APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Antara Dendam & Penyesalan

Antara Dendam & Penyesalan

Lima tahun menikah, Sofia hanya mendapat pengkhianatan dari Adrian yang memendam dendam pada keluarganya. Saat Sofia berjuang melawan kanker, Adrian justru bersama wanita lain. Setelah ayahnya koma dan rahasia pernikahan terbongkar, Sofia memilih mengakhiri hidup demi melunasi utang masa lalu. Kepergian tragis itu menghancurkan Adrian dalam penyesalan mendalam. Ia bersimpuh memohon maaf, namun segalanya sudah terlambat karena Sofia telah pergi membawa luka yang tak tersembuhkan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Selama berhari-hari setelah percakapan itu, Sofia merasa seperti terjebak dalam kehampaan yang tak berujung. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, seolah-olah dunia menekan tubuhnya dengan kekuatan yang luar biasa. Rumah itu, yang dulunya terasa hangat dan penuh cinta, kini terasa begitu asing. Setiap sudut, setiap ruangan, bahkan udara yang ia hirup di rumah itu terasa menyesakkan, seperti racun yang perlahan menyusup ke dalam tubuhnya.

Sofia tahu, apa yang ia lakukan dengan menyerahkan surat cerai itu bukanlah sebuah keputusan yang mudah. Namun, saat ia berdiri di depan Adrian tadi, ia merasakan sebuah beban yang begitu berat di bahunya. Tidak hanya karena penyakitnya yang semakin menggerogoti tubuh, tetapi juga karena kenyataan pahit yang harus ia terima—bahwa pernikahannya selama ini hanyalah sebuah permainan, sebuah cara bagi Adrian untuk membalas dendam kepada keluarganya. Setiap kata yang diucapkan Adrian terngiang di telinganya, semakin menambah pedih. "Ini bukan tentang cinta. Ini tentang membayar utang keluargamu kepada keluarga kami." Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, seperti sebuah mantra yang terus mengiris jantungnya.

Hari-hari setelah itu semakin kelam. Sofia merasa dirinya semakin tenggelam dalam kegelapan, namun ia berusaha untuk tetap berdiri. Namun, ia tahu, tubuhnya semakin lemah. Setiap gerakan terasa berat, dan rasa sakit yang ia rasakan di tubuhnya semakin tak tertahankan. Kanker yang menggerogoti tubuhnya tak memberikan ampun. Namun, rasa sakit fisik itu masih kalah pedih dibandingkan dengan luka yang ada di hatinya. Luka yang tak akan pernah sembuh.

Malam itu, Sofia terbaring di tempat tidurnya, matanya menatap langit-langit yang gelap. Ia mencoba untuk tidur, tetapi pikirannya tidak bisa berhenti berputar. Semua yang terjadi, semua yang telah dia korbankan, terasa sia-sia. Dalam keheningan malam itu, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Entah karena tubuhnya yang semakin lemah atau karena perasaan yang sudah terlalu lama tertahan, ia merasa seperti ada kekosongan yang begitu dalam. Kekosongan yang tak bisa diisi oleh apa pun.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka, dan sosok yang selama ini ia harapkan ada di sampingnya, Adrian, berdiri di ambang pintu. Melihatnya, Sofia merasakan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ia merasa marah. Marah karena pria yang pernah ia cintai ini ternyata tidak pernah mencintainya. Namun, di sisi lain, ada sesuatu yang lebih mendalam, sebuah kerinduan yang tak pernah hilang. Meskipun ia tahu bahwa semua ini tidak akan pernah kembali, hatinya yang terluka tak bisa menahan dirinya untuk tidak merindukan Adrian.

Adrian berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. Ada rasa bersalah yang terlihat samar di wajahnya, namun itu hanya bertahan sejenak. "Sofia," panggilnya dengan suara yang lemah. "Aku... aku tahu aku telah melakukan kesalahan. Aku tahu aku tak seharusnya bersikap seperti itu."

Sofia menatapnya, tak bisa lagi menahan air mata yang menggenang di matanya. “Kau tahu?” suaranya serak, hampir seperti bisikan. “Kau tahu betapa dalamnya luka yang kau buat? Kau tahu betapa sakitnya melihatmu bersama wanita itu, sementara aku... aku terbaring di sini, sakit, menahan semua rasa sakit ini sendirian?”

Adrian mendekat, perlahan. Langkahnya terasa berat, seolah-olah ia pun terperangkap dalam penyesalan yang tak terucapkan. Ia duduk di sisi tempat tidur Sofia, namun jaraknya tetap jauh. “Sofia... aku minta maaf. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa sekejam itu padamu. Aku... aku hanya terjebak dalam kebencian yang tak pernah bisa kulepaskan. Aku... aku rasa ini semua adalah cara untuk membalaskan dendam.”

Sofia menundukkan kepala, menahan isak tangisnya yang semakin sulit dikendalikan. “Dendam? Jadi aku ini hanya menjadi alat balas dendammu? Jadi semua yang kita jalani ini hanya permainan untukmu?” tanya Sofia dengan suara yang hampir tak terdengar. "Apakah aku hanya sebuah cara untuk membuat keluargamu menderita? Apakah aku hanya sekadar bayangan dari wanita yang seharusnya ada di sisimu?"

Adrian terdiam, wajahnya tampak bingung dan tersiksa. “Sofia, aku—aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku tahu aku tidak pantas memohon ampun padamu. Aku tahu aku tidak layak. Tetapi, aku ingin kau tahu, bahwa aku tak pernah berniat melukai hati siapa pun, apalagi hati seorang wanita sebaikmu.”

Namun, Sofia sudah tidak bisa lagi mendengarkan kata-kata manis itu. Ia sudah terlalu lelah. Terlalu lelah untuk berharap, terlalu lelah untuk memaafkan. Semua yang terjadi sudah terlalu jauh. "Kau tahu, Adrian," Sofia berkata dengan suara yang terputus-putus, "Aku tidak lagi punya waktu untuk mendengarkan alasan. Waktuku... waktuku sangat terbatas. Aku sudah terlalu lelah menunggu, menahan semua sakit ini. Aku hanya ingin pergi, aku hanya ingin beristirahat."

Adrian meraih tangan Sofia dengan lembut, namun Sofia menariknya dengan cepat. “Jangan sentuh aku,” ia berkata dengan dingin, “Kau sudah cukup menyakiti aku. Aku tidak lagi membutuhkan apapun darimu. Cinta yang kau berikan bukan cinta, itu hanya ilusi yang membuatku terperangkap dalam kebohongan.”

Adrian merasa seluruh tubuhnya terhuyung, seakan-akan dia tidak mampu menanggung beban perasaan yang begitu berat. “Aku tahu, aku tahu aku sudah terlalu jauh menyakiti kamu, Sofia,” suara Adrian hampir tidak terdengar, tersendat-sendat. “Tapi aku tidak bisa... aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku sudah terlalu lama terperangkap dalam kebencian, tapi kini aku hanya ingin kamu tahu satu hal... aku menyesal. Aku menyesal semua yang terjadi. Aku menyesal tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu.”

Namun, Sofia hanya menatapnya dengan tatapan kosong, tidak ada lagi emosi yang terlihat di matanya. Semua yang pernah ada di antara mereka sudah mati. Cinta yang dulu ada kini hanyalah kenangan pahit yang tak bisa digenggam lagi.

“Adrian,” Sofia berbisik pelan, “Semua sudah terlambat.”

Dan dengan itu, ia menutup matanya, berharap bahwa akhirnya ia bisa menemukan kedamaian. Tanpa harus terus menderita dalam hubungan yang hancur, tanpa harus terjebak dalam cinta yang tidak pernah ada.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO Dingin Itu Penyelamatku
7.8
Embun terjebak dalam pernikahan yang menyiksa. Alih-alih kasih sayang, Putra justru menciptakan neraka karena hatinya terpaku pada wanita lain yang sudah Embun anggap kakak sendiri. Meski telah berkorban demi meraih cinta sang suami, perjuangan Embun selalu dipandang sebelah mata. Luka hatinya kian dalam saat Putra menyebut nama wanita itu usai mereka berhubungan intim. Di tengah kepedihan ini, mampukah Embun tetap bertahan saat kehadirannya tak lagi dianggap?
Sampul Novel Cinta Dari Masalalu
9.7
Ratih tidak pernah menduga bahwa perasaannya terhadap Arsenna, teman masa SMA yang ia sukai, akan kembali terusik setelah sebelas tahun berlalu. Pertemuan tak terduga membawa mereka ke dalam rangkaian mimpi aneh yang saling bertautan secara misterius. Di antara batas realita dan dunia fantasi yang tidak biasa, mampukah mereka memahami takdir ini? Ikuti perjuangan Ratih dan Arsenna dalam mencari jawaban atas ikatan masa lalu demi bersatu di masa kini.
Sampul Novel Dia Tidak Tahu Identitas Istrinya Sampai Mereka Bercerai
8.5
Lima tahun silam, Bettina Rowe menyelamatkan nyawa Asher Lambert hingga ia kehilangan kemampuan untuk mengandung. Karena Asher mengaku enggan memiliki keturunan, Bettina terkejut saat suaminya mendadak ingin menggunakan jasa ibu pengganti. Asher memilih Betsy Sugden, mahasiswi yang berwajah mirip Bettina, demi mendapatkan ahli waris. Tanpa Asher sadari, Bettina sudah membulatkan tekad untuk bercerai tepat saat rencana itu diutarakan padanya.
Sampul Novel FAULT
8.7
Trauma masa lalu yang kelam menghancurkan hidup Arista Lucy, mengubah gadis lembut ini menjadi pembunuh bayaran yang dingin dan kasar. Di tengah kobaran dendam yang membara, sosok Evan muncul membawa misteri besar sekaligus ketenangan yang tak terduga. Kehadiran pria tersebut perlahan memberi warna baru dalam hari-hari Arista yang selama ini membatu. Kini, Arista harus menghadapi pergolakan batin antara misi balas dendam dan rasa damai yang dibawa oleh Evan.
Sampul Novel KAMU SINI DONG DEKETAN
8.3
Darwis, seorang wartawan, terjebak konflik asmara rumit saat kekasihnya, Wulan, harus berobat ke luar negeri. Ia menikahi Marlenna yang ternyata mengandung anak Marcel, sementara benih cinta tumbuh antara Darwis dan Arini sebelum maut memisahkan mereka. Situasi kian pelik ketika Wulan sembuh dan Aldi kembali muncul pasca kecelakaan. Di tengah godaan cinta lama dan pengkhianatan, kehadiran bayi mungil bernama Arini menjadi pengikat kesetiaan bagi rumah tangga Darwis dan Marlenna.
Sampul Novel Cinta di Atas Es: Jangan Tinggalkan Aku, Pembohongku yang Menawan
9.0
Nyla merasa diabaikan oleh Ethan yang dingin dan menganggapnya pembohong. Saat menyadari dirinya tak berharga di hati pria itu, Nyla memilih menjauh. Namun, sikap Ethan justru berubah drastis saat Nyla mulai mengambil jarak. Nyla pun menantang alasan Ethan mempertahankannya meski tak ada rasa percaya. Ethan yang dulu angkuh kini justru memohon dengan rendah hati agar Nyla tidak pergi, mengakui kesalahan besar yang telah ia perbuat demi memperbaiki hubungan mereka.