APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel HOLD ME

HOLD ME

Alice, siswi berprestasi berusia delapan belas tahun, bermimpi menjadi desainer ternama. Namun, dunianya runtuh saat orang tuanya tiada dan Martin, kakaknya sendiri, menjualnya kepada Devan Adipati Gumilang. Devan adalah pemuda kaya raya yang dominan dan dikenal sangat brengsek di Jakarta. Kini, Alice terjebak sebagai pemuas nafsu bagi Devan yang memperlakukannya bak mainan. Mampukah ia meloloskan diri dari cengkeraman pria tampan yang berhati iblis tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kak, aku ..." Alice ingin menolaknya tapi dia tak sanggup menatap mata Martin yang sedang merongos padanya.

"Why? Lo nggak mau, gitu?!" gertak Martin sampai membuat Alice terperanjak kaget. Untuk pertama kalinya ada orang yang berkata sangat lantang padanya.

"I-iya, Kak," lirih Alice dengan sorot mata memelas berharap Martin mengasihaninya.

"Udah pake sana, lelet banget sih!" Martin lembali mendorong bahu Alice.

Gadis itu hanya bisa menggeleng dengan air matanya yang ingin segera ditumpahkan.

"Kak.."

"Jangan nangis di depan gue. Cepat pake itu! Gue tunggu di luar." Martin segera berbalik badan.

Alice hanya menelan salivanya sambil mengusap kedua pipinya. Tak ada pilihan, gadis itu terlalu takut pada Martin.

Beberapa saat kemudian..

Alice baru saja keluar dari ruang ganti. Kedua tangannya tak henti menarik-narik tepi lingerie itu yang memang sangat pendek hingga kulit putihnya terlihat jelas. Wajah gadis itu menunduk dengan pipinya yang bersemu merah. Sungguh dia sangat malu dan tidak nyaman mengenakan pakaian minim itu.

Wajar saja, karena selama ini Alice tidak pernah mengenakan pakaian seperti itu. Bahkan sang bunda selalu melarangnya memakai pakaian yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Alice mengusap pipinya teringat itu.

Martin menatapnya dengan aneh seperti lelaki hidung belang yang sedang melihat seorang pelacur.

Alice mulai takut sampai jantungnya berdegup kencang.

"Bagus. Ayo ikut gue!" Tangan Martin meraih lengannya dan menyeretnya berjalan cepat menuju teras belakang dimana terlihat beberapa orang pemuda seumuran Martin yang sedang minum miras sambil tertawa tak jelas. Tampaknya mereka sudah mabuk.

"Wah, ada cewek cantik. Dapet dimana lo, Mart?" Mata seorang lelaki langsung terbelalak melihat Alice yang kelihatan sangat seksi dengan lingerie hitam itu.

Alice hanya menunduk dengan tangannya yang berusaha menarik-narik tepi lingerinya.

"Ini Adek gue, namanya Alice. Lo semua boleh seneng-seneng sama dia," ucapan Martin membuat Alice langsung menoleh padanya.

Adik? Ya, dia senang lelaki itu mengakuinya. Tapi kenapa kalimat kedua membuatnya sangat kaget. Boleh senang-senang? Apa maksudnya?

"Hai, Alice!"

"Hei, cantik. Sini!"

"Wah, cantik banget!"

Suara-suara itu seolah membuat Alice seperti sedang dijual oleh kakaknya. Tatapan mereka begitu liar seperti seekor singa yang ingin segera menerkam. Alice ingin segera pergi, dia tak mau ada di sini.

"Sana, layani mereka!" Martin mendorong punggungnya membuat Alice benar-benar ketakutan.

Gadis itu melangkah sangat lamban menuju teras dimana semua lelaki itu sedang tersenyum seringai padanya.

"Lelet banget sih!" Tangan Martin menarik lengannya dan langsung menyeret Alice ke depan semua temannya itu.

Alice yang gemetaran tak berani menatap mereka. Tatapan semua lelaki itu seperti sedang menelanjanginya.

"Hei, cantik! Sini temani gue!" perintah Rio salah satu dari mereka yang sedari tadi menatapnya dengan aneh.

Alice menoleh pada Martin. Akan tetapi lelaki itu malah membuang wajahnya seolah tak mau tahu. Astaga, bagaimana ini? Alice merasa diperlakukan seperti wanita penghibur.

"Bagus. Tambah lagi minumnya, Sayang," pinta yang lainnya.

Alice sudah tak tahan lagi. Dia ingin segera lari ke kamarnya sekarang juga daripada harus meladeni semua lelaki mabuk itu.

"Alice, lo cantik banget. Mau nggak kalo gue ajak seneng-seneng malam ini?" ucapan Rio sambil menjawil dagunya membuat Alice segera menjauh dari lelaki itu.

Apa ini? Memangnya dia pelacur! Lelaki itu berani melecehkannya.

"Heh, jangan sok jual mahal begitu. Martin udah cerita banyak sama gue. Lo anaknya istri kedua Ayahnya Martin, 'kan? Udah jelas kalo Nyokap lo juga pasti cewek murahan," ucapan Rio seenak hati. Tentu saja membuat Alice sangat tersinggung.

"Jangan ngomong sembarangan ya, Kak. Bunda bukan wanita seperti itu!" Alice langsung memasang wajah penuh emosi pada lelaki di depannya itu.

Rio tersenyum tipis melihatnya lantas berkata, "Tambah cantik aja kalo lagi marah. Ayo, sini!" Dia segera meraih lengan Alice sampai menariknya ke pelukannya.

"Lepasin! Kak Martin!" Alice berteriak pada Martin sambil berusaha berontak dari Rio yang ingin melecehkannya.

Memang, Martin ada di sana, tapi pemuda itu masa bodoh dan tidak perduli melihat Rio yang sedang kurang ajar pada adiknya itu. Dia malah pergi menuju teras balkon bersama dua temannya yang lain.

Alice mulai menangis ketakutan, dia harus melawan lelaki brengsek ini sendiri.

Dak!

Alice menendang perut Rio dan langsung kabur menunju kamarnya. Sial! Lelaki itu mengejarnya sampai membabi buta. Alice segera masuk dan langsung mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Astaga, jantungnya seakan mau copot ketakutan.

"Alice! Buka pintunya, Sayang!"

Suara Rio dari balik pintu membuatnya sangat gemetaran.

Alice bersandar di pintu sambil menangis. Dia harus bagaimana? Kenapa Martin tidak menolongnya?

Beberapa saat kemudian suara Rio sudah tidak terdengar lagi. Alice menarik sofa untuk menahan pintu, dia takut Rio nanti datang lagi. Gadis itu segera ganti baju dan langsung naik ke atas ranjang, menarik selimut sampai ke lehernya. Jantungnya masih berdebar kencang di tambah tubuhnya yang gemetaran. Dia benar-benar sangat ketakutan.

Hari mulai pagi saat Martin mengetuk pintu kamarnya. Alice baru saja terjaga dan melihat jarum jam sudah pukul enam pagi. Ya ampun, dia sudah kesiangan karena semalam tidak bisa tidur memikirkan Rio yang menunggunya di depan pintu kamarnya semalaman.

"Alice! Buka pintunya!"

Suara Martin sangat lantang membuat jantungnya hampir copot. Alice segera bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu

"Lama banget, sih?! Cepat mandi sana! Gue mesti ngantar lo ke Sekolah baru, ngerti?" gertak Martin tampak begitu marah padanya. Pasalnya, lelaki itu sudah hampir lima belas menit mengetuk pintu kamarnya sedari tadi.

"Iya, Kak."

"Cepat!"

Martin segera pergi setelah Alice kembali menutup pintu.

Gadis itu mulai mandi lalu bersiap untuk ke sekolah barunya. Alice senang karena Martin masih mengijinkan dia bersekolah. Ya, bagaimanapun lelaki galak itu adalah kakaknya, bukan?

"Cepat masuk mobil! Jangan gara-gara elo, gue telat datang ke kampus." Martin tak henti mengomel membuat Alice tersenyum tipis.

Dia segera memasuki mobil.

Martin langsung melajukan mobilnya menuju SMA Gumilang High School.

Di mana Alice akan mulai sekolah dan menemukan teman-teman barunya di Jakarta.

Setelah tiba di sekolah Martin langsung menemui kepala sekolah dan mengurus semuanya agar Alice bisa segera mengikuti pelajaran.

"Kak mau kemana?" tanya Alice karena melihat Martin yang akan segera pergi

"Ke kampus, lah!" jawab lelaki itu sinis tanpa menatap wajah cantik sang Adik yang sedang tersenyum padanya

"Makasih ya, Kak." Alice meraih tangan Martin lantas diciumnya.

"Hm.."

Martin segera menarik tangannya dan berlalu meninggalkan Alice yang masih berdiri memperhatikan punggungnya yang tidak pernah akan menoleh sedetik pun padanya. Martin, lelaki tampan berkulit putih itu adalah kakaknya. Dan dia sudah menunjukan itu sekarang.

"Hai, kamu Alicia, ya. Murid baru itu?" sapa seorang wanita dewasa berpakaian batik membuat Alice tersentak dari fantasinya.

"Hm, iya Bu."

"Cantiknya. Ayo ikut Ibu ke kelas. Ibu mau kenalin kamu sama murid-murid lainnya," ucap wanita itu sambil tersenyum padanya.

Alice mengangguk sambil tersenyum kemudian mengikutinya menuju kelas.

Setibanya di kelas Ibu Renita yang tadi mengajaknya menuju kelas langsung memperkenalkan Alice pada semua murid yang menyambutnya dengan hangat. Apa lagi para murid laki-laki, mereka sampai berebut ingin berjabat tangan dengan gadis manis itu.

"Hai, Alice! Kenalin, gue Chelsea. Mulai sekarang kita berteman, ya!" sapa seorang gadis berambut pirang dengan kawat giginya yang warna-warni menyodorkan tangannya sambil tersenyum.

"Hai juga, Chelsea," balas Alice sambil tersenyum pula.

"Minggir lo!" Chelsea mengusir seorang siswi yang kelihatan culun dengan kacamata besarnya, juga dua kepang rambutnya yang tampak klasik. Tadinya dia duduk di samping Alice dan sangat senang punya teman sebangku yang cantik.

Tapi sial! Chelsea mengusirnya seperti mengusir seekor ayam. Gadis culun itu tidak melawan dan langsung pindah ke belakang sambil menyeret tasnya.

Memangnya siapa yang berani pada Chelsea Renata Gumilang? Puteri pengusaha properti nomer satu di Asia Tenggara itu. Bahkan yayasan tempat mereka sekolah pun adalah milik ayahnya. Alice agak kaget melihat sikap kasar Chelsea barusan.

"Alice, gue mau duduk di sini sama lo." Chelsea kembali menunjukan kawat giginya.

Alice hanya tersenyum simpul.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Cinta Yang Kandas
8.7
Tiga tahun Aveline mengabdi dalam pernikahan tanpa cinta demi Damian, bahkan rela menyerahkan bakat arsitekturnya agar suaminya bersinar. Namun, pengkhianatan Damian di depan publik menyadarkannya. Aveline memilih bercerai dan bangkit membangun firma de la Fontaine miliknya sendiri. Kini, ia kembali sebagai arsitek kelas dunia yang sukses mengalahkan dominasi perusahaan Blackwood. Di tengah puncak kejayaan, akankah ia membiarkan cinta masuk kembali ke hatinya?
Sampul Novel Cinta dan Dendam Andara
9.8
Andara meninggalkan kehidupan desa untuk merantau ke kota besar. Misi utamanya adalah menemukan sosok yang bertanggung jawab atas penderitaan sang ibu di masa lalu. Saat bekerja sebagai staf pembersih, ia justru menarik perhatian seorang CEO tampan yang menjadi pimpinannya. Benih cinta mulai tumbuh di antara mereka berdua di tengah perbedaan status sosial. Namun, ketika hubungan semakin dalam, berbagai rintangan besar muncul menguji kesetiaan mereka.
Sampul Novel Hot Desire Mr. Thompson
9.4
James tidak menyangka jatuh hati pada pandangan pertama saat menikahi Elvira melalui perjodohan. Kecantikan Elvira dan momen malam pertama mereka di dalam limosin membuat James terobsesi. Namun, Elvira bahkan tidak menyadari kekayaan suaminya yang luar biasa. Bahtera rumah tangga mereka segera diuji oleh berbagai rintangan besar, terutama saat mantan kekasih James muncul kembali. Mampukah cinta tulus mereka bertahan menghadapi gangguan orang ketiga?
Sampul Novel JandA
9.4
Aline Anderson memimpin penerbitan terbesar di kotanya, namun ketidakhadirannya membuat kestabilan perusahaan goyah. Saat ia kembali memegang kendali, ancaman muncul dari penulis emasnya yang ingin menarik karya secara mendadak. Keputusan ini membawa bisnis Aline ke jurang kebangkrutan. Kini, Aline harus menghadapi kerugian besar sekaligus fakta mengejutkan mengenai identitas asli sang penulis di tengah badai konflik yang mulai bermunculan satu per satu.
Sampul Novel Mantan Istri Saya Seorang Konglomerat?
8.3
Tiga tahun Loraine setia mengabdi, namun Marco justru memperlakukannya dengan hina. Muak dengan pengkhianatan suaminya, Loraine memilih cerai demi mengejar warisan triliunan rupiah. Publik awalnya mengira ia gila, hingga identitasnya sebagai miliarder termuda terungkap. Saat Marco melihat mantan istrinya dikelilingi pria tampan, ia menyesal dan memohon untuk rujuk demi aliansi bisnis. Namun, Loraine hanya menatapnya penuh rasa jijik dan sudah tak lagi mencintainya.
Sampul Novel Nirmala Cinta
9.2
Setelah dua tahun menikah tanpa buah hati, Aulia memilih bercerai saat suaminya memutuskan berpoligami. Meski ditentang sang ibu yang gila harta, ia berhasil hidup mandiri. Namun, ketenangan Aulia terusik saat Candra datang menawarkan pekerjaan bergaji besar. Pesona Candra mulai menggoyahkan hati Aulia yang lama tertutup. Kini ia terjepit di antara tawaran pernikahan pria kharismatik itu atau gangguan sang mantan suami yang ingin rujuk kembali.