APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Itu Luka

Cinta Itu Luka

Hidup Nur Alia hancur setelah kehilangan lima calon buah hati akibat keguguran dan janin tak berkembang. Alih-alih mendapat dukungan, ia justru didepresi dan difitnah mandul oleh suaminya sendiri. Kehadiran sosok baru yang semula menjanjikan kesembuhan malah menorehkan luka yang lebih perih. Namun, di tengah keputusasaan dan keraguan akan cinta, sebuah keajaiban datang saat Tuhan menitipkan dua malaikat kecil di rahim yang sebelumnya dianggap tak berdaya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Siapa di sini yang lulusan Pondok Pesantren dan Madrasah Aliyah?" Suara Dosen matrikulasi mata kuliah Bahasa Arab menggema di ruangan kelas pertamaku sebagai mahasiswa.

Matrikulasi adalah nama program belajar khusus Bahasa Arab dan Bahasa Inggris untuk Mahasiswa Baru, yang berlangsung selama dua bulan sebelum masuk ke semester pertama. Program ini wajib diikuti semua mahasiswa baru tanpa terkecuali, dan nantinya nilai dari perkuliahan di program ini juga akan masuk dalam kartu hasil studi di semester satu.

"Baik, bagi yang lulusan Pondok Pesantren dan Madrasah Aliyah, tolong untuk tetap di ruangan ini!" seru sang Dosen kembali setelah beberapa dari kami mengangkat tangan menjawab pertanyaan beliau di awal tadi.

"Untuk yang lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Kejuruan dan yang sejenisnya, mari ikut saya, kita belajar di ruangan yang lain!" ajak Bapak Dosen Bahasa Arab ini lagi.

Aku segera bangkit, mengikuti Dosen tersebut yang telah lebih dahulu keluar dari ruangan. Tentu saja aku tidak sendiri, Ada sekitar lima belas mahasiswa yang sama sepertiku. Kami melangkah ke luar kelas, menuju kelas lainnya yang tidak terlalu jauh juga dari kelas semula.

***

"Maaf, aku tidak membawa buku untuk mencatat. Boleh aku meminta selembar kertas?"

Sebuah suara dari sisi kanan mengagetkanku yang sedang serius memperhatikan penjelasan tentang 'kata ganti' dalam Bahasa Arab.

Kutarik selembar kertas dari binder book dan menyerahkan kepada si empunya suara tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya.

"Terima kasih," ucapnya pelan, yang hanya kubalas dengan anggukan.

***

"Maaf, boleh aku meminta kertas lagi? Hari ini aku juga tidak membawa buku catatan."

Suara itu lagi. Ini sudah hari kelima program matrikulasi berjalan, dan dia masih saja meminta kertas sejak hari pertama.

Bukan pelit atau tak ingin berbagi. Tetapi, ini sungguh menyebalkan. Bagaimana bisa ia menghadiri kuliah namun selalu tidak membawa perlengkapan.

"Ini!" Selembar kertas kusodorkan ke hadapannya. Kali ini aku berpaling ke arahnya. Ia cengengesan, seolah tahu jika aku kesal. "Kalau ke sawah itu harus bawa cangkul," ketusku.

"Aku ke sawah hanya untuk menjaga burung Pipit agar tidak menggangu padi," ucapnya sambil terkekeh.

"Enggak lucu!" Mataku mendelik yang justru menambah suara kekehannya terlihat sangat senang.

"Siapa namamu? Sudah lima hari kamu memberikanku kertas, tetapi aku belum tahu namamu." Si Tukang minta kertas kembali bersuara.

"Penting?" Aku semakin sewot karena kuliah sedang berlangsung tetapi dia terus mengganggu mengajak bicara.

"Ya, pentinglah, supaya besok saat aku akan meminta kertas lagi aku tahu harus panggil kamu siapa."

"Alia." Aku memilih menjawab sajalah, supaya dia diam. Eh, ternyata aku salah. Dia semakin menjadi-jadi. Pertanyaannya beruntun dan panjang sampai tingkat kesalku mencapai ubun-ubun.

"Kamu bisa diam, tidak?" Volume suaraku naik setingkat ditambah dengan mata yang melotot.

"Oke-oke." Terlihat ia mengangguk sambil mengulum senyum.

"Aku Azwar."

Tak kugubris lagi si tukang minta kertas (Begitulah aku menyebutnya selama lima hari ini) yang baru saja memperkenalkan namanya.

***

“Sadaqallahul'adzim ...”

“Maha benar Allah dengan segala Firman-nya.”

Sungguh kali ini aku terpana. Dia, yang selama dua bulan ini menggangguku dengan permintaan kertas hampir setiap hari, hingga mengerjakan tugas bersama, sering ke kantin bersama ternyata memiliki suara yang sangat merdu dan juga kefasihan membaca Al-Qur’an yang menakjubkan.

Berulang kali aku berdecak kagum tak menyangka. Tidak salah, dia diminta untuk membacakan ayat suci Al-Qur’an pada acara penutupan matrikulasi ini.

Saat ia turun dari panggung setelah selesai membaca Al-Qur’an, ada satu hal lagi yang baru kusadari, ternyata dia tampan juga. Kulit putihnya bersih serta hidung yang tinggi ditambah tatapan mata yang lembut.

Ah, kenapa aku baru menyadarinya sekarang, ya? Selama dua bulan kami bersama aku ke mana saja? Aku menertawakan diri sendiri dalam hati.

***

Meski tercatat sebagai mahasiswa di jurusan yang sama tenyata saat perkuliahan semester pertama dimulai, aku dan Azwar berbeda kelas. Namun, walau tidak seruangan, ia tetap sering berkunjung ke kelasku. Alasannya bisa macam-macam, mulai dari menanyakan jadwal sampai kadang hanya untuk pinjam pulpen.

"Alia, aku ingin bicara," seru Azwar mencegat jalanku saat akan keluar dari gerbang Kampus.

"Apa?" Aku menghentikan langkah, menunggunya menyusul.

"Tapi tidak di sini Alia." Suara Azwar pelan, dengan sorot mata seakan mengajakku duduk di bawah pohon akasia besar yang tumbuh di bagian belakang kelas-kelas ruang belajar yang berjejer. Di sana -di bawah pohon akasia itu- terdapat sebuah batu besar yang enak dijadikan tempat bersantai.

Aku kemudian mengikuti langkah Azwar. Penasaran dengan apa yang akan disampaikannya. Sudah enam bulan kami bersahabat, lebih tepatnya menjadi teman dekat, baru kali ini Azwar mengajak bicara berdua seserius ini. Itu artinya hal yang akan disampaikannya adalah sesuatu yang penting.

"Alia, sebelumnya aku ingin minta maaf." Kata pertama yang meluncur dari bibir Azwar setelah kami naik ke atas batu besar ini.

Aku heran, setahuku Azwar tidak melakukan kesalahan apa pun padaku. "Memangnya kamu salah apa?" tanyaku menyelidik.

"Apa pun yang akan aku sampaikan, aku harap tidak akan merubah kedekatan kita, Alia." Azwar berhenti. Aku menunggu.

"Aku suka sama kamu. Aku ingin hubungan kita lebih dari sekedar teman. Boleh Alia?" Ada nada pengharapan dalam suaranya yang terdengar bergetar di telingaku.

Aku terhenyak untuk beberapa saat. "Ini maksudnya kamu nembak aku?" Kutatap manik matanya, mencari keseriusan, bahwa ini bukan bercanda. Akan malu nantinya jika aku menjawab serius, ternyata dia hanya bercanda untuk mengerjaiku.

Azwar mengangguk mantap. "Kamu mau ‘kan?"

Aku bingung. Harus jawab apa? pesona wajahnya memang luar biasa, tetapi aku belum punya rasa yang lebih kepadanya selain perasaan seorang teman.

Azwar laki-laki baik. Selama menjadi temannya, aku selalu melihat kelembutan dalam tutur katanya, sopan dan santun dalam sikapnya. Senang membantu dan sangat setia pada teman-temannya. Tidak ada cela dalam dirinya, tetapi tetap saja rasa tidak bisa dipaksa bukan?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Kehilangan Bayiku
8.5
Maya selalu setia mendampingi Reza meski terus diabaikan dan tak diakui. Namun, kesabarannya hancur saat ia terpaksa melahirkan sendirian hingga kehilangan bayinya. Tragedi maut itu memadamkan cinta Maya dan membuatnya ingin pergi. Di sisi lain, Reza baru menyadari besarnya rasa sayangnya setelah segalanya terlambat. Saat Reza berusaha mengejar kembali hati sang istri, ia menghadapi kenyataan bahwa Maya telah berubah menjadi sosok dingin yang tak lagi membutuhkannya.
Sampul Novel Bingkai Suami, Keadilan Sengit Istri
9.7
Baskara Aditama, jaksa ternama yang kupikir penyelamat, nyatanya dalang yang menjebloskanku ke penjara demi melindungi Valerie. Usai tiga tahun menderita di Lapas Cipinang, aku bebas hanya untuk dipermalukan di pesta mereka hingga nyaris tewas akibat pendarahan internal. Baskara justru memalsukan medisku demi menutupi kekejamannya. Kini, harapanku telah sirna, berganti ambisi balas dendam. Aku akan menghancurkan karier, reputasi, dan segala yang ia cintai tanpa sisa.
Sampul Novel Cinta satu malam terbaik
8.7
Pasca ditinggal kekasih, Feyleria terbangun di samping pria asing dan memilih kabur. Ternyata, Alexander, pria semalam itu, terobsesi memilikinya. Lewat tekanan orang tua, Alex memaksa Fey masuk ke jerat perjodohan yang tak terelakkan. Saat benih cinta mulai tumbuh untuk Alex, Sani sang mantan kekasih tiba-tiba kembali demi merebut hati Fey lagi. Kini Fey terjebak di antara kenangan masa lalu atau masa depan bersama pria yang memujanya dengan tulus.
Sampul Novel Dari Istri Tercampakkan Menjadi Pewaris Berkuasa
9.3
Dunia Kirana runtuh saat suaminya, Bima Nugraha, memamerkan kehamilan selingkuhannya di depan publik. Demi kelancaran bisnis, Bima dan keluarga angkat Kirana bersekongkol menjadikannya tahanan di rumah sendiri. Kirana difitnah gila dan dipaksa menggugurkan kandungannya. Namun, mereka tidak tahu identitas asli Kirana. Dengan satu panggilan, ia menghubungi ayah kandungnya, Antony Suryoatmodjo, konglomerat kuat yang siap menghancurkan Bima hingga tak bersisa.
Sampul Novel Dikejar Oleh Sang Miliarder
9.6
Kayla Herdian kembali ke masa lalu demi membalas dendam setelah dikhianati suami dan mertuanya hingga tewas mengenaskan. Dulu hidupnya hancur, namun kini ia bangkit untuk menghancurkan para musuh dan membawa bisnis keluarganya ke puncak kejayaan. Di tengah ambisinya, seorang miliarder dingin yang dulu tak terjangkau justru datang mendekat. Pria itu kini terang-terangan merayu Kayla, memohon kesempatan untuk menjadi pendamping di pernikahan keduanya.
Sampul Novel MENIKAHI BILLIONAIRE
8.8
Zyan Liu terancam gagal menjadi ahli waris utama keluarga Liu jika ia tidak segera menikahi wanita yang sesuai dengan standar ketat keluarganya. Di luar dugaan, Mu Tian Rui yang hanyalah gadis desa sederhana justru dianggap memenuhi kriteria tersebut. Kini, dua insan dengan latar belakang kehidupan yang sangat kontras ini terjebak dalam sebuah pernikahan yang diatur. Mampukah Zyan dan Rui mempertahankan hubungan mereka di tengah jurang perbedaan yang begitu lebar?