APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dalam Pelukan Sang Miliarder

Dalam Pelukan Sang Miliarder

Raissa terancam kehilangan panti jompo tempat tinggalnya akibat rencana penggusuran oleh taipan kejam, Arkhan Alvaro. Demi menyelamatkan tempat itu, Raissa nekat menghadapi sang miliarder yang dingin. Namun, Arkhan justru memberikan penawaran mengejutkan: panti akan selamat jika Raissa bersedia menjadi miliknya sepenuhnya. Terjebak dalam dilema antara pengorbanan dan harga diri, hubungan penuh paksaan ini mulai memicu konflik emosi yang mendalam bagi mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Malam itu, Raissa tidak bisa memejamkan matanya. Tubuhnya mungkin terbaring di ranjang kecil di kamar apartemen sempitnya, tetapi pikirannya terus melayang pada percakapan yang terjadi di ruangan megah itu. Kata-kata Arkhan masih bergaung di telinganya seperti bisikan setan: "Aku ingin kau menjadi milikku."

Dia berusaha menepis pikiran itu, tetapi semakin dia mencoba melupakan, semakin kuat bayangan pria itu menguasai benaknya. Sorot mata tajam Arkhan, senyum sinisnya, dan cara dia berbicara seolah-olah dia memegang kendali penuh atas hidup Raissa-semuanya mengingatkan Raissa bahwa dia hanyalah pion kecil di permainan pria itu.

Kepalanya berdenyut karena terlalu banyak berpikir. Dia bangkit dari ranjang dan berjalan menuju dapur kecilnya. Dengan tangan gemetar, dia menuangkan segelas air dan meneguknya perlahan. Namun, air dingin itu tak mampu meredakan kekacauan di dalam hatinya.

"Bagaimana aku bisa sampai pada titik ini?" Raissa bergumam pelan, suara seraknya tenggelam dalam keheningan malam.

Di sudut meja dapur, ponselnya bergetar. Raissa meraih ponsel itu dan melihat nama yang tertera di layar: Reza.

Reza adalah sahabat Raissa sejak SMA, pria yang selalu menjadi pelindung dan penghiburnya di saat-saat sulit. Namun, kali ini Raissa ragu untuk menjawab. Dia tahu bahwa Reza tidak akan tinggal diam jika mengetahui apa yang baru saja terjadi. Tapi dia juga tahu, pria itu tidak bisa berbuat banyak untuk membantu.

"Raissa, jawab teleponku," suara Reza terdengar tegas ketika Raissa akhirnya menekan tombol hijau.

"Aku di sini, Reza," jawab Raissa lemah.

"Apa yang terjadi? Kau menghilang seharian. Aku datang ke panti, tapi mereka bilang kau pergi menemui pemilik lahan. Apa benar?"

Raissa terdiam. Dia tidak ingin menceritakan semuanya, tetapi dia tahu Reza terlalu cerdas untuk dibohongi. "Aku... ya, aku bertemu Arkhan Alvaro," akhirnya dia mengaku.

Reza terdiam sejenak sebelum mengumpat pelan. "Raissa, kenapa kau bertindak sejauh itu? Pria itu bukan orang yang bisa diajak bicara. Dia hanya peduli pada uang!"

"Aku tidak punya pilihan, Reza," kata Raissa lirih. "Aku tidak bisa membiarkan panti itu digusur. Kau tahu itu rumah bagi ibu dan orang-orang yang tak punya tempat lain."

Reza menghela napas panjang. "Dan apa yang dia katakan? Apa dia setuju membatalkan penggusuran?"

Raissa menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis yang kembali mengancam keluar. "Tidak. Dia... dia mengajukan syarat."

"Apa syaratnya?" tanya Reza cepat, suaranya penuh kecurigaan.

Raissa terdiam, tidak sanggup mengucapkannya. "Aku tidak bisa memberitahumu, Reza. Ini terlalu memalukan."

"Apa yang dia minta, Raissa?" Reza mendesak, suaranya naik satu oktaf. "Katakan padaku! Aku akan membantumu, apa pun itu."

"Tidak, Reza. Tidak ada yang bisa kau lakukan," kata Raissa tegas. Dia tidak ingin menyeret sahabatnya lebih jauh ke dalam kekacauan ini.

Raissa memutuskan panggilan itu, meskipun dia tahu tindakannya akan membuat Reza marah. Namun, dia tidak peduli. Saat ini, hanya ada dua pilihan di hadapannya: menerima syarat Arkhan atau mencari jalan lain yang tampaknya mustahil.

Keesokan paginya, Raissa duduk di sebuah bangku di taman dekat apartemennya. Dia mengamati burung-burung kecil yang hinggap di cabang pohon, mencoba mencari kedamaian dalam pemandangan sederhana itu. Namun, pikirannya kembali terusik ketika bayangan Arkhan muncul di benaknya.

"Kau terlihat kacau," sebuah suara menyadarkannya.

Raissa menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya berdiri di depannya. Itu adalah Bu Nila, pengelola panti jompo. Wanita itu tampak lelah, tetapi senyumnya tetap lembut.

"Bu Nila," kata Raissa, mencoba tersenyum.

Bu Nila duduk di sebelahnya, meletakkan tangan di bahu Raissa. "Aku dengar kau menemui pemilik lahan itu. Apa kau berhasil meyakinkannya?"

Raissa tidak tahu bagaimana menjawab. Dia ingin berbohong, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tetapi melihat mata penuh harap Bu Nila, dia tahu dia tidak bisa melakukannya.

"Aku belum berhasil, Bu," jawab Raissa akhirnya.

Bu Nila menghela napas panjang, tetapi dia tidak menunjukkan kemarahan. "Raissa, kau sudah berusaha. Tidak ada yang bisa menyalahkanmu."

"Tapi aku belum menyerah," kata Raissa tegas, meskipun di dalam hatinya, dia tidak yakin dengan kata-katanya sendiri.

Bu Nila menepuk bahunya. "Kau adalah gadis yang kuat, Raissa. Tapi ingatlah, apa pun keputusan yang kau buat, kau harus tetap menjaga dirimu. Jangan biarkan dirimu dihancurkan oleh situasi ini."

Kata-kata itu menghantam Raissa seperti gelombang pasang. Dia tahu Bu Nila benar, tetapi bagaimana mungkin dia menjaga dirinya sendiri ketika hidup begitu banyak orang bergantung padanya?

Sore itu, Raissa akhirnya membuat keputusan. Dia kembali ke gedung Arkhan, meskipun hatinya terasa berat.

Saat dia masuk ke kantor pria itu, Arkhan sedang berdiri di depan jendela besar, memandang kota yang gemerlap di bawahnya. Tanpa menoleh, dia berkata, "Kau datang lebih cepat dari yang kuduga."

Raissa menggenggam tangannya erat-erat, mencoba mengumpulkan keberanian. "Aku... aku setuju."

Arkhan berbalik, senyum sinis muncul di wajahnya. "Bagus. Aku tahu kau akan membuat keputusan yang tepat."

"Tapi aku punya syarat," kata Raissa cepat, suaranya bergetar.

Arkhan mengangkat alisnya, tampak terhibur. "Oh? Kau pikir kau bisa menetapkan syarat untukku?"

"Aku hanya ingin kau berjanji bahwa kau akan menyelamatkan panti itu. Tidak ada kebohongan, tidak ada permainan," kata Raissa tegas, meskipun lututnya gemetar.

Arkhan mendekatinya perlahan, sampai jarak di antara mereka hanya beberapa inci. "Aku tidak pernah melanggar janjiku, Raissa. Tapi kau harus ingat, begitu kau menjadi milikku, tidak ada jalan keluar."

Raissa menelan ludah, tetapi dia tidak mundur. "Aku mengerti."

Arkhan tersenyum tipis, lalu berkata dengan suara lembut yang penuh ancaman, "Kalau begitu, selamat datang di duniaku."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Lima Anak Kembar
9.4
Isabella Ardhani mengalami nasib tragis setelah terjebak di kamar Rafael Damar, bos mafia penguasa bisnis. Insiden tersebut membuatnya hamil lima anak kembar jenius. Diusir dari rumah, ia kabur ke luar negeri demi membesarkan mereka. Bertahun-tahun berlalu, Isabella kembali sebagai wanita berkuasa. Takdir membawanya bertemu Rafael lagi, namun kali ini kelima anaknya telah menyiapkan rencana balas dendam besar terhadap ayah kandung mereka.
Sampul Novel Cintaku Tersesat di CEO Gila
9.5
Ziana Hauwel terjebak dalam obsesi mendalam Andreas Johnson, seorang CEO yang bersumpah tidak akan pernah melepaskannya. Meski merasa tertekan oleh cinta yang posesif, Zia tak mampu membohongi tubuh dan hatinya yang haus akan sentuhan pria itu. Di tengah kegilaan sang miliarder, Zia bergelut dengan batinnya yang perlahan mulai luluh. Akankah hubungan penuh gairah ini berakhir dengan kebahagiaan sejati atau justru kehancuran? Simak kisah romansa dewasa yang intens ini.
Sampul Novel En-PD153
8.9
Mantan kekasihku yang kukira telah tiada tiba-tiba muncul membawa wanita hamil yang disebut penyelamatnya. Dia secara tak masuk akal memintaku tinggal bersama mereka dan menawarkan upacara pernikahan sebagai kompensasi sementara ia menikahi wanita itu. Sebagai putri bangsawan dan menantu keluarga konglomerat, aku tak sudi dijadikan selingkuhan. Jika dia menolak hidup mewah, aku akan memastikan dia kehilangan segalanya hingga menjadi pengemis.
Sampul Novel Gairah Liar Tuan Xavier
8.5
Bella terjebak dalam situasi yang sangat mencekam saat ia berusaha keras menolak klaim sepihak dari Tuan Xavier. Meski Bella berteriak menentang takdir yang dipaksakan kepadanya, pria berkuasa itu dengan tegas menyatakan bahwa Bella kini menjadi miliknya sepenuhnya. Xavier tidak memberikan ruang sedikit pun bagi Bella untuk melarikan diri atau memberikan bantahan. Kini, Bella harus menghadapi obsesi liar sang tuan yang tidak mengenal kata penolakan.
Sampul Novel Hot Billionaire
8.6
Kehidupan Ariel dipenuhi cemoohan karena statusnya sebagai anak dari hubungan gelap. Meski menyandang nama besar sang ayah, ia tetap dianggap sebagai noda hitam yang tak termaafkan. Di tengah penderitaan itu, takdir mempertemukannya dengan Shawn Geovan, seorang miliarder sempurna yang memiliki dunia berbeda. Akankah Shawn mampu menjadi pelindung bagi Ariel dan menjaganya dari hinaan dunia? Ikuti perjuangan cinta mereka yang penuh tantangan dan perbedaan kasta.
Sampul Novel Mantan Jadi Bos
9.4
Alula kehilangan pekerjaan tanpa pesangon karena menolak jadi istri keempat bosnya. Padahal, ia tulang punggung keluarga demi ibu dan adiknya. Lewat bantuan teman, Alula kembali bekerja, namun CEO barunya adalah mantan kekasih yang dulu ia tinggalkan tanpa alasan. Sang mantan pun memanfaatkan posisi ini untuk membalas dendam. Meski terus disakiti, Alula justru merasakan kembali benih cinta. Sanggupkah ia bertahan menghadapi dendam sang bos?