APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kenangan Obsidian

Kenangan Obsidian

Pasca pelarian dari Kekaisaran Ezen, Asha, Kael, dan Lirien bersembunyi di Pegunungan Broken. Di sana, misteri Penjaga kuno terungkap saat Asha bergulat dengan kekuatan abu dan memori yang menyiksanya. Sementara itu, tubuh Kael perlahan membatu, mengancam sisi manusianya. Konflik antarras ternyata hanyalah manipulasi belaka. Di tengah pengkhianatan dan pengorbanan, Asha harus memilih: menjadi senjata mematikan atau pelindung dunia dengan harga yang sangat mahal.
Bab
Bagikan

Bab 1

Asha, Kael, dan Lirien muncul dari kabut seperti bayangan yang lahir dari akhir dunia. Pendakian ke Broken Mountains memakan waktu tiga hari, melintasi jalan setapak yang terlupakan dan tebing yang ditandai dengan simbol-simbol yang hancur saat disentuh. Udara di sini lebih tipis, beraroma damar dan besi, dan dipenuhi dengan ketegangan mineral yang mengingatkan Asha pada saat-saat sebelum wahyu di dalam abu. Setiap langkah, setiap tarikan napas, terasa seperti doa yang tak terucapkan.

Langit adalah mangkuk buram, tanpa bintang. Dunia terasa menggantung, terkurung. Pegunungan bukanlah dataran tinggi yang sederhana: mereka adalah sisa-sisa tubuh yang lebih tua dari waktu. Asha merasakannya di tulang-tulangnya. Seolah-olah Aeolina membawanya ke sini bukan hanya untuk menyembunyikannya, tetapi untuk menunjukkan sesuatu padanya. Atau seseorang. Jaring api yang dia rasakan di bawah kulitnya, sejak pecahan Jantung Kuil berdenyut di dadanya, berdenyut lebih kuat sekarang. Seolah-olah pegunungan ini juga merupakan simpul. Detak jantung jaring yang tertidur.

Kael nyaris tidak berbicara selama perjalanan. Lengan kanannya, yang membeku hingga ke bahu, mulai kehilangan suhu. Asha mengamatinya dari sudut matanya, seolah-olah kulitnya akan retak jika menatap terlalu langsung. Setiap langkah tampaknya membuatnya semakin menderita, tetapi dia tidak mengeluh. Dia tidak pernah mengeluh. Namun, gemetar di tangan kirinya, dan napasnya yang lebih berat daripada yang lain, menunjukkan kemajuan batu itu. Kadang-kadang, ketika dia mengira Asha tidak melihat, dia menempelkan jari-jarinya ke jantungnya, seolah-olah mencoba merasakan apakah dia masih manusia.

Lirien memimpin jalan, membimbing mereka dengan keyakinan seseorang yang telah membaca jalan ini bukan di peta, tetapi dalam mimpi. Dia mengenakan tunik lusuh, tanpa lencana. Dia telah berubah sejak jatuhnya kuil. Lebih keras, lebih pendiam. Tetapi juga lebih berbahaya. Seperti obor yang tahu kapan tidak boleh menyala. Dia telah mengangkat pemberontakan dengan intensitas yang tidak menyisakan ruang untuk keraguan atau duka. Setiap malam, dia mempelajari gulungan-gulungan dengan keganasan yang sama seperti orang lain mengasah pedang. Mereka mencapai tepian langkan yang ditutupi lumut merah. Di seberangnya, sebuah lembah menganga di antara formasi bengkok yang tampak seperti gigi batu. Di tengahnya, di tengah gumpalan asap tipis, menjulang reruntuhan benteng yang terkubur di batu. Itu bukan tempat berlindung. Itu adalah saksi. Angin membawa gumaman aneh, seolah-olah batu-batu itu ingat pernah menjadi sesuatu yang lain: tiang-tiang kuil yang terlupakan, atau tulang-tulang makhluk yang punah. Sosok berkerudung menunggu mereka di antara pilar-pilar yang patah. Tinggi, tegak, seolah-olah waktu berutang rasa hormat padanya. Asha memperhatikan simbol pada tongkatnya: spiral patah yang dikelilingi oleh api. Dia mengenali tanda itu. Itu dari para Penjaga... tetapi terbalik. Tongkat itu juga memiliki retakan gelap, seolah-olah energi tak terlihat telah membelahnya dari dalam. "Selamat datang, api yang mengingat," kata sosok itu, suaranya seperti guntur yang teredam. "Kami menunggumu." Asha melangkah maju. Dia merasakan pecahan Jantung Kuil berdenyut di balik pakaiannya, di kulitnya. Jantungnya berdenyut dengan kata-kata itu, seolah merespons. Panas adalah bahasa. Dan itu berbicara tentang pengenalan.

"Siapa mereka?" tanya Kael, suaranya serak.

"Anak-anak Api yang Patah," jawab Lirien, tanpa menoleh ke belakang. "Mereka yang selamat dari pengkhianatan terhadap jenis mereka sendiri."

Sosok itu mengangguk. Dia menurunkan tudungnya. Dia adalah seorang wanita dengan rambut seputih abu, kulit gelap yang ditandai dengan garis-garis berapi yang bukan tato, tetapi bekas luka mentah. Atau luka bakar yang tidak sakit. Matanya berwarna kuning tua, hampir padat. Dia tidak berkedip. Dia tampak seolah-olah melihat kata-kata di dalamnya.

"Kau telah membawa pecahan pertama," katanya. "Kalau begitu masih ada harapan."

Asha mengencangkan jari-jarinya di sekitar pecahan yang tersembunyi itu. Dia merasakan semua yang ada di dalam dirinya terbakar sedikit demi sedikit setiap hari, dan pada saat yang sama, ada sesuatu yang hancur berantakan. Bukan di tubuhnya, tetapi di ingatannya. Ada saat-saat ketika dia mengacaukan ingatan orang lain dengan ingatannya sendiri. Suara-suara wanita yang sudah meninggal berbicara melalui mulutnya dalam mimpinya. "Kekaisaran telah mulai memburu simpul-simpul," kata Lirien. "Mereka tahu ada lebih banyak hati. Lebih banyak kenangan."

"Dan kaulah satu-satunya yang dapat menyimpannya," wanita itu menambahkan. "Jika abunya dipercayakan kepada mereka yang tidak ingat... mereka akan menjadi reruntuhan."

Kael bersandar pada sebuah batu. Ia tidak berkata apa-apa. Napasnya lambat. Pembuluh darah di dekat bahunya yang membatu membengkak. Asha tidak dapat berhenti menatap lehernya, seolah-olah batu itu bisa merayap keluar kapan saja. Jantung obsidian, tak terlihat di bawah kulitnya, berdetak dengan frekuensi asing. Tidak seperti otot. Seperti sebuah peringatan.

"Aku perlu belajar," kata Asha. Untuk menahan kenangan. Agar tidak tersesat di dalamnya.

"Kalau begitu kau telah datang ke tempat yang tepat," kata wanita tua itu. "Tetapi harganya akan mahal."

Asha tidak mengalihkan pandangan. Pecahan batu itu menyala sedikit lebih terang di dadanya. Di belakangnya, Kael menggumamkan namanya. Dan suara kata itu sepertinya menyalakan sesuatu di reruntuhan itu. Beberapa obor tersembunyi, yang tidak menyala selama bertahun-tahun, berkedip-kedip seolah menjawab panggilan itu. Itu adalah jaringnya. Masih hidup.

Anak-anak Api yang Patah menuntun mereka melalui lorong cekung, di mana dinding-dindingnya ditutupi dengan lukisan dinding yang hampir tidak terlihat: pertempuran tanpa pahlawan, para penjaga yang tumbang di tangan manusia, api yang padam lalu menyala lagi. Asha merasakan gambar-gambar itu bergerak, hanya dengan melihatnya.

Mereka turun ke ruang melingkar tempat batu itu berdenting dengan energi bawah tanah. Di sana, yang lain menunggu mereka: pria dan wanita dari segala usia, dengan tanda-tanda yang mirip dengan wanita tua itu. Beberapa muda, yang lain begitu tua sehingga tampak dipahat oleh waktu. Semua mata tertuju padanya. Bukan dengan pengabdian, tetapi dengan harapan. Seolah-olah berharap untuk terbukti salah.

"Di sini kamu akan belajar untuk melawan kehancuran," kata wanita itu. "Untuk bertahan tanpa berpaling. Untuk mengingat tanpa menghilang. Namun, kau harus menyerahkan sesuatu terlebih dahulu." "Apa?" tanya Asha, meskipun ia sudah takut akan jawabannya. "Terlepas dari emosimu," kata wanita itu. "Abu merespons perasaan. Jika kau merasa terlalu banyak... mereka menyeretmu ke bawah. Jika kau tidak merasakan apa pun... mereka mengabaikanmu. Kau harus menemukan keseimbangan. Dan itu hanya terjadi ketika kehilangan sesuatu yang nyata." Asha menelan ludah. ​​Ia memikirkan ibunya. Tentang suara-suara dalam abu. Tentang saat pertama kali ia menyentuh Hati. Semua itu telah dipandu oleh emosi. Siapakah dirinya tanpa itu? "Kau harus memilih," lanjut wanita tua itu. "Kenangan untuk disegel. Emosi untuk dibungkam. Hanya dengan begitu kau dapat memulai." Kael mencoba untuk duduk, tetapi tubuhnya tidak merespons. Ia jatuh berlutut, dan Asha berlari untuk menopangnya. Kulitnya sudah dingin. Seperti batu. Seperti patung hidup. "Kael..." bisiknya. Ia mendongak. Ia merasa sulit untuk berbicara. "Jangan biarkan aku... menghilang... tanpamu."

Wanita tua itu memperhatikan mereka dalam diam. Kemudian dia mengangguk, seolah sesuatu telah menjadi jelas.

"Jantung obsidian juga memiliki harga. Namun masih ada waktu. Jika dia memilih dengan baik."

Asha memejamkan matanya. Dia merasakan denyut pecahan itu. Dia merasakan jaringnya. Dia merasa bahwa api itu tidak ingin menjadi senjata. Ia ingin menjadi bahasa. Dan dia... harus belajar untuk mengucapkannya.

"Aku siap," katanya.

Dan ruangan itu dipenuhi dengan kehangatan yang dalam, seolah-olah gunung-gunung itu sendiri bernapas untuk pertama kalinya selama berabad-abad. Revolusi tidak akan bangkit dengan teriakan. Ia akan dimulai dengan bisikan abu. Lagi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Pekerjaan Rahasiaku Dan Cintanya
8.8
Meri terpaksa melakoni profesi pembunuh bayaran demi uang karena sulit mencari kerja. Mike adalah satu-satunya orang yang mengetahui rahasia kelam ini. Meski Meri mencintai sahabatnya itu, ia memilih memendam rasa demi menjaga pertemanan, apalagi Mike sudah memiliki kekasih seorang model cantik. Namun, pertemuan tak terduga dengan seorang dokter tampan di rumah sakit mulai menggoyahkan hatinya. Siapakah sebenarnya belahan jiwa yang ditakdirkan untuk Meri?
Sampul Novel Because of Mistake
9.6
Akibat kesalahpahaman fatal, Eudora terperangkap dalam penderitaan sebagai tawanan Legolas yang haus akan balas dendam. Kehidupannya hancur dalam siksaan hingga ia merasa maut lebih baik daripada bertahan hidup. Namun, kebenaran akhirnya terkuak bahwa Eudora adalah sosok penyelamat nyawa Legolas di masa lalu. Kini, rasa benci dan kekecewaan mendalam menyelimuti hati Eudora. Akankah cinta bersemi kembali atau mereka justru terjebak menjadi musuh abadi?
Sampul Novel Dia Bukan Milikku
9.3
Letnan Imam mengutamakan tugas negara, namun pengkhianatan Serda Resti menghancurkan janji suci mereka. Meski Resti telah menjadi milik orang lain, bayangannya tetap ada. Pasca kecelakaan, Imam menemukan cinta baru pada Dokter Utami. Namun, penugasan ke Lampung mempertemukannya dengan Lita, pelajar yang mirip Resti. Saat kesetiaannya diuji, Utami memilih berpisah sementara Lita sudah memiliki kekasih. Siapakah yang akhirnya akan mengisi kekosongan hati sang Letnan?
Sampul Novel Hidden Tea
8.2
Saat menghadiri pesta di Negeri Suwarna, Putri Mahkota Manggalya menerima kabar duka atas wafatnya sang ayah. Karena takhta tak boleh kosong, Pangeran Rahagi yang berusia sepuluh tahun pun naik takhta menggantikannya. Sang Putri yang terpukul memilih mengasingkan diri demi menenangkan jiwa. Namun, di bawah kuasa raja muda yang baru, Manggalya justru berubah menjadi kerajaan agresif yang terus memperluas wilayah kekuasaannya secara membabi buta.
Sampul Novel Kekayaanku, Keluarga Benalunya
9.0
Sebagai dokter bedah saraf berpenghasilan miliaran, aku menghidupi suami kapten tentaraku dan keluarganya yang parasit. Usai melunasi utang 75 miliar mereka, aku mengatur liburan mewah ke Monako. Namun, suamiku justru memberikan kursi jet pribadiku kepada mantan kekasihnya, Dahlia, dan membuangku ke penerbangan komersial berbahaya. Saat mereka bersekongkol menghinaku, aku menyaksikan pengkhianatan di ranjangku sendiri. Kini, saatnya membalas dendam dengan menghanguskan segalanya.
Sampul Novel Lawon Abang (Kafan Merah)
9.4
Mbah Karso menyaksikan cucunya, Mawar, tewas mengenaskan setelah difitnah dan dikejar warga Ledokombo hingga jatuh ke tebing. Dendam membara menyelimuti hatinya karena gadis bermata merah itu dibunuh secara keji. Demi membalas sakit hatinya, ia membangkitkan Nyai Larapati, sosok iblis kuno yang telah lama tertidur. Raga Mawar yang sudah mati dipaksa bangkit kembali untuk menuntaskan kesumat berdarah tanpa ampun terhadap para penduduk desa tersebut.