APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jerat Cinta Dosen Killer

Jerat Cinta Dosen Killer

Tujuh tahun kuliah tanpa kelulusan membuat Arum dijuluki mahasiswa abadi. Hidup tenangnya hancur saat Daffin Narendra, dosen muda bermulut tajam, ditunjuk menjadi pembimbing skripsinya. Arum terpaksa patuh demi menghindari ancaman DO yang nyata. Namun, situasi kian pelik ketika rumor skandal asmara mereka tersebar luas di kampus. Di tengah kekacauan itu, teror misterius dari masa lalu muncul mengancam nyawa mereka. Mampukah keduanya bertahan?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Sayang sekali dia tidak masuk di kelas kita. Lihat! Wajahnya adalah impian setiap wanita."

"Tapi dia masih muda bukan?"

"Masih 23 tahun."

Arum tersedak makanannya sendiri mendengar percakapan di balik punggungnya. Saat ini dia sedang makan siang di kantin kampus sembari menunggu dosen pembimbingnya untuk melakukan bimbingan skrispsi. Dua puluh tiga tahun? Apa-apan! Dia tahu kalau dosen sombong itu masih muda, tapi dua puluh tiga tahun? Arum meringis. Nasibnya sial sekali harus berurusan dengan dosen berkepala batu itu. Arum menjambak rambutnya frustrasi. Ini benar-benar kesialan yang tidak terelakkan.

"Genius, lulusan kampus LN, memiliki wajah rupawan yang menjadi impian setiap wanita. Apalagi yang kurang coba?"

Kurang otak, lagi-lagi suara hati Arum berbisik mendukungnya. Bagaimana bisa hidupnya berubah hanya dalam satu hari? Dia mengangkat wajah seolah mencari inspirasi yang bisa membuat harinya sedikit lebih menarik. Arum berdiri, membayar makanannya dan berjalan menuju ruang dosen. Langkahnya gontai, tidak ada semangat sama sekali. Siapa juga yang bisa semangat menghadapi dosen killer itu?

Nasib menjadi mahasiswa abadi adalah tidak memiliki teman di kampus. Kalau di luar sih Arum punya teman, tapi kalau di sini ... Arum menggeleng pelan. Tahun ini dia harus lulus jika masih ingin dianggap sebagai bagian dari keluarganya.

Dia mempercepat langkah, tidak ingin memberikan kesempatan pada dosen sombong itu untuk mengkritiknya. Namun, saat netranya melihat ruangan yang menjadi tujuan utamanya, nyalinya langsung ciut sampai pada titik terendah. Arum menelan ludah. Ketakutan membuatnya maju mundur untuk melangkah, namun saat bayangan hidup menggelandang memenuhi kepalanya, Arum dengan segera mengetuk pintu sebelum dia berubah pikiran.

"Selamat siang, Pak," ucapnya mencoba menjaga suaranya terdengar normal, mengingat saat ini kakinya gemetar seperti jelly.

"Masuk!"

Arum mendekat tanpa kata.

"Duduk!"

Arum mendaratkan tubuhnya di kursi kayu yang disediakan di ruangan.

"Aku tidak suka orang yang malas, suka terlambat, ceroboh dan menganggap sepele semua hal. Apa kamu mengerti?"

Lah, hubungannya sama dia apa coba? Dia kan cuma mau bimbingan skripsi bukan mau konsultasi masalah hidup?

"Satu-satunya penjelasan kenapa kamu tidak lulus selain tentu saja karena bodoh adalah karena kamu memiliki semua yang baru saja saya ucapkan."

Arum menekan buku-buku tangannya, menghitung dalam hati agar dia tidak mengucapkan apa pun yang akan membuatnya menyesal. Apa yang sudah dia lakukan sampai berakhir di meja dosen tidak berperasaan ini?

"Kamu hanya punya waktu selama tiga bulan, jika tidak selesai dalam jangka waktu tersebut...,"

Arum mengangkat alis.

Dosen Arum bersiul dan membuat gerakan terbang dengan tangannya.

"Ucapkan selamat tinggal pada wisuda," ujarnya menyeringai.

Sabar, sabar, sabar. Arum terus merapalkan kata-kata itu guna membentengi dirinya dari keinginan untuk memukul dan melempar dosen di depannya ini. Apanya yang tampan? Wajah ini persis seperti tokoh antagonis yang sering dia baca di novel-novel. Tipikal wajah Badboy, tidak punya hati.

"Kita akan mengadakan pertemuan dua kali dalam seminggu. Selama jangka itu, aku tidak ingin mendengar alasan apa pun. Apa kamu mengerti?"

"Baik, Pak." Arum sengaja menekankan kata Pak agar dosennya ini tahu kalau dia sudah kesal.

"Untuk jamnya nanti akan di urus."

"Baik, Pak."

"Sekarang keluar!"

Arum mendorong kursi cukup keras, membuat suara berderak terdengar. Dia menunduk. "Maaf," ujarnya tidak tulus.

"Berapa usiamu?"

Arum yang sudah di depan pintu berbalik dengan heran. "Saya dua puluh lima tahun, Pak."

"Sudah tua ternyata."

Arum membanting pintu dengan kesal, tidak peduli jika dosen kurang ajar itu terkejut.

"Dasar dosen killer, dingin, mulut pedas, tidak punya hati. Awas saja ...." Arum menyeringai membayangkan dia melempar dan menendang dosen sombong itu di kepalanya.

Arum yang jengkel menarik ponsel dari tasnya dan menekan nomor sahabatnya.

"Bungaaa," teriak Arum begitu teleponnya tersambung.

"Kenapa? Hmm..." balasan terdengar dari ujung telepon.

"Ketemuan yukk, mau curhat nih."

"Aku lagi kerja, Arum Sayang."

Arum memutar mata. "Yah ...bentaran doang, gimana kalau nanti malam?" ujar Arum antusias. Dia butuh bercerita agar kepalanya tidak pecah karena menahan amarah yang akhir-akhir ini menemaninya.

"Oke."

Arum seketika mengepalkan tangannya begitu mendengar jawaban sahabatnya. "Ajak Intan sekalian, udah lama kita gak kumpul bareng."

"Siip, udah dulu ya, aku mau balik kerja nih."

Arum menatap teleponnya gemas. Ini sahabat gak pengertian banget. Dia kan masih mau ngomong.

"Okke, sampai nanti malam, Sayangku." Dia memutus telepon dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Dia butuh ke perpustakaan jika ingin segera selesai skripsi. Membayangkan wajah dosen killer itu entah kenapa membuat darahnya mendidih.

Tunggu! Arum tiba-tiba punya ide. Dia membuka MacBooknya, menyambungkan ke wifi kampus dan segera meluncur ke dunia maya. Dia membuka akun IG dan mengetik nama 'Daffin Narendra' di kolom pencarian. Dalam sekejap hasilnya muncul. Arum meneliti profil yang sesuai dengan wajah dosennya dan langsung mengkliknya.

Arum menutup mulut, menahan pekikan lolos dari mulutnya. Dia mengerjap beberapa kali, seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Apa ini? Daffin tidak banyak memposting di feednya, tapi bukan itu yang membuatnya kaget setengah mati. Dosen gila itu sudah menyelesaikan S-3 nya? Bagaimana bisa? Diusia semuda itu? Apa dunia sudah berubah secepat itu?

Arum menelan ludah, semua foto yang di posting hanya pemandangan dari beberapa negara. Menara kembar, Eiffel, dan beberapa yang dia sendiri tidak tahu negara mana. Arum terus menyusuri postingan dosennya, melupakan fakta kalau dia sudah stalker akun media sosial orang. Arum menatap sebuah foto dengan pemandangan sebuah jembatan dengan langit yang dibalut sunrise.

'Looking for you' adalah caption yang dibuat dalam keterangan foto. Arum seperti tidak memercayai apa yang dia lihat. Segenius apa manusia dingin itu sampai bisa melanglang buana diusia semuda itu? Rasa penasaran menguasainya. Dia keluar dan membuka kolom pencarian Google, mengetikkan nama Daffin Narendra. Arum sekali lagi membelalak tidak percaya dengan hasil yang muncul. Foto Daffin muncul dengan memegang berbagai macam piala bergensi. Kebanyakan saat masih di bangku SMA dan selain itu beberapa saat dia kuliah di LN.

Arum mengerjap beberapa kali dan memutuskan untuk menutup macbooknya. Dia bisa gila kalau terus-terusan mencari tahu tentang dosen dingin itu. Arum berdiri dan bersiap ke perpustakaan. Dia sekarang tahu siapa lawannya dan kalau boleh jujur dia lebih suka tidak lulus jika seperti ini.

Dan berssiap-siaplah di tendang dan jadi gelandangan, hati kecil Arum sekali lagi berbisik mengingatkan. Arum yang kesal menghentak-hentakkan kakinya membuat beberapa orang menatapnya dengan sorot mata aneh.

"Sial banget ya Tuhan, adduh," pekiknya mengaduh saat dia jatuh dan lututnya berakhir dengan mencium lantai.

Dia tersandung tali sepatunya sendiri. Dia tidak suka memakai high heels karena sering terjatuh tapi dengan sepatu datar pun nasibnya sama saja. Sebuah tangan terulur untuk membantunya berdiri. Arum menerimanya tanpa melihat siapa yang menolongnya.

"Apa matamu sudah tidak berfungsi lagi?"

Arum memekik kaget saat melihat siapa penolongnya.

"Kau..." ucapnya tidak sadar.

Daffin mengangkat alis.

"Maaf, Pak," gumamnya setengah hati.

"Lupakan. Besok jangan lupa datang jam delapan."

"Untuk?" tanyanya bodoh membuat Daffin menatapnya takjub.

"Luar biasa, otak udangmu benar-benar sudah tidak tertolong lagi sepertinya," gumamnya santai dan berlalu meninggalkan Arum yang tingkat kejengkelannya sudah berada pada level bisa meletuskan gunung.

"Dasar Dosen gila, psiko, aneh, tidak punya hati ..." geramnya marah. Jika pandangan bisa membunuh, maka saat ini dosen gila itu pasti sudah mati dibawah tatapan tajamnya. Dia mendengus dan kembali melanjutkan langkah, mengabaikan decakan kagum dari beberapa mahasisiwi yang terpesona pada ketampanan Daffin.

Dasar dosen killer!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Love Betrayal
8.9
Duniaku runtuh seketika saat melihat suamiku berjalan mesra dengan wanita lain. Perempuan cantik berambut panjang itu menggandeng lengannya dengan penuh kehangatan. Mereka berdua saling melempar senyum manis, tampak sangat bahagia layaknya sepasang pengantin baru yang tengah dimabuk cinta. Siapakah sosok misterius itu sebenarnya? Hubungan rahasia apa yang dia miliki dengan suamiku di belakangku? Sebuah kisah fiksi penuh tanda tanya dan pengkhianatan.
Sampul Novel Gairah Sang Pelakor
8.9
Kehidupan rumah tangga seorang istri hancur saat menemukan kontak bernama si buruk rupa di ponsel suaminya. Pedihnya, label menghina itu ternyata ditujukan untuk dirinya sendiri. Sang suami tega melakukan hal tersebut demi menutupi perselingkuhannya dengan wanita idaman lain. Pengkhianatan ini mengungkap betapa rendahnya posisi sang istri di mata lelaki yang ia cintai, sementara sang suami justru asyik menjalin hubungan gelap di belakangnya.
Sampul Novel Istri Kedua, Luka Pertama
9.1
Rafindra Mahardika, pewaris tunggal ningrat, dipaksa ayahnya mencari keturunan baru setelah kematian putri sulungnya. Nadira, gadis 19 tahun, terpaksa menjadi istri kedua demi biaya pengobatan ibunya meski ia sangat mencintai kekasihnya, Farel. Di kediaman Rafindra, Nadira menderita akibat perlakuan buruk istri pertama tanpa perlindungan dari suaminya. Mampukah ia bertahan di tengah intrik kejam keluarga ini ataukah hatinya akan hancur selamanya?
Sampul Novel Kisah Aku & Dia
7.9
Rina bermimpi bisa terus bersanding dengan Damar dalam segala situasi. Meski hubungan mereka sangat erat, melebihi kedekatan Damar dengan keluarganya, kenyataan pahit justru menghantam. Damar tidak memiliki perasaan cinta yang sama terhadap Rina. Luka hati ini terpaksa Rina pendam sendirian tanpa berani diungkapkan kepada siapa pun. Harapannya kian hancur saat Damar harus pindah ke luar kota, meninggalkan Rina yang hanya bisa mendoakan kebahagiaannya.
Sampul Novel Madu Jadi Upik Abu
8.2
Wati harus menghadapi kenyataan pahit saat bos di kantor suaminya melamar Dedy. Tergiur janji kehidupan yang lebih layak, Wati pun sepakat untuk dimadu. Namun, setelah Dedy memboyongnya ke rumah istri kedua, sebuah rahasia kelam mulai terungkap. Ternyata, Dedy memiliki agenda tersembunyi yang jauh lebih licik di balik pernikahan tersebut. Di sinilah perjuangan Wati dimulai saat ia menyadari bahwa dirinya hanyalah alat dalam rencana besar sang suami.
Sampul Novel Pelayan Dinikahi Tuan Muda
9.4
Demi biaya pengobatan orang tua, Attaya terpaksa menikahi Leon. Namun, Leon merahasiakan status mereka hingga memicu kecemburuan saat melihat Attaya melayani pria lain. Konflik memanas ketika Attaya menyadari adik Leon adalah mantan kekasihnya. Meski ditentang keluarga karena status sosial, Leon memilih membuang harta demi Attaya. Saat sang adik terbukti tak bisa memberi pewaris, keluarga besar memohon Leon kembali, yang ia penuhi dengan syarat Attaya harus diterima.