APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Warisan Pembawa Petaka

Warisan Pembawa Petaka

Keluarga Vallage menerima warisan berupa rumah di pelosok Nevada. Claire, sang janda, memboyong Bianca dan Lisa untuk memulai hidup baru di sana. Namun, kediaman tersebut justru menyimpan teror mengerikan yang mengancam nyawa. Mereka terjebak tanpa jalan keluar, menghadapi ancaman maut yang terus mengintai. Akankah ketiganya berhasil lolos dari rumah pembawa petaka tersebut, atau justru berakhir tragis? Sebuah kisah misteri penuh adegan keras bagi pembaca dewasa.
Bab
Bagikan

Bab 3

Claire sampai di rumah tepat jam tujuh malam. Dia membuka pintu belakang mobil dan mengeluarkan beberapa kantung plastik. Setelah itu dia menutup pintu garasi. Dia masuk melewati pintu belakang yang terhubung dengan garasi mobil. Claire tampak memperhatikan keadaan rumah, tampak sepi.

"Apa mereka sudah tidur?" Claire mengangkat tangannya dan memastikan bahwa saat itu memang benar jam tujuh lebih lima menit.

"Oh, Mommy sudah pulang," ucap Lisa dari dapur dengan membawa sebuah gelas. Claire sedikit berjingklak kaget. "Apa aku mengejutkan Mommy?" Lisa kembali bertanya.

"Ha ha ha—hanya sedikit. Ini Mommy belikan Pizza." Claire memberikan sebuah kotak pada Lisa. "Di mana Kakakmu, Bianca?" tanya Claire.

"Kak Bianca ada di ruang tengah sedang menonton televisi," jawab Lisa.

"Ya sudah, bawa itu dan kalian makanlah. Mommy akan membersihkan diri dulu." Claire berlalu dari hadapan Lisa dan naik ke lantai atas. Sedangkan Lisa membawa kotak Pizza ke ruang tengah.

"Kak, ini Pizza dari Mommy." Lisa menyodorkan sebuah kotak besar pada Bianca.

"Mommy sudah pulang? Di mana dia?" tanya Bianca sambil menerima sodoran kotak dari Lisa.

"Mommy sedang membersihkan diri," jawabnya sambil matanya terus memperhatikan televisi.

"Makan nih. Kau tadi bilang merasa sangat lapar," celoteh Bianca.

"Iya, nanti aku makan." Lisa meletakkan gelasnya di atas meja dan meraih Pizza di sampingnya.

Selang sepuluh menit, Claire ikut bergabung dengan kedua putri cantiknya. Duduklah Claire di samping Bianca yang sibuk mengunyah Pizza.

"Maaf, Mommy pulang agak malam." Claire mengambil sepotong Pizza di dalam kotak.

"Apa Grandfa baik-baik saja, Mom?" tanya Lisa.

"Weekend nanti, kalian akan Mommy ajak menginap di rumah Grandfa," balas Claire.

"Tapi—"

"Tidak ada kata penolakan. Ini permintaan Grandfa, jadi kalian berdua harus ikut," sahut Claire menyela ucapan Bianca.

"Selesai makan, kalian boleh tidur." Claire bangkit dari sofa dan melangkah ke pintu utama untuk memastikan bahwa pintu dan jendela sudah terkunci.

Malam semakin larut menandakan bahwa waktunya untuk orang-orang mengistirahatkan badan mereka. Di dalam kamar, Lisa masih terjaga dia duduk di ranjang dengan menyandarkan tubuhnya pada head board. Pandangan Lisa menerawang jauh menembus langit malam itu.

Tidak berbeda dengan Bianca. Gadis itu duduk di pinggiran jendela menatap langit malam yang saat itu banyak bertaburan bintang-bintang. Sekilas dia melihat sebuah bayangan di atas sana. Bianca mencebik saat mengingatnya.

"Aku rasa itu hanya bunga tidur, tidak lebih atau bahkan ada sesuatu dibalik mimpi itu." Bianca bersedekah tangan.

Di sisi lain, Claire tampak duduk di lemari riasnya. Menatap dirinya sendiri di pantulan cermin yang ada di depannya. Dadanya terasa sesak saat itu, mengingat keputusan yang dia ambil. Tapi mungkin itu adalah keputusan yang terbaik untuk dirinya dan juga kedua anak-anaknya. Claire meraup kan kedua tangannya ke wajahnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan tersebut.

Setengah ada rasa penyesalan dan setengah lagi dia merasa sangat lega. Namun, ada sedikit rasa khawatir yang mengganjal di hatinya. Itu bukan soal sang Ayah ataupun dia, tapi soal sebuah mimpi yang dia alami beberapa hari kemarin.

Ternyata bukan hanya Bianca dan Lisa yang mengalaminya, tapi Claire pun mengalami mimpi buruk itu. Akan tetapi Claire hanya dia saja, dia tidak mau menceritakan mimpi itu pada kedua putrinya.

Tentu saja Claire juga tidak mengetahui, jika Bianca dan Lisa pun mengalami hal yang sama. Hanya Bianca dan Lisa yang saling curhat. Kedua gadis cantik itu juga belum menceritakannya pada sang Ibu. Apakah mimpi mereka bertiga ada kaitannya?

°°°

Pagi itu seperti biasa, Bianca dan Lisa duduk di bangku halte bus yang terletak sekitar 25 meter dari rumahnya. Kedua gadis itu menunggu bus jemputan yang akan membawa mereka ke sekolah. Bianca duduk asik memegang ponselnya, sedangkan Lisa sibuk mengunyah roti.

"Kenapa kau tidak sarapan, Kak?" tanya Lisa.

"Aku sudah membawanya untuk bekal makan siang nanti," jawab Bianca dengan tatapan fokus ke layar ponselnya. Belum sempat Lisa membalas ucapan Bianca, sebuah mobil berhenti tepat di depan Bianca dan Lisa. Dari dalam mobil keluar sosok seorang pria berpakaian rapi lengkap dan melangkah mendekati kedua gadis itu.

Bianca dan Lisa kompak menatap sosok pria itu dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Lisa langsung menelan kunyahan roti terakhir saat tahu siapa sosok pria yang tengah berdiri di depannya. Sedangkan Bianca hanya berkedip beberapa kali saat menyadari siapa dia.

"Apa kalian tidak terlambat, jam segini masih duduk di halte bus?" Pria itu mengangkat tangan kirinya dan mengecek jam tangannya. "Ayo, biar Daddy yang akan mengantar kalian." Pria itu memberi tawaran pada Bianca dan Lisa.

Bianca segera berdiri dan tersenyum, "Wah, kebetulan sekali. Daddy mau antar kita berdua?"

"Tentu saja," balas pria itu tersenyum.

"Tidak!" tolak Lisa membuang mukanya.

"Kenapa? Kita bisa telat, Lis," rayu Bianca.

"Masa bodoh!" ucap Lisa ketus.

"Kau ini keras kepala sekali sih. Apa kau mau dihukum berdiri di depan kelas." Bianca dengan cepat menarik tangan Lisa dan mendorongnya masuk ke dalam mobil tersebut, lalu dengan sigap Bianca langsung duduk di sebelah kiri Lisa.

Adam menyusul masuk ke dalam mobil, memasang seat-bel dan mobil melaju pelan. Selama perjalanan, Lisa diam seribu bahasa. Dia sama sekali tidak pernah merespon apa yang dikatakan Adam. Berbeda dengan Bianca yang masih merespon Adam dengan baik. Walaupun bagaimanapun juga, Adam adalah Ayah kandungnya.

Sekitar tiga puluh menit mobil berhenti tepat di depan sekolah. Lisa langsung turun dari mobil tanpa basa-basi. Bianca hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sebelum keluar dari mobil, Bianca berpamitan dengan Adam.

"Daddy, terima kasih sudah mengantar kami sampai sekolah."

Pria itu tersenyum dan memberikan sesuatu pada Bianca, "Ini buat kalian." Adam memberikan uang pada Bianca.

"Tidak perlu, Dad. Uang jajan yang diberikan oleh Ibu sudah lebih dari cukup," tolak Bianca.

"Tidak apa. Ambillah buat kalian beli apapun." Adam sedikit memaksa hingga membuat Bianca mau menerimanya.

"Terima kasih, Dad." Bianca keluar dari dalam mobil dan bergegas menyusul Lisa.

Waktu begitu cepat berlalu, siang sudah kembali menyapa kota Nevada. Perdebatan sedikit terjadi antara Bianca dan Lisa. Hanya karena hal sepele saja, Lisa begitu marah dengan Bianca.

"Sudah aku bilang kalau aku tidak mau menerimanya," kekeh Lisa.

"Lis, kenapa kau begitu keras kepala sih?"

Lisa menatap kesal pada Kakaknya, "Kalau Kak Bianca mau, Kakak bisa ambil." Lisa beranjak pergi meninggalkan Bianca.

"Ini anak kenapa jadi aneh begini sih," gerutu Bianca menepuk keningnya sendiri.

Saat jam pulang sekolah, Lisa kembali dibuat kesal dengan kedatangan pria itu. Ya, Adam Thompson kembali menjemput Bianca dan Lisa. Pria itu sudah menunggu di depan sekolah kedua anaknya.

Adam duduk di atas kap mobilnya menunggu Bianca dan Lisa. Saat Adam melihat Bianca dan Lisa berdiri di gerbang sekolah, pria itu melambaikan tangannya ke arah kedua gadis itu

"Bianca ... Lisa ...," teriak Adam. Bianca membalas lambaian tangan Adam, akan tetapi Lisa justru cemberut melihat pria itu.

Bianca menarik tangan Lisa, namun gadis itu meronta. Bianca menatap Lisa dan melototi-nya. Lisa membalas melotot pada Bianca.

"Tidak usah bercanda kenapa sih, Kak?" dengkus Lisa. "Kakak mau pulang diantar dia? Apa kata Mommy?"

"Bukannya akan lebih baik jika kita bisa menghemat uang dan meringankan Mommy. Kalau dia memberi kita uang kan kita bisa mengumpulkannya."

Lisa menatap Bianca. Lalu setelah itu justru dia melangkah meninggalkan Bianca dan langsung masuk ke dalam mobil Adam. Entah apa yang dipikirkan oleh Lisa setelah mendengarkan penjelasan dari Bianca.

"Berhenti di sini saja," cegah Lisa. Mobil pun berhenti di depan halte tak jauh dari rumah mereka. Seperti biasa, Adam memberikan sedikit uang jajan untuk Bianca dan Lisa.

Saat mereka keluar dari mobil, tak sengaja Claire melihatnya di ujung jalan setapak sana. Claire terus menatap mobil Adam hingga mobil Adam menghilang di ujung jalan.

Setelah kepergian mobil Adam dan kedua anaknya sudah masuk ke dalam rumah, Claire melajukan mobilnya dan langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi.

Lisa melempar tasnya ke atas ranjang. Dia masih sedikit kesal terhadap Bianca, tapi ada baiknya juga ide dari Kakaknya itu. Lisa melirik beberapa lembar uang kertas yang berserakan di dekat tasnya.

"Aku merasa ingin sekali pindah dari kota ini dan meninggalkan semuanya termasuk orang itu!" Lisa menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya.

"Ya, aku ingin sekali pindah dan aku harap keinginanku ini bisa terkabul."

Itulah keinginan Lisa saat itu, pindah dari rumah itu dan menjauh darinya. Ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Lisa, tapi hanya Lisa yang mengetahuinya dan apakah keinginan Lisa akan terkabul?

"Aku membencinya. Sangat membencinya. Aku berharap tidak akan pernah bertemu dengan dia lagi!"

Lisa bangkit dari tidurnya. Menatap kaca besar yang ada di depannya. Pantulan gambar dirinya terlihat jelas di sana. Lisa menatap pantulan gambar dirinya di kaca, lalu gadis itu mencebik saat mendengar teriakan suara Bianca.

"Dia benar-benar sangat berisik. Telingaku menjadi sakit saat mendengar dia berteriak," gerutu Lisa.

Bianca masih terus berteriak. Dia bernyanyi dengan nada asal, irama yang sangat berantakan. Namun, tidak dipungkiri kalau suara Bianca memang sangat bagus.

Saat itu Bianca sedang menyanyikan lagu dari Adele dengan judul Someone Like You. Lisa benar-benar merasa sangat terganggu. Dia menutup telinganya, tapi suara itu masih bisa menelusup masuk ke dalam telinga Lisa.

Lisa mengambil bantal dan menutup mukanya. Dia menekan suaranya dan mengerang.

"Rasanya aku ingin menjerit." Lisa turun dari ranjangnya dan melangkah mendekati dinding kamarnya, lalu Lisa menepuk dinding itu dengan kuat

"Bianca!" teriak Lisa. "Suaramu benar-benar membuat telingaku sangat sakit. Bisakah kau pindah tempat jika ingin konser!"

Namun, Bianca bukannya berhenti. Justru dia kembali berteriak dengan suara jauh lebih lantang. Lisa memutarkan bola matanya dan tangannya meraih bantal.

"Aaarrggg!" teriaknya di balik bantal yang menutupi wajahnya.

TO BE CONTINUE

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Enggak Siap Dengan Perasaan Ini
8.4
Dunia Shiloh Jung runtuh saat bisnisnya hancur dan sang mantan menikah. Sang ayah lalu mengirimnya berlibur ke luar negeri demi memulihkan diri. Di sana, ia bertemu Edward Leung yang misterius. Mereka sepakat menjelajahi Rusia sebagai kekasih tanpa mengungkap identitas asli, sambil berjanji akan bersatu jika takdir mempertemukan mereka lagi. Namun, setahun kemudian Edward justru bersikap seolah tidak mengenal Shiloh. Rahasia besar apa yang sebenarnya ia simpan?
Sampul Novel (bukan) Telepati Cinta
8.3
Hyura Anastasya terobsesi mencari reinkarnasi Fino dari buku kuno kakeknya, namun pencarian itu justru mengancam hubungan dengan sahabat dan cinta sejatinya. Di tengah kemelut, muncul sosok hantu laki-laki yang ternyata memegang kunci atas segala teka-teki hidupnya. Mengandalkan kemampuan telepati unik yang ia miliki, Hyura harus berjuang menuntaskan misteri besar ini. Mampukah ia menyelesaikan masalahnya saat telepati itu terasa tak berguna untuk urusan cinta?
Sampul Novel Bukan Teman Tapi Sekamar?
8.4
Amanda, sosialita kaya raya yang sombong, terjebak dalam masalah besar setelah menyetujui syarat ayahnya. Ia terbangun di pulau terpencil bersama Senja, pria dingin yang tak ia kenal. Keduanya terpaksa tinggal serumah demi misi reality show televisi dengan tujuan berbeda. Amanda yang manja membuat Senja kewalahan, sementara ketus pelayan itu membuat Amanda frustrasi. Di tengah konflik kepribadian yang kontras, mampukah mereka bertahan di lingkungan yang asing?
Sampul Novel Jiwa Pengganti
8.5
Hidup Amelia berakhir tragis di usia 27 tahun setelah kecelakaan fatal akibat patah hati. Namun, maut justru membawanya melintasi waktu dan bereinkarnasi ke dalam raga Castarica, seorang putri bangsawan yang dikenal kejam bak iblis. Amelia kini terjebak dalam kehidupan baru sebagai istri dari pria berhati dingin yang menyimpan ambisi rahasia. Mampukah ia bertahan hidup di tubuh antagonis ini sembari menghadapi suaminya yang penuh misteri dan rencana tersembunyi?
Sampul Novel Jodoh Serigala Putih yang Ditolak Sang Alpha
8.2
Pameran seni pertamaku hancur saat Baskara, Alpha pasanganku, justru melindungi wanita lain di berita. Dia mengabaikan ikatan kami demi aliansi baru dan menyebut karyaku sekadar hobi, bahkan mencuri ide bisnis triliunanku. Setelah empat tahun dihina sebagai Omega penurut, kesabaranku habis. Melalui dokumen palsu yang dikira pengalihan hak seni, aku menjebaknya untuk menandatangani Ritual Penolakan. Kesombongannya akan menjadi senjata penghancur dirinya sendiri.
Sampul Novel Pendewaan
8.8
Zen Luo, seorang bangsawan yang jatuh kasta, kini terhina sebagai budak sekaligus sasaran latihan fisik sepupunya. Namun, sebuah kecelakaan mengubah tubuhnya menjadi senjata mistis yang tak terpatahkan. Di tengah kekacauan dunia akibat persaingan antar klan, Zen bangkit membawa misi balas dendam dan ambisi besar. Dengan fisik sekuat pusaka, ia menantang para pendekar kuat demi meraih keabadian. Mampukah ia menaklukkan takdir dan menjadi legenda?