APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel With Mr. Old

With Mr. Old

Marlon, pria 37 tahun yang mapan, seharusnya sudah berkeluarga. Namun, ia justru terobsesi mengejar Belle, gadis pemalu berusia 17 tahun yang belum pernah mengenal cinta karena rasa takutnya pada lelaki. Ketegangan memuncak saat Marlon yang terpaut usia dua dekade ini nekat mendatangi orang tua Belle untuk melamarnya secara resmi. Akankah Belle menerima pinangan pria dewasa berjenggot tersebut demi sebuah pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Kediaman Exietera

Dengan ogah-ogahan Belle mengikuti langkah Marlon, yang menariknya menuju pintu utama Exietera. Dia sangat malu, sungguh! Berulang kali Rose telah mengajak Belle berkunjung ke rumah sang nenek, minta ditemani, sesering itu pula dia menolaknya. Kini Marlon malah menyeretnya menghadap nyonya besar.

Setahu Belle nyonya besar Exietera sangat angkuh, ibunya Marlon, tidak lain tidak bukan adalah nenek kesayangan Rose Miller. Selama ini Belle hanya mendengar dari cerita orang betapa buruknya sikap beliau. Meski belum bertemu langsung Belle pernah melihat gambar wanita itu di majalah.

Keluarga mereka pebisnis besar, tak heran bangunan tinggi di depannya menjulang kokoh bak singgasana. Belle tidak ingat semalam bermimpi apa? Sehingga bisa berada di rumah ini berhadapan dengan Gloe. Wanita setengah abad, anehnya masih sangat terlihat cantik.

"Marlon, kau membawa anak siapa?" Gloe menatap sinis Belle, sebagai kesan pertama yang tidak asyik.

"Ah, Ibuku sayang, kupikir kau mengingat ucapanku kemarin malam. Aku akan membawa calon istriku." Marlon melirik bangga Belle, mengamati wajahnya sudah semerah tomat.

"Apa?!" Terang saja Gloe syok, menatap Belle balik, lalu menggeleng keras. "Kau bercanda, ini di luar ekspetasiku, dia masih sangat muda untuk menikah."

Benar, itu sungguh menggelikan, lanjut Belle di dalam hati.

Marlon menyeringai lebar saat melihat Belle bergidik. Memeluk pinggangnya dari samping, dan berbisik. "Semakin sering kau geli saat membayangkanku, maka semakin cepat juga kita akan menikah."

Spontan Belle membeliak, menepis tangan Marlon. Sialnya lelaki tua itu malah mempererat pelukan. Dia sama sekali tidak tahu malu. Belle meringis kecil tatkala satu tangan Marlon meraih wajahnya, memaksa gadis itu mendongak, sementara ekspresi wajah Gloe sudah seperti kebelet buang air.

Menyalahi pilihan Marlon yang ternyata menyukai anak kecil, Gloe sangat ingin menentang, tetapi bagaimana? Keinginannya mendapatkan cucu laki-laki sudah di ujung tanduk. Gloe juga tidak menjamin jika Marlon akan segera mencari pengganti Belle.

"Iya Ibu, namanya Belle, gadis kecil ini memang masih muda, tapi dia sudah tidak sabar," kata Marlon mengada-ngada, berusaha menyakinkan sang ibu, dan melanjutkan. "Kita juga sama-sama suka, saling mencintai, Belle juga menerimaku apa adanya. Hmm, dia bilang kalau cinta tidak memandang usia. Iya kan calon istriku?"

Belum sempat menyangkal, Marlon mendahuluinya dengan mendorong kepala Belle hingga terangguk-angguk. Astaga! Lama-lama dia bisa mati berdiri karena malu. Marlon sangat keterlaluan. Mereka terpaut usia 20 tahun, bahkan baru saja bertemu. Bagaimana bisa langsung menikah? Belle hanya tersenyum masam saat Gloe mempersilakan duduk di ruang keluarga.

"Baiklah, kalau begitu silakan duduk, aku perlu mengenalmu lebih jauh." Sesaat Gloe berlalu, sontak Belle menggeleng.

"Ayo!" ajak Marlon sambil mengayunkan tangannya agar Belle mengikuti.

Tetap diam di tempat Belle mencoba memahami situasi. Kantung matanya berkedut menatap sekitar. Kini Marlon sudah menyeretnya, Belle tidak kuasa menolak, pegangan serta tarikannya begitu kuat bahkan kulitnya sampai memerah.

Menyadari Belle kesakitan Marlon pun melepaskan. Keduanya mematung di tengah jalan dengan satu arah pandangan, menatap kulit putih Belle yang kini bercabit merah. Kedua mata Belle memanas tidak lama gadis itu menangis keras, buru-buru Marlon menghela tubuh mungilnya ke pelukan.

"Cup, cup, Sayang, jangan menangis," ucap Marlon menepuk punggung Belle, alhasil tangisannya semakin kencang.

"Huaaa, Ibu ..."

"Astaga, Marlon! Kenapa dia bisa menangis?" Gloe melotot, merasa terganggu dengan teriakkan Belle.

"Aku tidak sengaja melukai pergelangan tangan Belle, tetapi sungguh, aku sama sekali tidak bermaksud menyakitinya."

"Nyonya Gloe tolong aku, anakmu sudah tidak waras, aku tidak ingin menikah ..." Mmph! Di dalam ciuman Marlon Belle mendelik, dia memang sakit jiwa. Gloe ada di depan mereka, dan dia sanggup menciumnya seperti orang kelaparan.

Memutar bola mata Gloe memilih pergi, memberi ruang kepada pasangan aneh bin ajaib yang telah berhasil membuat wanita itu pusing tujuh keliling. Gloe sempat berpikir gadis pilihan Marlon seorang model terkenal, nyatanya gadis muda yang kumel. Menaruh bokong di kursi kebesaran, Gloe membuka kipas cantiknya, mengibaskannya sambil menunggu kedatangan Marlon.

Tidak berlangsung lama Marlon dan Belle datang, kepala gadis itu menunduk seakan-akan menghindari kontak mata dengan Gloe. Demi apapun Belle merasa sangat malu. Ketika Belle pikir bibirnya ini tercipta hanya untuk satu lelaki yang jelas bukan Marlon, kini impian itu telah sirna.

Marlon Exietera sudah menciumnya lebih dari sekali. Kalau saja mencuri ciuman termasuk sebuah pelanggaran, maka Belle sudah melaporkan lelaki tua itu ke pihak berwajib.

"Katakan padanya jangan menunduk terus, aku perlu berbicara," ujar Gloe sewot, jika bukan karena seorang cucu sudah sejak tadi dia tolak mentah-mentah.

Memutar bola mata jengah, lalu Gloe melanjutkan. "Apa dirinya tidak diajarkan bagaimana cara bersikap saat diajak berbicara dengan orang yang lebih tua?"

Tidak sabar melihat reaksi Belle, akhirnya Marlon bertindak. Mendorong pundak gadis itu hingga terduduk menghadap nyonya besar Gloe. Kedua pipi Belle bersemu, sisa dari rasa malunya yang belum hilang. Sepasang mata Gloe menatap Belle dengan intens, lalu beralih pada wajah tegang Marlon di sisi kursi.

Berasa ingin diintrogasi.

"Apa pekerjaan ayahmu? Ibumu? Keturunan dari keluarga mana? Kapan terakhir kali kau tidur bersama ibumu? Kenapa kau menyukai anakku? Kuberitahu padamu jika Marlon egois, dia punya kebiasaan buruk yaitu suka menguasai tempat tidur."

Marlon menggaruk tengkuk belakangnya, dia jadi salah tingkah, ketika mengingat telah banyak korban tendangnya apabila tidur ditemani. Tidak peduli mau lelaki atau perempuan. Gloe sendiri pernah terkena tendangan bebas. Waktu itu Marlon mendadak flu, tujuannya hanya ingin menjenguk, tetapi malah ketiduran. Percaya atau tidak saat bangun tidur Gloe sudah terdampar.

"Ibu, untuk Belle cintaku, aku siap berbagi ranjang," sangkal Marlon disusul kekehan, geli sendiri atas kebiasaannya yang aneh.

Mungkin, itu menjadi salah satu dari sekian alasan kenapa Marlon belum menikah. Dia selalu ingin menguasai tempat tidur seluas apapun volumenya.

"Bagus, kalau begitu! Sekarang jawab seluruh pertanyaanku, aku ingin jawaban jujur." Gloe menutup kipas tangannya, dan menatap Belle tajam.

"Eum, maaf, aku lupa apa saja yang kau tanyakan."

"Baik, akan kuulangi. Di mana ayahmu bekerja?"

"Ayahku bekerja di rumah sakit terbesar di kota."

"Wow, apa ayahmu seorang dokter bedah, kenapa aku tidak pernah melihatmu yaa ..."

"Ah, tidak, tidak, ayahku bukan dokter."

"Lalu?"

"Profesi ayahku hanya sebagai tukang parkir di rumah sakit."

What the hell? Gloe kaget, mulutnya menganga lebar, sedangkan Marlon tidak kalah syok mendengar jawaban jujur Belle. Bukan karena profesi ayahnya melainkan betapa percaya dirinya dia saat memberitahu.

Fix, Marlon sangat gemas.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan inginku Selingkuh
9.1
Ruela sangat menjunjung tinggi kesetiaan, namun dikhianati oleh Frans, suaminya, yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Alih-alih terpuruk, Ruela bangkit untuk membalas dendam. Tak disangka, takdir membawanya pada Felix, pemuda yang menghabiskan malam penuh gairah bersamanya. Di tengah kemelut hati dan ambisi untuk menghancurkan para pengkhianat, mampukah Ruela menuntaskan dendamnya? Sebuah kisah tentang luka, pembalasan, dan pertemuan yang tak terduga.
Sampul Novel CINTA YANG TERTUKAR
8.4
Kehidupan asmara Mahya, wanita kelahiran 1991, jauh dari kata sempurna karena kehadiran seorang sahabat yang manipulatif. Di balik topeng keluguan, sang sahabat terus merusak setiap hubungan cinta yang Mahya bangun. Meski sering dikhianati, Mahya yang polos tetap menaruh kepercayaan penuh pada sosok licik tersebut. Namun, sebuah kejadian tak terduga akhirnya memicu kemarahan besar dalam diri Mahya. Akankah tabir kepalsuan ini segera terungkap?
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru mengusirnya dari mobil demi mengangkat telepon mantan kekasihnya, Rosalie Harris. Laurence terus merendahkan Josie dan yakin istrinya takkan sanggup pergi. Dia tidak menyadari bahwa pengabaian berulang ini telah mencapai batasnya. Di balik layar, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie untuk segera berpisah dan meninggalkan negara ini selamanya.
Sampul Novel HATRED
8.7
Difitnah melukai dua saudaranya sendiri, seorang pemuda terpaksa angkat kaki dari rumah. Ia menyimpan amarah mendalam karena keluarganya lebih memercayai bukti video rekayasa ketimbang kejujurannya. Kini, ia harus memulai hidup baru di luar sana sambil membawa luka hati akibat pengkhianatan orang terdekat. Bagaimana nasib pemuda ini setelah pergi? Akankah penyesalan menghampiri keluarga yang telah membuangnya? Simak perjuangan penuh dendam ini.
Sampul Novel Ketika Dokter Menentang Perwira
7.8
Nayra Adeline, dokter ortopedi yang gila kerja, tewas akibat kelelahan usai operasi 48 jam. Keajaiban membawanya terbangun di Bandung tahun 1975 sebagai Ratri Larasati, wanita pemalas bertubuh tambun yang dibenci lingkungan asrama militer. Nayra harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya, Kapten Ardan Wicaksana, sangat dingin dan enggan menyentuhnya karena reputasi buruk Ratri. Di tengah keterbatasan zaman, Nayra berjuang memperbaiki hidup barunya.
Sampul Novel Melodi Curian, Cinta Dikhianati
8.2
Bima, tunanganku, dan adikku Bianca telah mencuri mahakarya lagu yang kutulis selama tiga tahun. Dari balik pintu studio, aku mendengar pengkhianatan mereka yang didukung penuh oleh orang tuaku demi ambisi keluarga. Mereka memperalat bakatku dan mengabaikan perasaanku. Bahkan bayi yang kukandung dianggap sebagai belenggu untuk mengontrolku. Di tengah kepalsuan perhatian Bima, aku memutuskan untuk mengambil langkah drastis demi mengakhiri semuanya.