APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Derita Seorang Gadis Desa

Derita Seorang Gadis Desa

Alya, gadis yatim piatu lulusan SMP, nekat merantau ke kota demi membiayai neneknya yang sakit. Nasib membawanya bekerja di kediaman Ibu Ratna yang baik hati. Namun, hidupnya hancur saat Arka, putra majikannya, pulang dan merenggut kehormatannya secara paksa. Bukannya bertanggung jawab, Arka justru menghina dan mengusir Alya dengan kejam. Di tengah luka batin yang mendalam, Alya harus berjuang bangkit menghadapi kenyataan pahit demi kelangsungan hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, sinar matahari menembus tirai putih rumah besar keluarga Ratna. Alya sudah bangun sejak subuh, seperti biasanya. Ia menyiapkan sarapan dengan teliti, memasak sup hangat, telur dadar, dan bubur ayam kesukaan Ibu Ratna. Tangannya cekatan, meski tubuhnya terasa sedikit lelah karena semalam tidurnya tidak nyenyak.

Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak kemarin sore-tatapan Arka. Tatapan tajam, dingin, seakan ia hanyalah benda asing yang kebetulan mengotori rumah ini. Alya mencoba mengabaikannya, meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah prasangka. Namun firasat di hatinya mengatakan sebaliknya.

Saat aroma masakan mulai memenuhi dapur, suara langkah kaki terdengar di tangga. Alya menoleh dan mendapati Arka turun dengan kemeja putih yang baru disetrika, rambutnya masih basah karena baru mandi.

Ia tampak gagah, berwibawa, aura pria kota yang sukses dan berkelas. Namun semua itu tidak membuat Alya nyaman-justru membuatnya gugup.

Arka melangkah ke meja makan, lalu duduk tanpa berkata apa pun. Ia hanya melirik Alya sekilas, lalu menyalakan ponselnya, jari-jarinya sibuk mengetik sesuatu.

"Selamat pagi, Mas," ucap Alya pelan, mencoba sopan.

Arka mengangkat wajahnya sebentar, lalu menatap Alya dengan tatapan dingin. "Kau yang masak ini?"

"I.. iya, Mas," jawab Alya gugup.

Arka menyendok sup lalu mencicipinya. Ia tidak berkata apa-apa, hanya makan dengan ekspresi datar. Alya menunduk, berharap masakannya tidak mengecewakan.

Tak lama kemudian, Ibu Ratna turun dengan wajah cerah. "Wah, sarapannya sudah siap, ya? Terima kasih, Alya."

"Sama-sama, Bu," jawab Alya sambil tersenyum lega.

Mereka pun sarapan bersama. Ibu Ratna tampak gembira karena akhirnya bisa makan bersama putranya setelah sekian lama.

"Arka, bagaimana pekerjaanmu di luar negeri?" tanya ibunya penuh semangat.

"Baik. Aku akan mulai mengurus beberapa bisnis di sini juga," jawab Arka singkat, matanya tetap menatap layar ponselnya.

Alya diam, hanya fokus melayani kebutuhan mereka. Sesekali ia menambahkan air putih ke gelas atau mengambilkan lauk tambahan. Namun ia bisa merasakan bahwa setiap kali ia mendekat, tatapan Arka selalu mengikutinya. Tatapan yang membuatnya merinding.

Hari-hari berikutnya, Alya semakin sering bertemu Arka. Lelaki itu jarang berbicara padanya, tetapi tatapan dingin itu tidak pernah hilang.

Pernah suatu kali, Alya sedang menyapu ruang tamu ketika Arka pulang larut malam. Tubuhnya sedikit sempoyongan, aroma alkohol tercium jelas. Alya terkejut, buru-buru menunduk.

"Mas sudah pulang," ucapnya pelan.

Arka tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di depan pintu, menatap Alya dengan sorot mata tajam. Kemudian ia tersenyum tipis, senyum yang lebih menyerupai ejekan.

"Kau selalu sibuk, ya? Apa kau pikir rumah ini akan runtuh kalau kau berhenti menyapu sebentar?"

Alya terdiam, bingung harus menjawab apa.

"Saya hanya menjalankan tugas, Mas," jawabnya lirih.

Arka mendekat, langkahnya pelan namun menekan. Alya mundur setapak, jantungnya berdegup kencang. Namun untunglah, sebelum ia bisa berkata lagi, Ibu Ratna muncul dari tangga.

"Arka! Kau sudah pulang? Kau mabuk lagi, Nak?" tegur ibunya dengan nada kesal.

Arka hanya mendengus, lalu melangkah naik ke lantai dua tanpa menjawab. Alya menghela napas lega.

Keesokan paginya, ketika Alya sedang menjemur pakaian di halaman belakang, ia mendengar suara Arka berbicara di telepon.

"Ya, aku sudah kembali. Urusan di sana sudah selesai... Jangan khawatir, aku akan segera mengatur semuanya."

Suara Arka terdengar tegas, penuh percaya diri. Namun yang membuat Alya gelisah adalah saat ia tanpa sengaja menangkap Arka menoleh ke arahnya. Tatapan itu lagi-menelisik, seakan sedang menilai sesuatu.

Alya buru-buru menunduk, pura-pura sibuk dengan jemuran.

Beberapa hari berlalu, Alya mulai terbiasa dengan kehadiran Arka meski ia tidak pernah merasa nyaman. Ia mencoba fokus bekerja, mengabaikan keberadaan lelaki itu. Namun rupanya Arka tidak mudah diabaikan.

Suatu sore, Ibu Ratna harus pergi ke acara arisan. Alya ditinggalkan di rumah sendirian bersama Arka. Saat itulah ketegangan benar-benar terasa.

Alya sedang di dapur, memotong sayuran untuk makan malam, ketika tiba-tiba suara berat Arka terdengar di belakangnya.

"Kau tidak pernah berhenti bekerja, ya?"

Alya hampir menjatuhkan pisau karena kaget. Ia menoleh, melihat Arka berdiri bersandar di pintu dapur dengan tangan terlipat di dada.

"Saya... hanya menyiapkan makan malam, Mas," jawab Alya gugup.

Arka melangkah masuk, mendekat perlahan. "Berapa lama kau sudah bekerja di sini?"

"Hampir tiga bulan, Mas."

"Dan Ibu memperlakukanmu dengan baik?"

"Iya, Bu Ratna sangat baik pada saya."

Arka mengangguk pelan, matanya menatap Alya tanpa berkedip. "Kau tahu, tidak semua orang bisa mendapatkan keberuntungan seperti itu. Banyak gadis desa datang ke kota dan berakhir di jalanan. Kau cukup beruntung, Alya."

Nada suaranya terdengar seperti pujian, tapi tatapannya membuat Alya merasa sebaliknya-seperti sedang diintai.

"Saya hanya berusaha bekerja sebaik mungkin, Mas," ucap Alya sambil menunduk, berharap pembicaraan segera selesai.

Arka tersenyum tipis, lalu berbalik keluar dari dapur. Namun sebelum pergi, ia sempat berbisik, "Tetaplah seperti itu... rajin dan penurut."

Alya terdiam, tubuhnya merinding. Kata-kata itu terdengar sederhana, tetapi nada Arka membuatnya seolah sebuah ancaman tersembunyi.

Malam itu, Alya sulit tidur. Ia memikirkan sikap Arka yang semakin membuatnya resah. Di satu sisi, ia ingin tetap bekerja demi neneknya. Di sisi lain, ia merasa rumah ini tidak lagi menjadi tempat yang aman sejak Arka kembali.

Ia menatap langit-langit kamar sambil berdoa dalam hati. "Ya Tuhan, lindungi aku. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi."

Namun entah mengapa, hatinya semakin yakin bahwa badai besar sedang menunggu di depan.

Beberapa hari berikutnya, Alya berusaha lebih banyak menghindari Arka. Ia bangun lebih pagi, bekerja lebih cepat, lalu berdiam diri di kamar ketika tidak ada pekerjaan. Namun Arka seolah selalu punya cara untuk membuat keberadaannya terasa.

Suatu siang, Alya sedang menata buku-buku di ruang kerja Ibu Ratna. Arka tiba-tiba masuk tanpa mengetuk.

"Apa kau sering masuk ke ruangan ini?" tanyanya.

"Saya hanya membersihkan, Mas. Sesuai perintah Bu Ratna," jawab Alya cepat.

Arka berjalan mendekat, mengamati meja kerja, lalu menatap Alya. "Kau terlihat... berbeda dari pembantu rumah tangga lain. Kau terlalu cantik untuk pekerjaan ini."

Alya tersentak, wajahnya memerah. Ia tidak tahu harus menjawab apa. "Maaf, Mas. Saya harus kembali ke dapur," ucapnya terburu-buru, lalu melangkah keluar.

Namun sebelum ia sempat melewati pintu, suara Arka menahannya. "Alya."

Ia menoleh pelan.

Tatapan Arka menusuk, seakan sedang mengunci gerakannya. "Ingat apa yang kukatakan... tetaplah rajin dan penurut. Itu akan menyelamatkanmu."

Hari berganti, dan kegelisahan Alya semakin menjadi. Ia mulai sering berdoa, berharap Tuhan memberinya jalan keluar. Ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya, karena itu satu-satunya harapan untuk neneknya. Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan rasa takut yang kian menghantuinya setiap kali berhadapan dengan Arka.

Dan Alya tahu... cepat atau lambat, sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Lover (Alec & Alea)
8.6
Hasrat Alec Cage memuncak saat melihat kecantikan Azalea Mahendra. Peluang muncul ketika Arsen, kakak Alea, menyerahkan adiknya demi kursi CEO. Terpaksa tunduk, Alea menjalani pernikahan formal meski hatinya milik Arza, kakak angkatnya. Namun, badai datang saat Alec mengungkap masa lalu mereka. Sebagai pria pencemburu yang benci pengkhianatan, Alec tak akan memberi ampun. Ia bertekad menyiksa Alea dengan balasan yang jauh lebih menyakitkan dari kematian.
Sampul Novel Aku Kembali Bukan Untuk Cinta
9.8
Pasca menjebak Bara di malam pengantin, Ayla diusir dan mengasingkan diri ke luar negeri. Di sana, ia memulai hidup baru yang mapan dan membesarkan buah hatinya tanpa sepengetahuan sang suami. Namun, takdir memaksa Ayla pulang untuk menghadapi pria yang seharusnya ia benci itu. Kepulangannya membawa misi rahasia yang berisiko menghancurkan reputasinya. Meski dicap sebagai wanita murahan, ia tetap maju demi tujuan yang sangat krusial bagi hidupnya.
Sampul Novel BTB (Berpisah Tanpa Bercerai)
9.2
Airra, wanita yatim piatu, harus menelan pil pahit saat pernikahannya dengan miliarder Arief hancur akibat fitnah Garna dan Binar. Diusir tanpa kejelasan status, Airra bertahan hidup sebagai pembersih hotel demi dua anak kembarnya. Tiga tahun berselang, takdir mempertemukan mereka kembali saat kondisi Airra sangat lemah. Luka lama memicu dendam besar dalam diri Airra. Mampukah hubungan yang retak ini bertahan di tengah badai masa lalu yang belum usai?
Sampul Novel Bukan Sekedar Bantuan, Tapi Menghancurkan Pernikahanku
9.5
Adara Paramitha dan Garen Wijaya hidup bahagia hingga kecelakaan tragis mengancam nyawa Garen. Di ambang keputusasaan, Adara bertemu konglomerat Rian Kusuma yang menawarkan bantuan dana medis. Namun, bantuan itu menuntut imbalan yang mempertaruhkan kesetiaan Adara. Sementara itu, Kirana Senja, kekasih Rian, mulai merasakan ancaman pada hubungannya. Kini, mereka terjebak dalam pusaran rahasia dan pengorbanan yang menguji keteguhan cinta serta keutuhan rumah tangga.
Sampul Novel HASRAT, CINTA, DAN PENGORBANAN
9.1
Inara, gadis office girl di perusahaan migas milik keluarga Dhananjaya, terpaksa menjadi asisten pribadi Raka yang arogan setelah melakukan kesalahan. Saat persahabatannya hancur karena cinta segitiga dengan Bara dan Alexa, Raka hadir mengisi kekosongan hati Inara. Namun, hubungan mereka terancam oleh kembalinya mantan istri Raka dan paksaan ibu tiri. Daniel, kakak Raka yang cacat, juga mulai memanfaatkan Inara demi kepentingan pribadinya sendiri.
Sampul Novel Istri Yang Dilupakan CEO
8.1
Bagi Noel, pernikahan dengan Bianca hanyalah transaksi bisnis demi kelancaran kerja sama perusahaan. Ia mengabaikan keberadaan istrinya dan menanti saat yang tepat untuk berpisah secara resmi. Namun, ketika waktu perceraian tiba, sikap Noel mendadak berubah drastis. Ia menolak keras melepaskan Bianca tanpa alasan yang jelas. Di tengah dinginnya hubungan mereka, Noel justru bersikeras mempertahankan ikatan yang awalnya ia anggap tidak berarti sama sekali.