APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri rahasia Dosen dingin

Istri rahasia Dosen dingin

Kayra adalah mahasiswi yang terpaksa menari pole dance di klub malam demi biaya hidup. Namun, rahasianya terbongkar oleh Alvin, dosen dingin yang kemudian mengancam karier akademisnya. Kayra dipaksa menikah hanya untuk menjadi alat balas dendam Alvin terhadap mendiang mantan kekasihnya. Di tengah hubungan toksik ini, Alvin berniat membuangnya setelah satu tahun, tetapi Kayra bersumpah akan membalikkan keadaan dan mengikat Alvin selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Suara teriakan tante Olla terdengar dari ruang tungguku. Wanita itu tidak pernah membiarkan satu penarinya telat barang semenit saja. Umurnya sudah hampir lima puluh, tapi masih punya banyak energi untuk mengumpat dan mengancam pekerjanya sendiri. Sebagai bos klub dewasa, ia cukup keras sekaligus tegas. Kadang kalau perlu perasaannya dibuang hanya untuk profesionalitas.

Dulu kami berkenalan di halte bus. Tadinya kupikir ia menawariku bermain di film dewasa, tapi ternyata tidak. Kebetulan ia pelatih pole dance yang membutuhkan anggota baru untuk sebuah pertunjukan biasa. Katanya proposional tubuhku pas dan masih muda. Begitu tahu bayarannya, waktu itu aku langsung setuju saja. Selepas SMA, aku memang sudah harus keluar dari panti asuhan dan dipaksa mencari uang sendirian. Itulah kenapa begitu melihat pekerjaan, pikiranku tidak lagi panjang. Pada dasarnya sebelum bergabung, aku memang pesenam di tingkat SMP dan SMA. Jadi tidak butuh waktu lama untuk mempelajari pole dance.

--

“Dari siapa?” tanyaku pada seorang asisten yang membawakan seikat bunga ke atas meja riasku. Beberapa menit lalu pertunjukanku selesai dan aku sedang bersiap untuk ganti baju. Selain pekerja bar, tidak ada yang tahu wajahku.

“Ada postcard di sana. Baca saja,” sahutnya sambil berlalu.

Total ada lima penari pole dance dan dua penari striptis. Di banding yang lain, aku adalah satu-satunya pemakai topeng. Itulah kenapa jarang ada kiriman bunga, apalagi saweran. Semua adalah imbas karena aku selalu menolak kencan berbayar.

Dear Sally.

Atau aku harus memanggilmu Kayra? Dengar, ini bukan basa basi. Pilih salah satu. Mau jadi mahasiswa atau penari bar? Kamu tidak bisa memilih keduanya.

Dari A.

Selesai membaca, aku langsung mendengkus keras. Jelas itu Alvin, dosen menyebalkan yang sempat memperingatiku tadi sore. Ada urusan apa ia sampai bertindak sejauh ini? Kalau dilihat dari sikapnya, heran saja. Kenapa tidak langsung dilaporkan?

“Siapa?” tanya tante Olla merebut postcard itu dari tanganku.

“Dosen di kampus. Entah bagaimana ia tahu,” gerutuku melempar bunga itu ke tempat sampah. Sepertinya selama ini aku hanya tertarik pada fisiknya. Secara sifat, aku menganggapnya penganggu besar.

“Aku kan sudah bilang, tidak usah kuliah. Buang-buang waktu dan uang. Lagipula umurmu sudah dua puluh tahun, tapi masih semester pertama.” Wanita itu melempar postcard itu kasar.

“Apa boleh buat? Selepas SMA, aku bekerja begitu keras. Butuh tiga tahun untuk memikirkan masa depan. Memangnya tante mau merawatku kalau aku pensiun?” gumamku mengambil tissu untuk membersihkan sisa make up di bibir juga pipi.

“Kamu bisa pensiun dengan limpahan uang kalau mau menerima kencan berbayar. Atau gaet saja salah satu dari pelanggan untuk dijadikan suami. Itu hal mudah, tapi kamu malah memilih yang sulit.”

Tante Olla terus mengomel di saat aku bersiap untuk pulang. Aku lupa kalau wanita itu tidak bisa diharapkan. Sebesar apapun pemasukanku untuk klub, ia selalu kesal dengan keputusanku untuk tidak menerima kencan.

Ya mau bagaimana lagi, ini adalah satu-satunya hartaku. Paling tidak meski miskin dan yatim piatu, aku masih perawan.

“Kamu dengar?” tante Olla masih mengajakku bicara.

“Tentang apa? Aku mau pulang, besok hari libur kan?” ucapku melirik jam di pergelangan tangan. Masih ada satu jam sebelum bis terakhir datang.

“Dosen itu mungkin menaksirmu. Temui saja dan berikan apa yang dia mau.”

Bisikannya membuat tengkukku langsung merinding hebat. Bahkan meski bodoh, aku masih tahu diri. Wajahku tidak seberapa, bahkan di bawah rata-rata. Anggaplah tubuhku memang bagus dan proposional, tapi selama ini image Alvin tidak begini. Wajar kalau aku menolak mentah-mentah anggapan tante Olla.

Pembicaraan kami akhirnya tidak berlanjut. Aku memilih tetap berlalu tanpa menimpali ucapan konyol wanita itu. Satu-satunya hal yang aku yakini adalah Alvin benci dengan mahasiswa tidak bermoral. Itulah kenapa ia mengancamku agar mengaku. Mungkin setelahnya aku akan didepak dari kelas bahkan dari kampus.

Tapi keyakinan itu buyar saat sebuah mobil hitam sengaja mencegatku di tempat parkiran. Harusnya tidak ada yang mengangguku mengingat tampilanku sudah kubuat tertutup. Tapi misal adapun, aku bisa sedikit bela diri. Tahun ini aku lulus karate dasar untuk pemula.

“Pada akhirnya kamu memaksaku untuk melakukan ini,” kata si pengemudi menurunkan kaca mobilnya.

Tak butuh waktu lama untuk mengenali Alvin. Meski sekarang tampilannya berbeda, tapi aku terlalu familiar dengan wajahnya. Rambutnya yang biasa disisir rapi kini dibiarkan berjuntai menutupi dahi. Kemeja biru langit favoritnya berganti kaus putih kasual. Tanpa sadar aku mundur untuk menutupi kegugupan.

“Masuk, ayo bicara.”

Alvin tiba-tiba keluar lalu menarikku kencang-kencang. Tangannya serasa dingin, besar dan kuat. Untuk lepas saja susah. Ternyata ilmu bela diri yang aku kuasai, susah dilakukan. Tidak ada waktu untuk kebingungan atau panik. Di depanku adalah dosen, bukan pria penganggu. Sekarang daripada membuat keributan, lebih baik aku menurut. Benar kata tante Olla, lebih baik aku bertanya apa maunya. Kalau memang tentang kehormatan kampus, kenapa tidak dilaporkan saja?

“Setelah kepergok begini, kamu masih tidak mau mengaku?” ujarnya sesaat setelah aku duduk di mobil. Kendaraan itu akhirnya pergi keluar halaman klub. Menyusuri jalanan kecil sebelum masuk ke ruas jalan yang lebih besar.

Di saat begini, aku masih sempat-sempatnya mencuri pandang. Kapan lagi aku bisa semobil dengannya? Saat ditarik tadi, rasa-rasanya ada sisa genggamannya di lipatan tangan. Sakit dan kebasnya tidak seberapa dibanding desiran hati yang tidak berkesudahan.

“Bagaimana bapak tahu kalau itu saya?”

Aku menyerah dan memilih untuk jujur. Sepertinya benar, ia tidak sengaja melihatku keluar dengan tampilan begini.

“Mudah saja, semua bisa dilakukan asal ada uang. Ngomong-ngomong kapan rencana mau berhenti? Seperti yang sudah saya katakan, pilih salah satu saja.”

Aku tidak segera menyahut. Tatapanku kualihkan ke luar, melihat cahaya lampu dari gedung-gedung yang menjulang. Terkadang kota itu terlihat egois. Aku selalu mengibaratkan kalau bangunan Jakarta seperti sebuah kesenjangan. Yang tinggi akan menenggelamkan yang rendah. Menghalangi cahaya matahari untuk dimiliki sendiri.

Begitu juga dengan nasibku sekarang. Aku dipaksa pergi karena moralku dipertanyakan oleh pria bertitel dosen yang tidak tahu apa-apa.

“Lalu bagaimana dengan bapak? Kenapa seorang dosen terhormat bisa masuk ke klub malam? Karir bapak juga bisa tamat kalau saya buka mulut. Jujur saja, kita memegang rahasia masing-masing. Kalau sampai saya dikeluarkan, saya tidak mau jatuh sendirian.”

Ini adalah pilihan terakhir yang kumiliki. Aku hanya sedang membalikkan omongannya saja. Cukup adil kalau aku membalas ancamannya dengan ancaman juga.

Alvin membisu tapi helaan napasnya tiba-tiba keras dan berat. Seperti tengah menahan emosi besar. Aku heran sejak kapan ia memberi mahasiswanya perhatian? Kesannya di mata semua orang adalah cuek dingin dan kasar. Bukan seperti serigala berbulu domba begini. Domba di luar, tapi ternyata serigala di dalam.

“Ke mana kita? Turunkan saja saya di sini. Atau kita bisa bicara di tempat lain,” ucapku tiba-tiba sadar kalau mobil itu mengarah ke jalanan asing. Kami sudah keluar dari jalan besar dan sekarang berbelok ke tempat sepi.

“Seperti katamu tadi, reputasiku penting. Jadi kita tidak boleh terlihat bersama di tempat umum.” Ia dengan tenang memutar kemudi. Raut wajah Alvin yang semula kesal tiba-tiba sedingin es.

Tenggorokanku seketika kering. Bukan soal gugup atau grogi, masalahnya situasi berubah horor. Lupakan soal fisik juga wajahnya yang tampan. Bisa jadi ia berbuat jahat. Banyak psikopat gila di luaran sana. Mungkin Alvin salah satunya.

“Ke mana tepatnya?” tanyaku pura-pura tenang.

“Ke tempatku. Kita bisa bicara apapun dan melakukan apapun. Kenapa? Takut? Bukannya kamu sudah terbiasa dengan laki-laki?”

Damn! Alvin yang kukenal seperti patung pahatan Tuhan, tibaa-tiba menyeringai lebar. Saat itu juga ucapan tante Olla tergiang di telinga.

Kay? Jangan-jangan dosen itu tertarik padamu? Berikan saja apa yang dia mau.

Tapi, segila apapun aku tidak pernah ingin memberikan kesucianku pada siapapun. Sekalipun itu Alvin, aku akan memberontak hingga titik darah terakhir.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Om Duda
7.9
Rehan Hadinata adalah CEO sukses sekaligus duda dengan satu anak yang merindukan kasih sayang wanita. Meski banyak yang mengejarnya, tak ada satu pun yang berhasil memikat hatinya. Suatu hari, ia mencoba aplikasi kencan daring dan tertarik pada sosok bernama Nesya Cintia Ayu. Rehan pun memberanikan diri untuk mengirimkan pesan dan memulai perkenalan. Akankah interaksi mereka berkembang menjadi hubungan yang lebih serius dan penuh komitmen di masa depan?
Sampul Novel Dia Mengambil Rumah, Mobil, Dan Hatiku
8.4
Dunia Flora runtuh saat Kevin meminta cerai demi cinta lamanya yang kembali. Tanpa air mata, Flora justru menuntut mobil mewah, vila megah, dan separuh harta bersama sebagai syarat perpisahan. Kevin terkejut, baru menyadari bahwa selama ini istrinya adalah otak genius di balik kesuksesan finansialnya. Setelah kehilangan sosok kunci dalam hidup dan bisnisnya, Kevin kini harus berjuang keras demi memenangkan kembali hati Flora yang telah dia lepaskan.
Sampul Novel Dicintai Adik Ketemu Gede
9.1
Vivi, remaja tujuh belas tahun, jatuh hati pada Agam Permana, pria dewasa yang telah ia kenal selama satu dekade. Meski Agam menganggapnya adik, Vivi nekat mengajaknya menikah setelah lulus sekolah. Situasi kian pelik saat Fadlan, sahabat Agam, turut mencintai Vivi. Agam pun terjebak dilema antara menjaga persahabatan atau mengikuti perasaannya yang mulai tumbuh. Akankah cinta beda usia ini bersatu tanpa merusak ikatan yang ada di antara ketiganya?
Sampul Novel Harga Seorang Ratu Mafia
9.5
Pernikahan politikku dengan Marco Ricci seharusnya menyatukan dua klan besar Jakarta, namun pengkhianatannya menghancurkan segalanya. Di sebuah klub, aku menyaksikan Marco memeluk Angelia, gadis yatim yang dianggap adik, dengan penuh gairah. Sadar hanya menjadi alat kekuasaan sementara hati Marco milik wanita lain, aku memilih melawan. Aku membatalkan pertunangan kami dan memutuskan menikahi Dante Wiryawan, rival terberat keluarga kami, demi aliansi baru yang tak terduga.
Sampul Novel Invisible Rich Man
9.5
Davin, pewaris takhta bisnis global, memilih menyamar sebagai petugas kebersihan demi menemukan cinta yang tulus. Di Jakarta, ia bertemu Vania, wanita yang menerima dirinya apa adanya tanpa memandang status sosial. Meski Vania berhasil melewati berbagai ujian kesetiaan yang diberikan Davin, hubungan mereka kini menghadapi rintangan baru yang lebih besar. Keluarga konglomerat Davin muncul menentang keras kedekatan mereka dan berusaha memisahkan keduanya.
Sampul Novel Kehancuran Yang Direncanakan
8.9
Nayla hancur saat memergoki tunangannya berselingkuh dengan sepupunya sendiri. Di hari yang sama, orang tuanya tewas dibunuh secara keji. Sebagai saksi kunci yang kini diburu, ia melarikan diri hingga nyaris tertabrak mobil milik pria asing bernama Reza. Demi bertahan hidup, Nayla menyembunyikan identitas aslinya dari Reza saat berlindung bersamanya. Namun, ia tak menyadari bahwa pria penolongnya itu juga menyimpan rahasia gelap yang sangat berbahaya.