APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel DIANA, Istriku Cantik di Mata Pria Lain

DIANA, Istriku Cantik di Mata Pria Lain

Penyesalan mendalam menghantui hidupku setelah menyia-nyiakan Diana. Dulu aku memandang sebelah mata istriku yang tulus dan menjaga kehormatan itu, bahkan tega mengkhianati cintanya. Kini, setelah dia benar-benar pergi meninggalkan rumah dan tak pernah kembali, aku baru menyadari betapa berharganya sosoknya. Aku sadar telah bertindak bodoh karena kenaifanku sendiri. Diana layak mendapatkan kebahagiaan sejati bersama lelaki lain yang mampu lebih memuliakannya.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Coba istri saya cantik dan menantang kayak kamu. Betahlah lama-lama begini." Aku menjawil dagu Susan, dia adalah asistenku di kantor.

"Ish, Bapak bisa aja. Makanya, jadikan saya bagian dari itu." Susan menpis pelan jemariku. Kedua pipinya memerah. Ia tampak tersipu malu.

"Memang kamu beneran mau?" tanyaku.

"Kenapa tidak? Siapa yang mampu menolak pesona Bapak."

Susan tersenyum tipis. Ia membisik pelan di telingaku. Jemari tangannya bergerak lincah menyentuh leher. 

Kami sedang di dalam lift. Kebetulan hanya berdua saja. 

Ting! 

Denting pintu lift terdengar. Cepat aku membetulkan posisi. Merapikan bagian krah kemejaku yang sempat terbuka oleh Susan. Beberapa orang masuk ke dalam. Kulirik sekilas pada Susan, ia tampak sebal. Bibirnya mengerucut. 

"Sabar dulu," bisikku padanya. 

Tiba di lantai tiga. Aku dan Susan kembali berjalan. Beberapa pegawai kantor hadir. Mereka menyapaku.

Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Tampak dekorasi pesta yang mewah. Gelas-gelas kaca berjajar rapi di atas meja berwarna putih. Kerlap kerlip lampu menggantung sangat indah. Pesta kali ini diadakan oleh dewan komisaris di perusahaan tempatku bekerja. 

"Ayo Susan," ucapku sambil menggenggam tangan Susan. 

"Tapi, kalau ada yang bertanya istri Bapak, bagaimana?"

"Tenang saja. Tak ada yang akan berani bertanya tentang itu." 

Aku meyakinkan Susan dan ia pun mengangguk setuju. Kami berdua berjalan menuju meja Pak Anton, sang pemilik pesta. Kulihat dari tempatku berdiri. Ada Pak Yosef, Pak Elvin, Bu Manda dan beberapa wajah yang cukup asing. Ternyata bukan cuma karyawan kantor di perusahaan saja yang diundang. Sebab banyak wajah asing dan berkelas turut hadir. 

"Selamat malam, Pak," sapaku begitu tiba. 

"Selamat malam juga, Pak Wira. Wah, terima kasih sudah datang." 

Pak Anton mengulurkan tangan. Aku menjabatnya. Lelaki berbadan bulat dengan kepala botak di depanku ini memakai setelan jas berwarna silver. 

"Selamat malam Bu Susan." Pak Anton beralih pada Susan. Seperti yang ia lakukan padaku. Kali ini, tangannya menjabat lembut jemari Susan. Kulirik dari ekor mataku. Rasanya ada yang terbakar di sini. 

"Selamat malam juga untuk Bapak-Bapak semuanya." Susan menjawab sambil tersenyum. 

Tak ingin lama-lama terbakar cemburu, aku menyentuh pelan lengan Susan. Memberi kode untuk duduk di meja lain saja. 

"Apa sih, Pak?" tanya Susan seolah tak paham. 

"Kita ambil makan dulu," ucapku mengalihkan. 

"Oh, oke. Baiklah. Kalau begitu, kami permisi dulu, ya, Pak." 

Aku dan Susan berpamitan menuju tempat makanan. Tanpa sengaja aku berpapasan dengan petugas catering yang kutemui di bawah. Saat bersama Diana tadi. Ia menatapku penuh dengan raut benci. 

"Apa lihat-lihat!" sengitku.

Petugas catering yang tak kuketahui namanya itu menggeleng-gelengkan kepala lalu pergi menjauh. 

"Mau saya ambilkan?" tawar Susan setelah beberapa menit berselang. 

"Boleh. Jangan banyak-banyak, ya."

"Baik, Pak." 

Kuperhatikan dengan seksama. Gerakan tangan Susan yang sangat hati-hati menyiapkan makanan untukku. Lalu saat ia sedikit merunduk dan tanpa sengaja memperlihatkan bagian tubuhnya. Darahku seketika berdesir. 

Ah, andai saja ia bisa kubawa pulang ke rumah dan menggantikan posisi Diana. 

"Udah deh, Pak. Jangan gitu ngelihatnya." Susan menyodorkan piring berisi makanan. 

"Saya terhipnotis sama kamu, Susan."

"Alah, gombal mulu nih, Bapak." 

"Saya serius." 

Susan tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ia mencondongkan tubuhnya dan membisik di telingaku.

"Kalau begitu buktikan." 

Glek. 

Aku menelan saliva karena aroma parfum Susan dan bisikannya yang bernada manja. Menggoda. 

"Malam ini, mau?" tanyaku.

Susan mengangguk. Ia menggigit bibir sendiri. Kesempatan tak boleh disia-sia bukan? 

"Tunggu di sini. Biar kuantar istriku pulang lebih dulu." 

*** 

Berjalan menuju parkiran. Isi kepalaku hanya dipenuhi oleh Susan. Ia sudah memberi izin dan malam ini harus terjadi. Sesuatu yang .... 

Ouh, bahkan untuk memikirkannya saja aku sudah tersenyum sendiri. 

Sampai di tempat parkiran dan menuju mobil, aku justru tak menemukan Diana. Ke mana perginya perempuan itu? Huh! Menyusahkan saja! 

Aku terus menyisir beberapa baris mobil. Sampai terdengar suara yang tak asing sedang berbicara. Di deretan mobil paling ujung. Dekat pohon besar berdaun lebat. 

"Tidak, Mas. Terima kasih banyak. Saya menunggu suami saya di sini saja." 

"Tapi, ini sudah larut malam, Bu. Anginnya cukup kencang. Ibu bisa sakit." 

"Enggak, nggak papa. Saya di sini saja." 

Aku mendekat. Tak salah lagi. Itu adalah suara Diana. Ia sedang duduk di dekat pohon tanpa alas kaki dan yang paling mengejutkan  lagi adalah saat kulihat seorang pria bersamanya. 

"Diana!" teriakku. Istriku itu menoleh, ia tersenyum namun kuberi tatapan tak suka dengan segera. 

"Mas--"

"Ngapain kamu di sini?" 

"Diana nggak ketemu mobilnya, jadi nunggu di sini. Di sana malu banyak orang," jawab Diana polos. 

"Yasudah, ayo kita pulang sekarang." 

"Pestanya sudah selesai, Mas?"

"Belum, aku antar kamu pulang dulu. Nanti balik ke sini lagi. Ayo cepetan!" 

Aku menyeret tangan Diana. Ia menahan. 

"Nggak bisa jalan, Mas. Kakiku terkilir. Sandalnya terlalu tinggi, tadi--"

"Halah! Alesan!" 

Kutarik tangan Diana kembali. Memakan waktu saja. Bisa-bisa Susan bosan menungguku. 

"Mas, sakit," rintih Diana. 

"Pak, Pak, maaf saya ikut campur. Itu istrinya beneran sakit. Digendong kek. Jangan kasar begitu." 

Aku sampai lupa pada lelaki yang bersama Diana tadi. Sudah dua kali bertemu dengan orang-orang seperti ini. Ikut campur orang saja bisanya.

"Bukan urusanmu! Sana pergi! Ganggu orang saja!" ketusku.

"Memang bukan urusan saya, tapi itu Bapak nyakitin istrinya. Mana bisa didiemin begitu!" 

Wah, bocah di depanku justru menantang. 

"Apa urusanmu, hah?" 

"Mas--"

"Diam kamu Diana!"

"Ck! Ck! Ck! Kupikir yang datang di pesta malam ini orang-orang berkelas semua. Ternyata ada juga sampah seperti Anda di sini." 

Hah? Apa aku tak salah dengar? Lelaki di depanku ini menyebutku sampah?

"Hey, jaga bicaramu bocah!" 

Aku tersulut emosi.

"Memang Anda sampah! Cuih!" 

Ia kembali menghinaku bahkan meludah. Dasar kurag ajar. Tak tahu apa dengan siapa ia melawan. 

"Mas, sudahlah. Tuntun aku pelan-pelan. Mari kita pulang." Diana menengahi. 

"Cepetan makanya. Ini semua gara-gara kamu! Dasar istri gak guna! Ngerepotin aja!" 

Emosiku belum redam. Kutarik tangan Diana hingga ia nyaris tersungkur. Kedua mataku mendelik, sebab dari belakang lelaki yang tadi menghinaku dengan sigap menahan tubuh Diana. 

"Hey, bocah! Jangan sentuh-sentuh istriku! Kurang ajar sekali kamu, ya!" 

"Bapak tuh yang gak ada akhlak! Istrinya hampir tersungkur begitu! Mikir, Pak! Ya ampun!" 

"Kenapa? Kamu apanya istri saya? Kenal juga enggak. Berani ngatain orang lagi!" 

"Mas ... Mas--"

"Diam kamu Diana! Pria kecil ini harus diberi pelajaran. Nyulut emosi aja bisanya!" 

"Tapi, Mas--"

"Tapi apa? Kamu ada hubungan apa dengannya? Katakan!"

"Hey, hey, kalem!" 

Lagi-lagi lelaki itu berbicara. Kali ini ia menepuk lenganku. 

"Apa? Apa yang kamu mau, hah? Kamu peduli sama istri saya? Kamu mau mengambilnya? Ambil saja!" 

"Mas!" Diana membentak. Ia menatapku dengan kedua mata berkaca-kaca. 

"Dasar pria sinting! Laki nggak ada akhlak!" cerca pria itu. 

"Lah, kamu begitu peduli pasa istriku. Kenapa? Pasti ada sebab kan? Kamu mau? Ambil saja!" ulangku sambil melotot. 

"Hahahahaha, benar-benar sampah. Baru tahu ternyata perusahaan ini punya pekerja macam Anda. Dengar, ya, setiap orang punya kesempatan untuk memilih. Dan pada setiap pilihan akan menunjukkan siapa jati diri yang sebenarnya." 

Lelaki itu mendengkus. Tatapannya tajam mengancam.

"Jangan sok, saya orang penting di perusahaan ini. Apa urusanmu, hah?" 

"Ck ck ck! Anda adalah pria terbodoh yang pernah saya jumpai, dan attitude Anda saat ini, rasanya tidak pantas jika memposisikan diri sebagai seorang petinggi perusahaan. Mau tahu siapa saya?"

"Halah, paling juga bocah ingusan yang jaga parkir!" 

Aku melotot. Kuperhatikan tampilan lelaki di depanku ini yang memakai celana jeans dan kaos putih berbalut hoodie hitam. Benar-benar ingusan. Kuperhatikan kembali wajahnya, kenapa seperti tak asing, garis mata tegas dan hidung mancung itu. Seperti .... 

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Accidentally Fall For You
9.6
Arsenio Orlando Lazcano adalah CEO Lazcano's Corps yang kaya dan penuh kharisma. Di balik pesonanya, ia menyembunyikan sisi gelap sebagai pria yang tak segan membunuh. Namun, dunianya yang kelam berubah total setelah sebuah insiden mempertemukannya dengan seorang gadis lugu yang sangat baik hati. Perbedaan kepribadian yang kontras justru memicu rasa penasaran Arsen. Ketertarikan mendalam pun muncul saat ia mulai terobsesi pada gadis yang sangat polos tersebut.
Sampul Novel Pengkhianatan Sang Pria, Kisah Cinta Tak Tergoyahkan Miliknya
8.5
Ulang tahun ke-22 menjadi mimpi buruk saat tabungan kuliahku di ITB dirampas dua kakak kandungku demi operasi plastik Vanya, adik angkat kami. Mereka mengusirku dan menuduhku egois, lalu asyik berlibur ke Bali tanpaku. Di tengah kehancuran, tawaran proyek medis rahasia selama 15 tahun datang sebagai pelarian sempurna. Aku pergi meninggalkan bukti kebohongan Vanya di meja, memutus ikatan keluarga demi masa depan baru tanpa menoleh ke belakang lagi.
Sampul Novel Cinta Berubah Menjadi Abu
8.6
Nicola Dixon dan Asher tumbuh bersama, terikat utang budi masa lalu yang menyakitkan. Sebagai putri keluarga mafia, Nicola yakin dialah prioritas Asher. Namun, kepulangan Asher dari Segitiga Emas membawa kejutan pahit: seorang wanita hamil yang mengenakan cincin miliknya. Di tengah ketegangan senjata yang mengancam nyawa wanita itu, Nicola memberi pilihan mutlak. Asher harus memilih antara tanggung jawab pada kekasih barunya atau tetap menjadi bagian dari keluarga Dixon.
Sampul Novel DIBUANG MANTAN, DIKEJAR CEO SULTAN
9.8
Demi menyelamatkan ayahnya dari ibu tiri, Aruna terpaksa menjadi pengasuh Maira, putri dari bosnya yang bernama Brahmana. Namun, pengabdian di kediaman sang CEO justru menjeratnya dalam dilema antara kebencian masa lalu dan cinta yang mulai tumbuh. Meski mencoba pergi, ketulusan Maira dan kejujuran Brahmana terus mengejarnya. Aruna kini terjebak dalam pilihan sulit: mempertahankan dendam demi sang ayah atau menyerah pada dekapan cinta sang sultan.
Sampul Novel Dilamar Mantan Depan Suami
8.0
Nisa terjebak dalam pernikahan penuh tekanan bersama Arman, suami yang sangat perhitungan dan keras. Meski Nisa berusaha menghormati mertua dan iparnya, Arman selalu merasa istrinya kurang berbakti. Kesedihan Nisa memuncak saat Arman membatasi asupan gizi putra mereka, Ahmad, dengan dalih penghematan. Nisa hanya bisa berdoa agar suaminya menepati janji untuk menerima sang anak sepenuhnya, di tengah tuntutan hidup dan perilaku kasar yang terus diterimanya.
Sampul Novel Dokter Milik Tuan Muda
8.2
Kimmy Jordan, seorang dokter berbakat, terjebak dalam dilema besar setelah menyetujui perjodohan dari orang tuanya. Di tengah komitmen itu, hatinya justru tertambat pada pemilik kafe langganannya. Sementara itu, Dokter Inggit harus menghadapi realita pernikahan paksa dengan pria kaku yang ia juluki beruang kutub. Ikuti perjuangan dua dokter cantik ini dalam menavigasi rumitnya komitmen, perasaan tulus, dan dinginnya sikap pasangan dalam hidup mereka.