APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel I'm The Beast

I'm The Beast

Rodolfo Silas adalah pembunuh bayaran yang beralih menjadi pelindung desa saat teror makhluk aneh melanda. Di tengah misteri hilangnya manusia setiap bulan purnama, Rodolfo berjuang sendirian menghalau pasukan serigala berkat kemampuan tempurnya yang luar biasa. Namun, nasibnya berubah drastis ketika pasukan elite werewolf menculiknya dan mengubahnya menjadi monster mengerikan. Kini, ia harus menghadapi kenyataan baru sebagai bagian dari kaum yang ia lawan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Rodolfo telah bersiap dengan senapannya, kali ini ia mencoba untuk memfokuskan kepercayaan dirinya agar ingatan tentang masa lalu itu tidak terlalu mengganggu konsetrasinya.

"Kali ini tak akan kubiarkan Kau lolos, Jonathan," gumamnya seraya memicingkan mata agar bisa fokus terhadap bidikannya.

Dor!

Satu lesatan peluru dari senapan milik Rodolfo meluncur dengan cepat, membelah angin, dan melawan hukum gravitasi. Namun, di luar dugaannya Jonathan yang menjadi target itu tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.

Sleb!

"Ahk!" Tiba-tiba terdengar suara pekikan tertahan.

"BOS!!!"

Terlihat seorang anak buah Jonathan berlari seraya berteriak memanggilnya, saat mendengar suara pekikan yang tertahan itu.

"Cepat beritahu yang lain, ada penyusup!" Perintah Jonathan pada anak buahnya seraya memegang bahu kanan yang baru saja tertembak oleh peluru Rodolfo.

Dengan sigap, anak buah Jonathan itu berlari keluar ruangan untuk memberitahu yang lain sesuai perintah bosnya.

Sementara itu, Rodolfo langsung terkejut saat melihat tembakannya meleset. Ia merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukannya. Ia merasa seperti terkena kutukan saat mencoba untuk membunuh Jonathan. Seperti mengalami De Javu, kegagalan di masa lalunya kini terulang kembali.

"Sial!!!" umpatnya.

"Apa yang terjadi denganku? Mengapa ini terjadi lagi? Ah ...." Armando menggerutu sejadinya, ia merasa telah melakukan kesalahan fatal lagi.

Ingatan-ingatan tentang masa lalu membuatnya hilang konsentrasi, sehingga tidak bisa memprediksi kemungkinan-kemungkinan gerakan yang akan dilakukan oleh Jonathan, Sang Target Sasaran.

"Gawat! Mereka pasti akan memburuku! Aku harus segera pergi sebelum mereka menemukanku!"

Dengan perasaan yang kacau ia merapikan semua peralatannya untuk segera bergegas meninggalkan tempat itu.

Pikiran Rodolfo saat ini hanyalah ingin selamat dari situasi yang menurutnya sangat gawat, bahkan bisa mengancam keselamatannya. Ia lalu berjalan cepat di antara pohon-pohon seraya menggendong tasnya.

DOR! DOR! DOR!

Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang terdengar cukup nyaring di telinganya.

"TANGKAP DIA!!!"

Terdengar suara seseorang sedang memberi komando yang membuat Sang Pembunuh Bayaran itu menjadi gelisah dan mengambil langkah seribu.

"Sepertinya mereka telah melihatku!"

Walaupun ia seorang pembunuh yang terlatih, namun jika harus berhadapan dengan satu pasukan yang jumlahnya sangat banyak, membuat ia tidak mau mengambil resiko dan memilih untuk menyelamatkan diri. Apalagi situasi medan yang belum dikenalnya, membuat ia terpaksa untuk terus berlari.

Seluruh pasukan penjaga dan pengawal Jonathan yang berjumlah puluhan itu berlari mengejar Rodolfo, saat pimpinan mereka berteriak memberi perintah.

"Gawat! Jalannya menuju jurang!" Rodolfo mulai panik saat mata tajamnya melihat sebuah jurang bekabut yang menganga sekitar 100 meter dari tempatnya sekarang.

Sambil terus berlari, mata Rodolfo melihat sekeliling dengan cepat untuk mencari tempat persembunyian sementara, sampai kondisi aman. Tiba-tiba sudut matanya menangkap sebuah tempat seperti tumpukan batu-batu besar yang berada tidak jauh di sebelah kanannya. Dengan cepat ia berbelok arah menuju ke tempat itu.

"Sepertinya itu bisa menjadi tempat yang aman untuk bersembunyi," gumamnya seraya menambah kecepatan larinya.

Rodolfo berpikir bahwa celah-celah di antara tumpukan batu-batu besar itu bisa menjadi pelindungnya walau hanya sementara. Tanpa berpikir panjang, ia lalu menerobos masuk saat melihat celah yang seukuran tubuhnya. Sementara itu, pasukan Jonathan yang mengejar Rodolfo masih tetap berlari hingga sampai di tepi jurang.

"Aku rasa dia terjatuh," ucap salah seorang yang membawa senapan laras panjang.

"Mustahil dia sebodoh itu, ayo kita telusuri ke sisi yang lain!" sahut temannya yang lain seraya memberi komando.

Mereka semua kemudian berpencar kembali untuk mencari jejak keberadaan Rodolfo, seorang lelaki yang telah gagal membunuh Jonathan.

***

Kembali ke tempat Rodolfo, yaitu sebuah ruangan di antara celah batu...

Langkah kaki lelaki itu tetap fokus berjalan sambil sesekali pandangannya menoleh ke belakang, ia khawatir pasukan pengejar itu akan ikut serta masuk ke dalam dan membuntutinya. Tiba-tiba Rodolfo merasakan keanehan saat berada di dalam. Awalnya ia mengira jika celah di antara tumpukan batu itu akan sempit dan pengap. Namun, itu semua salah. Ia tidak merasa pengap atau sesak napas, melainkan seperti berada di dalam gua yang luas, dingin, dan lembab.

"Tempat apa ini?" Ia berkata pelan saat merasakan hawa dingin yang semakin menjalari tubuhnya.

Tubuhnya yang sudah merasa lelah perlahan membaik dan merasa segar, kemudian ia berinisiatif untuk mengambil pemantik dari saku celananya, pemantik yang biasa ia gunakan untuk membakar rokok. Ia terkejut saat melihat ada obor yang menempel pada dinding gua, sehingga ia mencoba untuk membakar obor itu dan menjadikannya sebagai alat penerangan.

"Apakah ada kehidupan di sini?" pikirnya seraya menoleh ke kanan dan ke kiri seperti menyelidiki sesuatu.

"Lebih baik aku beristirahat dulu di sana," ucapnya saat melihat sebuah batu yang berbentuk kotak seperti kursi yang terbuat dari adukan semen dan pasir.

Perlahan ia memejamkan matanya, pikirannya kembali teringat pada kejadian beberapa menit yang lalu. Kejadian yang selama ini belum pernah terjadi dalam hidupnya.

"Betapa bodohnya aku, reputasiku akan hancur setelah ini. Huft!"

Ia mengutuk dirinya sendiri, mentalnya merasa down, apa yang pernah ia pelajari sebelumnya tentang pengendalian diri mendadak lupa.

"Aaaaaaarrrrggghhh!!!"

Ia berteriak kencang meluapkan emosi, hingga tanpa sadar obor yang ada di tangannya pun ia lemparkan ke sembarang tempat.

Wuzzz!!!

Tiba-tiba terlihat api yang berjalan, seperti sebuah mobil balap yang sedang berada di lintasan. Hal itu membuat Rodolfo terkejut, rupanya lemparan obor tadi mengenai sesuatu, sehingga menyalakan api yang seperti sebuah ritual dalam upacara-upacara kuno.

Api itu berjalan merambat dengan cepat, bahkan merayap di antara dinding-dinding gua. Rodolfo hanya diam terpana menyaksikan semua itu, walaupun perasaannya tengah diselimuti ketakutan. Ketakutannya kian bertambah saat ia menyadari bahwa aliran api itu saling bertaut, saling menyambung, hingga menjadi sebuah gambar berbentuk bintang.

"Gawat!!!"

Ia mulai tersadar saat melihat lambang itu. Biasanya ia hanya melihat di poster-poster, majalah, atau televisi. Namun saat ini ia menyaksikannya secara langsung, bahkan ia mulai menyadari bahwa pelakunya adalah dia.

Tak lama kemudian situasi di tempat itu semakin menyeramkan. Kabut-kabut putih pun perlahan keluar entah dari mana dan mulai menutupi seluruh isi gua, bahkan sampai menutupi seisi hutan.

Kabut misterius yang sama sekali tidak dipahami oleh Rodolfo. Ia hanya diam sambil melihat ke segala arah.

"Bagaimana ini?" ia mulai panik.

Namun, ada hal yang tidak ia sadari. Saat ia mulai panik dan memejamkan mata, tiba-tiba tubuhnya tampak menghilang sedikit demi sedikit. Mulai dari kaki, perut, tangan dan berakhir kepala. Ya, seluruh tubuh pria itu menghilang secara misterius. Tapi, hal itu tak berlangsung lama. Ketika ia membuka kedua matanya, ia sudah berada di atas tempat tidurnya dengan pakaian lengkap tanpa kurang sedikit pun.

"EH?! APA?!" Rodolfo terkejut bukan kepalang saat menyadari ia telah ada di dalam rumahnya.

"A-apa yang telah terjadi?" Dengan penuh rasa kebingungan, ia memeriksa keadaan tubuhnya dan itu sempurna, tidak ada sediktipun kekurangan.

"Aneh, apakah aku bermimpi?" gumamnya sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Captain's Ravenge
9.4
Arya Bimantara terpaksa meninggalkan posisinya di perbatasan Kalimantan setelah menerima berita duka yang mendadak. Aryo, saudara kembarnya, ditemukan tewas bersama istrinya tak lama setelah mereka saling berkirim pesan. Saat pulang untuk menghadiri pemakaman, Arya mencium adanya kejanggalan. Penyelidikan mandiri mengungkap bahwa pasangan itu sebenarnya dibunuh secara terencana. Kini, sang kapten harus melacak pelaku di balik tragedi berdarah ini demi membalaskan dendam keluarganya.
Sampul Novel Ditinggal Kekasih Mafia
9.0
Dante Alvarado, gembong mafia kejam, menutup hati akibat pengkhianatan mantan kekasih yang menikah dengan pria lain. Kebenciannya pada wanita terusik saat seorang gadis misterius tiba-tiba mengklaim sebagai calon istrinya di depan publik. Situasi kian rumit ketika sang mantan kembali muncul dan menyatakan perasaan. Dante pun tersulut amarah besar. Akankah ini menjadi kehancuran prinsipnya atau justru awal dari sebuah permainan maut yang jauh lebih berbahaya?
Sampul Novel Escape
8.1
Emily Watson, model cantik yang terancam bahaya, berada dalam lindungan Ethan Davis, pemilik perusahaan keamanan elite di London. Dr. Watson menyewa jasa Ethan demi menjaga rahasia besar putrinya, sebelum ia ditemukan tewas mengenaskan tanpa kepala. Di tengah pelarian dan ancaman pembunuhan, Ethan dan Emily harus menghadapi trauma masa lalu mereka yang kelam. Akankah cinta yang lahir dari kegelapan ini mampu menyelamatkan mereka dari intrik mematikan yang mengintai di setiap sudut kota?
Sampul Novel Genderang Perang Manusia Elektrokinesis
8.2
Manfred Argianta Bergmans atau Gian menjalani hidup penuh penderitaan akibat perundungan keluarga dan teman sekolahnya. Hanya Alicia yang setia mendukungnya, meski hal itu memicu intimidasi yang lebih parah. Setelah menolong kucing malang, Gian menerima warisan kekuatan elektrokinesis dari sosok misterius dalam mimpi. Didampingi seekor tikus putih sebagai mentor, ia memulai misi balas dendam. Namun, saat dianggap monster dan Alicia menjauh, sanggupkah Gian memenangkan perang ini?
Sampul Novel Ksatria Naga Phoenix
8.3
Ramalan kuno di Benua Arkandaria memperingatkan kemunculan Naga Langit yang akan membawa kiamat. Hanya Ksatria Naga Phoenix yang mampu menghentikannya, namun sosok sakti ini hanya dianggap dongeng. Zhu Fei, putra Panglima Zhu Lei, diramalkan menjadi ksatria pertama tersebut. Di usia lima tahun, ia harus menjalani latihan berat di Pulau Pek Long demi memenuhi takdirnya. Akankah ia berhasil mencegah kehancuran dunia atau ramalan itu tetap menjadi legenda?
Sampul Novel RAHASIA SANG BODYGUARD
8.3
Bukan kisah cinderella, ini tentang Kinara yang hidupnya berubah menjadi teror mengerikan. Demi keamanan, ia menyewa Satria sebagai bodyguard. Meski Satria sangat tampan, Nara tetap waspada karena ia percaya ketampanan adalah alat tipu daya. Saat Satria mencoba memikat hatinya, rahasia gelap perlahan terkuak. Identitas asli Satria ternyata adalah Ghazi Ammar Fahrezi, pria misterius yang memiliki kaitan erat dengan trauma masa lalu Nara yang sangat kelam.