APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel CINTA DI ANTARA TASBIH DAN ROSARIO

CINTA DI ANTARA TASBIH DAN ROSARIO

Pertemuan dan perpisahan adalah bagian dari garis takdir yang tak terelakkan. Sepasang kekasih terjebak dalam dilema besar saat cinta tulus mereka terbentur tembok perbedaan yang nyata. Di tengah tangis dan dekapan erat, sang pria berusaha meyakinkan bahwa perasaan mereka tidaklah salah. Namun, perbedaan keyakinan menjadi ujian berat bagi masa depan mereka. Di dunia di mana jodoh dan maut telah tertulis, mampukah mereka bertahan saat takdir seolah memaksa untuk menjauh?
Bab
Bagikan

Bab 3

Dewi dan Febri langsung melihat ke meja yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.

"Wow, ternyata di sana banyak cowok ganteng," bisik Dewi langsung berubah manis mengatur rambutnya. "Cogan ladies."

"Iya, tadi kayaknya tidak ada orang yang duduk di sana. Kapan mereka datang?" Tanya Febri sambil diam-diam merapikan bajunya.

"Waktu kita lagi pesan makanan, mereka baru masuk," jawab Elena.

"Pantas gue tadi tidak melihat mereka," bisik Febri. "Mereka ganteng-ganteng. Idaman gue banget."

Elena hanya menarik napas melihat tingkah polah kedua temannya.

"Tapi lihat," Febri berbisik pada Elena. "Di antara mereka berempat ada yang melihat ke arahmu dari tadi."

Elena mengernyitkan alisnya. "Tidak ada, jangan ngarang loe!"

"Apa?" Tanya Dewi yang tidak mengerti.

Febri berbisik pada Dewi. "Di antara mereka berempat ada yang ngelihatin si Elena dari tadi."

"Yang mana?" Tanya Dewi antusias.

"Yang rambutnya paling rapi, paling cakep," jawab Febri. "Pakai jaket coklat."

"Cakep banget," bisik Dewi setelah melihat orang tersebut.

"Elena!" Panggil Febri tersenyum. "Cieee, ada yang terjerat pesonamu. He-he-he."

"Apaan sih kalian ini. Orang cuma ngelihatin doang sudah berpikir yang aneh-aneh. Mungkin dia ngelihatin gue karena mirip emaknya," jawab Elena.

"Ha-ha-ha. Betul juga apa katamu. Mungkin saja kamu dilihatin karena mirip emaknya," jawab Dewi tertawa.

"He-he-he," Febri juga ikut terkekeh.

"Lama banget sih pesanannya. Gue haus banget," gerutu Elena.

"Itu datang," tunjuk Dewi dengan matanya pada pelayan yang sedang berjalan ke arah mereka.

Febri tersenyum manis melihat Galang yang datang membawa nampan berisi makanan dan minuman pesanan mereka.

"Terima kasih," ucap Febri melihat Galang setelah selesai mengatur semua pesanan di atas meja.

"Sama-sama," jawab Galang tidak kalah ramah. "Selamat menikmati."

"Akhirnya datang juga," ucap Elena mengambil gelas juice jeruknya.

"Jangan lupa berdoa," ucap Dewi melihat Elena.

"Haruskah gue berdoa dengan teriak-teriak? Dalam hatipun sudah cukup," jawab Elena langsung menyeruput juice jeruknya.

"Segar sekali juice jeruknya," Febri langsung menghabiskan hampir setengah gelas.

"Iya, segar sekali. Tadi rasanya gue seperti hidup dipadang pasir," jawab Elena tanpa sengaja tatapannya bertabrakan dengan pria yang dari tadi melihat dirinya. Entah perasaan apa yang terjadi, tiba-tiba jauh di dalam hatinya seperti ada perasaan berdesir ketika matanya bertemu dengan iris mata pria itu.

"Spaghetinya terlihat lezat, benar tidak Elena?" Tanya Febri melihat Elena yang terlihat gugup.

Dewi yang juga melihat Elena berubah gugup merasa heran. "Ada apa denganmu?"

"Eh, apa?" Tanya Elena berusaha mengusir kegugupannya setelah merasakan hatinya yang tiba-tiba menjadi tidak karuan.

Dewi dan Febri saling berpandangan merasa aneh dengan Elena.

"Loe baik-baik saja kan?" Tanya Dewi.

"Memangnya kenapa gue?" Tanya Elena kembali menyeruput juice jeruknya untuk mengusir rasa gugupnya.

"Aneh bin ajaib," jawab Dewi.

"Kalian berdua yang aneh, gue baik-baik saja disangka aneh," jawab Elena tidak mau kalah.

"Sudahlah! Kalian mau mengobrol atau makan?" Febri langsung mengeksekusi spagheti yang dari tadi sudah menggodanya.

"Iya, perut gue sudah lapar dari tadi." Dewi langsung mengikuti Febri mengeksekusi spagheti.

Berbeda dengan Elena, perutnya memang lapar tapi begitu sudut matanya melihat pria itu yang terus saja memperhatikan dirinya membuat selera makannya hilang. Sehingga tanpa sadar spagheti yang ada didepannya hanya dipandanginya saja.

"Elena! Itu bukan sesajen yang tidak boleh dimakan. Kenapa spaghetinya hanya loe pandangi saja?" Tanya Dewi.

"Iya, katanya tadi sangat lapar," sambung Febri. "Sekarang tidak dimakan. Aneh banget sih loe?"

"Loe baik-baik sajakan?" Tanya Dewi heran melihat Elena.

"Spaghetinya masih panas," jawab Elena beralasan.

"Panas apanya? Ini sudah dingin," jawab Febri. "Ayo makan, jangan bengong begitu. Nanti loe kemasukan setan cafe, gue nggak tanggung jawab."

Elena akhirnya makan juga spaghetinya dengan berusaha untuk tidak melihat lagi pria yang terus saja memperhatikan dirinya. Cakep sih cakep, tapi kalau dilihatin seperti itu bisa salah tingkah juga.

Setelah cukup lama duduk di cafe dan melihat matahari yang sudah tidak terlalu terik, akhirnya Elena, Dewi dan Febri memutuskan untuk pulang.

"Kita naik apa lagi ini?" Tanya Elena setelah mereka berjalan di trotoar.

"Naik angkutan umum saja. Gue males naik bus kayak tadi, bau keringat dari kiri kanan," jawab Febri.

"Iya, tadi juga gue hampir muntah karena bau keringat. Secara kaliankan tahu kalau gue tidak suka dengan yang bau-bau keringat," jawab Elena.

"Naik angkutan umum juga sama, bau keringat," ucap Dewi. "Bagaimana kalau kita naik taksi, bayarnya patungan."

"Boleh juga tuh," Elena langsung setuju.

"Iya boleh, kita bertiga juga searah. Nanti loe yang turun belakangan," Febri melihat Dewi.

"Iya, gue tahu rumah gue yang paling jauh," jawab Dewi.

"Nah itu taksinya," tunjuk Elena langsung menghentikan taksi yang lewat.

Ketiga gadis itupun segera naik taksi, tanpa mereka sadari dari jarak beberapa meter, dua orang pria yang tidak jauh berbeda umurnya sedang memperhatikan mereka.

"Hai bro, lihat apa loe?" tanya pria yang tubuhnya lebih pendek.

"Gadis itu," jawabnya tersenyum.

"Gadis yang tadi di cafe itu?" Tanyanya lagi.

"Iya, gadis itu sangat cantik," jawabnya lagi.

"Jangan-jangan loe jatuh cinta pada pandangan pertama. Ha-ha-ha. Kenapa tidak loe samperin tadi di cafe ajak kenalan?"

"Nanti gadis itu takut sama gue," jawabnya.

"Tapi sekarang loe kehilangan gadis itu. Mau dicari ke mana coba sekarang gadis itu, sudah pergi hilang entah ke mana."

"Tidak masalah, jodoh takkan ke mana. Gadis itu pergi ke kutub Utara sekalipun, tapi kalau sudah berjodoh denganku, pasti bertemu lagi," jawabnya.

"Ha-ha-ha. Bisa saja loe, emang seorang Mr. Rovaldo Bastian tidak ada duanya kalau sudah bicara kata-kata bijak. Top markotop."

"Gue dilawan!" jawab Rovaldo membuka pintu mobilnya. "Loe mau ikut pulang kagak?"

"Ikutlah, ngapain gue naik taksi kalau ada tumpangan gratis. Lumayan buat menghemat pengeluaran bulanan gue," jawab temannya langsung masuk ke dalam mobil.

Sementara itu di dalam taksi, Elena sibuk dengan ponselnya yang terus menerus mengeluarkan notif pesan. "Siapa sih ini, kirim pesan banyak banget?"

"Siapa?" tanya Dewi yang duduk disebelahnya.

"Penggemar loe kali," jawab Febri dari kursi depan.

"Penggemar apaan, memangnya gue artis ada penggemar segala," jawab Elena.

"Coba lihat siapa?" tanya Dewi penasaran.

"Kepo banget sih loe," ucap Elena membuka notif pesan yang masuk.

"Siapa?" tanya Febri.

"Dari nyokap nanyain kenapa sudah sore belum pulang," jawab Elena.

"Dasar anak Mommy, pulang telat saja ditanyain. Kalau gue boro-boro ditanyain, kayaknya kagak pulang setahun juga kagak bakalan dicariin," ucap Febri yang teringat kedua orangtuanya selalu bertengkar.

"Jangan begitu, orangtuamu juga sayang sama loe. Kalau loe hilang pasti dicariin. Tidak ada orang tua yang nggak sayang sama anaknya," jawab Elena.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Digoda Gairah Masa Lalu
9.0
Alicia kini memulai hidup baru sebagai Annisa demi melupakan memori kelamnya. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan Palma, pria masa lalu sekaligus ayah dari anak sulungnya. Kehadiran Palma memicu amarah Dewi, istrinya. Di tengah kemelut itu, Annisa memilih Radit sebagai pendamping hidupnya. Melintasi Bandung hingga Mesir, kisah ini menguji keteguhan hati mereka. Akankah gairah masa lalu mengalahkan kesetiaan, ataukah cinta tulus Radit yang akan menang?
Sampul Novel Dunia Rinduku Adalah Dirimu
8.5
Dalam suasana mencekam, Ammad tiba-tiba memeluk tubuhku dari belakang dan membungkam mulutku dengan telapak tangannya. Aroma cendana yang khas dari bajunya tercium sangat kuat saat dia melarangku bersuara. Meski aku berusaha memanggilnya, Ammad justru semakin merapatkan dekapannya hingga tubuh kami bersentuhan tanpa jarak. Aku pun bertanya-tanya dalam hati, apakah tindakan mendadak ini dilakukan dengan sengaja atau murni karena situasi yang panik.
Sampul Novel HASRAT TERLARANG GIGOLO
8.1
Demi menghidupi tiga adik dan ibu yang sakit jiwa, Bagaskara nekad menjadi pria sewaan di usia 20 tahun. Pemuda ini terjebak dalam tawaran fantastis Arta Syakila, wanita kaya berumur 27 tahun yang bersedia membayar 500 juta hanya untuk satu malam. Meski Arta memiliki segalanya, alasan di balik keputusannya menyewa gigolo tetap misterius. Akankah Bagas bisa kembali hidup tenang, atau justru terjerat selamanya dalam rahasia kelam kehidupan sang miliarder?
Sampul Novel Istri yang Dihancurkan Mereka
8.1
Bramantyo dan Bima terobsesi menyiksaku dengan kehadiran Sandra demi menguji cintaku. Puncaknya, saat kecelakaan terjadi, mereka membiarkan tanganku hancur demi menyelamatkan Sandra. Karier musikku pun sirna. Mereka menantikan amarahku, namun aku hanya diam membisu, bahkan saat liontin ibuku dihancurkan Sandra. Di ranjang rumah sakit, pengabdianku mati. Ini bukan cinta, melainkan sangkar kejam. Kini aku bersiap melarikan diri dan membalas kehancuran ini.
Sampul Novel Pacarku Sagapung
8.1
Konten dewasa 21+. Jeff, pria playboy yang memikat, langsung terpikat saat bertemu Anna di pesta topeng kafenya. Setelah melewati malam penuh gairah, keduanya resmi menjalin hubungan asmara. Namun, Anna tak menyadari rencana tersembunyi kekasih barunya. Jeff telah menyusun daftar aktivitas intim yang menantang untuk dilakukan bersama. Anna pun terseret dalam permainan hasrat yang tak terduga, di mana Jeff selalu mencari kesempatan untuk membakar gairah mereka.
Sampul Novel Pelakor XXL
9.7
Reya Yasmitha merasa tidak percaya diri dengan penampilan fisiknya. Ia merasa hanya Juniar Adi Pranaja, pria matang berusia 42 tahun, yang bersedia mencintainya. Meski sadar keputusannya salah, Reya tetap memilih menjadi simpanan Juniar demi segala fasilitas mewah yang diberikan. Kini, Reya bertekad mengubah hidup dan melepaskan status pelakor demi kemandirian. Namun, Juniar justru merasa terusik. Mampukah Reya keluar dari jerat hubungan gelap ini?