APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel You Are My Destiny

You Are My Destiny

Dunia Olivia Fredella Efendi hancur seketika saat Prisa, sahabatnya sendiri, mengaku sedang mengandung anak suaminya, Alvaro. Merasa dikhianati, Olivia memilih bercerai meski Alvaro sempat menolak. Namun, setelah resmi berpisah, Olivia justru mendapati dirinya hamil. Ia pun melarikan diri ke luar kota demi menyembunyikan rahasia itu. Di sana, ia bertemu pria baru yang mulai mengisi hatinya, sementara Alvaro hidup dalam keterpurukan setelah kehilangan dirinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Olivia mengangguk, “Dia berselingkuh dengan Prisa, Ma.” Adelia dibuat terbelalak mendengar nama yang disebut Olivia, wanita itu semakin tak percaya. Prisa adalah sahabat putrinya, mana mungkin dia mengkhianatinya? “Dan … dia … Dia sedang mengandung anaknya Al. Apa yang harus aku lakukan, Ma?” Olivia semakin terisak, dan Adelia langsung lemas diiringi rasa sesak di dadanya.

Adelia merengkuh tubuh Olivia kedalam pelukannya, membuat Olivia semakin menangis tersedu-sedu, menumpahkan seluruh rasa sakitnya.

Tangisan Olivia yang begitu pilu, membuat hati Adelia tersayat dan membeku, hingga ia tak mampu lagi membendung air mata itu. Namun dengan segera, Adelia menghapusnya. Ia tak ingin, air matanya menjadi kelemahan yang membuat Olivia semakin rapuh.

Olivia butuh penenang, Olivia butuh kekuatan, bukan air mata yang membuatnya semakin tak berdaya dalam kesakitan.

Untuk itu, ia harus bisa kuat di hadapan putrinya itu.

“Apakah Prisa sendiri yang mengatakannya padamu?” Olivia mengangguk, tanpa menghentikan isakan tangisnya. “Kamu sudah bertanya pada Alvaro?” Olivia menggeleng. “Jadi, kamu pergi dari rumah tanpa sepengetahuan Alvaro?” Olivia kembali mengangguk. Ia hanya bisa menggerakkan tubuhnya saat ini, mulutnya sudah tak mampu lagi untuk bicara.

Adelia menghela napasnya, berat. “Ya sudah, lebih baik Mama antar kamu ke kamar, kamu istirahat dan tenangkan diri dulu. Nanti biar Mama yang akan bicara dengan Alvaro,” tuturnya.

Adelia pun, mengantar Olivia ke kamarnya.

Adelia bergegas menghubungi Alvaro.

[Alvaro, apa yang kamu lakukan pada putri Mama, Nak?] Adelia langsung bertanya tanpa basa-basi, setelah Alvaro menyapanya dari seberang telepon.

[Maksud Mama?] Alvaro tak mengerti.

[Olivia pergi dari rumah, dia datang pada Mama dan mengatakan, kalau Alvaro telah berselingkuh dengan Prisa.] Alvaro tak langsung membalas. Dalam beberapa detik, Adelia tak mendengar suara Alvaro dari seberang sana. Adelia tau, kalau Alvaro pasti sangat terkejut.

[Ma, itu … itu—]

[Jadi benar, kamu telah berselingkuh dengan Prisa?]

[Bukan begitu Ma, aku—] Lagi-lagi, Adelia memotong ucapan Alvaro, [Alvaro, Nak, Mama dan Papa telah menitipkan Olivia padamu dengan harapan, kamu tidak akan pernah menyakitinya. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu membuat Olivia pulang dengan membawa luka?] Meskipun marah, Adelia berusaha tetap tenang, saat ia bicara dengan menantunya.

[Ma, maafkan aku. Tapi aku juga tidak tau kenapa aku bisa melakukan itu? aku tidak sadar waktu itu….]

[Sampai membuat Prisa hamil, kau bilang tidak sadar, Alvaro? Mama benar-benar kecewa padamu, Nak.] Sebelum emosinya meledak, Adelia bergegas mengakhiri panggilannya.

Sementara di tempat lain, Alvaro terlihat marah. Netranya berubah gelap, wajahnya berubah merah padam. “Prisa! Wanita itu benar-benar telah mengabaikan peringatanku!” desisinya, dengan tangan yang terkepal kuat, hingga urat-urat seksi di tangannya terlihat menyembul jelas.

Dua hari yang lalu, Prisa datang ke kantornya dan mengatakan tentang kehamilannya pada Alvaro, “Aku akan bertanggung jawab atas anak yang kau kandung, aku akan mengirimkan uang setiap bulan padamu dengan syarat, jangan sampai Olivia atau siapapun tau tentang ini. Aku ingin hanya kau dan aku saja yang tau, tutup mulutmu rapat-rapat, atau aku tidak akan mengampunimu!” Namun rupanya, peringatan itu tidak dihiraukan oleh Prisa, sehingga wanita itu dengan terang-terangan mengatakannya pada Olivia.

Darahnya seakan mendidih, bersamaan dengan meluapnya emosi. Alvaro beranjak dari tempat duduknya, membawa langkah lebarnya meninggalkan ruangan itu.

Kemacetan yang sudah menjadi ciri khas di jalanan ibukota, membuat Alvaro tak bisa memacu kendaraannya dengan cepat, sehingga membuat pria itu semakin terbakar emosi. “Kendaraan-kendaraan sialan! Bisakah mereka tidak menghalangi jalanku?!” Alvaro berulangkali menekan klakson, namun itu hanya sia-sia, tak merubah jalanan padat itu menjadi lenggang.

Ingin rasanya Alvaro berteriak, menerobos, dan menabrak kendaraan-kendaraan yang menghalangi jalannya itu, supaya dia bisa melesat, dan segera sampai ke tempat tujuannya. Namun itu hanya akan membuatnya terlihat bodoh, karena bisa saja, menerobos kendaraan-kendaraan itu, bukannya membuat Alvaro melesat lancar di jalan raya, malah akan membuatnya melesat ke alam baka.

Alvaro menarik napasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan, berharap bisa sedikit mengontrol emosinya. Jangan sampai kemarahannya itu membuat nyawa orang-orang tak berdosa melayang begitu saja.

Sesampainya di gedung apartemen dimana Prisa tinggal, Alvaro bergegas membawa langkah lebarnya menuju unit kamar Prisa, ia sungguh tak sabar untuk membuat perhitungan dengan wanita ular itu.

“Alvaro? Masuklah.” Prisa memberi jalan pada Alvaro, dan Alvaro pun melenggang masuk melewati Prisa.

Prisa kembali menutup pintu, seraya tersenyum samar. Ia tentu tau, apa yang membuat Alvaro datang menemuinya.

“Duduklah, aku akan ambilkan minum untukmu.” Namun bukannya duduk, Alvaro malah mendorong tubuh Prisa, hingga punggung wanita itu sedikit membentur dinding, Alvaro mencekik leher Prisa dengan satu tangannya, hingga membuat Prisa kesakitan dan sulit bernapas. “Al … lep-paskan!” Prisa menarik tangan Alvaro yang tengah mencengkeram lehernya.

“Ini adalah hukuman untukmu yang telah mengabaikan peringatanku! Aku sudah bilang supaya kau tutup mulut, tapi kau malah mengatakannya pada Olivia! Haruskah aku memotong lidah berbisamu ini?!” desisnya. Kemarahan tergambar jelas di wajah Alvaro, namun itu tidak membuat Prisa takut sama sekali. Ia hanya tidak kuat menahan sakit dari cengkeraman kuat di lehernya, dan membuatnya hampir kehilangan oksigen. Prisa meraih tangan Alvaro yang lain, dan menempelkan telapak tangan Alvaro di perut ratanya, berharap, hati Alvaro sedikit tersentuh dan mau melonggarkan cengkeraman di lehernya.

Dan ya, Prisa berhasil! Alvaro langsung melonggarkan cengkeraman tangannya.

Alvaro melepaskan cengkeramannya itu dengan kasar, seraya mengumpat, “Sial!” Jika saja tidak ada anaknya di rahim Prisa, Alvaro sudah membunuh wanita itu. Namun janin yang sedang tumbuh itu, membuatnya lemah, dan tak bisa melakukan apa yang dia inginkan terhadap wanita ular itu.

“Uhuk! Uhuk!” Akhirnya, Prisa bisa kembali bernapas. Tersungging sebuah senyuman licik di wajahnya yang tak dilihat oleh Alvaro yang kini membelakanginya. “Aku tau, kau tidak akan bisa melukaiku selama ada anak ini di rahimku,” batinnya.

Ia lalu berjalan beberapa langkah, sampai ia berdiri sejajar dengan Alvaro, “Bukan uang yang aku inginkan Alvaro, tapi tanggung jawab! Aku ingin kau menikahiku, aku tidak ingin anak ini lahir tanpa ayah! Mengatakan kebenaran pada Olivia adalah caraku supaya kau mau bertanggung jawab atas diriku dan anak ini. Aku tidak peduli jika kau akan membunuhku sekalipun! Karena dengan kau membunuhku, maka anak ini akan mati bersamaku!” Netra Alvaro semakin nyalang mendengar ucapan Prisa. Tentu ia tak ingin menjadi penyebab kematian anaknya sendiri.

“Aku tidak perlu menikahimu supaya anak itu mendapat pengakuan dariku! Aku akan mengakuinya meski aku tidak menikahimu, aku akan tetap merawat anakku!” tegas Alvaro.

“Kau pikir, aku ini wanita macam apa, Alvaro? Kau hanya akan mengakui anakmu, tapi tidak ingin mengakuiku yang telah mengandung anak ini? lelucon macam apa, ini?” Prisa terus menyembur Alvaro dengan bisanya.

“Ya, itu benar! Aku bisa mengakui anakku, tapi aku tidak bisa mengakuimu dan menempatkanmu di sisiku, karena tidak ada tempat untuk wanita lain di hatiku selain Olivia!” Alvaro menegaskan dengan memperjelas nama ‘Olivia’, lalu melenggang pergi dari hadapan Prisa.

Mendengar nama Olivia, membuat Prisa terbakar cemburu dan emosi. Napasnya memburu, dadanya naik turun bersamaan dengan kuatnya kepalan tangannya. Prisa membanting tubuhnya ke sofa, tatapannya lurus dan menyalang tajam. Api kemarahan, membuat wajahnya berubah merah padam.

“Olivia! Selalu Olivia! Tidakkah kau melihat cintaku, Alvaro?! Lihat saja, apa yang bisa aku lakukan supaya kau mau menikahiku!” Senyuman seringai, langsung terukir jelas di wajahnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO in My Bed
8.6
Mahesa, pria kaya yang skeptis terhadap cinta akibat masa lalu kelam, mengajukan tawaran gila kepada Athalia. Ia berjanji membiayai pengobatan adik Athalia asalkan gadis itu bersedia menjadi teman tidurnya selama satu bulan. Di tengah tuntutan dingin sang CEO yang kerap merendahkan wanita, Athalia bertahan dengan ketulusan hatinya. Akankah pengabdian dan kasih sayang Athalia mampu meruntuhkan dinding keangkuhan Mahesa dan membuatnya percaya pada cinta?
Sampul Novel CINTA LAMA BELUM USAI
8.6
Gina hancur saat mengetahui Abian menikah dan akan menjadi ayah. Ia memilih mundur, namun Abian menolak mengakhiri hubungan mereka. Dengan alasan paksaan sang ibu, Abian bersikeras mempertahankan Gina meski telah memiliki istri. Gina merasa muak dengan janji palsu dan egoisme pria itu yang ingin menjadikannya selingkuhan. Di tengah pengkhianatan dan kehamilan istri sah Abian, Gina terjebak dalam hubungan gelap yang dianggap Abian tidak akan pernah berakhir.
Sampul Novel Hasrat Dendam Suamiku
8.4
Banyak yang menganggap Briella Moretti sangat beruntung dapat dinikahi oleh putra sulung keluarga Maven yang terpandang. Namun, di balik kemewahan itu, Adrian Maven hanya menyimpan niat keji untuk menghancurkan hidup Briella sebagai bentuk balas dendam pribadi. Adrian bertekad menyiksa batin sang istri, tapi ketulusan hati Briella justru mulai menggoyahkan komitmennya. Kini, Adrian terjebak antara ego dendamnya atau perasaan cinta yang mulai tumbuh.
Sampul Novel Jodoh Pengganti
7.9
Shanaya menderita akibat perlakuan buruk keluarga kandungnya. Dianggap bak pembantu oleh ayah dan ibu tirinya, ia dipaksa menggantikan sang adik untuk menikahi putra keluarga Hartono. Sang adik menolak lamaran itu karena rumor mengerikan tentang sifat calon mempelai pria yang dikenal sangat kejam dan dingin. Tanpa pilihan, Shanaya harus menghadapi takdir baru yang penuh misteri. Akankah ia bertahan menghadapi pria yang ditakuti tersebut di dalam pernikahannya?
Sampul Novel Mengungkap Istriku yang Dijauhi: Dia Menyembunyikan Seribu Identitas
9.4
Yatim piatu akibat pembunuhan, Kathryn kembali demi merebut warisannya. Meski dihina sebagai anak haram yang tak pantas bagi Evan, suaminya justru sangat memuja sosok misterius ini. Di balik kelemahlembutannya, Kathryn adalah peretas ulung, dukun legendaris, hingga pembuat parfum kerajaan. Saat Evan sibuk memanjakannya di depan para direktur, perlahan identitas rahasia Kathryn terkuak. Mereka yang dulu mencibir kini harus tunduk saat topengnya jatuh.
Sampul Novel Mantanku, Kakak Iparku
9.1
Hati Deo hancur saat Freya memutuskan hubungan demi menikah dengan kakak kandungnya sendiri. Di tengah luka itu, ia bertemu Veren, gadis yang nyaris mengakhiri hidup akibat patah hati. Sebuah kesalahpahaman besar justru menyeret keduanya ke dalam pernikahan di usia muda. Kini, mereka terjebak dalam komitmen yang tak terduga. Mampukah Veren dan Deo saling menyembuhkan luka masa lalu dan menemukan kebahagiaan sejati dalam rumah tangga mereka?