APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel JANDA, MARRY ME!

JANDA, MARRY ME!

Menjadi janda bukanlah sebuah pilihan atau kesalahan yang patut dihakimi. Namun, jika status tersebut dianggap sebagai noda, siapakah yang layak disalahkan? Apakah takdir Tuhan yang harus digugat, ataukah sosok pria yang tega pergi meninggalkan wanita itu sendirian? Inilah kisah emosional mengenai perjuangan seorang janda dalam menghadapi stigma sosial dan luka hati yang mendalam, saat dirinya terus berupaya mencari kebahagiaan yang seolah mustahil untuk ia temukan kembali.
Bab
Bagikan

Bab 2

Rendra melajukan mobilnya dengan kencang. Tak peduli dengan rambu rambu dan berbagai cacian atau umpatan dari pengendara lainnya. Yang terpenting baginya kini ia bisa segera sampai di rumah dan membicarakan masalah ini dengan Mamanya. Jika bisa, ia ingin istirahat dan bicara keesokan harinya. Karena dengan begitu amarah yang meletus menjadi padam.

Baginya ini adalah masalah sekaligus musibah yang sangat besar. Jika mereka pikir pernikahan adalah mereguk kebahagiaan, maka bagi Rendra ini adalah tempat menyelami kesedihan.

Tadi Rendra keluar lebih dulu dari rumah wanita yang akan  menjadi calon menantu dari Mamanya. Di belakang, Mamanya mengejar dengan mobil yang dikendarai sopir. Sudah seperti arena balapan saja. Keduanya saling salip dan berlomba cepat sampai di rumah. Bukan untuk meraih kemenangan, tapi untuk meluapkan kekesalan. Kekesalan akan pembicaraan yang belum selesai dan berujung  kemarahan.

Yuanita sangat geram dengan ucapan dan tindakan putranya. Secara tidak langsung juga menjatuhkan harga dirinya. Memperlihatkan seolah tidak bisa mengurus anak seorang diri. Memperlihatkan hasil didikannya yang menjadi sangat tidak terpuji.

Sampai di halaman rumah, keduanya turun dengan tergesa. Jika Rendra ingin masuk kamar dan melepaskan penat dengan tidur, tidak dengan Yuanita yang ingin memaksakan kehendaknya.

“Rendra!” Berlari mengejar Rendra yang hendak menaiki tangga. Berteriak dengan sangat keras supaya putranya itu mau menghentikan langkah. “Berhenti, Rendra!”

“Mama bilang berhenti, Rendra!!”

Mengesah pelan, Rendra memilih tak melanjutkan langkahnya. Semarah apapun ia pada sang ibunda tercinta, ia tetap menghormatinya meaki kecewa kali ini terlalu dalam. Memilih berhenti dan mendengarkan perkataannya. Meski ia tahu ini akan lama dan menguras emosi, tapi ini harus ada kejelasan. Ia harus menegaskan pilihannya.

“Apa lagi sih, Ma?” Raut wajah malas bercampur kesal yang sangat kentara tentang isi hatinya. Bahkan nada suaranya menguat karena kejengkelan.

“Mama belum selesai berbicara.”

“Kalau Mama mau bahas soal tadi, sorry, aku nggak berminat."

“Tapi dia terbaik buat kamu, Rendra!”

Wajah Rendra mengeras. Mempertemukan giginya sambil menahan geram. Entah kenapa Mamanya tidak mau mengerti. Dia tidak suka dan tidak cinta. Jadi, kenapa masih dipaksa?

“Terbaik?” Rendra tertawa mencemooh. “Ma, dia janda dan aku seorang perjaka. Kita nggak sepadan! Dia bukan level Rendra, Ma.”

Kali ini Mamanya yang tertawa sumbang, membalikkan perkataan Rendra dengan telak hingga membuat Rendra bungkam menyisakan bola matanya yang bergerak gusar, “Perjaka?” kembali tawa mengejek itu keluar dari wanita itu. Kini kemenangan berbanding terbalik. “Yakin kamu masih perjaka?”

Yuanita mengitari Rendra, putranya tahu dia salah bicara. “Apa perlu Mama bantu menghitung berapa hotel dan villa yang kamu datangi bersamanya? Atau …,” ucap Nyonya Yuan sengaja menggantung ingin melihat reaksi putranya.

“Oke, fine!” Rendra kalah. Ia sadar selama ini Mamanya tahu kelakuan buruknya hanya saja memilih diam. Kembali ia menghadap sang Mama. Ia tahu pembicaraan ini akan semakin lama karena ucapannya sendiri. Membuka tabir yang ia pikir tertutup baik.

“Mama belum selesai bicara, Rendra.”

“Aku tahu aku salah ngomong. To the point saja.” Wajahnya sudah pasrah. Ia lelah. Apalagi pembahasan berat seperti ini harus segera diakhiri dengan sebuah keputusan mutlak.

“Kamu bukan orang suci yang tidak pernah melakukan dosa sama sekali, Rendra. Jadi kamu tidak berhak menghakimi Melda seperti itu.” Yuanita melangkah mundur. Menatap putranya dari jauh. Sekadar ingin tahu dimana ia melakukan kesalahan sampai Rendra berbuat seperti ini.

“Apa pernah Mama mengajari kamu bersikap buruk dan tidak sopan pada orang lain? Apa pernah Mama mengajarimu menilai sesuatu dengan sekali lihat? Apa pernah Mama berbuat kasar padamu sehingga kamu kasar kepada mereka?”

Rentetan pertanyaan itu meluncur dari mulut Yuanita. Ia tak menyangka putra kesayangannya mampu berkata sekejam itu pada seorang wanita. Padahal ia selalu mengajari untuk selalu melindungi dan menjaga wanita dengan baik.

“Oke kalau kamu tidak cinta dan tidak suka dia, tapi apa pantas kamu berkata seperti itu? Oke, dia memang janda, tapi apa pantas dia menerima penghinaan itu? Menyakiti hati mereka dengan lidahmu?”

Suara Yuanita mengecil. Dadanya sesak. Tangis yang dari tadi ia pendam akhirnya meluber. Lalu jatuh terduduk memegangi dadanya. Sibuk menenangkan hatinya sendiri. Dulu ia bisa mengatasi penghinaan ini sendirian. Namun, entah kenapa sekarang tidak. Hatinya ikut sakit melihat Melda diperlakukan seperti itu.

“Mama.” Rendra menghampiri Mamanya, tapi berhenti ketika satu tangan wanita itu diangkat yang mengartikan tak ingin didekati.

Masih belum mau bicara, Yuanita terus menangis mengeluarkan semua beban yang mengimpit dada. Sedangkan di depannya Rendra menatap takut. Ada perasaan sedih dan juga marah. Berpikir ini semua  karena ulah Melda. Jelas salah Melda.

Semua pembantu hanya berani melihat dari jauh. Pertengkaran majikannya kali ini yang terbesar. Melihat nyonya menangis seperti ini adalah yang pertama kali setelah sekian lama.

“Ma ….”

“Jangan mendekat.”

“Mama.”

“Jangan mendekat!” teriaknya sambil menunduk. Alasan Yuanita marah bukan karena perjodohan ini batal, tapi pada Rendra yang menghina dirinya secara tidak langsung.

Rendra hanya menelan ludah. Bingung harus berbuat apa. Padahal ia sudah berjanji takkan membuat Mamanya menangis lagi, tapi kini ia ingkar. Sekali lagi mamanya menangis karena dirinya. Mata Rendra mulai berembun. “Ma ….”

“Sekarang Mama tahu bagaimana rasanya ditolak oleh seorang laki laki karena status kita. Meski alasan yang dilontarkan tidak sama tapi setidaknya mereka masih menghargai Mama.”

“Ma.”

“Mama dan Melda sama-sama tidak ingin menjadi janda, Rendra. Kita ingin akhir hidup yang bahagia. Kita ingin bisa menatap dunia dengan kepala terangkat. Bukan menunduk karena status kita yang selalu menjadi gunjingan. Kita ingin bisa tertawa lepas menghilangkan status kita meski sementara. Tapi, ucapan kamu menampar Mama, Rendra. Menyadarkan Mama bahwa janda tidak berhak bahagia. Janda tidak berhak mendapatkan kesempatan kedua dan bahwa janda cukup sadar diri bahwa dirinya janda.”

Melangkah menaiki tangga, Yuanita memilih meninggalkan Rendra yang tergugu pada ucapannya sendiri. Ia baru sadar ia telah salah besar. Menyakiti yang bukan hanya Melda dan keluarganya, tapi juga hati mamanya.

“Terima kasih karena menyadarkan Mama. Mama baru tahu bahwa seorang perawan yang tidak suci ketika malam pertama lebih mulia dibanding Janda terhormat seperti Melda di hadapan kamu.”

Mengusap wajahnya kasar, Rendra segera berlari memeluk mamanya dari belakang dan membisikkan kata maaf. Menyesal atas ucapannya. Ia tak sadar jika ucapannya berakibat sangat fatal. Niatnya hanya menolak perjodohan ini. Tidak lebih dari itu.

Rendra baru sadar ucapannya lebih menyakiti hati mamanya daripada calon pengantin itu sendiri. Tidak menikah hingga ia dewasa seperti sekarang adalah hal paling berat.  Karena bukan hanya diharuskan kuat, Mamanya harus tegar di setiap cobaan, hinaan dan gunjingan. Merawat dan membesarkan seorang diri. Hanya memikirkan kebahagiaannya tapi lupa dengan dirinya sendiri.

“Maaf, maaf, maaf,” lirih Rendra. Ia sungguh menyesal, tapi menyesalpun tak bisa mengubah apa yang terjadi.

“Tidak apa, Nak. Perkataanmu membuat Mama sadar, bahwa janda tidak berhak bahagia.”

“Tidak! Tidak, Ma. Mama berhak bahagia,” ucap Rendra di sela tangisnya. “Rendra minta maaf, Ma. Rendra menyesal.”

“Tidak apa, Sayang. Mama memaafkanmu. Malah, Mama berterima kasih.” Rendra mendongak tidak paham yang dibalas senyuman kecil oleh Mamanya. “Setidaknya Mama jadi tahu apa pemikiran mereka ketika menolak Mama. "

"Tidak, Ma. Bukan begitu."

"Pergilah. Menikahlah dengan wanita pilihanmu. Tapi jangan harap mama akan datang."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Cinta Dan Obsesi
7.8
Melanjutkan kisah Ikhlasku dengan takdirku, Laras harus menjalani hidup sebagai anak angkat di keluarga kaya setelah kehilangan orang tuanya. Sosok yang merawatnya sebenarnya adalah penyebab kematian sang ibu yang ingin bertanggung jawab. Namun, kemewahan itu tidak membawa kebahagiaan. Laras justru terjebak dalam obsesi gelap kakak angkatnya sendiri. Di tengah berbagai rintangan pelik, mampukah obsesi tersebut berubah menjadi cinta yang tulus?
Sampul Novel Balas Dendam Manis Sang Ratu Miliarder
9.0
Pasca diusir, Helen menyadari bahwa ia bukan putri kandung di keluarganya. Meski dirumorkan kembali ke keluarga miskin yang eksploitatif, kenyataan justru berkata lain. Ayah kandungnya adalah miliarder yang sangat memanjakannya. Di balik itu, Helen memegang paten desain bernilai fantastis dan menjadi mentor astronomi nasional. Saat orang lain menanti kegagalannya, ia justru meraih status legendaris dan menarik perhatian pria misterius yang berkuasa.
Sampul Novel Gadis Pemuas Tuan Grey
8.9
Demi membiayai pengobatan sang ayah yang sakit keras, Laura berusaha mencari pekerjaan tambahan sebagai pengasuh. Namun, niat tulus itu justru berujung petaka saat ia bertemu Greyson. Pria itu merampas kesuciannya dan memaksanya masuk ke dalam ikatan gelap sebagai pemuas hasrat. Kini, Laura terjebak dalam dilema moral yang menyiksa: apakah ia sanggup bertahan menjadi budak nafsu Grey demi mendapatkan uang yang sangat ia butuhkan untuk ayahnya?
Sampul Novel Masa Puber Naldo
9.4
Naldo, putra konglomerat yang kesepian, tumbuh dewasa tanpa kasih sayang ibu. Meski ayahnya, Tuan Anggoro, sangat baik, kesibukan bisnis membuatnya jarang di rumah. Naldo hanya memiliki asisten rumah tangga yang merawatnya sejak bayi. Saat diminta memilih ibu baru, Naldo teringat sosok wanita misterius yang terus muncul dalam mimpinya. Ketika akhirnya bertemu wanita itu di dunia nyata, Naldo bertekad mengejar cintanya meski perbedaan usia menghalangi mereka.
Sampul Novel MEMBAKAR GAIRAH
9.4
Sepuluh tahun berlalu sejak tragedi hotel menghancurkan cinta Joshua dan Reinata. Takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi pelik saat Joshua muncul sebagai kekasih Kayla, putri tiri Reinata. Terbakar api cemburu dan perasaan yang belum padam, Reinata bertekad menggoda Joshua demi merebutnya kembali. Akankah Joshua terjebak dalam gairah terlarang bersama calon ibu mertuanya? Bagaimana hancurnya hati Kayla jika rahasia kelam masa lalu sang suami terungkap?
Sampul Novel Not a Stuntman!
8.1
Alin Arshavina terpaksa menggantikan kakak tirinya, Friska, untuk menikahi Evano Xander yang dikenal kasar. Pernikahan mendadak ini terjadi karena Friska kecelakaan tepat di hari sakral tersebut. Evano, asisten pribadi CEO yang sinis, menganggap semua wanita hanya mengejar harta. Saat Friska pulih dan menuntut posisinya kembali, Alin terjebak dilema. Meski ingin setia pada komitmen sekali seumur hidup, sikap buruk Evano dan gangguan Friska terus menguji keteguhan hatinya.