APKDock Logo
Sampul Novel AKU JATUH CINTA KEPADAMU

AKU JATUH CINTA KEPADAMU

9.4 / 10.0
Dunia Cinta Arlina berubah drastis setelah menyadari bahwa Tiano Albastia, pria yang selama ini ia benci, justru merupakan sosok penolong rahasianya. Saat kebenaran terungkap, penyesalan menyelimuti hati Cinta. Namun, Tiano justru memilih berpamitan dan pergi menjauh tepat saat segalanya mulai jelas. Di tengah perpisahan yang mendadak ini, mampukah takdir dan kekuatan perasaan membawa mereka kembali bersatu, ataukah pertemuan tersebut menjadi yang terakhir bagi keduanya?

AKU JATUH CINTA KEPADAMU Bab 1

Suara petir yang saling bersahutan disertai kilatan cahaya di langit telah menghentikan langkah seorang gadis yang terburu-buru ingin pulang. Satu tangannya memegang daun talas yang cukup lebar untuk menutupi tubuhnya dari guyuran hujan yang semakin deras dan satu tangannya lagi memegang sebuah wadah yang terbuat dari anyaman bambu.

"Sebaiknya aku berteduh dulu di gubuk itu, ini hujannya malah semakin deras," gumamnya sendiri dengan kaki yang sudah tidak beralas sandal karena sengaja dilepas untuk menghindari terpeleset dari tanah yang licin.

Sebuah gubuk tua yang berdinding anyaman bambu yang sudah terlihat bolong di beberapa tempat, gadis itu pakai sementara untuk berteduh dari guyuran hujan yang tidak bersahabat.

Pintu tua yang telah usang perlahan gadis itu buka. Daun talas yang dipakai untuk melindungi dirinya tadi dari guyuran hujan, diletakan begitu saja di atas meja yang telah tua dimakan waktu.

"Lebih baik aku berteduh sebentar di sini, sangat bahaya bagiku jika melanjutkan perjalanan," gumam gadis itu melihat isi gubuk yang tidak terlalu besar.

Sebuah kursi tua satu-satunya yang ada di dalam gubuk, gadis itu pakai untuk meletakan wadah yang dari tadi tidak dilepas dari tangannya untuk meletakan wadah.

"Rokku basah dan kotor," gumamnya melihat ujung roknya yang selutut terlihat basah dan sedikit kotor terkena cipratan tanah.

Tiba-tiba terdengar suara petir yang menggelegar membuat gadis itu langsung berjongkok dan menutup telinganya disertai jeritan yang ke luar dari bibir kecilnya. "Aaaa!"

Belum habis dari rasa terkejut karena suara petir yang begitu kencang disertai kilatan cahaya, tiba-tiba pintu didorong seseorang dari luar dengan kencang.

"Ya Tuhan, aku sangat takut," terdengar suara seorang wanita.

Gadis itu langsung melihat siapa yang datang dengan posisi masih berjongkok serta tangan yang masih menutup telinganya.

"Rupanya ada orang di sini," wanita itu melihat gadis yang sedang berjongkok sehingga mata mereka beradu. "Syukurlah ternyata aku tidak sendirian."

Gadis itu berdiri. "Aku sedang berteduh di sini."

"Aku boleh ikut berteduh di sini?" Tanya wanita itu. "Aku baru dari kebun habis petik sayuran, tapi di jalan mau pulang hujan begitu deras dan petirnya sangat menyeramkan. Aku sangat takut."

"Silahkan saja kalau mau berteduh di sini. Gubuk ini juga bukan punyaku," jawab gadis itu. "Kita sama-sama numpang berteduh."

Tiba-tiba terdengar suara petir diluar begitu kencang disertai kilatan cahaya sehingga membuat kedua orang yang sedang berteduh di dalam gubuk berteriak kencang karena kaget. "Aaa!"

Keduanya langsung berjongkok dengan kedua tangan menutup telinga serta mata yang terpejam.

"Aku paling takut dengan petir," ucap wanita itu.

"Aku juga takut dengan petir," gadis itu melihat ke arah jendela yang terbuka sedikit dan terlihat hujan masih begitu deras.

"Apa tidak berbahaya kita berteduh di sini?" Tanya wanita itu.

"Mudah-mudahan tidak, kita mau berteduh di mana lagi? Hanya gubuk ini tempat yang paling aman. Jarak dari sini ke rumah penduduk sangat jauh."

"Iya," jawab wanita itu. "Ngomong-ngomong kita belum berkenalan. Aku Asih. Panggil saja aku Asih, walau sepertinya kamu lebih muda dariku."

"Aku Cinta," jawab gadis itu kembali berdiri.

"Nama yang cantik, secantik yang punya nama," puji Asih.

"Terima kasih," jawab Cinta melihat sebuah wadah dari bambu yang tidak jauh berbeda dari miliknya di atas meja berisikan sayuran segar dan cabe merah.

"Itu sayuran yang aku petik tadi dari kebun," Asih seperti tahu dengan apa yang sedang dipikirkan Cinta.

"Sayurannya segar-segar."

"Aku sendiri yang menanam sayurannya. Kalau kamu mau, boleh kamu ambil. Kita bagi dua," Asih mengambil wadah miliknya.

"Eh, tidak usah. Itu punyamu, pasti kamu sangat membutuhkannya sampai hujan-hujan kamu memetiknya," Cinta menolaknya.

"Tidak apa-apa. Ini juga terlalu banyak buatku. Di rumah aku hanya tinggal berdua dengan Nenek." Asih mengambil beberapa sayuran dalam wadah miliknya dan dimasukkan ke dalam wadah milik Cinta yang terlihat kosong.

"Benar ini tidak apa-apa?" Tanya Cinta untuk lebih memastikan.

"Iya, ini untukmu. Masak dengan enak sayurannya di rumahmu."

"Terima kasih," jawab Cinta senang melihat wadahnya sekarang terisi sayuran.

"Kamu sendiri darimana?" Tanya Asih. "Sampai bisa berada di tempat seperti ini."

"Aku tadi dari kebun. Niatnya mau mencabut singkong, tapi belum juga dapat singkongnya sudah hujan, turun begitu deras," jawab Cinta.

Selagi mereka asik bicara, tiba-tiba pintu didorong dari luar kemudian masuk tiga orang pria dengan tubuh setengah basah serta tangan yang memegang daun pisang yang lebar.

Cinta dan Asih serta tiga pria itu saling berpandangan dalam beberapa saat.

"Maaf, kami kira tidak ada orang," ucap salah satu pria yang tubuhnya lebih pendek dari kedua temannya.

"Biasanya kami kalau lewat gubuk ini tidak pernah ada orang," sambung pria yang kulitnya lebih putih melihat Cinta dan Asih dari atas sampai bawah.

Sementara pria yang satunya lagi tidak bicara, tapi sorot dari kedua bola matanya terlihat tidak bersahabat.

Cinta dan Asih tanpa sadar saling berpegangan tangan, karena melihat gerak-gerik dan mata ketiga orang tersebut sangat tidak bersahabat.

"Kalian berdua dari kebun?" Tanya pria berkulit putih melihat wadah yang ada di atas meja penuh dengan sayuran segar.

"Iya," jawab Asih mencoba bersikap sewajarnya agar tidak terlihat ketakutan.

Salah satu dari ketiga pria tersebut yang bertubuh pendek melangkah mendekati Asih dan Cinta. "Kalian hanya berdua di sini?"

"Iya," jawab Cinta semakin erat memegang tangan Asih. "Kami kehujanan."

"Rumahmu di mana?" Tanyanya lagi.

"Tidak jauh dari sini," jawab Asih tetap bersikap biasa saja.

"Setahuku kampung yang terdekat dari sini cukup jauh," ucap pria berkulit putih. "Kami sering melewati tempat ini, jadi kami tahu jarak setiap kampung ke kampung yang lainnya."

"Kalian bukan penduduk sini?" Tanya Cinta.

"Bukan, kami hanya sedang melewati tempat ini saja," jawabnya.

Tiba-tiba terdengar petir yang menggelegar sehingga membuat Cinta dan Asih menutup kedua telinganya karena terkejut, tapi berbeda dengan ketiga pria tersebut yang sama sekali tidak terpengaruh dengan suara petir.

Salah satu pria yang dari tadi tidak bicara, tiba-tiba datang mendekati Cinta dan Asih. "Kalian berdua sangat cantik."

Cinta dengan cepat memegang tangan Asih karena takut. "Terima kasih."

"Aku tidak bohong," ucapnya lagi sambil melihat Cinta dari atas sampai bawah. "Bukankah begitu teman-teman, gadis ini sangat cantik?"

"Iya betul. Sepertinya mereka kembang Desa," jawab pria berkulit putih.

Asih melihat pria yang ada di depannya sudah penuh dengan kecurigaan. Digenggamnya tangan Cinta jika sewaktu-waktu mereka berdua harus lari karena tindak tanduk ketiga pria tersebut sudah tidak wajar.

"Jangan takut, kami tidak berbahaya. Ha-ha-ha," pria yang bertubuh pendek tertawa.

Asih melihat ke arah jendela, hujan terlihat masih deras tapi tidak sederas tadi. "Hujan sudah mulai reda, kami akan pulang."

"Kenapa terburu-buru?" Tanya pria berkulit putih sambil menutup pintu rapat-rapat untuk mencegah kedua gadis itu ke luar.

Lanjut Membaca

Daftar Isi AKU JATUH CINTA KEPADAMU

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Menikahi pria yang pernah ditolak di masa lalu membawa dilema besar dalam sebuah perjodohan. Apakah dia bertahan karena cinta yang tersisa, atau justru merencanakan balas dendam atas luka lama? Sebagai pasutri, mereka dipaksa menjalani komitmen di tengah bayang-bayang masa lalu yang kembali mengusik ketenangan. Di dunia Chronophile, di mana waktu sangat dihargai, rahasia dan konflik mulai menguji kesetiaan mereka dalam mempertahankan rumah tangga ini.
Sampul Novel Cinta & Pengorbanan Alya
8.5
Alya terjebak dalam keputusasaan saat ibunya, Kartika, butuh biaya medis besar dan donor organ langka. Di tengah krisis ini, Niko, pengusaha kaya yang mendambakan anak, menawarkan kesepakatan menjadi ibu pengganti demi kesembuhan Kartika. Meski ragu, Alya setuju demi nyawa ibunya. Namun, benih cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, memicu dilema emosional. Saat rahasia besar terungkap, pandangan mereka tentang arti cinta dan keluarga pun berubah selamanya.
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Demi melindungi nyawa buah hati yang tidak berdosa, Neva Zetrix terjebak dalam situasi yang sangat memilukan. Ia terpaksa menekan harga dirinya dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson setiap hari. Perjuangan hidup Neva ini didorong oleh kasih sayang seorang ibu yang rela melakukan apa pun demi sang anak. Di tengah tekanan dari sosok Brian yang dominan, Neva harus bertahan dalam dinamika hubungan yang penuh dengan pengorbanan batin.
Sampul Novel Istri Pengganti
9.7
Rayhan yang hancur karena dikhianati calon istrinya nekat memaksa Zahra menikahinya demi melampiaskan rasa kecewa. Zahra pun terkejut dan menolak mentah-mentah tawaran gila tersebut. Namun, Rayhan tak menyerah dan menjanjikan sebuah butik sebagai imbalan jika Zahra mau menggantikan posisi mempelai wanita yang kabur. Akankah Zahra menerima kesepakatan ini dan sanggup menjalani kehidupan sebagai istri pengganti bagi pria dingin seperti Rayhan?
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Duniaku runtuh saat menangani pasien VIP bernama Evelyn Santoso. Tunangan yang ia tangisi adalah suamiku, Bima. Namun di foto itu, dia adalah Brama Wijaya, taipan kejam, bukan pria konstruksi yang kurawat saat amnesia. Brama masuk tanpa mengenaliku, lalu memeluk Evelyn dan membisikkan janji setia yang sering ia ucapkan padaku. Melalui tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami adalah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Fatma menghadapi cobaan berat saat divonis menderita kanker rahim stadium lanjut yang memupus harapannya memiliki anak. Demi kebahagiaan Satria, ia rela meminta suaminya menikah lagi. Namun, kenyataan pahit terungkap bahwa Satria selama ini tidak pernah mencintainya. Meski Satria sempat menolak karena enggan menyakiti hatinya, Fatma tetap memohon dengan penuh air mata agar permintaan terakhirnya dipenuhi sebagai bentuk pengorbanan cinta yang tulus.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan