APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kau Hancurkan Lipstikku

Kau Hancurkan Lipstikku

Saat berbelanja, Luna bersikeras membeli lipstik baru meski Rama sudah mengingatkan untuk berhemat. Karena Luna nekat membelinya secara diam-diam, Rama yang emosi langsung mencoret-coret wajah Luna menggunakan lipstik tersebut sebagai hukuman. Rama mengira tindakan kasarnya akan membuat Luna kapok dan menyesal. Namun, dugaannya salah besar karena dalam sekejap, Luna justru kembali muncul di hadapannya dengan membawa sepuluh buah lipstik baru lainnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Malam itu, rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Padahal AC belum dinyalakan. Luna melangkah masuk tanpa bicara. Wajahnya masih memiliki sisa bekas lipstik yang belum sempat ia bersihkan, sengaja dibiarkan seolah ingin mengingatkan suaminya bahwa luka itu nyata-meski bukan luka berdarah.

Rama masuk beberapa menit setelahnya, membanting pintu dengan sedikit tenaga lebih. Ia meletakkan kunci motor ke meja dengan kasar dan berjalan ke kamar mandi tanpa sepatah kata.

Luna duduk di ruang tamu. Tangannya menyisir rambutnya pelan-pelan, bukan untuk merapikan, tapi menahan diri. Ia tahu jika ia tak sibukkan tangan, emosinya bisa meledak.

"Kalau aku tadi nangis di parkiran, kamu puas?" tanyanya setengah berteriak, setengah gemetar, saat Rama keluar dari kamar mandi dengan wajah basah.

Rama memandangnya datar. "Kamu terlalu keras kepala. Susah diatur."

"Susaaah diatur?" Luna berdiri. "Aku istri kamu, bukan anak kecil. Kamu marah karena aku beli lipstik? Oke, itu hak kamu buat ngomel. Tapi kamu coret-coret wajahku di depan umum, Rama! Di depan banyak orang! Kamu pikir harga diri perempuan itu bisa kamu hancurkan cuma karena lipstik seharga seratus ribu?!"

"Kamu nggak ngerti!" Rama balas meninggikan suara. "Bukan soal lipstik itu. Ini soal prinsip! Kita lagi nyusun rencana keuangan-kamu janji nggak boros, tapi kamu terus-terusan ngelanggar janji itu. Minggu lalu parfum, bulan lalu baju. Sekarang lipstik!"

"Dan kamu pikir dengan mempermalukan aku itu bikin kamu jadi lelaki yang hebat?"

"Daripada terus hidup dengan pasangan yang egois dan nggak bisa diajak kerja sama?"

Hening.

Ucapan itu seperti tombak yang menancap di dada Luna. Ia terduduk perlahan. Dada sesak. Matanya mulai memanas.

"Kalau kamu merasa aku ini beban, kenapa kamu nikahi aku dulu, Rama?" Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan.

Rama terdiam. Ia menggertakkan gigi, seolah kalimat itu tak adil-padahal ia tahu, ia yang memulai.

"Karena dulu kamu bukan seperti ini, Luna. Kamu bukan orang yang egois, yang cuma mikirin belanja dan penampilan. Kamu yang dulu lebih dewasa. Lebih... tahu batas."

Luna tertawa getir. "Dan kamu juga berubah, Rama. Dulu kamu perhatian. Dulu kamu sabar. Sekarang kamu cuma bisa marah, nyuruh, atur-atur. Aku bukan robot yang harus taat semua aturan kamu."

Malam itu mereka tidur di ranjang yang sama, tapi saling membelakangi. Tak ada pelukan. Tak ada ucapan selamat malam. Yang ada hanyalah punggung dingin dan selimut sunyi yang menyelimuti jarak di antara mereka.

Pagi Hari

Keesokan harinya, Luna bangun lebih dulu. Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap wajahnya lama. Bekas coretan lipstik sudah ia bersihkan, tapi rasa sakitnya belum hilang.

"Perempuan macam apa aku ini, yang dihina tapi tetap tinggal?" gumamnya sendiri.

Tangannya meraih salah satu lipstik baru yang ia beli. Ia buka perlahan. Warna peach lembut. Bukan untuk kantor. Bukan untuk keluar rumah. Tapi hanya untuk dirinya sendiri.

Ia pulaskan tipis ke bibir.

"Kalau aku bisa buat diriku bahagia dengan warna ini... kenapa harus merasa bersalah?"

Di dapur, Rama sedang mengaduk kopi. Ia tak menyapa. Ia hanya menoleh sekilas saat Luna muncul, lalu kembali menatap gelasnya.

"Aku masuk siang," kata Luna.

Rama mengangguk. "Aku lembur."

"Kita butuh bicara nanti."

"Kamu yang butuh bicara. Aku udah ngomong semuanya tadi malam."

"Rama..." Luna mendekat, mencoba mengendorkan ketegangan.

Tapi pria itu sudah berdiri, mengambil tas kerja, dan berjalan ke pintu.

"Kalau kamu masih pengen hidup dengan cara kamu sendiri, aku nggak bisa ikut. Aku capek jadi polisi keuangan di rumah sendiri."

Klik. Pintu tertutup.

Kantor dan Gosip

Di kantor, Luna tampak cerah seperti biasanya, walau senyumnya terasa lebih tipis. Teman-temannya memuji warna lipstik barunya.

"Cocok banget, Lun. Kamu beli di mana?"

"Diskon spesial," jawab Luna singkat.

Ia menyibukkan diri dengan pekerjaan. Membalas email, menyusun laporan, menyiapkan materi presentasi. Tapi pikirannya terus melayang ke rumah, ke Rama, ke ucapan-ucapan yang tak seharusnya keluar dari mulut suaminya.

Saat makan siang, ia duduk sendiri di kantin. Biasanya ia ramai bersama dua rekan kerja perempuan, tapi kali ini ia memilih sepi.

Salah satu dari mereka, Maya, menghampiri.

"Kamu kenapa? Kelihatan beda hari ini."

"Cuma capek. Banyak kerjaan."

"Kamu tahu, suami itu bukan bos, Lun," kata Maya tiba-tiba. "Kalau udah sampai titik kamu nggak bisa jadi diri sendiri di rumah, itu bukan rumah lagi."

Luna menatap temannya, kaget dengan ketepatan kalimat itu.

"Kamu tahu dari mana?"

"Kamu ngomongin lipstik kemarin di parkiran? Iya, aku lihat, Lun."

Luna menunduk. Ia malu. Tapi juga... lega.

Malam Kedua

Rama pulang hampir tengah malam. Ia masuk dengan langkah berat. Di meja makan, ada sepiring nasi goreng dan air putih. Dingin. Tapi Luna masih terjaga.

"Kamu belum tidur?" tanya Rama pelan.

"Kamu udah makan?"

Rama menggeleng. Ia duduk. Mengambil sendok. Tapi tidak langsung makan.

"Aku... nyesel," ucapnya akhirnya.

Luna diam.

"Aku marah bukan karena lipstik. Tapi karena aku takut. Takut kita nggak bisa terus bareng karena cara kita mikir udah beda."

"Aku juga takut, Rama," jawab Luna. "Tapi bukan takut kehilangan uang. Aku takut kehilangan diriku sendiri karena terus dituntut jadi orang yang kamu mau."

Mereka saling menatap.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, mereka bicara. Tanpa suara tinggi. Tanpa saling menyalahkan. Hanya dua orang yang sedang tersesat di jalan rumah tangga mereka, mencoba mencari arah pulang.

Epilog Sementara

Dua minggu berlalu.

Lipstik-lipstik baru itu masih ada. Tapi tak satu pun dari mereka yang mempermasalahkannya lagi. Luna menggunakannya seperlunya. Rama tak lagi bersikap seperti pengawas anggaran.

Mereka mulai belajar menyusun ulang fondasi rumah tangga mereka. Bahwa cinta bukan soal seberapa hemat atau seberapa menurut. Tapi soal saling menjaga. Dan saling memberi ruang.

Pada suatu sore, saat mereka duduk di balkon rumah sambil minum teh, Luna berkata pelan,

"Lipstik itu bukan soal warna bibir. Tapi warna suasana hati. Kalau aku bahagia, aku nggak butuh warna mencolok. Tapi kalau aku sedih... bahkan merah pun nggak bisa nutupin luka."

Rama menggenggam tangan istrinya.

"Mulai sekarang, aku pengen jadi warna tenang buat hati kamu, Luna."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel (bukan) Perempuan Biasa #buku ketiga
9.6
Hidup eksekutif muda Davina Hadinata hancur setelah menjalin hubungan dengan Aria Wardana yang ternyata beristri. Aria memfitnahnya hingga ia menganggur, sementara bisnis ayahnya bangkrut akibat skandal sang kakak. Tragedi memuncak saat istri Aria bunuh diri, memicu dendam Rajata Bagaskara. Rajata menodai Vina hingga hamil sebagai balasan atas kehilangan keponakannya. Di tengah penderitaan dan kemiskinan, Vina berjuang bertahan hidup demi harapan yang tersisa.
Sampul Novel Cinta Dari Masalalu
9.7
Ratih tidak pernah menduga bahwa perasaannya terhadap Arsenna, teman masa SMA yang ia sukai, akan kembali terusik setelah sebelas tahun berlalu. Pertemuan tak terduga membawa mereka ke dalam rangkaian mimpi aneh yang saling bertautan secara misterius. Di antara batas realita dan dunia fantasi yang tidak biasa, mampukah mereka memahami takdir ini? Ikuti perjuangan Ratih dan Arsenna dalam mencari jawaban atas ikatan masa lalu demi bersatu di masa kini.
Sampul Novel Cinta Karena Kesalahan
9.0
Keira Kastari Naryadinata menjalani tujuh belas tahun hidup penuh perjuangan hanya bersama ibunya. Namun, dunianya runtuh saat sang ibu wafat, meninggalkannya sebatang kara. Selama ini, ia dibuang oleh ayahnya yang angkuh, Kastara, hanya karena ia perempuan. Tiba-tiba, Kastara muncul memohon maaf dan mengajaknya kembali pulang ke ibu kota. Benarkah pria egois itu telah berubah? Keira kini terjebak antara rasa benci masa lalu dan harapan akan keluarga yang baru.
Sampul Novel Dari Kekasih Bayangan Menuju Dirinya Sendiri
9.6
Lima tahun lamanya aku terjebak sebagai kekasih rahasia yang hidup di balik bayang-bayang. Hubungan ini terpaksa kujalani demi menepati janji terakhir kepada mendiang kakaknya, pria yang semula ditakdirkan menjadi suamiku. Namun, tepat saat masa perjanjian itu berakhir, dia justru memberikan tugas yang menghancurkan hati. Aku diminta untuk menyusun seluruh rencana pesta pertunangannya dengan wanita lain yang telah dia pilih sendiri.
Sampul Novel Ditinggal Suami Dinikahi Adik Ipar
8.9
Shifra, yatim piatu yang dinikahi miliarder Elzien Kagendra, harus kehilangan suaminya akibat kecelakaan tragis. Hidupnya berubah menjadi pelayan di rumah mertua hingga sebuah insiden satu malam memaksanya menikahi adik iparnya sendiri. Saat telah memiliki anak, Elzien yang disangka wafat tiba-tiba muncul kembali. Kini Shifra terjebak dalam dilema besar antara cinta pertamanya atau suami kedua yang merupakan ayah dari bayinya. Siapa yang akan dia pilih?
Sampul Novel Istri Bayaran Yang Menyembuhkan Penyakitnya
9.0
Valerian DeVere mengambil langkah nekat dengan mencari istri bayaran demi menutupi kelemahannya. Namun, kontrak ini membawa keajaiban medis saat wanita tersebut secara tak terduga mampu menyembuhkan penyakit kronisnya. Seiring waktu, kesepakatan bisnis ini berubah menjadi ikatan yang rumit dan penuh risiko. Valerian kini terjebak dalam dilema besar: apakah ia benar-benar telah pulih, atau justru terseret ke dalam sebuah konspirasi gelap yang mengancam nyawanya?