkap, atau ia akan terus menyiksa wanita itu?
Sampul Novel My Crazy Boss
8.6
Alexander Aimes adalah bos dingin yang kerap berganti asisten. Nasib mempertemukannya dengan Winona Kim, wanita yang pernah melukainya di kelab malam dan tak sengaja menabrak mobilnya. Winny, putri konglomerat bangkrut yang butuh biaya untuk ayahnya, dipaksa bekerja sebagai asisten Alex guna melunasi ganti rugi. Meski Winny memberontak, ancaman penjara membuatnya tak berkutik. Dimulailah hubungan penuh ketegangan antara bos arogan dan sekretaris yang keras kepala.