APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Dan CEO Nakal

Aku Dan CEO Nakal

Seorang mahasiswi cantik sedang menempuh masa magang di sebuah perusahaan ternama yang sangat besar. Namun, rutinitas dan ketenangan hidupnya mendadak berubah total sejak ia bersinggungan dengan seorang pria hidung belang yang memiliki kekuasaan di sana. Akankah sang gadis mampu menghadapi segala tantangan dan dinamika yang muncul akibat pertemuan tersebut? Ikuti terus perjalanan hidup penuh warna dari sang asisten magang dalam menghadapi sang CEO nakal.
Bab
Bagikan

Bab 2

Alceo tidak tahu bagaimana caranya ia bisa sampai di kantor 15 menit kemudian. la berjalan cepat tanpa menghiraukan tatapan mata pegawai yang mengarah kearahnya dengan tatapan menelanjangi yang biasa ia dapatkan.

Kalau biasanya Alceo akan menyempatkan diri untuk sekedar berkedip, melambai, atau mengirim kecupan bayangan ke karyawan perempuannya, kali ini ia tidak memiliki waktu itu.

Van, Sekretarisnya yang terlihat gelisah berdiri mondar mandir di depan pintu lift menghela nafas lega begitu melihat Alceo keluar dari dalam sana.

"Sir, meeting hari ini." Van mengekori langkah besar Alceo hingga ke depan pintu ruangannya.

"Biarkan aku ke ruanganku dulu untuk mengambil beberapa berkas. Kau bisa-"

Alceo tidak melanjutkan ucapannya ketika ia melihat punggung laki-laki yang ia kenali sedang membelakanginya di dalam ruang kerjanya yang dulu merupakan ruang kerja laki-laki itu sebelum memutuskan untuk menyerahkan kuasanya pada Alceo.

"Meeting sudah saya undur sampai makan siang nanti." Suara penuh wibawa dari laki-laki yang masih memunggungi Alceo mampu membuat dua laki-laki muda itu merinding.

Van memilih untuk mundur dan tidak ikut campur dalam masalah yang sepertinya tidak akan berhubungan dengan pekerjaannya kali ini.

Ia cukup bingung ketika mantan bos besar perusahaan itu memundurkan jadwal secara tiba-tiba tadi dengan mengatakan kalau ia dan Bos mudanya perlu berbicara.

Dan sepertinya Van tidak memiliki keinginan terlibat di dalam pembicaraan itu kalau masih mau bekerja disana.

Alceo sedikit membeku sebelum berhasil menemukan nafasnya dan mengontrol wibawanya dengan menutup pintu dan menghampiri punggung ayahnya.

Selangkah sebelum ia sampai, ayahnya sudah berbalik sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Laki-laki itu mengernyit, memperhatikan penampilan putranya dari bawah hingga ke atas.

"M-maaf, Dad. Aku.. bangun kesiangan."

Seperti anak kecil yang ketahuan menyembunyikan hasil ulangannya yang jelek, Alceo tidak berani menatap mata ayahnya.

"Sebutkan alasan kenapa aku membiarkanmu untuk tinggal terpisah dari kami?" tanyanya dengan nada penuh intimidasi.

"Agar aku bisa mandiri," jawab Alceo pelan.

"Lalu?"

"Agar aku bisa belajar bertanggung jawab," sambungnya.

"Lalu?"

"Agar aku... Oh ayo lah, dad. Aku hanya terlambat."

Alceo menatap arloji di pergelangan tangannya. "8 menit. Jangan memperlakukanku seperti anak kecil, Dad" Alceo berbicara sambil merengek di hadapan ayahnya.

"Then stop acting like one, Alceo!" gerutu ayahnya, Nandito Tyler sambil berkacak pinggang.

Alceo ingin membela dirinya. Namun tidak ada kalimat yang bisa ia keluarkan. Alhasil ia kembali diam menerima ceramah sang ayah tercinta.

"Kau bukan anak kecil lagi, Alceo. Kau memiliki tanggung jawab atas perusahaan beserta nasib seluruh pegawai yang bekerja di sini," tutur Nandito.

"Kau anak tertua dari kedua adik kembarmu, tapi kenapa kau tidak sama sekali bisa memberi contoh yang baik untuk kedua adik kembarmu?"

Alceo memutar bola matanya. Ia paling tidak suka dibanding-bandingkan dengan kembarannya.

Lagipula ia hanya terlambat 8 menit, bukan 8 bulan yang dimana harus di khawatirkan kalau ia adalah seorang wanita dan ia terlambat 8 bulan, yang berarti -oke, ia mulai ngaco.

"Lihat Austin. Kenapa Mommy dan Daddy membiarkan Austin untuk mengurus perusahaaan Grandpa di Indonesia? Karena dia bertanggung jawab. Lalu adik perempuanmu, Auryn, dia sekarang sedang magang menjadi dokter."

"Dad aku mengerti. Aku hanya terlambat 8 menit, dan kau tidak perlu membanding-bandingkan anak-anakmu seakan aku sangat tidak berguna sama sekali," sungut Alceo.

"8 menit dan ini bukan pertama kalinya, Alceo." Nandito melembutkan suaranya. "Daddy tidak bermaksud membandingkanmu, tetapi Daddy mau kau mulai bertanggung jawab dan berhenti bermain-main."

Mata Nandito menyipit kearah Alceo. Kemudian ia menghela nafasnya yang terdengar lelah. Ia memijat pelipisnya yang dirasanya berdenyut.

"Dad tidak akan terkejut kalau suatu saat ada satu atau beberapa wanita yang datang ke rumah dan mengatakan kalau mereka sedang mengandung cucu Daddy yang merupakan anakmu."

Alceo terkejut. Ia langsung menoleh kearah Nandito. Kenapa ayahnya tiba-tiba bisa membahas masalah itu?

Dan ketakutan itu sebenarnya tidak mendasar karena selama ini Alceo selalu bermain aman. Sangat aman hingga Alceo yakin kalau kenakalannya itu tidak diketahui siapapun.

Nandito kembali menghela nafas sambil menggerakkan dagunya kearah Alceo, "Kalau kau mau mempermalukan dirimu. Lakukan di tempat lain, jangan disini. Ada tanda kemerahan di lehermu yang aku yakin bukan berasal dari gigitan nyamuk."

Tangan Alceo sontak langsung menutupi kedua lehernya dengan wajah terkejut. Apa wanita kemarin yang Alceo lupa siapa namanya meninggalkan bekas disana? Hal yang selama ini Alceo larang ke setiap wanita yang tidur dengannya.

Lalu dagu Nandito kembali menunjuk bagian bawah Alceo.

"Kau juga lupa mereseleting celana kerjamu," sambung Nandito.

Mata Alceo melotot dan langsung menatap bagian bawahnya yang dengan cerobohnya belum ia tutup dengan baik.

Apa ini alasan orang-orang menatapnya tadi? Dan apa ini alasan ayahnya marah? Sepertinya iya.

Bagaimanapun ia membela diri. Ia hanya akan terlihat bodoh dengan dua hal ini yang sedang mengejeknya.

***

Tidak pernah ada yang lebih menenangkan dari mendengar musik berirama kencang dengan beberapa gelas minuman keras yang mampu mengimbangi bunyi bising yang masuk ke indra pendengarannya saat ini.

"Bagaimana kemarin?"

Alceo mendongak dari tempatnya untuk menatap laki-laki yang barusan bertanya dari dalam meja bar.

"I'm too drunk to feel it." Alceo terkekeh sambil menegak cairan di gelas yang berada di genggamannya.

"Well, i hope you're not too drunk to use a condom." Laki-laki itu terkekeh mengejek Alceo.

"Kau tahu aku tidak seceroboh itu, Ger!" ujar Alceo sambil menyodorkan gelas kosongnya kearah Gary, Bartender yang sedang berbicara dengannya.

"Bagaimana klub hari ini? Apa ada laporan yang harus 11 aku ketahui?"

Gary memberikan gelas yang sudah kembali terisi kepada Alceo sambil bergumam, "Berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang istimewa, Bos. Kau tidak perlu khawatir."

Alceo mengangguk sambil kembali menegak cairan bening itu dan berdesis puas.

Kesehariannya memang selalu seperti ini. Bekerja di kantor, dan menghabiskan waktu di kelab malam yang juga merupakan satu sumber penghasilan Tyler Enterprise yang diwariskan kepadanya, lalu bersenang-senang dengan wanita random setiap harinya.

Siapa yang tidak mengenal Alceo Marvello Tyler? Tampan, kaya, sukses, dan menduduki tingkat tertinggi the most wanted man setelah Pangeran William.

Tidak ada wanita yang bisa menolak pesonanya selama ini. Dan Alceo tidak tahu harus bersyukur atau malah menyesali semua itu karena hingga saat ini.

Alceo hanya mengenali 1 tipe wanita dalam hidupnya yaitu wanita yang mendekatinya karena segala kesempurnaan yang melekat di dirinya.

"Barbara mencarimu kemari tadi." Gary membuyarkan lamunan Alceo.

Laki-laki itu mengisi lagi gelas bos besarnya dengan cairan yang sama tanpa di minta.

"Dia meninggalkan nomor teleponnya dan memintaku memberikannya padamu."

Alceo mengernyit. "Barbara? Siapa?" tanyanya mencoba mengingat nama yang Gary sebut barusan.

Gary terkekeh, maklum dengan kelupaan Alceo akan nama setiap wanita yang ia tiduri hampir setiap harinya. Karena ini bukan hal pertama Alceo lupa.

Gary berdeham dan mencoba membantu Alceo untuk mengingat. "Wanita berambut pirang ikal yang kau temui minggu lalu disini. Kau bahkan sempat berjanji akan membawanya ke Hawaii kalau aku tidak salah ingat."

"Aku?" Alceo mengernyit.

Ia kembali mencoba menggali memorinya tapi tidak ada satupun yang ia ingat akan ciri-ciri wanita bernama Barbara itu. Apalagi janji yang Gary sebut tadi.

"Kau yakin? Aku tidak ingat. Lagipula, aku tidak menyukai wanita berambut pirang. Jadi nomor itu untukmu saja," sahut Alceo acuh.

Gary terkekeh dan menggeleng. "Terima kasih, tetapi aku sudah kapok dengan wanita ibahanmu yang terus menerus menerorku menanyai kabar dan menagih janjimu pada mereka. Jadi...."

Gary meraih secarik kertas yang bertulisan sederetan nomor ponsel di atasnya, lalu merobeknya menjadi partikel kecil.

"Thanks, but no, thanks."

Kedua orang itu terbahak.

Gary memang bartender di kelab malam milik keluarga Alceo. Tapi sebelum menjadi bartender, ia dan Alceo adalah sahabat baik.

Alceo memberikan pekerjaan ini pada Gary saat Gary mengalami kesulitan ekonomi pasca orang tuanya meninggal.

Tawa kedua orang itu teredam begitu suara nyaring dari panggung pertunjukan yang tersedia di kelab itu memekikkan telinga mereka. Bahkan DJ yang sedang bertugaspun terpaksa berhenti karena suara nyaring seseorang yang entah bagaimana bisa berada disana sambil memegang mic.

"Baiklah, Clubbies... Maaf mengganggu kesenangan kalian sebentar," ucapnya dengan lantang di depan banyak mata yang menatapnya.

"Kau mau aku memintanya turun?" tanya Gary sudah mengeringkan tangannya dengan kain.

Alceo menoleh kearah Gary sesaat, mengalihkan pandangannya dari wanita berambut pirang yang berada di atas panggung.

"Tidak perlu," ucap Alceo kembali menatap kearah panggung. "Kita lihat apa yang ingin dia lakukan." Alceo menyunggingkan senyumnya.

"Beberapa menit yang lalu, Aku kalah taruhan dengan sahabatku. Dan oleh sebab itu, aku berada disini untuk melakukan tantangan dari mereka."

Wanita itu terkekeh sambil menunjuk kearah meja yang mungkin adalah tempat teman-temannya berkumpul.

"Untuk Tania dan David, Selamat atas pertunangan kalian! This song is for you, guys! Bisa kalian membantuku ucapkan selamat untuk kedua orang di meja nomor 13?" pinta wanita itu dengan senyum lebarnya.

"Tunggu aku kembali dan aku akan menendang bokong kalian karena sudah mempermalukanku."

"She gonna sing. Kau mau aku menghentikan aksi gilanya?" Gary sudah keluar dari meja barnya dan berdiri di sebelah Alceo yang masih menatap kearah panggung.

Alceo menahan dada Gary tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.

"Biarkan. Aku mau mendengar suaranya," gumamnya pelan.

Oh, baby, look what you started The temperature's rising in here Is this gonna happen?

Been waiting and waiting for you to make a move

Before I make a move

So, baby, come light me up, and maybe I'll let you on it

A little bit dangerous, but, baby, that's how I want it

A little less conversation and a little more "touch my body"

'Cause I'm so into you, into you, into you

Got everyone watchin' us, so, baby, let's keep it secret

A little bit scandalous, but, baby, don't let them see it

A little less conversation and a little more "touch my body"

'Cause I'm so into you, into you, into you, on yeah

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 MINGGU MENGEJAR CINTA
8.7
Rencana perjalanan bisnis Anya berubah kacau saat kendala teknis memperpanjang durasi kunjungannya menjadi tiga minggu. Situasi kian rumit ketika keponakan rekan bisnisnya melamar secara impulsif dan mengancam nyawanya setelah ditolak. Di tengah kekalutan, Anya bertemu Dastan, mantan teman sekelasnya yang datang membantu. Namun, ia mulai meragukan ketulusan Dastan. Apakah ini murni bantuan teman lama atau ada perasaan tersembunyi? Anya hanya punya waktu singkat untuk menuntaskan segalanya.
Sampul Novel Antara Gengsi dan Hati Yang Tersakiti
8.1
Nayara Elvard, desainer ambisius, terjebak pernikahan kontrak dengan Arshen Daveraux, pengusaha dingin dan perfeksionis. Meski Arshen terus menjaga jarak dan menolak perhatian, Nayara yang ceria justru tertantang untuk mencairkan kekakuan suaminya itu. Di tengah konflik kepribadian dan gengsi yang tinggi, Nayara bertekad membuktikan adanya cinta di balik sikap kaku Arshen. Akankah perasaan tulus tumbuh melampaui batasan kontrak yang mengikat mereka?
Sampul Novel Gairah Liar Sang CEO
9.7
Rafael Aditya Syahreza, CEO yang kerap bergonta-ganti pasangan, menjerat Vanessa setelah sebuah ketidaksengajaan di ranjang. Ternyata, Vanessa adalah kekasih Adrian, adik kandungnya sendiri. Rafael memanfaatkan situasi ini demi kepuasan nafsu sekaligus menuntaskan dendam masa lalu. Akankah ia berhasil merebut Vanessa dari adiknya? Bagaimana nasib Vanessa saat menyadari dirinya hanya alat balas dendam, dan mampukah ia menerima kenyataan pahit tersebut?
Sampul Novel Harga Diriku 10 Juta Per Malam
9.4
Yatim piatu dan terlilit utang miliaran, mahasiswi bernama Arabella Alexandro terpaksa menjalani kehidupan ganda sebagai wanita penghibur di diskotek. Di balik senyum palsunya, ia berjuang membiayai kuliah serta bertahan hidup sendirian tanpa bantuan keluarga besar. Suatu malam, ia bertemu Arkan Stevanno Orlando, CEO kaya raya yang memesan jasanya. Akankah pertemuan dengan Arkan menjadi pintu keluar dari kemelaratan atau justru memicu konflik baru yang lebih pelik?
Sampul Novel Kau Tak Pernah Mencintaiku
9.3
Aurora terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Leandro, pengusaha sawit kaya. Meski hidup mewah, ia menderita akibat dominasi ibu mertua dan kekejaman adik iparnya. Leandro tak pernah memihaknya hingga Aurora merasa terasing. Penderitaannya memuncak saat kakak kandungnya, Ravela, hadir dan mulai menggoda suaminya. Pengkhianatan ini menghancurkan jiwa Aurora, terutama ketika ia menyaksikan Ravela keluar dari kamar Leandro pada suatu malam yang kelam.
Sampul Novel My Possessive CEO
8.3
Sinta adalah gadis malang yang berulang kali nyaris menjadi korban pelecehan seksual. Beruntung, Biru yang merupakan seorang CEO muda selalu muncul untuk menyelamatkannya. Meski awalnya hanya kebetulan, Biru ternyata telah jatuh hati sejak pandangan pertama. Namun, Sinta justru merasa sangat takut untuk memulai hubungan asmara karena trauma masa lalu yang menghantuinya. Akankah kegigihan Biru mampu meluluhkan hati Sinta yang penuh luka? Simak kisah romansa dewasa ini.