APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Tidak Butuh Belas Kasihanmu!

Aku Tidak Butuh Belas Kasihanmu!

Kania berjuang sendirian menyelamatkan Arka, putranya yang kritis di ICU, setelah diceraikan suaminya karena dianggap melahirkan anak penyakitan. Cobaan kian berat saat mantan mertuanya terus menghalangi setiap upaya pengobatan bagi sang buah hati. Meski merasa terpojok oleh dunia yang kejam, sebuah peristiwa tak terduga akhirnya memaksa Bagas menghadapi kenyataan pahit yang selama ini ia hindari. Kania membuktikan ia tidak butuh belas kasihan siapa pun.
Bab
Bagikan

Bab 3

Udara pagi masih dingin saat mobil ambulans berhenti di depan pintu masuk Rumah Sakit Bina Sehat, Jakarta. Kania turun lebih dulu, lalu membantu suster memindahkan Arka yang masih terbaring lemah di atas ranjang dorong.

Mata Kania menatap sekeliling. Rumah sakit ini jauh lebih besar, lebih modern, dan lebih bersih dibanding rumah sakit sebelumnya. Harapan yang sempat remuk mulai tumbuh kembali.

"Bu Kania?" Seorang perawat mendekat. "Saya dari tim ICU anak. Kami sudah terima berkas rujukannya. Silakan ikut saya."

Reza, yang menyusul dengan membawa koper kecil berisi pakaian dan perlengkapan Arka, berjalan di belakang mereka. Pria itu nyaris tak lepas dari sisi Kania sejak beberapa hari terakhir. Bukan hanya membantu soal dana, tapi juga jadi satu-satunya orang yang benar-benar hadir untuk Kania dan Arka.

Begitu masuk ruang ICU anak, tim medis segera bergerak. Kania hanya bisa menunggu di luar sambil menatap jendela kaca dengan jantung berdebar. Ia tak tahu seberapa besar peluang anaknya untuk pulih. Tapi ia sudah berikan segalanya.

Reza duduk di bangku tunggu, diam. Lalu ia menoleh pada Kania.

"Ibu harus istirahat. Wajah Ibu pucat sekali."

Kania memaksakan senyum. "Saya baik-baik saja."

"Tidak, Ibu tidak baik. Sudah berapa malam nggak tidur?"

"Dua. Atau tiga. Saya lupa," jawab Kania, berusaha meredakan kecanggungan dengan tawa kecil.

Reza menghela napas. "Saya pesan penginapan dekat sini. Kalau Ibu berkenan, bisa dipakai istirahat sementara. Saya bayar pakai dana operasional yayasan."

Kania menggeleng cepat. "Pak Reza sudah banyak bantu. Saya nggak enak."

"Ibu butuh energi. Arka butuh Ibu dalam kondisi terbaik," kata Reza tegas.

Kania menunduk, akhirnya mengangguk pelan.

Malam di Penginapan

Kania berdiri di balkon kecil penginapan sederhana itu. Angin malam berhembus lembut, membuat rambutnya tergerai. Ia menatap lampu-lampu kota Jakarta yang gemerlap. Namun pikirannya jauh dari kata tenang.

Ia mengingat masa-masa awal menjadi ibu.

Saat Arka lahir, ia adalah bayi yang rapuh. Berat badannya di bawah normal, pernapasannya lemah. Sejak itu, hidup Kania diisi oleh rumah sakit, obat, dan kunjungan rutin ke dokter.

Awalnya, Bagas masih mendampingi. Tapi perlahan, ia menjauh. Setiap demam kecil membuatnya marah, setiap tagihan rumah sakit membuatnya menggerutu. Sampai akhirnya, perceraian itu terjadi.

"Aku butuh istri, bukan perawat anak sakit," kata Bagas saat itu.

Kata-kata itu masih membekas. Pedih. Mengoyak harga dirinya sebagai ibu sekaligus istri.

Kini, Kania menatap ke dalam kamar. Reza sudah tertidur di sofa, masih mengenakan jas tipisnya. Pria itu terlalu banyak membantu-lebih dari yang bisa ia harapkan dari orang asing.

Kania duduk di lantai, memeluk lutut. Tangisnya pecah pelan. Bukan karena lelah, tapi karena ia merasa... tak sendiri lagi.

Pagi Hari

Telepon dari rumah sakit membangunkan Kania. Suara dokter di ujung sana membuatnya hampir menjatuhkan ponsel.

"Bu Kania, Arka mengalami penurunan saturasi oksigen drastis semalam. Kami butuh izin segera untuk tindakan darurat. Jika terlambat, dampaknya bisa fatal."

Kania segera berlari keluar kamar. Reza yang terbangun ikut menyusul, tanpa tanya.

"Dok, lakukan apa pun yang perlu. Saya izinkan," kata Kania panik begitu tiba di ICU.

Dokter mengangguk. "Kami akan pasang alat bantu napas invasif. Ini prosedur terakhir sebelum opsi operasi."

Kania menahan napas. "Kalau sampai harus operasi..."

"Biayanya akan jauh lebih besar. Bisa ratusan juta. Tapi... mari kita berdoa tindakan ini cukup."

Reza menggenggam bahu Kania pelan. "Arka kuat. Kita percaya itu."

Sementara Itu, di Tempat Lain

Bagas menatap layar ponselnya lama. Ia membuka unggahan penggalangan dana Kania yang kini sudah menyebar luas. Di foto itu, Arka terlihat kurus dan pucat dengan banyak selang di tubuh mungilnya.

Komentar-komentar netizen penuh doa dan simpati.

Tapi ada juga yang mulai mempertanyakan:

"Ayahnya ke mana? Kok diam aja?"

"Mana tanggung jawab si ayah? Laki-laki nggak tahu malu."

Bagas mendengus, melempar ponselnya ke sofa. Tapi rasa gelisah sudah mulai merayapi dadanya. Ia bangkit dan mengambil kunci mobil.

Hari Ketiga di Rumah Sakit Baru

Arka masih terbaring, namun alat bantu napas mulai menunjukkan hasil. Saturasi oksigennya naik perlahan. Dokter bilang, kondisi Arka stabil tapi masih kritis.

Kania nyaris tak beranjak dari kursi tunggu.

Suatu siang, dokter spesialis jantung anak datang membawa kabar yang mengejutkan.

"Kami curiga Arka mengalami kelainan jantung bawaan. Tapi butuh CT scan khusus dan MRI untuk memastikannya. Biayanya tidak kecil, Bu."

Kania terdiam. Ia menatap Reza yang duduk di seberangnya.

"Berapa, Dok?" tanyanya lirih.

"Sekitar 18 juta untuk semua prosedur."

Angka itu membuat dunia Kania runtuh lagi.

Reza langsung bergerak. Ia membuka laptop, mulai menyusun proposal bantuan darurat untuk yayasan pusat.

"Saya nggak janji bisa penuhi semua, Bu. Tapi saya akan coba."

Sore Hari

Kania mendapat pesan dari nomor tak dikenal.

"Aku di Jakarta. Besok aku ke rumah sakit."

Ia mengenali nomor itu. Bagas.

Kania tercekat. Kenapa tiba-tiba muncul?

Keesokan harinya, Bagas benar-benar datang.

Ia berdiri kikuk di depan ruang ICU. Reza berdiri di sisi lain, mengamati dengan tatapan hati-hati.

"Gimana dia?" tanya Bagas.

Kania menatap mantan suaminya itu dengan mata dingin. "Kenapa kamu datang?"

Bagas terdiam. "Aku lihat berita soal Arka. Aku... cuma mau tahu keadaannya."

"Kamu pikir aku butuh simpati kamu sekarang?"

"Ka... aku ayahnya."

"Bukan," Kania menatap tajam. "Ayah nggak ninggalin anaknya pas sakit. Ayah nggak nyalahin anak kecil karena dia lahir lemah."

Reza melangkah maju. "Maaf, Pak. Kania butuh ketenangan. Kalau hanya datang untuk membuka luka lama, lebih baik jangan."

Bagas menoleh, menatap Reza dengan tajam.

"Kamu siapa, sok bela-bela Kania?"

"Saya orang yang peduli. Yang tidak pernah pergi saat dia butuh."

Kania menahan emosi. "Sudah cukup. Aku nggak butuh pertengkaran di depan anakku."

Bagas mendesah. "Aku akan transfer uang. Nggak banyak, tapi semoga bisa bantu."

Kania tidak menjawab.

Malam Itu

Kania dan Reza duduk di taman kecil rumah sakit.

"Aku benci dia, tapi... mungkin aku juga salah," bisik Kania.

Reza menatapnya. "Ibu terlalu keras pada diri sendiri."

Kania mengangguk. "Aku cuma... ingin jadi ibu yang cukup."

Reza tersenyum. "Ibu lebih dari cukup. Dan Arka tahu itu."

Mereka terdiam. Angin malam menyapu pelan.

Penutup Bab

Hari keempat, hasil tindakan medis menunjukkan kabar baik. Arka menunjukkan respons signifikan terhadap perawatan.

Operasi mungkin bisa ditunda. Tapi ancaman tetap ada.

Di sisi lain, Reza makin dekat dengan Kania. Bukan karena iba, tapi karena kekaguman dan hormat. Namun perasaan itu mulai membuatnya ragu-ia tak ingin terlihat mengambil kesempatan di tengah penderitaan.

Sementara itu, Bagas mulai dihantui rasa bersalah. Ia melihat dunia luar memojokkannya, dan untuk pertama kalinya... ia bertanya dalam hati:

"Apakah aku benar-benar ayah?"

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Gengsi dan Hati Yang Tersakiti
8.1
Nayara Elvard, desainer ambisius, terjebak pernikahan kontrak dengan Arshen Daveraux, pengusaha dingin dan perfeksionis. Meski Arshen terus menjaga jarak dan menolak perhatian, Nayara yang ceria justru tertantang untuk mencairkan kekakuan suaminya itu. Di tengah konflik kepribadian dan gengsi yang tinggi, Nayara bertekad membuktikan adanya cinta di balik sikap kaku Arshen. Akankah perasaan tulus tumbuh melampaui batasan kontrak yang mengikat mereka?
Sampul Novel Brondong Bucin
8.3
Dunia Aira runtuh total setelah kepergian sang suami. Sebagai ibu tunggal, ia sempat terpuruk dalam duka hingga melalaikan ketiga buah hatinya. Sadar kesedihan tak akan memberi makan, Aira mencoba bangkit demi masa depan mereka. Di tengah perjuangan berat itu, takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda yang mencintainya dengan sangat ugal-ugalan. Namun, mampukah cinta mereka bertahan saat rintangan baru mulai menguji keteguhan hati Aira kembali?
Sampul Novel Hingga Menjadi Kita
9.7
Nissa, seorang siswi SMA, menaruh hati pada guru Bahasa Indonesianya yang masih muda dan rupawan, Ilyas. Berbagai upaya ia kerahkan demi memikat perhatian sang guru di sekolah. Namun, akankah Ilyas membalas perasaan muridnya tersebut? Ataukah perbedaan usia dan status menjadi penghalang besar? Di tengah kebimbangan, muncul pilihan bagi Ilyas untuk menikahi wanita dewasa. Akankah cinta remaja Nissa berakhir manis atau justru bertepuk sebelah tangan?
Sampul Novel Istri Pengganti Tuan Muda!
8.8
Demi menjaga martabat keluarga Wijaya dan Maduswara, seorang ayah memohon kepada putrinya untuk menjadi pengantin pengganti. Jika pernikahan besar ini sampai batal, reputasi leluhur mereka akan hancur seketika. Tak hanya itu, nasib perusahaan yang telah dibangun sang ayah selama bertahun-tahun kini berada di ujung tanduk. Sang putri pun dihadapkan pada pilihan sulit untuk menyelamatkan kehormatan serta masa depan bisnis keluarganya.
Sampul Novel Kubiarkan Kau Bersama Selingkuhanmu
9.1
Betapa hancurnya hatiku saat mengetahui Arza, suamiku sendiri, berselingkuh dengan Zorah. Padahal, selama ini aku yang membiayai hidup janda dari mendiang kakakku itu. Sungguh kejam cara Zorah membalas segala kebaikanku. Namun, aku tidak akan tinggal diam meratapi pengkhianatan ini. Aku telah menyiapkan serangkaian kejutan menyakitkan yang akan menghancurkan hidup mereka berdua. Kini saatnya para pengkhianat itu merasakan pembalasanku yang tak terduga.
Sampul Novel Menikah dengan Tuan Muda Aneh
9.3
Sania terjebak dalam kesepakatan pernikahan dengan Devandra Adiwiyatama demi memenuhi wasiat sang ayah. Meski ditentang keras oleh ibu Devan, Nyonya Hartati, Devan tetap memaksa Sania memenuhi kewajibannya sebagai istri untuk memberikan keturunan. Sania yang gugup tak berdaya melawan kontrak yang telah ia tandatangani. Akankah benih cinta tumbuh di tengah tuntutan ini, ataukah Devan akan melepaskan Sania setelah tujuannya memiliki ahli waris tercapai?