APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita Penggoda

Wanita Penggoda

Wulandari memutuskan merantau ke ibu kota demi mengangkat derajat keluarganya yang selama ini hidup dalam kemiskinan. Ia sudah lelah melihat orang tuanya terus-menerus menjadi sasaran caci maki dan hinaan warga desa. Tekadnya hanya satu, yaitu memperbaiki kondisi ekonomi melalui kerja keras di Jakarta. Namun, mampukah gadis desa ini bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota besar demi mewujudkan impiannya dan membungkam mulut semua orang yang meremehkannya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Selepas subuh aku menghampiri Ambu yang sedang mencuci pakaian, ingin mengutarakan niat ingin ke gunung Kawi.

“Ambu ....” Perempuan bertubuh kurus itu menoleh.

“Naon Neng?” Ibu menjawab sambil tetap menggilas pakaian di atas papan.

Tanganku mengucek-ucek pakaian yang direndam dalam bak sambil jongkok.

“Jangan nyuci, nanti tangan Neng kasar. Udah biarin Ambu aja.”

“Tangan halus juga percuma Ambu, Neng tetap jomblo.” Aku menjawab sambil terkekeh. Tapi tidak Ambu, tatapan matanya seolah menyiratkan kesedihan.

“Gak apa-apa Neng. Mungkin belum ketemu aja. Ambu yakin Neng geulis bakal punya suami yang tampan. Kaya raya.” Penuh harap dibalik kedua bola mata Ambu. Aku merunduk.

Kami terdiam, bergelut dalam pikiran masing-masing. Hanya terdengar kucuran air dari kran dan suara kokokan ayam milik tetanggaku, Teh Ijah.

“Ambuu ....” panggilku pelan.

“Naon Neng? (Apa Neng?)”

Kepalaku merunduk. Mengaduk-aduk busa detergen di dalam bak.

“Ambu, Neng pengen ke gunung Kawi.” Mendengar ucapanku, Ambu menghentikkan kegiatannya.

“Rek naon? (Mau apa?)”

“Mau bertapa supaya cepet kaya Ambu. Neng bosen hidup melarat terus. Dihina orang terus. Neng pengen banyak uang kayak Kang Mardun.”

Terdengar helaan napas Ambu. Pandangannya nanar ke depan. Lalu menghadapku.

“Neng, Ambu juga pengen kaya raya, banyak uang, dihormati orang. Tapi Neng ... kalau pesugihan itu harus memakai tumbal. Yang Ambu dengar, tumbalnya itu orang-orang terdekat.” Aku menyimak penuturan Ambu.

“Contohnya si Mardun, Martinah anak keduanya meninggal mendadak kan setelah setahunan dia jadi orang kaya?” Kali ini bulu kudukku meremang. Membayangkan salah satu anggota keluargaku menjadi tumbal. Seketika niat di hati menciut.

“Maafin Neng, Ambu ....”

“Gak apa-apa. Ambu ngerti. Kalau Neng mau, mendingan ke kota. Cari kerjaan yang dapat menghasilkan uang banyak. Tapi gak boleh jual diri. Ambu gak mau, keluarga kita makin dihina kalau tau Neng bekerja jual diri.”

“Kalau gitu, hari ini juga Neng mau ke kota.”

Ambu mengembuskan napas. Melanjutkan mencuci.

“Ke kota itu harus punya uang banyak Neng. Kita uang dari mana? Bisa makan sehari sekali juga udah lumayan. Sudahlah, di rumah saja. Gak usah kemana-mana!” tukas Ambu pesimis.

Aku berdiri, masuk ke dalam. Mengganti pakaian hendak meminjam uang pada Juragan Beras, Kang Darso.

***

Tiba di depan gerbang rumah Kang Darso, dua truk sedang diisi berkarung-karung beras. Memerhatikan para pekerja yang hilir mudik mengangkut karung beras di atas punggung. Para pekerja itu tidak semuanya masih muda. Ada juga yang seumuran Abah. Andai saja Abah juga bekerja, mungkin ... ah sudahlah.

Rasanya berat sekali melangkahkan kaki untuk menemui juragan beras itu. Semua orang di desa ini tahu siapa laki-laki berambut panjang sebahu memiliki tato ular di atas lengan kanannya.

Walaupun pinjam uang padanya tidak sulit, tapi bunganya setinggi langit. Bilamana tidak dapat membayar dengan harta, maka harus bersedia menjadi babunya seumur hidup atau menjadi istrinya yang kesekian.

Sepertinya harus kuurungkan niat ini. Baru saja tubuhku berbalik tiba-tiba ada seseorang yang memanggil. Aku pun menoleh.

Rupanya Kang Darso sudah menyadari kedatanganku. Laki-laki itu melambaikan tangan. Aku celingukkan.

“Iya, kamu Wulandari! Sini!!” Suara bas itu memanggilku.

Tiba-tiba rasa takut menjalar dalam diri. Apalagi Ambu dan Abah tidak tahu menahu tentang keinginanku untuk meminjam uang pada Kang Darso.

“Kamu mau ketemu Akang kan Lan?” tanyanya dengan tangan kiri di pinggang, dan tangan kanannya memegang rokok.

Aku mengangguk pelan. Tak jauh dari tubuh Kang Darso nampak Teh Ningsih sedang berdiri, memerhatikanku dengan tatapan tak menyenangkan.

“Kenapa atuh malah balik lagi?” Aku masih takut untuk menjawab, hanya mampu tersenyum.

“Ya sudah-sudah, duduk dulu di situ. Akang jadi penasaran, dengan niat kamu datang ke sini sendirian.”

Aku duduk di kursi dekat Teh Ningsih. Wanita itu wajahnya masih masam. Tidak ada keramahan sedikitpun di sana.

“Eh, Ningsih! Ambilin air buat Neng Wulan.”

“Nya Kang.” Sahut Teh Ningsih seraya berlalu.

“Ada apa Lan? Sok atuh ngomong.” Ucap Kang Darso. Bibir hitamnya menghisap kembali rokok yang tinggal setengah.

Aku menelan air liur, mengumpulkan segenap keberanian.

“Eta Kang ... Wulan ... pengen pinjam uang.” Akhirnya kalimat itu lolos juga dari mulutku. Aku bernapas lega.

“Baraha?(Berapa?)”

Aku mendongak, menatap dengan rasa takut pada laki-laki yang hanya mengenakan kaos oblong itu.

“Du, dua juta Kang.”

Teh Ningsih datang kembali dengan membawa dua gelas air putih.

“Emang kamu teh mau kemana Wulan?” Teh Ningsih bertanya setelah meletakkan dua gelas itu di atas meja.

“Wulan pengen ke kota Teh. Pengen kerja di sana.”

Mendengar jawabanku, bibir Teh Ningsih tersenyum mengejek.

Aku tahu, akan banyak orang yang meragukanku untuk berhasil. Mereka tidak akan pernah memberi dukungan apalagi mendoakan agar aku dapat berhasil apalagi bisa kaya raya hasil bekerja di kota sana.

“Halaaah ... paling kerja jadi jab ...”

“Ningsih cicing! Asup ka jero!!(Ningsi Diam! Masuk ke dalam!!)” Aku memegang dada, kaget mendengar bentakkan Kang Darso.

Teh Ningsih nampak kesal ucapannya terpotong. Bergegas wanita yang usianya lima tahun lebih tua dariku itu ke dalam rumah.

“Wulan teh mau kerja apa di sana?”Suara Kang Darso melembut kembali. Aku menggeleng.

Tangan kanan lelaki yang berkumis lebat itu merogoh saku celana.

“Nih uang dua jutanya. Kamu hitung dulu.” Aku menatap tak percaya.

Mudah sekali Kang Darso memberikan pinjaman padaku. Aku meraih lembaran-lembaran uang yang bergambar presiden pertama dengan tangan bergetar. Menghitungnya satu persatu. Setelah dihitung, uangnya las dua juta rupiah.

“Pas Kang.”

“ Ya sudah ambil.” Ucapnya lagi sambil menghisap rokok lalu membuang puntung itu ke bawah, diinjak oleh kakinya yang beralaskan sandal bermerk.

“Makasih banyak ya Kang. Wulan pasti cepat-cepat menggantinya.” Janjiku penuh keyakinan.

“Akang punya kenalan di kota sana. Namanya Suryadi. Biasa dipanggil Abang Sur. Kamu mau gak kerja di tempatnya?” Mendengar info itu, seketika wajahku sumringah.

“Mau Kang mau.” Jawabku dengan wajah berbinar. Kang Darso terkekeh.

“Kamu itu mau-mau aja Lan. Emang tau kerja apaan?”

Iya juga ya? Gimana kalau kerjanya jadi pengedar narkoba? Atau disuruh jual diri? Amit-amit.

“Emangnya kerja apa Kang?”

Kang Darso membetulkan posisi tempat duduk. Menatapku dengan tatapan yang sulit aku mengerti.

“Tenang atuh Lan, mukanya jangan tegang gitu. Kerjanya moal capek. Enak. Akang jamin kamu bakalan betah.”

“Kerja apa emang Kang?” tanyaku makin penasaran.

Jantungku mendadak berdegup, menanti jawaban Kang Darso. Menerka-nerka pekerjaan apa yang tidak capek?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Affair With My Ex
9.1
Tepat sebelum janji suci terucap, Bella Nayaka hancur saat Alura Gayatri muncul mengklaim mengandung anak Ellard William. Alih-alih membela Bella, Ellard justru memilih menikahi selingkuhannya itu. Meski dikhianati setelah dua tahun bersama, Bella yang masih mencintai Ellard nekat hadir di hari pernikahan mantan kekasihnya tersebut. Apakah pengorbanan Bella akan berujung sia-sia, ataukah ada rencana tersembunyi saat ia kembali menghadapi Ellard?
Sampul Novel DI ANTARA DUA HATI
8.2
Seorang wanita karier yang mapan kini berada di persimpangan emosi yang sulit. Kehadiran kembali sosok cinta dari masa lalunya memicu gejolak batin yang hebat, sementara di sisi lain, ada suami setia yang selalu mendampinginya. Ia harus berhadapan dengan dilema besar untuk menentukan pilihan hidupnya. Apakah ia akan mengejar memori indah yang sempat hilang atau tetap menjaga masa depan yang telah ia bangun dengan susah payah bersama pasangannya?
Sampul Novel ENIGMA: When We Are
8.1
Elang Albimanyu adalah pemuda dari keluarga broken home yang mendambakan kehangatan sebuah rumah. Baginya, rumah bukan sekadar bangunan, melainkan kasih sayang tulus. Di tengah pencariannya, ia jatuh hati pada Sabiru Anantasya, sang wakil ketua OSIS yang masih terjebak bayang masa lalu. Meski sering dibuat kesal oleh sikap judes Sabiru, Elang tetap berjuang. Di antara rumitnya perasaan dan tanggung jawab organisasi, mampukah cinta Elang mengubah segalanya bagi Sabiru?
Sampul Novel Kau Milikku
9.4
Hanna sangat membenci Will Greyson, pria angkuh yang langsung meminta kontak fisik saat pertama kali mereka bertemu. Kegilaan Will berlanjut ketika ia tiba-tiba melamar Hanna demi menjadikannya sarana terapi pribadi. Meski ditolak mentah-mentah, miliarder sombong ini tak mau menyerah begitu saja. Hanna yang geram berniat memberi pelajaran keras pada pria asing itu, sementara Will bertekad menaklukkan hati gadis yang berani menentangnya tersebut.
Sampul Novel Kutemukan Cinta-Nya dan Dia di Tokyo
8.7
Akankah pernikahan impian terwujud di tengah keindahan kota Tokyo? Perjalanan ini membawa harapan besar bagi seorang wanita yang mendambakan kehadiran sosok pria idaman sebagai pemimpin dalam hidupnya. Di bawah langit Jepang yang romantis, ia mencari cinta sejati yang tidak hanya menyentuh hati, namun juga mampu membimbingnya menuju rida Sang Pencipta. Sebuah kisah pencarian imam yang penuh makna di tengah hiruk pikuk modernitas kota metropolitan.
Sampul Novel Mantan Istri Genius yang Diidamkan Dunia
8.6
Selama tiga tahun, Bella mengubur impiannya demi pernikahan dingin dengan Laskar, pria yang menganggapnya tak berarti. Saat kebenaran terungkap bahwa dirinya hanya tameng medis bagi kekasih Laskar, Bella memilih bercerai dan pergi. Tiga tahun berlalu, ia kembali sebagai ahli bedah jenius dan pianis ternama. Laskar yang kini penuh penyesalan berusaha mengejar Bella di bawah hujan, memohon agar wanita yang dulu ia abaikan itu kembali menjadi miliknya.