APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jangan Jatuh Cinta Pada Sugar Daddy

Jangan Jatuh Cinta Pada Sugar Daddy

Terdesak kebutuhan finansial, Anggita yang berusia 20 tahun nekat mendaftar di aplikasi Sugar Baby. Meski sempat diabaikan karena fisiknya, pengacara sukses bernama Devano Abimanyu justru tertarik padanya. Devano bersedia membiayai hidup Anggita dengan syarat ketat: dia memegang kendali penuh, menjanjikan kenikmatan luar biasa, dan melarang Anggita jatuh cinta. Akankah Anggita mampu bertahan tanpa melibatkan perasaan, atau justru terjebak dalam aturan yang sengaja dilanggar?
Bab
Bagikan

Bab 2

Devano bukanlah pria yang terbiasa berurusan dengan hal-hal sepele. Ia adalah seorang pengacara sukses yang berada di puncak kariernya. Pada usia empat puluh, ia memiliki Law Firm yang memenangkan setiap kasus yang ia tangani. Pekerjaan adalah satu-satunya yang ia butuhkan dalam hidupnya, dan tidak ada yang akan mengubah itu.

Masalahnya adalah, pekerjaan membuatnya sangat sedikit waktu untuk hal lain dalam hidupnya. Ibunya terus-menerus merongrongnya agar segera menikah dan memiliki istri, beberapa anak. Ia tidak punya waktu untuk itu, juga tidak punya waktu untuk berkencan. Wanita-wanita yang menjadi bagian dari hidupnya selalu mengharapkan sesuatu darinya. Seks tidak lagi sekadar seks. Selalu ada tuntutan lebih tinggi. Wanita itu ingin menikah, ingin punya anak, ingin menjadi orang yang mengikatnya.

Ia tidak tertarik, hingga ia mendengar percakapan beberapa karyawannya di ruang istirahat.

Beberapa pria berbicara tentang aplikasi baru yang memungkinkan pria sepertinya bertemu wanita muda untuk seks. Ia tinggal cukup lama untuk mengetahui nama aplikasi dan bahwa sebagai ganti komitmen, para pria itu hanya perlu membayar.

Awalnya, ia merasa aplikasi itu tidak lain dengan prostitusi. Wanita yang ada di dalam aplikasi terlihat wanita berpengalaman dengan foto lingerie dan bikini mereka. Beberapa bahkan menampilkan foto topless dengan buah dada mereka yang bulat dan terlihat tidak natural. Devano sudah hendak menghapus aplikasi ketika ia menemukan foto wanita itu.

Anggita.

Wanita itu memiliki rambut panjang hitam dan mata yang bening. Berbeda dengan wanita lain yang berpakaian seksi, wanita itu hanya mengenakan jeans dan kaos, terlihat polos dan pendiam. Nilai bonus mengetahui bahwa wanita itu memiliki tubuh yang membuat penisnya berdenyut.

Sepanjang hidupnya, Devano selalu lebih tertarik pada wanita yang lebih berisi—tidak sepenuhnya gendut hingga terlihat tidak sehat, tapi montok. Dengan lekuk tubuh jam pasir yang sintal, pantat besar, dada natural—itu semua menarik baginya. Salah satu hal yang paling ia benci adalah membawa seorang wanita ke restoran mewah hanya untuk melihat mereka mengaduk-aduk semangkuk salad. Ia tidak tahan dengan itu, dan sering kali kehilangan minat pada wanita itu di akhir pertemuan.

Jika ia mengajak seseorang makan, ia mengharapkan mereka memesan makanan. Daging, karbohidrat, lemak, semua penting bagi pria yang gemar menghabiskan waktu di Gym sepertinya.

Ia tahu ia tidak bisa mendapatkan semua yang ia inginkan, itulah sebabnya sekarang ia duduk di meja kopi dekat kampus, menunggu wanita itu muncul.

Devano sering datang ke tempat itu untuk membeli kopi, tapi biasanya sibuk dengan ponselnya, merespons email atau pesan klien, ini adalah pertama kalinya ia benar-benar meluangkan waktu untuk melihat sekeliling tempat itu.

Ia mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja, memperhatikan pintu, menunggu. Ia sadar akan tatapan beberapa wanita di sekitarnya, beberapa di antaranya melirik genit ke arahnya. Wajar, ia bukanlah pria yang buruk rupa. Dengan tinggi 180cm dan badan berotot, ia masuk ke majalah sebagai Most Wanted Bachelor di kotanya tahun lalu.

Menatap keluar jendela kedai kopi, ia langsung mengenali Anggita. Rambut hitam panjangnya terurai di punggung, berkibaran tertiup angin saat wanita itu berjalan dengan kepalan menunduk.

Hanya ketika masuk ke cafe barulah wanita itu mendongak dan melirik sekeliling ruangan. Devano melambaikan tangannya dan tersenyum. Ia telah berjanji akan menaruh mawar merah di atas meja.

Anggita mengangguk sebelum mengangkat jarinya, memberitahunya bahwa ia akan memesan dulu sebelum duduk.

Devano memperhatikan wanita itu berdiri dalam antrian untuk memesan kopi. Foto yang diunggah Anggita di aplikasi itu sama sekali tidak sebanding dengan penampilannya di dunia nyata. Celana jeans yang wanita itu kenakan membentuk lekuk tubuhnya yang sintal, dan dipadu dengan kemeja hitam yang ketat, Devano bisa merasakan kekakuannya mengeras.

Dada itu terlihat sangat besar, setidaknya ukuran double, dan ia tidak sabar untuk melihat wanita itu telanjang dibawahnya.

Anggita juga mengenakan kacamata hari ini. Sangat imut. Dan Devano memperhatikan wanita itu terus-menerus menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.

Wanita itu gugup.

Ketika giliran wanita itu tiba di depan kasir, wanita itu tersenyum pada pelayan yang ada di depannya dan Devano menemukan dirinya bertanya-tanya apakah mereka saling mengenal.

Dengan kopi di tangan, Anggita berjalan menuju mejanya.

Tak ada lagi jalan mundur, Devano berdiri dan menjulurkan tangannya

"Halo, Anggita."

"Hai," wanita itu membalas uluran tangannya. "Erm, aku tidak tahu harus memanggil apa."

Pipi wanita itu memerah, dan Devano menganggap itu adalah warna paling seksi yang pernah ia lihat.

"Devano. Atau kamu bisa panggil om."

Genggaman Anggita melembut sebelum melepaskan dan duduk. Devano duduk kembali ke kursinya.

"Om sering melakukan ini?" wanita muda itu bertanya.

"Jujur, ini pertama kalinya," Devano menjawab. "Teman kantorku membicarakan tentang aplikasi ini dan aku penasaran. Bagaimana denganmu, Anggita? Sudah banyak kamu pergi dengan..." Devano melihat sekeliling ruangan dan mendekat, "Sugar daddy?"

Anggita buru-buru menggeleng. "Tidak. Ini pertama kalinya, satu-satunya, dan hanya Om yang merespons." Ia mengangkat bahu. "Tidak ada yang berminat sepertinya."

"Sulit dipercaya perempuan secantik dirimu tidak mendapat tawaran."

Wanita itu tertawa pelan. "Om pasti sedang menggodaku."

"Bukankah itu tujuan aplikasi ini? Menggoda. Bersenang-senang tanpa komitmen?"

"Ya, kurasa Om benar. Tanpa komitmen, hanya uang."

Devano melihat rasa bersalah dan malu melintas di wajah Anggita dan ia tidak bisa menahan diri untuk meraih tangan wanita itu di seberang meja.

"Kamu butuh uang?" tanyanya.

Anggita mengangguk sebelum kemudian menambahkan. "Bukan untuk membeli tas mahal atau semacamnya. Aku hanya sedang sial."

"Kamu mahasiswa. Aku paham. Aku bisa bayangkan kamu tidak punya banyak uang. Itu tidak masalah. Kita bisa urus itu nanti."

Anggita menarik tangannya dan meraih gelas kopi.

Devano tidak ingin mendesak. Wanita itu terlihat pendiam, dan ia menyukai itu.

Devano tidak tertarik pada wanita yang agresif. Wanita pendiam justru terkesan misterius dan menarik. Tidak murahan. Dan setelah beberapa menit bertemu dengan Anggita, ia tahu ia semakin tertarik.

Namun sebelum semua disepakati, ia perlu memastikan wanita itu paham akan batasan yang diperlukannya.

"Baiklah," Devano memulai. "Ada beberapa aturan yang kuperlukan jika kau setuju menjadi Sugar Baby-ku."

Anggita meletakkan gelasnya dan memperhatikan, tapi tidak berkata apa-apa.

Devano melanjutkan, "Aku adalah pria sibuk, Anggita, dan aku tidak punya waktu untuk berkencan atau berbasa basi. Untuk langsung ke intinya, alasanku memutuskan melakukan ini adalah karena aku butuh seorang wanita untuk melayani kebutuhan biologisku. Di mana aku bisa menelepon mereka, dan mereka akan datang tidak peduli jam berapa, siang atau malam. Kita bisa menyelesaikan semua detailnya nanti, dan kau tidak usah khawatir, aku bukan pria dengan permintaan yang aneh-aneh. Mungkin ada kalanya aku akan meninggalkan instruksi untuk kau ikuti, dan aku harap kau mengikutinya."

Pria itu berhenti sejenak untuk memastikan Anggita paham akan hal itu. Begitu Anggita mengangguk, ia melanjutkan, "Aku akan menyiapkan tempat, dan aku mengharapkan kau akan ada di sana saat aku menghubungi. Jika aku ingin kau berada di tempat lain, maka disitulah kamu harus berada. Intinya, aku adalah yang memegang kendali. Dan aku tidak mengizinkan kau bersama pria lain selama perjanjian ini berlangsung. Apakah kau mengerti?"

Anggita terlihat mencerna semua yang diucapkannya sebelum mengangguk.

"Ya, aku mengerti."

"Bagus," Devano membalas. "Satu lagi, aku ingin kau menjalani pemeriksaan kesehatan lengkap oleh dokter pilihanku dan menghapus profilmu di Luxe. Aku akan memberimu seratus juta sebulan selama perjanjian kita berlangsung."

Mata Anggita melebar.

"Apa itu kurang?" Devano bertanya.

"Tidak, tidak," Anggita menggeleng. "Lebih dari cukup. Sangat cukup. Aku setuju."

"Bagus. Aku tidak akan mencoba meromantisasi hubungan ini karena ini bukanlah hubungan yang romantis. Aku adalah pria yang sibuk, jadi jika aku ingin sesuatu, kuharapkan kau tidak membuatku menunggu."

Devano melirik jam tangannya dan melihat bahwa ia telah menghabiskan waktu sepuluh menit lebih lama dari yang ia rencanakan. "Baiklah, aku harus pergi. Aku punya nomor ponselmu, dan aku akan mengatur semuanya. Kita akan bicara lebih banyak setelah semua pemeriksaan selesai, dan sampai saat itu, jaga dirimu."

Tanpa menunggu balasan Anggira, Devano bangkit, menyerahkan mawar merah yang dibawanya dan mencium pipi wanita itu.

"Sampai jumpa lagi."

Devano pergi tanpa melihat ke belakang, tahu bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat. Seorang wanita yang lebih muda tidak akan ingin menetap, apalagi seorang mahasiswa. Anggita adalah pilihan yang tepat baginya. Plus wanita itu juga memiliki lekukan tubuh yang tepat dan sepertinya penurut. Dia bukan pria dominan atau memiliki hasrat seks yang aneh. Ia hanya suka memegang kopntrol. Itu saja.

Beberapa wanita di masa lalunya tidak tahan akan kecenderungannya untuk mengontrol. Mereka menyebutnya egois atau narsistik. Ia bertanya-tanya berapa lama ini akan bertahan dengan Anggita. Ini hal baru baginya juga, dan jujur, ia merasa bersemangat. Mengetahui apa yang disukai wanita itu, apa yang tidak, ia menantikan untuk mempelajari tombol mana yang harus ditekan, dan mana yang harus dilewatkan.

Mengeluarkan ponselnya, Devano mengatur dua appointment dengan dokter pribadinya; satu untuk dirinya sendiri dan satu lagi untuk Anggita. Selanjutnya, ia menelepon Private Investigator-nya. Biasanya ia menggunakan jasa P.I-nya untuk pekerjaan, seperti mendapatkan semua detail tentang kasus yang ditanganinya.Namun kKali ini, ia akan membayarnya untuk mengetahui setiap detail tentang Anggita, dan semakin cepat semakin baik.

Setelah selesai, dia masuk ke mobilnya dan melirik ke cafe untuk terakhir kalinya. Anggita masih memegang mawar itu, dan ia mendekatkan bunga itu ke hidung dan menciumnya. Wanita itu tidak tersenyum atau menunjukkan tanda bahwa mawar itu berarti apa-apa baginya. Kemudian. Wanita itu bangkit, dan berjalan pergi, meninggalkan mawar itu di atas meja.

Devano tidak tahu apakah dia senang atau marah karena hal itu.

***

***

Note: Ditunggu komen dan votenya ya...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO Bucin
9.2
Amanda, gadis panti asuhan yang sederhana, tak menyangka akan terikat pernikahan dengan CEO tampan bernama Antonio. Bukannya bahagia, Amanda justru menderita karena sikap dingin sang suami dalam rumah tangga tanpa cinta itu. Saat Amanda hampir menyerah akibat luka hati yang mendalam, Antonio justru menyadari bahwa kehadiran istrinya telah mengubahnya menjadi pria yang lebih baik. Ia pun berbalik mengejar cinta Amanda. Akankah Amanda memberi kesempatan kedua?
Sampul Novel CEO & Sekretaris
8.0
Tasya memberanikan diri melangkahkan kaki ke kantor pusat Adityaswara dengan harapan besar. Sambil menahan debar di dada, ia segera menghampiri meja resepsionis untuk mencari tahu ketersediaan lowongan pekerjaan di sana. Ia sangat berharap keberuntungan berpihak padanya sehingga bisa diterima bekerja di perusahaan bergengsi tersebut. Langkah awal ini menjadi penentu masa depannya dalam mengejar karir di bawah pimpinan CEO perusahaan yang sangat berkuasa.
Sampul Novel Cinta Om Duda
7.9
Rehan Hadinata adalah CEO sukses sekaligus duda dengan satu anak yang merindukan kasih sayang wanita. Meski banyak yang mengejarnya, tak ada satu pun yang berhasil memikat hatinya. Suatu hari, ia mencoba aplikasi kencan daring dan tertarik pada sosok bernama Nesya Cintia Ayu. Rehan pun memberanikan diri untuk mengirimkan pesan dan memulai perkenalan. Akankah interaksi mereka berkembang menjadi hubungan yang lebih serius dan penuh komitmen di masa depan?
Sampul Novel Cinta Semalam Dengan Miliarder
9.1
Melinda, gadis desa berusia 21 tahun, terjebak pengkhianatan teman hingga berakhir di pelukan Lukas, CEO ternama. Malam gairah itu membuahkan benih yang mengancam reputasi Lukas. Sang miliarder kini bimbang antara menjaga nama baik atau bertanggung jawab atas bayi tersebut. Di tengah rahasia gelap dan intrik keluarga, mereka harus menghadapi perbedaan status yang tajam. Akankah cinta mengatasi kebencian, ataukah ambisi menghancurkan masa depan yang baru saja dimulai?
Sampul Novel Is This Love?
8.7
Farrel Aditama Effendi dikenal sebagai pria kaya yang gemar bersenang-senang, berbeda jauh dari Fachmi, kembarannya yang kaku. Karena obsesi memiliki sang kakak, Farrel bertekad menggagalkan pertunangan Fachmi dengan seorang wanita lembut. Namun, rencana sabotase ini berbalik saat Farrel justru jatuh cinta pada wanita tersebut saat menyamar menjadi Fachmi. Kini, ia terjebak dalam dilema besar jika rahasia tentang identitas aslinya terbongkar.
Sampul Novel Jerat CEO Tunangan Paksa
8.3
Pasca membalas pengkhianatan mantan kekasih, Melinda Arum tak sengaja bertemu Reyhan Azrael karena insiden salah masuk toilet. Reyhan, CEO ternama di Jakarta, menolong Melinda keluar dari masalah besar yang mengancamnya. Namun, bantuan tersebut menuntut imbalan berat: Melinda harus bersedia menjadi tunangannya. Terjepit antara rasa bimbang dan amarah, Melinda terpaksa masuk ke dalam hubungan penuh ketegangan, kebohongan, serta luka emosional yang mendalam.