APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Nakal Sang Bidadari Surga

Gadis Nakal Sang Bidadari Surga

Ayana adalah pemimpin geng motor The Wild Ants yang terkenal pemberontak. Kenakalannya membuat sang Papa mengirimnya ke pesantren untuk dibina. Di sana, ia terkejut saat mengetahui dirinya dijodohkan dengan Gus Farhan, putra pemilik pesantren. Ayana tak berdaya menolak karena perjodohan tersebut merupakan wasiat terakhir almarhumah ibunya. Kini, ratu jalanan itu harus berjuang menghadapi kehidupan religi dan komitmen pernikahan yang tak pernah ia duga.
Bab
Bagikan

Bab 1

Suasana jalan Bandung, hari ini cukup padat! Meski begitu, terlihat di pinggir jalan seorang gadis SMA tengah di ganggu para preman jalanan, tak ada yang membantu. Beruntung gadis itu bisa melawan, dan membuat para preman itu tersudut.

"Kabur lo semua! Huh, sana dasar pengecut!" Umpat Ayana menendang angin menatap ketiga pria yang sebelumnya datang menggodanya kini lari terbirit-birit menjahuinya, dengan wajah yang babak belur.

"Ayana di lawan," gadis berseragam putih abu-abu itu mengibas rambutnya kebelakang lalu berkacak pinggang menatap lurus pada segerombolan pria yang duduk manis menyantap makanan berkuah dengan bulatan-bulatan kecil pada mangkok berlogo ayam, di seberang jalan tempatnya berada.

"Sialan kalian nggak ada niat nolongin apa!" Omel Ayana pada kumpulan pria di sana yang tampak biasa saja menatapnya tanpa rasa khawatir.

"Bisa lawan kan? Lo aman kan? Ngapain kita tolong! Abang lo aja diam tuh. Malah waktu lo berantem dia nambah baksonya." Celutuk salah seorang di antara mereka. Ayana menoleh melangkah cepat pada pria yang 80% memiliki wajah sama dengannya.

"Bang Arka!" Pekik Ayana saar pria yang merupakan saudaranya itu berlari menjauhinya.

"Orang lagi makan jangan di ganggu!" Ketus pria bernama Arka itu.

Ayana melebarkan matanya, berkacak pinggang lalu melipat kedua tangannya.

"Gua aduin ke Papa, karena lo nggak bantuin gua yang habis di godain preman!" Teriak Ayana menunjuk tajam pada saudaranya itu.

"Berisik! Ngomong tuh santai aja, nggak usah teriak gitu!" Ketus pria yang berada di depan Ayana.

"Apa lo, mau ku pukul!" Ketus Ayana mengayunkan pukulannya di udara lalu berlalu begitu saja.

"Hey, Ayana lo bolos lagi? Jam segini udah pulang aja." Tegur salah seorang di antara mereka yang tampak menggendong seekor monyet.

"Iya, tapi toh guru juga lagi ngadain rapat. Makanya gua ke sini," ucap Ayana tampak begitu santai.

Pletak...

"Aduh..." Ayana mengusap telinganya yang mendapat jentikan keras dari saudaranya.

"Aku aduin ke Papa yah! Lupa kamu, Papa kemarin bilang kalau bolos sekali lagi kamu bakal di pindahin ke pesantren," ucap Arka yang seketika membuat Ayana membeku, karena ia sungguh lupa dengan ancaman Papanya itu.

Merengek untuk tak di adukan pun sepertinya percuma, karena mungkin saja saat ini Papanya sudah mengetahui itu, mengingat di sekolah ia selalu di awasi beberapa siswa yang di minta menjaga Ayana, yang dirinya sendiri tak kenal dan tak tahu siapa yang mengawasinya.

"Ah, nggak mau!" Pekik Ayana.

"Makanya jangan bolos!"

"Huh, kasian bakal di pindahin ke pesantren!" Ledek teman-teman Abangnya yang sudah teramat dekat dengan Ayana sendiri.

****

"Papa janji deh nggak bakal bolos lagi. Tapi jangan pindahin nggak cocok buat Ayana yang bandelnya nggak ketulungan ini." Cerocos Ayana yang merengek mengoyang-goyangkan lengan Papanya.

"Justru karena kamu bandel, Papa mau kirim kamu ke pesantren. Udah sana, beresin barang-barangmu besok kita berangkat! Nggak ada bantahan lagi, atau kamu Papa kirim ke tempat terpencil yang sekolahnya hanya dari anyaman bambu! Mau hah?" Omel Marcel, Papa Ayana.

Ayana menggeleng cepat.

"Ya sudah sana, siapin barang-barangmu, jangan bawa aneh-aneh. Kamu di sana bakal didik dengan baik!"

Ayana menatap sang Papa dengan mata berkaca-kaca berharap ada toleransi untuknya.

"Siapkan barang-barangmu sekarang Ayana!" Geram Marcel yang berusaha tak termakan bujuk rayuan putri kesayangannya. Sesungguhnya ia tak bisa jauh dengan putrinya, tapi mau bagaimana lagi putrinya itu kian hari semakin nakal dan berulah. Beberapa hari yang lalu saja dirinya sudah di panggil pihak sekolah karena putrinya itu bertengkar hingga membuat korbannya babak belur. Di tambah nama Ayana di buku tulis guru BK sudah merah akibat kenakalannya.

Ya, tentunya ia harus menindaklanjutinya dengan cara seperti ini!

"Papa jahat!"

"Memang."

"Papa nggak sayang Ayana lagi!"

"Nggak tuh."

"Ayana benci Papah!"

"Terserah."

Ayana menghentakkan kakinya mendapat jawaban enteng Papanya itu.

"Sana! Apalagi yang kamu tunggu, besok pagi kita udah berangkat."

Ayana dengan deraian air mata dan hentakan kaki ia berjalan ke arah kamarnya. Kalau sudah seperti ini, rasanya tak ada cara lagi untuk membujuk Papanya. Dengan perasaan kesal ia membanting pintunya dengan kencang.

"Astagfirullah, anak itu." Marcel mengusap dadanya berusaha agar tak terpancing emosi.

Kemudian ia menoleh pada putranya yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya.

"Arka."

"Hmm..."

"Arka!"

"Iya Pah." Sahut Arka tanpa menoleh.

"Arkana!" Teriak Marcel yang membuat Arka menyimpan ponselnya lalu menatap Papanya dengan cengiran khasnya itu.

"Iya Pah."

"Gamis, rok, kerudung, atau apapun itu. Segala keperluan adikmu sudah kamu beli?" Tanya Marcel yang kini melembut.

"Sudah Pah, semuanya sudah beres di kamar Aya. Tinggal di masukin ke koper doang." Jawab Arka.

Marcel mengangguk.

"Bantuin Adikmu sana, ini pertama kalinya kalian akan jauh, jadi hibur adikmu sana."

"Kenapa bukan Papah aja, palingan juga Papah lebih sedih dari aku." Ledek Arka sesaat tersenyum takut-takut menatap tatapan maut Papahnya.

"Aku ke atas Pah, dah."

Arka pun berlari menginjak satu persatu anak tangga.

"Semoga ini jalan terbaik, dan Ayana bisa merubah sikap buruknya." Gumam Marcel menoleh menatap bingkai foto almarhum Istrinya.

"Andai kamu ada di sini, Ayana pasti tidak akan tumbuh seperti itu. Dia memang anak baik dan manja tapi tetap saja ia begitu nakal di luar sana. Maaf karena didikanku yang keras ia malah seperti ini, dan mengikuti jejak Abangnya." Batin Marcel menghapus setitik air mata yang lolos begitu saja.

"Ya Allah nih anak! Kamar lo kenapa berantakan gini, marah sih marah tapi jangan kayak gini Ayana!"

"Diam lo setan! Lo harusnya bantuin gua bujukin Papa bukannya diam aja kayak tadi!"

"Panggil gua Abang! Yang sopan bicaranya anak anjing."

Marcel menghela nafas mendengar umpatan kedua anaknya yang memang hampir tak pernah akur, rasanya mendengar kucing yang sedang ingin kawin saja jika mereka ribut seperti ini.

"Ayana!" Teriak Arka menarik gamis yang hendak di gunting Ayana. Ia kemudian memasukkannya dalam koper.

Arka berkacak pinggang lalu menatap tajam adik satu-satunya itu.

"Duduk! Kamu nggak boleh pergi dalam keadaan marah seperti ini!" Perintah Arka yang mulai menurunkan intonasi suaranya.

Ayana menurut duduk meringsut di atas kasur kesayangannya.

"Ayana nggak mau pergi Abang! Ayana nggak bisa jauh-jauh sama kalian!" Rengek Ayana di iringi tangisannya yang mulai pecah.

"Makanya jangan nakal! Ini keputusan Papa, nggak bisa di ganggu gugat lagi. Lagian pesantrennya juga dekat, kita bisa ngunjungin kamu tiap bulan. Eh, nggak Abang janji ngunjungin kamu tiap hari minggu." Arka mengangkat jari kelingkingnya dengan tatapan seriusnya mengucapkan janjinya itu.

"Em... nggak mau, tempatnya jauh Bang, butuh sekitar dua jam baru sampai ke sana." Gerutu Ayana.

"Elleh jauh apanya, biasanya juga kalau jalan-jalan bisa sampe sana," ucap Raka yang begitu sinis.

Ayana menatap sebal saudaranya itu. Sungguh tak pengertian sekali. Ayana memalingkan wajahnya dan mulai menangis dalam diam.

Arka yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas, meski ia sering menjahili adiknya hingga menangis karena kesal, tapi ia tak pernah tega melihat adiknya menangis sesedih ini.

"Cantik, adikku yang paling manis. Udah yah, jangan nangis lagi. Ini keputusan Papa, kamu terima saja. Apa yang Papa lakukan juga ini demi kebaikanmu." Bujuk Arka.

"Tapi kenapa harus ke pesantren, itu tidak cocok buat Ayana yang bandel." Gerutu Ayana.

"Nah, tau kalau kamu bandel, makanya Papa mau kamu pesantren, biar jadi anak yang baik. Beban dosamu yang harus di tanggung Papa juga ringan." Celutuk Arka yang membuat Ayana menatapnya sebal.

"Udah jangan nangis lagi, beresin barang-barangmu. Abang bantuin!"

Ayana menggerutu tapi tetap menurut mempersiapkan segala keperluannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai
9.2
Setelah delapan tahun berjuang demi kehamilan, Amelia justru mendapati suaminya, Aditya, berselingkuh dengan Nasywa yang tengah mengandung. Dorongan kasar Aditya mengakibatkan Amelia keguguran dan kehilangan segalanya. Lima tahun berlalu, Amelia bangkit menjadi sosok sukses dan berkuasa. Saat Aditya kembali dalam kondisi hancur untuk memohon pengampunan, Amelia hanya menatapnya dingin. Baginya, wanita lemah yang dulu mencintai suaminya itu telah lama mati.
Sampul Novel Anak Kembar Sang Mafia
9.3
Wilson Zavierson, pemimpin mafia Dragon, tak sengaja menghabiskan malam bersama Viyone Florencia. Kejadian itu membuat Viyone hamil, namun ia justru menikahi Jeff. Chris, putra mereka, kerap disiksa Jeff hingga nyaris tewas. Saat Viyone hancur akibat pengkhianatan Jeff, Wilson muncul menyelamatkannya dari penjara. Viyone pun terkejut mengetahui identitas asli penolongnya. Mampukah Wilson melindungi Viyone dan Chris, serta mempertemukan kembali putra kembar mereka yang terpisah?
Sampul Novel Balas dendam
9.2
Dahulu Jenni hanyalah wanita lemah yang menjadi korban perundungan serta dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya sendiri. Kini, ia telah bertransformasi menjadi sosok yang tangguh dan tak tergoyahkan. Didorong dukungan penuh sahabat setianya, Jenni bertekad membuktikan kekuatannya melalui rencana balas dendam yang matang. Sambil mencoret foto para pengkhianat, ia bersumpah akan membuat mereka merasakan penderitaan yang sama. Simaklah perjalanan Jenni menuntut keadilan.
Sampul Novel GADIS BIASA VS BOSS MAFIA
8.6
Anne Mary, gadis jenius berusia 18 tahun, terjebak dalam pusaran maut setelah menyaksikan pembunuhan cinta pertamanya oleh bos mafia, Marcio Lamparska. Dituduh sebagai tersangka, Anne diculik Marcio ke Spanyol untuk dilatih secara fisik. Meski awalnya berniat membalas dendam dengan mendekati Marcio, Anne justru jatuh cinta. Konflik memuncak saat Iosef, musuh Marcio yang posesif, menyelamatkannya. Kini Anne tumbuh menjadi pembunuh tangguh yang harus memilih antara dendam atau komitmen hati.
Sampul Novel Karma sang pelakor
8.2
Keluarga Christian bersaudara menyimpan amarah besar setelah mengetahui suami mereka mengkhianati komitmen demi gadis muda. Dendam ini memicu rencana pembunuhan gelap yang mengguncang segalanya. Namun, aksi tersebut justru memancing kecurigaan Nathan bersaudara. Mereka kini bertekad menelusuri jejak misterius demi mengungkap penyebab sebenarnya di balik kematian tragis adik bungsu mereka. Konflik antar keluarga pun pecah dalam balutan aksi dan misteri.
Sampul Novel Kembalinya Sang Penguasa
9.0
Ledakan rumah yang menewaskan sepasang suami istri memicu kepanikan besar di kalangan polisi dan tentara. Hilangnya putri mereka menandai kembalinya sosok legendaris, Red Everlasting Dragon. Sang penguasa yang ditakuti dunia ini turun gunung demi membalas dendam atas kematian orang tuanya dan penculikan adiknya. Tanpa ampun, ia bersumpah akan menghancurkan siapa pun pelakunya. Amarah sang naga kini membara, siap mengguncang tatanan dunia dari timur hingga ke barat.