APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bercinta dengan Playboy

Bercinta dengan Playboy

Hati Risa hancur berkeping-keping setelah dikhianati oleh Alan, tunangannya sendiri. Didorong rasa sakit hati, ia nekat menerima tawaran kencan satu malam dari Alva, rekan kerjanya yang dikenal sebagai playboy. Risa berniat menggunakan Alva demi membalas dendam pada Alan. Namun, situasi menjadi rumit karena Alva ternyata sepupu Alan. Akankah pembalasan ini berakhir lancar saat Alan menyadari hubungan terlarang antara tunangan dan saudaranya?
Bab
Bagikan

Bab 2

RISA sudah tidak bisa menghitung berapa kali Alva menyemburkan benih itu ke dalam tubuhnya. Dia merasa sangat lemas, tenaganya hilang tak bersisa, bahkan bibir yang semula bisa mengerang nikmat kini hanya bisa bungkam dan menerima cumbuan panas tanpa bisa membalas.

Jika ditanya, apakah Risa menyesali apa yang telah dilakukannya?

Jawabannya, iya, dia menyesali semua kebodohannya.

Termakan amarah dan terbuai rayuan setan, dia menyerahkan dirinya pada pria playboy bernama Reagan Alvaro. Salah satu temannya yang diam-diam mengincar tubuh Risa sejak pertama kali mereka berjumpa.

Risa mengetahui hal itu sejak lama, tapi dia hanya diam saja, karena Alva tidak pernah memperlakukannya secara kurang ajar.

Tatapan matanya memang melecehkan, bahkan kalimatnya kadang sangat keterlaluan, tapi hanya sekadar itu. Tangannya tidak pernah bergerak untuk macam-macam, bibirnya tidak pernah berusaha merayu dengan cara lebih intim, kecuali sore tadi.

Saat dia mendatangi apartemennya dengan amarah dan kekesalan yang tiada batasnya. Risa ingin menangis, tapi entah kenapa air matanya terasa kering. Dia tidak bisa menangis dan malah meminta Alva untuk melakukan apa yang pria itu inginkan darinya sejak lama.

Yakni ... tidur dengannya.

Risa kembali merasakan ciuman Alva mendarat di sekujur rahangnya, menjalar pelan dari rahang, naik ke pipi, kemudian mampir di bibirnya.

"Lo udah lemes?" tanyanya dengan nada yang lembut dan tampak penuh pengertian. "Mau mandi dulu?" tawaran itu hanya bisa Risa tanggapi dengan anggukkan pelan.

Tubuhnya benar-benar lelah. Hancur lebur dari batin sampai fisiknya. Hatinya yang hancur karena pengkhianatan dan fisiknya yang hancur karena sejak tadi Alva terus menguras semua tenaganya secara perlahan-lahan.

"Bisa mandi sendiri atau mau gue mandiin?" tanya Alva sekali lagi.

Pria itu sudah bangkit dari ranjang, tampak gagah dengan tubuh kekar dan juga miliknya yang masih berdiri tegap dengan sempurna. Padahal dia sudah melakukannya sejak tiga jam yang lalu dan terus menyemburkan benihnya ke dalam tubuh Risa berkali-kali, sampai perempuan itu tak bisa menghitungnya lagi.

Namun, Alva masih bisa berdiri, tegap, gagah, dan sangat perkasa.

Pipi Risa sontak bersemu merah, karena terang-terangan telah menatap tubuh polos Alva yang tak tertutupi kain apa pun. Dia menarik selimut, menutup sampai hidungnya saat membalas, "Gue bisa mandi sendiri."

Tubuhnya lengket. Keringat keduanya bercampur menjadi satu di tubuhnya dan membuat badannya beraroma tidak sedap. Belum lagi bagian lembah kenikmatan yang ia miliki, benih pria itu telah bercampur dengan pelepasannya sendiri dan membuatnya sangat basah sampai ke pahanya.

"Hm ...." Alva hanya menggumam samar. Dia memandangi Risa dengan tatapan yang sulit diartikan, kemudian kepalanya mengangguk perlahan. "Kalau gitu, gue mandi dulu, baru lo yang mandi. Setelah itu, kita bisa makan malam dulu. Oh, ya, kalau lo nggak bisa mandi sendiri, panggil aja gue buat bantuin lo sampai kamar mandi atau mandiin lo mungkin, ya?"

Risa tidak menjawab. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Satu-satunya yang ia benci adalah terlihat lemah di hadapan orang lain.

Risa sudah terbiasa hidup sendiri sejak SMA. Hidup sebatang kara tanpa orang tua membuat hidupnya sangat keras dan penuh perjuangan. Walaupun jatuh sakit dan harus berdarah-darah, menurut Risa semua itu lebih baik daripada dia harus meminta bantuan orang lain.

Melihat Risa tak menanggapi kalimatnya, Alva mendesah panjang. Dia melangkahkan kakinya ke kamar mandi, lalu mulai membersihkan diri sekaligus menidurkan miliknya yang sejak tadi masih berdiri.

Alva tidak tahu apa yang terjadi. Risa tampak sangat marah dan dipenuhi emosi negatif saat mengetuk pintu apartemennya dan kemudian, dia ingin mengambil tawaran yang Alva tawarkan padanya dua bulan lalu untuk tidur bersamanya.

Alva masih bisa mengingatnya dengan jelas saat dia tidak sengaja menawarkan ranjangnya pada perempuan itu. Risa memang syok, dia terdiam cukup lama, tapi kemudian dia tertawa puas dan menganggap kalimatnya hanyalah lelucon gila.

Namun, sore ini dia datang pada Alva dengan suka rela. Menyerahkan tubuh dan semua raganya untuk dimiliki oleh Alva seutuhnya. Bahkan mahkota yang harusnya dia berikan pada suaminya kelak, malah dia berikan pada Alva dengan cuma-cuma.

Ada yang aneh. Alva menyadari itu.

Kalau Risa hanya ingin melepas keperawanan, kenapa dia mencari Alva?

Kenapa bukan mencari kekasihnya sendiri malah mencari Alva yang notabenenya hanya teman sekantor yang tidak sengaja pernah menawarkan kehangatan?

Walaupun dia tidak menyukai pemikirannya itu, tapi seharusnya Risa memang mencari Alan daripada mencarinua. Karena selain menjadi pacar Risa, Alan juga bersumpah akan menjadi calon suaminya tahun depan.

Kecuali ... masalah yang membuat Risa begitu marah dan tak terkendali sore ini adalah sepupunya sendiri.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Alva bertanya-tanya dalam hati, tapi dia bisa menyimpannya untuk nanti. Setelah mereka menyantap makan malam, dia akan mencoba untuk mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka.

Terutama ... karena dia telah menyemburkan benihnya berulang kali di dalam tubuh Risa. Mereka harus bicara, karena dia sangsi, salah satunya tidak bisa memenangkan duel dan menjadikan bibit nyawa yang siap tumbuh di rahim perempuan itu.

***

Fisiknya lebih hancur dari yang ia bayangkan. Begitu Alva keluar kamar setelah menyiapkan pakaian rapi yang bisa Risa kenakan, dengan perlahan perempuan itu mencoba bangun dari ranjang dan mulai berjalan.

Namun, sungguh ... rasanya sangat menyakitkan!

Perih dan sakitnya tidak seperti saat pertama kali melakukannya, tapi lebih ke sebuah guci antik yang begitu tipis dan harus dijaga dengan baik. Salah melangkah sedikit saja, guci itu akan jatuh, hancur, lebur, tak akan kembali berbentuk lagi.

Risa menggigit bibirnya dengan kuat setelah dia melingkarkan selimut ke sekeliling tubuhnya, lalu dengan perlahan dia mulai melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Dia nyaris berteriak keras saat langkah pertamanya berhasil.

Namun, dia tidak berani melangkah untuk mengambil langkah kedua. Sakitnya terlalu menyiksa sampai dia tidak bisa berbuat apa-apa. Apa dia harus memanggil Alva untuk membantunya sampai ke kamar mandi?

Risa menggigit bibirnya semakin kuat. Air matanya tanpa sadar mengalir melewati pipinya yang terdapat beberapa helai rambut lengket akibat keringat.

Apa yang sebenarnya telah dia lakukan sebelumnya?

Dia tahu, melepas keperawanan akan terasa sakit, tapi kenapa rasa sakitnya tidak kunjung hilang, padahal sudah berselang menit sejak mereka menghentikan aktivitas itu?

Apa karena ... Alva terus memilikinya tanpa membiarkan tubuh dan miliknya beristirahat sedikit pun?

Alva yang sejak tadi berada di pintu masuk akhirnya tidak tega dan mulai mendekati Risa. Dia tahu harga diri perempuan ini begitu tinggi, sampai kesakitan dan menangis pun, dia tidak berteriak meminta tolong padanya sama sekali.

Sosok yang benar-benar tangguh dan luar biasa. Alva berdecak kesal, dia tidak bisa mencegah perasaan sukanya tumbuh semakin kuat setelah apa yang mereka lewati hari ini.

"Kalau emang nggak bisa, bilang, jangan cuma diam aja," gerutunya sembari menarik lepas selimut tebal yang membuat tubuh Risa terlihat layaknya telur gulung berwarna putih yang sedang berjalan di tengah ruangan.

Dia langsung meletakkan satu tangan di bawah lutut dan satunya lagi di balik bahu Risa, lalu mengangkat perempuan itu dengan mudah menuju kamar mandi.

"Gue tahu, lo punya harga diri yang tinggi, tapi cukup kali ini aja, lepas semua topeng lo itu dan jadiin gue sandaran lo yang baru!" Alva berkata tanpa melirik Risa sedikit pun. "Percayalah, Ris, dada gue rasanya sakit banget waktu ngelihat lo nangis kayak gini, tapi gue nggak bisa ngapa-ngapain!"

Risa menatap wajah Alva yang tetap menatap lurus ke depan tanpa sekali pun menatap wajahnya. Kata-kata itu membuat dadanya menghangat, dari semua emosi yang telah melebur menjadi satu; amarah, kekesalan, dan nafsu. Alva datang memberikan air segar yang membuatnya tenang di antara semua kebimbangan.

"Makasih, Alva!" Risa menyembunyikan wajahnya ke dada Alva lalu kembali berkata, "Untuk hari ini, gue pinjam dada lo buat nangis, boleh?"

Alva melirik perempuan itu dalam diam, lalu kepalanya mengangguk pelan. "Pakai aja kalau lo mau, gratis, kok."

Dan Risa memeluknya semakin erat. Merasakan kehangatan matahari yang dengan perlahan menyinari hatinya. Dia tidak menangis, dia hanya tersenyum tipis. Sakit hatinya menguap, amarahnya sirna, kekesalannya hilang begitu saja.

Yang tersisa kala itu adalah sedikit perasaan bahagia, karena entah mengapa ... dia merasa sedang dicintai oleh pria yang sedang menggendongnya ini.

Perasaan semu setelah euforia percintaan panas di antara mereka, tidak lebih dari itu ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel After a Breakup
9.0
Arya menyimpan rahasia gelap di balik kemegahan keluarganya yang memicu mimpi buruk berkepanjangan. Alisha yang merasa dikhianati memutuskan pergi untuk melupakan cinta dan luka yang diberikan pria pujaannya itu. Meski Arya tega mencampakkannya saat perasaan sedang membara, takdir justru mempertemukan mereka kembali. Jarak yang tercipta hanya sementara, memaksa keduanya menghadapi keterikatan kuat yang belum usai di antara misteri dan asa yang tersisa.
Sampul Novel CINTA DI ANTARA TASBIH DAN ROSARIO
8.5
Pertemuan dan perpisahan adalah bagian dari garis takdir yang tak terelakkan. Sepasang kekasih terjebak dalam dilema besar saat cinta tulus mereka terbentur tembok perbedaan yang nyata. Di tengah tangis dan dekapan erat, sang pria berusaha meyakinkan bahwa perasaan mereka tidaklah salah. Namun, perbedaan keyakinan menjadi ujian berat bagi masa depan mereka. Di dunia di mana jodoh dan maut telah tertulis, mampukah mereka bertahan saat takdir seolah memaksa untuk menjauh?
Sampul Novel Cinta Palsu Dalam Pernikahan Kontrak
7.8
Aruna Larasati terjebak dalam pernikahan kontrak demi menyelamatkan keluarga. Lima tahun ia berkorban, namun Gavin Nugraha hanya menganggapnya bayangan. Kehadiran Elvira, cinta masa lalu Gavin, merenggut perhatian suami dan anak yang Aruna besarkan. Di tengah pengkhianatan dan harapan yang hancur, Aruna akhirnya memilih untuk bebas. Akankah ia mampu bangkit merebut kembali hidupnya, atau justru terpuruk dalam takdir yang kejam? Sebuah kisah haru tentang harga diri.
Sampul Novel Dosa yang Tak Termaafkan
8.9
Dewi menemukan bukti perselingkuhan suaminya melalui tumpukan bon belanja barang wanita dan tiket bioskop yang mencurigakan. Meski ia berusaha berbicara dengan suara lirih, amarah besar terlihat jelas saat ia mengonfrontasi pengkhianatan yang terulang kembali. Dewi menegaskan bahwa batas kesabarannya telah habis; ia tidak akan memberi kesempatan kedua setelah peringatannya diabaikan. Hubungan pernikahan mereka kini berada di ambang kehancuran total.
Sampul Novel Gairah Masa Remaja
9.2
Dalam momen yang penuh gejolak, Billy perlahan melepas rok yang kukenakan. Aku hanya bisa menggerakkan kaki untuk membantunya hingga pakaian itu terlepas, menyisakan celana pendek di balik kainnya. Saat Billy menyingkirkan celana tersebut, ia terpaku menatap kakiku yang mulus tanpa cela. Jemarinya mulai menelusuri kulitku dengan perlahan, membuatku terhanyut dalam sensasi yang ia berikan. Aku hanya bisa terdiam dan menikmati setiap sentuhan Billy padaku.
Sampul Novel KONTRAK CINTA DENGAN SAHABATKU
9.8
Qeiza Noura terkejut saat Arlando, sahabat masa kecilnya, mendadak mengajukan tawaran pernikahan tepat setelah ia putus cinta. Lewat sebuah perjanjian, mereka sepakat menikah selama satu tahun saja sambil tetap bebas mencari pasangan sejati. Namun, mampukah ikatan kontrak tersebut berakhir sesuai rencana awal, atau justru benih cinta yang tulus mulai tumbuh di antara mereka seiring berjalannya waktu? Sebuah kisah romansa tentang batas antara persahabatan dan cinta.