APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kekasih lima langkah

Kekasih lima langkah

Zahrana Bilqis tumbuh dalam kasih sayang penuh meski ayahnya memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. Kedamaian keluarga mereka terusik oleh mantan istri sang ayah yang berusaha memicu kebencian. Di tengah konflik ini, Zahra jatuh hati pada tetangga depan rumah yang juga rekan kerja ayahnya. Namun, sang bunda menentang keras hubungan tersebut. Rahasia kelam apa dari masa lalu sang ayah yang membuat cinta Zahra terhalang restu ibunya sendiri?
Bab
Bagikan

Bab 2

Bab 2.

Belakangan ini Tante Rosa, mantan istri Papa suka nyari gara-gara. Mungkin itu yang buat Bunda jadi kepikiran lagi. Sejak menikah dengan Bunda, Bang Rey dan Kak Mona, saudara tiriku ini, lebih memilih tinggal bersama kami dibandingkan dengan mamanya sendiri.

Tak sengaja, aku melihat di dalam laci yang terbuka sedikit, ada selembar foto. Jiwa kepoku meronta, lalu foto tersebut ku ambil dan melihat wajah siapa di foto tersebut. Ternyata itu foto pernikahan Bunda dan Papa. Untuk apa Bunda pegang foto itu?

Suara gemericik air masih terdengar dari kamar mandi di sebelah kamarku. Harusnya Bunda mandi pakai air hangat. Aku tepuk jidat sendiri, karena lupa mengingatkannya. Tak lama terdengar suara pintu kamar di buka, kreeekk ... Bunda keluar memakai baju handuk model kimono.

"Zahra ke kamar dulu ya, Bund! Mau ambil dompet," ucapku.

"Oh-iya," sahutnya.

Ku masukkan hape dan dompet ke dalam tas kesayanganku berwarna pink nude. Hadiah ulang tahun dari Bunda setahun yang lalu. Padahal tasku banyak di lemari, tapi.aku lebih suka pakai tas pemberian Bunda. Simple dan warnanya itu, paforitku banget.

Tak lupa semprotkan parfum pemberian dari Papa, ketika pulang dari luar kota beberapa bulan yang lalu. Karena aku tau, Papa suka beliin oleh-oleh parfum untuk Bunda.

Alasannya biar kalau Bunda kangen Papa, tinggal semprotkan aja parfum itu ke ruangan kamar ini, jadi seolah Papa ada di sampingnya. Karena itu parfum paforit mereka. Memang yang paforit itu sulit untuk dilupakan.

Selesai berdandan, aku masuk kembali ke kamar Bunda. Ia sedang memakai hijab, ku lihat laci meja rias terbuka lagi, tapi fotonya sudah tak ada. Mungkin Bunda sudah menyimpannya. Tapi rasa penasaranku sulit dibendung lalu beranikan diri untuk bertanya.

"Bunda, sedang kangen, ya dengan Papa?" selidikku. Bunda menoleh ke arahku.

"Ihh ... sok tau, dehh!" sahutnya.

"Lagian, pakai acara demam segala sihh!" ledekku.

"Dosa-loo, kalau meledek bundanya!"

"Aihh, gak meledek, hanya bertanya Bundaku sayang," ucapku sambil mencium pipinya. Wajah Bunda langsung memerah.

Selesai beberes, kami pun turun ke lantai bawah dan segera minta diantar oleh Pak Dirman ke supermarket.

******

"Pak Dirman ... antar kami ke supermarket di pusat kota, ya!" titah Bunda.

"Oh-oke, Bu," sahut Pak Dirman.

Bunda memberikan kunci mobil ke supir sekaligus sekuriti di rumah kami. Pak Dirman dengan sigap membuka pintu mobil untuk Bunda. Kalau aku tak payah dibukakan, bisa sendiri kok. Itu dilakukannya sebagai bentuk rasa hormatnya terhadap majikan atau istri Boss yang sudah mempekerjakan dia di rumah ini.

Setelah menutup kembali pintu pagar, Mbok Nah langsung menguncinya kembali. Oh-iya

hampir lupa, tadi sepulang dari kampus ada penghuni baru yang tinggal di depan rumah kami. Sepertinya kemarin penghuni rumah itu satu keluarga. Setelah itu mereka pindah, dan rumahnya dijual. Nah, tadi aku lihat ada mobil masuk ke halaman rumahnya.

"Bund ... rumah di depan kita itu , sudah ada yang menghuni, ya?" tanyaku.

"Hmm ... kamu lihatnya seperti apa?" Bunda malah balik tanya buat penasaran aja.

"Isssh, tinggal jawab sudah, atau belum aja, kok payah, sih!" sungutku.

"Hii ... hii, sudah dong! Papamu yang tunjuk rumah itu ke teman bisnisnya!"

"Oh-pantesan, jadi penghuninya kenalan Papa, ya, Bund?"

"Iya, tapi masih jomblo, paling umurnya hampir sebaya kamu atau lebih dikitlah," jelas Bunda.

Aku diam, lalu mencerna ucapan Bunda, tadi aku lihat hanya sekilas, ada cowok turun dari mobil terus membuka pagar kemudian masuk lagi ke dalam mobilnya. Sepertinya baru beberapa hari ini, dia menghuni rumah depan itu. Kalau memang jomblo, boleh juga tuh, untuk sekedar cuci mata. 

Sangkin asikknya melamun, mobil sudah masuk aja ke parkiran supermarket. Bunda menowel lenganku dan mengajak turun. 

"Bentar Bund, tali sepatu Za lepas ini!" ucapku keluar dari mobil lalu berjongkok untuk mengikat kembali tali yang lepas.

"Makanya pakai pansus aja, seperti Bunda ini! No ribet-ribet," ucapnya.

"Ihhh, Bunda! Za itu sukanya gaya yang casual, cukup ke kampus aja pakai pansus!" omelku.

"Nah, itu jadi ribet! Entar gegara tali sepatu, kamu bisa jungkir balik loo," ledek Bunda sambil terkekeh.

"Yups, udah siap!" aku berdiri lalu mengekor Bunda masuk ke dalam supermarket.

Sore begini sudah nampak ramai, maklumlah, namanya awal bulan. Istilah emak-emak itu "bulan muda." Kirain umur aja yang muda, tapi bulan pun bisa muda ya, gaess. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mengambil troli untuk belanjaan.

Aku menggandeng tangan Bunda, kok tangannya terasa hangat. Duhh ... Bundaku sayang, sudah sering di tinggal ke luar kota, tapi masih saja merindukan bulan, ehh, Papa. 

"Biar Za yang dorong troli, Bunda pilih barang aja!" ucapku sambil meraih troli dari tangannya.

****

Setengah jam berkeliling memilih barang kebutuhan dapur. Bunda berhenti di depan stand minuman, sepertinya Bunda masih kelihatan pusing. 

"Bunda haus, biar di buka aja langsung air mineral ini?" tanyaku.

"Mbak, boleh di buka langsung, ya!" pintaku ke penjaga stand sambil ambil sebotol air mineral di rak minuman.

"Oh-boleh, tapi botolnya jangan dibuang!" titah penjaga stand.

Aku membuka segel penutup botol, lalu menyuruh Bunda untuk minum. Untungnya di depan kasir ada beberapa kursi besi, untuk duduk menunggu antrian. Bunda langsung duduk di kursi tersebut.

"Bund, tunggu disini, ya! Za mau pilih shampoo dan handbody!" pintaku.

"Iya," sahutnya.

Aku berjalan ke stand paling ujung, tadi ku lihat di sana stand bagian kosmetik. Ku lirik ke layar hape, sudah pukul lima sore, hmm, pantasan pengunjung semakin ramai. Kadang kalau lihat orang ramai begini, kepala memang suka tiba-tiba pusing.

Bagaimana tidak ramai, supermarket ini terkenal murah. Karena market terbesar di kota kami. Selisih harganya sudah tak diragukan lagi dibanding dengan market lainnya. Nah, itu stand kosmetiknya.

Aku memilih produk yang biasa ku pakai. 

Kalau handbody tahan untuk dua bulan, begitu juga dengan shampoo. Hanya skincare yang agak boros. Belinya pun lewat online, order ke temanku. Ia reseller kosmetik. Hitung-hitung bantu teman dan berbagi rejekilah.

Setelah dapat apa yang dicari, aku kembali ke posisi Bunda duduk tadi. Dari jauh ku lihat ada beberapa orang sedang berdiri dekat kasir disebelah Bunda. Aku percepat langkah kaki ini, karena mendengar suara orang sedang bicara dengan suara kuat.

"Hmm ... kamu! si pelakor, merebut suami dan anak dari ayahnya!" ucap wanita paruh baya sambil menunjuk wajah Bunda.

"Oh-Omaaa!" sapaku.

"Nah, kebetulan bertemu dengan kamu anak pelakor! Bilangin keBunda kamu itu, jangan racuni pikiran cucuku untuk membenci mamanya!" camkan itu!" cecar si Oma.

"Oma jangan asal bicara ya, buat malu Bunda! Bang Rey dan Kak Mona itu udah dewasa, gak perlu dihasut, mereka bisa nilai sendiri mana yang baik dan buruk!"

"Dan satu hal lagi, Bundaku bukan pelakor!!! Mereka menikah setelah Papa sudah lama mendudaa!" ucapku lantang, biar semua yang ada disini tau dan dia malu sekalian.

"Huhh ... anak sama Ibu sama aja," ucap si Oma dengan wajah memerah menahan malu. Ia pun pergi sambil menenteng bungkusan keluar dari kasir.

"Bunda gak papa, pusingnya gimana, udah enakan sekarang?" tanyaku khawatir. Bunda menghabiskan sisa air mineral dibotol lalu masukkan lagi ke troli.

"Enggak papa, Sayang! Tak usah khawatir, Bunda udah biasa kok diomelin, sama Oma yang cerewet itu!" ucap Bunda.

"Kali ini, gak akan ada lagi orang yang bisa berucap kasar ke Bunda! Sekali pun itu Papa Za sendiri," ucapku sambil memeluk Bunda.

Aku langsung menuju kasir untuk membayar belanjaan dalam troli. Bunda ku suruh duduk di ruang tunggu dekat kasir. Kulihat wajahnya datar saja, sepertinya sudah kenyang menghadapi ocehan Nenek lampir itu. 

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 7 NAGA BEREBUT RAGA
8.5
Davey Torres, pria lemah yang sering sakit, tak sengaja menelan makanan bermantra yang memasukkan jiwa Raja Naga berusia 12.000 tahun ke tubuhnya. Davey dan sang naga, Chen, terus berselisih hingga Chen mengungkap misi balas dendamnya terhadap keturunan Ming yang tamak. Keluarga Ming telah menghancurkan bisnis keluarga Torres hingga bangkrut. Kini, Davey harus memilih apakah akan bekerja sama dengan Chen demi menghabisi musuh dan merebut kembali Torres Group.
Sampul Novel Before After: Marriage
7.8
Crystal Winter Oberoi tak pernah paham mengapa Austin, kakaknya, selalu bersikap kasar dan dingin hanya kepadanya. Di balik perlakuan buruk tersebut, Austin sebenarnya berusaha menekan perasaan terlarang yang tumbuh di antara mereka. Meski Austin sudah bertunangan demi mengendalikan emosinya, benih cinta tetap muncul tanpa bisa dicegah. Kini, dua saudara ini terjebak dalam dilema dosa dan rasa rumit yang mengancam komitmen serta hubungan darah mereka sendiri.
Sampul Novel Cinta dan Gairah 21+
8.1
Cinta dan Gairah 21+ menyajikan antologi kisah romantis dewasa dengan beragam latar belakang karakter yang memikat. Mulai dari dinamika kehidupan ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga pesona CEO dan manajer, setiap cerita dirancang untuk mengeksplorasi sisi emosional yang mendalam. Pembaca akan dibawa melintasi berbagai profesi, termasuk kuli bangunan dan para suami, dalam narasi yang memuaskan fantasi. Nikmati setiap alur cerita unik yang penuh gairah di buku ini.
Sampul Novel Hanin & Wahyu
8.0
Hanin dan Wahyu adalah saudara kembar yang selalu seiring sejalan hingga mereka dewasa. Namun, perbedaan mencolok muncul saat mereka memilih pasangan hidup. Suratman sukses menjadi konsultan bank dengan istri sekretaris hotel yang ambisius. Sebaliknya, Suratmin hanya bekerja sebagai petugas kebersihan dengan istri ibu rumah tangga biasa. Perbedaan status dan pola asuh anak yang kontras ini akhirnya memicu konflik besar yang mengorbankan masa depan anak-anak mereka.
Sampul Novel Janjinya, Kehancurannya
8.6
Malam puncak karier arsitekturku berubah menjadi kehancuran saat tunanganku, Baskara, memberikan hasil karyaku kepada cinta pertamanya. Aku dipaksa menjadi mentor wanita itu hingga mengalami kekerasan fisik yang berujung pada pemecatanku. Bahkan saat aku hamil anaknya, Baskara tega mencelakaiku di rumah sakit dan meninggalkanku berdarah. Muak dengan pengkhianatannya, aku memilih pergi jauh, mengganti identitas, dan menghilang bersama bayiku selama lima tahun.
Sampul Novel Nasip Sang GADIS MALANG
9.2
Noah terbakar api cemburu dan amarah yang meluap hingga ia kehilangan kendali. Dengan suara rendah yang serak, ia menegaskan klaim posesifnya kepada Abigel di tengah suasana yang sangat intens. Noah bertekad untuk menghamili Abigel agar wanita itu menjadi miliknya sepenuhnya dan selamanya. Ia ingin memastikan tidak ada pria lain yang berani mendekat apalagi menyentuh Abigel. Sebuah obsesi gelap yang mengikat takdir mereka dalam hubungan penuh gairah.