APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Alisha: Wanita yang Kau Sia-siakan

Alisha: Wanita yang Kau Sia-siakan

Alisha hancur saat Rama, suami yang ia cintai, berselingkuh dengan seorang aktris. Tanpa kata maaf dari Rama, ia pergi membawa luka dan mulai mencari kerja bermodal ijazah SMA. Alisha akhirnya menjadi pengasuh anak Damar, seorang CEO muda. Ketulusan Alisha memikat hati bosnya, namun tiba-tiba Rama muncul kembali untuk meminta rujuk. Kini, Alisha bimbang memilih antara Damar yang tulus atau mantan suaminya yang datang membawa penyesalan mendalam.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sudah satu minggu berlalu sejak Alisha menyaksikan kejadian menyakitkan itu. Sedetik pun bayangan dua orang yang teramat serasi itu tak pernah hilang dari ingatannya. Di malam saat Alisha terdiam di tepi ranjang dengan kedua lutut tertekuk, dia mencoba menghubungi Rama. Namun, panggilannya tak kunjung dijawab. Dering ponsel yang disusul oleh suara operator mengiringi malam yang dia lewati dalam gelap.

Hari ini, akhirnya dia mendapat kabar dari Rama. Pria itu mengirim pesan bahwa dia akan pulang karena jadwal suting diundur selama satu minggu. Alisha hanya membaca pesan singkat itu tanpa membalas.

Hingga akhirnya suara mesin mobil yang teramat ia hapal menelisik di antara dinding-dinding yang mulai dingin. Kedua kakinya kembali bergetar. Kedua tangan Alisha segera mendarat di atas kaki berbalut rok putih itu.

Mencoba mengatur nafas, Alisha memejamkan mata. Sofa yang dia duduki kini seakan tertanam paku tajam dan mampu mengoyaknya hingga ke dalam hati. Memunculkan rasa perih yang menjalar ke mata, mengundang lapisan bening yang ia tahan agar tak sampai menetes.

“Alisha.”

Suara berat itu menyebut namanya. Suara yang sama yang mengucap ijab di hari paling bahagianya beberapa bulan lalu. Alisha tak menyahut. Suaranya tertahan di tenggorokan. Saat telinganya bisa menangkap langkah kaki yang mulai mendekat, tangan Alisha bergerak-gerak mencari tiga lembar foto yang dia cetak dua hari lalu.

“Alisha?”

Punggung yang tertutup kerudung itu menegang. Sungguh, Alisha sekarang membenci suara itu. Ingatan saat Rama membisikkan kata cinta pada perempuan lain mengusik kepalanya.

“Kamu ngapain? Suami pulang setelah lembur kerja, malah kamu abaiin?”

Rama berdecak. Dia melempar jaketnya ke sofa lain dan duduk di sana. Di hadapan Alisha. Dia mengenakan kaus polos dan celana hitam. Wajahnya terlihat kusut, padahal hari ini jelas dia tidak merekam adegan apapun.

“Ambilin minum,” perintah Rama.

Gigi Alisha bergemeretak. Namun, dia tetap berdiri. Kaki lemasnya ia paksa berjalan menuju dapur. Ia menuangkan air dingin ke dalam gelas dan kembali ke hadapan suaminya itu. Sebelum meletakkan gelas kaca itu Alisha menyelipkan ketiga lembar foto yang sedari tadi ia genggam di bawahnya.

Rama tak memperhatikan. Tangannya segera meraih gelas yang mulai dipenuhi embun. Dia menghabiskan seisi gelas dalam beberapa tegukan. Saat hendak meletakkan kembali gelas itu di atas meja matanya menangkap beberapa lembar foto dalam keadaan terbalik.

“Apa lagi ini?” tanyanya dengan tangan yang bergerak meraih lembaran persegi itu.

Dengan kedua alis bertaut dia membalik foto pertama. Betapa terkejutnya ia mendapati potretnya dan Rindi yang tercetak di lembaran itu. Foto itu jatuh dari jepitan jari Rama dan tergeletak di atas karpet bulu yang tadi pagi Alisha bersihkan.

Melihat ekspresi Rama Alisha hanya diam. Saat laki-laki itu mengambil lembar foto yang tersisa dan membukanya, lalu merobek semuanya pun dia hanya diam. Dia terus menatap Rama yang sekarang bangkit dari duduknya dengan muka memerah.

“Apa-apaan ini, Alisha?”

Rama berteriak membuat Alisha memejamkan mata. Laki-laki itu bergerak gelisah. Tangannya menyisir rambut, lalu mengusaknya kasar di detik selanjutnya. Bukan hanya wajahnya, matanya pun ikut memerah.

“Jawab!”

Alisha mengambil nafas dalam. Dia mendongak, menatap Rama yang gusar.

“Seharusnya aku yang tanya.”

“Kamu mau ancam aku, Alisha? Bilang, dari mana kamu dapat foto ini?” Telunjuk Rama terarah tepat di depan hidung Alisha.

“Aku ada di sana, Mas. Di kafe Cempaka.”

Rama diam. Dua detik berselang dia berteriak frustrasi, berbalik dan menjambak rambutnya. Kepalanya penuh oleh kemungkinan buruk. Maka, dia memutari meja dan berdiri tepat di depan Alisha. Kedua matanya melotot lebar.

“Kamu mau apa? Maksud kamu apa lakuin ini, hah?” Rama kembali berteriak, kini tepat di depan Alisha.

Alisha hingga memejamkan mata dan menahan nafas. Bau menyengat alkohol keluar dari mulut lelaki di depannya ini. Melihat reaksi Rama yang sangat sensitif, sepertinya benar dia mabuk.

Kedua tangan Alisha mengepal. “Kamu habis minum?"

“Apa? Kenapa? Terserah aku, nggak usah ngatur-ngatur!”

Alisha mengangguk. Biasanya Alisha akan mengomeli Rama dan berakhir menangis agar suaminya itu tak menyentuh minuman keras lagi. Namun, kali ini berbeda. Ia merasa tak punya hak. Dan ia merasa tak perlu mengingatkan lagi setelah terlalu sering diabaikan.

“Kamu mau ngancam aku, iya? Kamu mau apa? Jangan diem aja!”

“Aku butuh penjelasan kamu, Mas. Kenapa kamu lakuin ini?

Setiap kata yang keluar dari bibirnya ia tekan agar Rama benar-benar mendengarkan. Alisha tak ingin mengakhiri pernikahannya begitu saja. Mungkin Rama akan meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Kalau pun tidak, setidaknya dia bisa mendapat penjelasan. Alisha sungguh ingin mendengar alasan dari pengkhianatan Rama juga sifat suaminya itu yang berubah.

“Aku cinta sama dia,” ucap Rama menunjuk foto yang sudah terbagi menjadi beberapa keping.

Mulut Alisha terkatup rapat. Dia memalingkan kepalanya, tak ingin melihat Rama. Rasa panas merambat ke matanya. Hanya butuh satu kedipan dan cairan bening di sana akan turun membasahi pipi. Dengan sekuat tenaga Alisha menahan tangisnya.

“Lalu aku ini apa, Mas? Aku ini kamu anggap apa?” lirihnya.

Rama mundur hingga terduduk di atas meja. Dia menatap Alisha lurus. “Kamu istriku,” jawabnya enteng.

Tentu itu bukanlah jawaban yang Alisha duga akan terlontar dari mulut Rama. Kepalanya berpaling cepat, kembali menatap Rama. Mulut Alisha terbuka, tapi tak satu pun kata bisa ia ungkapkan. Setelah mengakui bahwa ia mencintai perempuan lain, bagaimana bisa Rama menjawab seperti itu.

“Kamu benar-benar nggak peduli perasaanku, Mas? Sedikit pun, pernah kamu anggap aku sebagai istri yang perlu dihargai?” Air mata Alisha mengering. Emosi di dadanya meluap, membuatnya tanpa sadar menaikkan suara.

“Kamu berani bentak suami kamu?” Rama berdiri. Terlihat jelas amarahnya kembali.

Alisha ikut berdiri. Dengan sejengkal jarak di antara mereka, Alisha berani mengangkat wajah. Dia membalas tatapan penuh amarah Rama. Dia yang lebih berhak kecewa dan marah di sini.

“Kenapa? Apa aku salah? Aku selama ini menahan semua perubahan kamu. Kamu nggak pernah pulang, nggak pernah kasih kabar. Kamu pun sering bentak-bentak aku. Aku nggak pernah protes maupun marah, Mas. Tapi … nggak dengan perselingkuhan.”

Mata Rama bergetar. Alisha bisa melihat amarah besar di sana. Mungkin Rama sedang merasa harga dirinya direndahkan hanya karena ucapan Alisha yang sepenuhnya benar.

“Alisha! Kamu berharap apa? Kamu pikir aku bisa bertahan dan setia sama perempuan kayak kamu? Aku malu punya istri kayak kamu!” teriak Rama.

“Semua selebriti punya istri yang cantik, pintar, seksi. Sedangkan kamu? Kamu pikir aku bahagia nikah sama kamu?”

Terlalu banyak. Terlalu banyak yang Rama katakan. Kaki Alisha lemas. Dia mundur perlahan dan jatuh terduduk di atas sofa yang masih hangat. Tanpa bisa ia cegah air matanya menetes.

“Mas—“ Alisha tak sanggup melanjutkan ucapannya. Dia menunduk, menangkup wajahnya dengan kedua tangan.

Rama diam. Dia berkedip dan baru menyadari apa yang dia katakan. Dia menjambak rambut untuk menghilangkan pening akibat alkohol. Matanya memejam kuat. Apa yang sudah dia katakan pada Alisha?

Dengan langkah sedikit goyah Rama meraih jaketnya di atas sofa. Sebelum pergi ia menatap pundak Alisha yang bergetar lalu beralih pada potongan foto di atas karpet. Dia menggeram pelan.

“Tunggu!” seru Alisha dengan suara serak. Dia menghapus air mata di wajahnya dan hanya meninggalkan hidung juga mata yang memerah.

“Apa lagi?” Rama bertanya tanpa berbalik. Tangannya mengais udara untuk mencari dinding sebagai penopang tubuh. Pening di kepalanya semakin menjadi-jadi. Sudah lama dia tidak menegak minuman berbau menyengat itu, membuat tubuhnya bereaksi berlebihan saat kembali menegaknya dalam jumlah banyak.

“Seperti ini akhirnya, Mas? Pernikahan kita … hanya sampai sini saja?”

Suara bergetar Alisha menelisik ke dalam telinga Rama. Pria itu menggertakkan gigi dengan tangan mengepal kuat.

“Kamu yang ingin begitu, kan?”

Alisha memutar tubuhnya hingga bisa menatap punggung Rama. “Aku?” tanyanya lemah.

“Kalau kamu nggak lakuin hal kayak gini, pernikahan kita bakal tetep baik-baik aja.”

Mendengar ucapan Rama Alisha langsung bangkit berdiri. Dia tertawa miris dengan mata menatap lurus punggung Rama.

“Ini diri kamu yang sebenarnya, Mas? Ternyata yang selama ini kamu tunjukkin ke aku itu cuma topeng?” Alisha mendongak, menatap langit-langit yang seakan bergerak semakin dekat. Menjepitnya.

“Terserah kamu ngomong apa.” Rama melirik singkat.

“Oke, kalau itu mau kamu.” Alisha menarik nafas dalam. “Detik ini juga … talak aku, Mas.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Sang Mantan Kekasih yang Dikhianati
8.4
Aryan Adhitama, CEO berhati dingin, terpaksa menikahi Alana Shafira setelah sebuah jebakan obat perangsang membuatnya merenggut kesucian perawat kakeknya itu. Pernikahan ini digelar demi tanggung jawab dan nama baik keluarga, meski Aryan hanya menganggap Alana sebagai beban. Alana pun terjebak dalam penderitaan batin bersama pria yang membencinya. Di tengah perbedaan status dan rahasia kelam, mampukah cinta tumbuh dari paksaan dan kesalahpahaman?
Sampul Novel Dibuang suami kere dinikahi Dokter Tajir
8.0
Silvia hancur setelah dikhianati suaminya yang berselingkuh. Di tengah luka itu, ia bertemu Dokter Dana akibat sebuah insiden kecil. Saat benih cinta mulai tumbuh, ayah Silvia yang hilang sepuluh tahun kembali sebagai konglomerat dan menjodohkannya dengan pria lain demi balas budi. Kini Silvia terjepit antara cintanya pada Dana atau takdir pilihan ayahnya. Sementara itu, sang mantan suami mulai menyesal melihat Silvia kini menjadi wanita terhormat.
Sampul Novel Duet Maut Janda dan CEO Badass
8.2
Vina Pryanika, janda berusia 29 tahun, terdesak secara ekonomi pasca perceraian. Dalam kondisi mabuk, ia tak sengaja menampar Eros Gaharu, CEO teknologi yang dikenal kejam dan tempramental. Eros pun meniduri Vina yang tak berdaya sebagai balasan. Di sisi lain, Vina berambisi menghancurkan keluarga mantan suaminya. Keduanya akhirnya menjalin kolaborasi maut demi membalas dendam masing-masing. Namun, akankah kerja sama ini berubah menjadi sesuatu yang tak terduga?
Sampul Novel Keluar dari Kepompong
8.7
Emma Fowler kembali ke tanah air setelah tiga tahun, namun ia justru berakhir di ranjang Nathan Tate sebagai pendamping. Nathan terpesona tanpa menyadari identitas asli Emma. Saat Emma menagih janji pernikahan lama mereka, Nathan menolak dingin dan menganggapnya hanya saudara. Kecewa, Emma memutuskan hubungan sepuluh tahun itu. Namun, saat ia hendak pergi selamanya, Nathan justru berlutut memohon agar Emma tidak meninggalkannya dan menepati janji lama mereka.
Sampul Novel Kembalinya Sang Mantan Istri yang Agung
9.5
Bram mengkhianati cinta tulus istrinya demi Hesti yang tiba-tiba muncul. Di tengah vonis kanker dan duka kehilangan orang tua, sang istri dipaksa bercerai atas tuduhan palsu. Setelah memalsukan kematian demi lepas dari penderitaan, ia melepaskan identitas lamanya yang lemah. Tiga tahun berlalu, ia bertransformasi menjadi Aurora Morgan yang berkuasa. Kini ia kembali untuk menuntut balas atas segala luka dan penghinaan yang pernah Bram torehkan di masa lalu.
Sampul Novel Mantanku yang Berhati Dingin Menuntut Pernikahan
9.2
Carrie terjebak dalam pernikahan kontrak yang dingin dengan Kristopher hingga ia tak sengaja jatuh cinta. Namun, saat krisis melanda, suaminya justru memilih wanita lain. Merasa dikhianati, Carrie pun memutuskan bercerai. Saat Carrie mulai bangkit dan dikelilingi banyak pria, Kristopher baru menyadari penyesalannya. Demi mendapatkan kembali mantan istrinya, ia menawarkan mahar 40 miliar rupiah dan menuntut sebuah pernikahan baru yang penuh ambisi.