APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel After a Breakup

After a Breakup

Arya menyimpan rahasia gelap di balik kemegahan keluarganya yang memicu mimpi buruk berkepanjangan. Alisha yang merasa dikhianati memutuskan pergi untuk melupakan cinta dan luka yang diberikan pria pujaannya itu. Meski Arya tega mencampakkannya saat perasaan sedang membara, takdir justru mempertemukan mereka kembali. Jarak yang tercipta hanya sementara, memaksa keduanya menghadapi keterikatan kuat yang belum usai di antara misteri dan asa yang tersisa.
Bab
Bagikan

Bab 3

Semula, Arya tak ingin melakukan apa-apa selain memejamkan mata dan terlelap di sebelah Alisha. Namun entah setan dari mana yang datang dan menarik tangannya hingga tergoda untuk memeluk Alisha dari belakang dan menemukan kehangatan yang begitu nyata di sana. Semua gara-gara Rakha yang seenak jidatnya saja membawa Marissa tidur di kamar yang awalnya ia tempati dengan sahabatnya itu. Arya tak mau digulung dingin sepanjang malam, jadi ya … tentu saja ia memilih tidur di kamar Alisha yang masih luas dari pada harus pegal-pegal jika tidur di sofa.

“Ma- Mas…”

Seharusnya, suara Alisha terdengar biasa saja kan? tapi berkat konspirasi di antara teriakan setan di kepala Arya, bercampur dengan udara dingin, temaram ruangan, juga tubuh yang mendadak butuh kehangatan, suara Alisha yang seharusnya biasa saja itu mendadak menjadi godaan terbesar yang membuat pemuda itu gelisah.

“Kamu kok di sini sih, Mas?” Alisha berbalik sehingga posisinya terlentang. Matanya yang masih sayu karena mengantuk justru terlihat memukau dan dengna cepat menghipnotis Arya.

Terkejut dengan pergerakan Alisha, Arya menarik tangannya yang tadi melingkari tubuh kekasihnya. “Sorry ya, jadi ganggu tidur kamu. Tapi Rakha bawa Marissa ke kamar kami, jadi yaa … aku butuh tempat lain untuk istirahat malam ini.” Arya tak asal beralasan, dia memang mengatakan yang sebenarnya terjadi.

“Hmm, boleh kan aku tidur di sini malam ini aja?” tanya Arya dengan suara sedikit bergetar. “Kamu nggak mungkin tega kan nyuruh aku tidur di sofa depan?”

Masih dalam keadaan pening karena terbangun tiba-tiba, Alisa memaksakan senyumnya. “Ini kan villamu, Mas. Terserah Mas Arya sih mau tidur di mana,” jawabnya lalu kembali memejamkan mata.

“Buruan tidur lagi gih, udah malem banget ini.” Arya menarik selimut lebar yang ada di batas lutut hingga menutupi batas leher kekasihnya. Mencegah Alisha dari sergapan udara yang semakin malam semakin dingin.

“Hmm, Mas juga buruan tidur gih, besok kan kita harus bangun pagi banget kalau mau keliling ke kebun teh.”

Entah karena Alisha masih belum sepenuhnya terjaga atau menganggap sosok Arya yang di depannya saat ini hanya pantulan mimpi semata. Karena ia seakan tak peduli kalau sekarang ia justru meringkuk ke arah yang salah. Bukannya membelakangi Arya, Alisha justru dengan berani menghadap Arya dan mendekatkan wajahnya ke dada sang kekasih. Meringkuk kedinginan bak seorang bayi mungil yang mencari kehangatan ibunya.

“Sha,” lirih Arya mendadak kaku saat Alisha yang masih menutup mata kian mendesak tubuhnya semakin rapat.

“Hmm ….”Gadis itu bahkan hanya bergumam pelan.

“Ka- ka- kamu kedinginan, Sha?” Arya menelan ludah susah payah. Gadis dalam dekapannya ini sungguh menjadi cobaan yang sangat nyata.

“Hu umm, villa di puncak gini harusnya punya penghangat ruangan.” Kalimat Alisha lebih terdengar seperti seseorang yang sedang mengigau. Apalagi jika melihat wajah polosnya ketika tidur seperti ini.

Arya terkekeh pelan karena gemas dengan kelakuan Alisha yang baru kali ini ia lihat secara langsung. “Mau dibikin hangat nih ceritanya?”

“Huu umm,” Alisha mengangguk pelan masih setia merapatkan kelopak mata. “Ambilin selimut lagi, Mas.”

“Ngapain pake selimut lagi, pake yang lain.” Arya memberanikan diri mengusap punggung Alisha naik turun beraturan. Gerakan sederhana yang justru dengan cepat mengambil alih hasrat yang sedari tadi ia tekan kuat-kuat.

“Hmmm, terserah,” gumam Alisha terdengar tak begitu jelas di telinga Arya.

Namun anggukan pelan gadis itu diartikan sebagai persetujuan oleh pria di depannya. Hingga hanya dalam hitungan detik, Arya menundukkan wajah hingga sangat dekat dengan wajah polos kekasihnya. Pun lengan kekarnya kini semakin menarik tubuh Alisha agar semakin erat padanya. Arya sadar apa yang ia inginkan adalah langkah awal menuju kenkmatan sesaat yang berujung dosa. Namun apa dikata, iblis dalam kepalanya mulai menebar racun, racun yang bisa saja membuat Arya gila jika tak melanjutkan hasrat terlarangnya.

Dengan hati-hati ia belai pipi halus sang kekasih. Membuat pipi mulus itu mengeluarkan semburat merah muda yang kian menggoda.

“Mas,” lenguh Alisha mulai terlena. Gadis itu berpikir ini hanya bunga tidur semata, karena Arya sangat jarang memeluknya begitu erat sampai-sampai ia merasakan gelenyar aneh seperti ini.

“Boleh ya, Sha? Ak- ak- aku, pasti tanggung jawab kok, ujung hubungan kita pasti akan menikah kan? Ka- ka- kamu nggak perlu cemas ya…” Pria dan segala janji buayanya. Seharusnya Alisha harus terjaga sepenuhnya dan mulai waspada. Bukan malah mengangguk lagi dan memberi celah pada godaan hasrat yang kini mulai memeluk keduanya hingga tak kuasa mengelak penyatuan yang membelenggu mereka.

“Sakit, Sha?” tanya Arya dengan napas putus-putus. Pemuda itu dilanda cemas tatkala melihat Alisha yang meringis di bawah naungannya.

“Eng- enggak, Mas.” Alisha sempat terbelak untuk beberapa detik ketika benda asing memasukinya dengan hentakan pelan. Namun sejurus kemudia ia menitikkan air mata, karena tersadar mudah menyerah hingga terjerat dosa. Tangis lirihnya tak bisa ia artikan entah untuk kesakitan atau penyesalan tiada guna. Atau bisa jadi, Alisha memang menangisi keduanya, juga merutuki keputusan dangkal yang mudah luluh dengan rayuan kekasih pujaannya.

“Aku akan tanggung jawab, Sha. Percaya ya,” bisik Arya di sela-sela amukan gairah. Janji sebatas janji yang hanya terucap di atas nafsu birahi. Janji yang nyatanya tak bisa ia penuhi di beberapa waktu setelah kejadian yang sempat ia anggap mimpi ini.

***

“Mas, semalam itu…” Alisha menggigiti bibir bawahnya salah tingkah ketika terbangun di pagi hari. Kejadian semalam itu bukanlah mimpi. Karena nyeri yang menyerang bagian bawah tubuhnya terasa begitu nyata hingga ia tak berani bergerak kemana-mana selain bersandar di sandaran ranjang dengan Arya yang ada di sampingnya.

“Maaf, Sha. Semalam … aku berengsek banget ya, aku salah karena nggak bisa nahan diri.” Arya menoleh pada sang kekasih yang kini menunduk dalam sambil menautkan jemari lentiknya. “Ka- kamu … hmmm, kamu nggak sedang masa subur kan?”

Pertanyaan macam apa itu? Alisha bingung harus menanggapi bagaimana.

“Semalam itu aku yang salah, tapi … kita sama-sama terbawa suasana. Jadi…” Arya menggantung kalimatnya lalu menggenggam telapak tangan Alisha yang terasa dingin di kulitnya.

Alisha menegakkan pandangan lalu mengangguk cepat. “Ak- aku nggak tau, sedang masa subur atau enggak. Karena jadwal bulananku nggak pernah rutin, Mas,” jawabnya tanpa pikir panjang. Padahal dalam hati kecilnya ia paham ke arah mana pertanyaan itu dilontarkan Arya.

“Hmm, semalam itu aku juga ikut salah, Mas.” Alisha kembali menambahkan. “Andai aku sedikit berkeras, seharusnya aku masih bisa menjaga apa yang seharunya aku jaga sebagai seorang perempuan baik-baik.”

Arya menggeleng pelan. Hatinya mencelos melihat raut wajah ketakutan bercampur khawatir yang ditampilkan kekasihnya. “Kamu perempuan baik-baik, Sha. Kamu perempuan baik-baik,” serunya memeluk Alisha. Ia tak ingin Alisha merasak dirinyalah yang paling bersalah.

“Maafin aku ya, aku yang salah, aku yang berengsek!” Arya memohon setulus hati. “Aku janji hal ini nggak akan terulang lagi. Aku janji, nggak akan menempatkan kamu di situasi serba salah seperti ini lagi, Sha. Please jangan nangis.”

“Aku takut, Mas.” Alisha mencoba sekuat tenaga menahan isak tangisnya. “Ak- aku udah ngecewaian ayah sama Mas Angga, juga … mendiang bunda.” Tangis pilunya justru semakin menjadi tatkala bayangan keluarga tercinta lewat di benaknya.

Pasti ayahnya terpukul jika mengetahui anak gadis kesayangannya lalai menjaga diri. Airlangga pasti akan kecewa jika mengetahui adik tersayangnya tak kuasa menolak rayuan kekasihnya. Mendiang bundanya pasti akan menangis juga melihat kelakuannya dari atas sana. Astaga … tangis Alisha semakin menjadi saja. Lalu setelahnya air matanya habis ia bisa apa? Tidak ada. Karena semua yang sudah terkoyak tak bisa dikembalikan seperti semula.

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bangunkan Aku Dengan Cintamu
9.7
Dijual miliaran demi menikahi Eric, taipan yang koma, Emily menjadi bahan cemoohan. Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh dengan adik angkatnya, ia bertekad membalas dendam melalui pernikahan ini. Emily membuktikan kemampuannya dengan merebut penghargaan medis yang dicuri darinya dan menghukum orang tua angkatnya yang kejam. Saat Eric sadar, ia tidak mengusir Emily, melainkan memuja sang istri sambil mengungkap rahasia besar yang selama ini tersembunyi.
Sampul Novel Istri yang Lari di Hari Pernikahannya
9.3
Siti Maemunah terpaksa menjalani pernikahan akibat perjodohan yang diatur oleh sang paman. Namun, sesaat setelah akad nikah usai, ia justru memilih kabur dan meninggalkan suaminya. Maemunah merasa yakin bahwa ia tidak akan pernah berpapasan lagi dengan pria tersebut selamanya. Tak disangka, takdir berkata lain ketika setahun kemudian ia kembali dipertemukan dengan Alga. Kini, Maemunah harus menghadapi kenyataan pahit dari masa lalu yang sempat ia hindari.
Sampul Novel Menantu Hina Itu Ternyata Ahli Obat
9.4
Marcel menjalani hidup penuh hinaan sebagai menantu yang dipaksa memakan sisa hidangan keluarga istrinya di lantai. Penindasan kejam dari Shirley dan kerabatnya membuat Marcel putus asa hingga ia nekat menenggak formula rahasia peninggalan orang tuanya. Bukannya tewas, cairan itu justru membangkitkan kekuatan luar biasa dalam dirinya. Kini, sang ahli obat yang dulunya dianggap sampah telah bangkit untuk membalikkan keadaan. Akankah mereka yang merendahkannya bersujud memohon ampun?
Sampul Novel Misi 27 Hari Yura
9.8
Yura Anindita menolak keras perjodohan dari orang tuanya. Ia pun memulai misi nekat untuk mencari calon suami pilihannya sendiri dalam waktu 27 hari, tepat sebelum ulang tahunnya yang ke-27. Di tengah tekanan waktu, dua pria berbeda hadir dalam hidupnya: sosok dari masa lalu dan pria baru yang memikat hatinya. Akankah Yura berhasil menemukan pendamping hidup yang tepat untuk membatalkan perjodohan tersebut, atau justru misinya akan berakhir dengan kegagalan?
Sampul Novel Sekretaris Pengkhianat
9.1
Diusir dalam keadaan hamil, Scarlett Chen harus menelan kepahitan saat Daniel Lee menuduhnya berselingkuh. Sebagai CEO kejam yang tumbuh di dunia mafia, Daniel tidak mengenal ampun bagi pengkhianat. Lima tahun berlalu, Scarlett kembali dengan identitas baru dan rencana besar di hatinya. Akankah pertemuan ini menjadi ajang balas dendam yang setimpal, atau justru menjerat mereka kembali dalam lingkaran obsesi gelap yang sulit untuk diputuskan?