APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kesempatan Keduaku, Penyesalannya

Kesempatan Keduaku, Penyesalannya

Wasiat mendiang ayah mengharuskan Alya menikahi anggota keluarga Adhitama saat ia berusia 22 tahun. Dulu, ia mencintai Bima meski pria itu kejam, berselingkuh dengan Jelita, bahkan tega meracuninya hingga tewas setelah menikah. Namun, keajaiban membawanya kembali ke masa lalu tepat di hari ulang tahunnya. Kini, Alya terbangun dengan ingatan pahit tentang pengkhianatan Bima. Ia bertekad mengubah takdir dan tidak akan memilih pria yang sama lagi.
Bab
Bagikan

Bab 1

Sebuah perjanjian yang disegel oleh kematian Ayahku menentukan bahwa pada ulang tahunku yang kedua puluh dua, aku akan menikahi seorang Adhitama dan menobatkan CEO berikutnya. Selama bertahun-tahun, aku mengejar Bima Adhitama, yakin bahwa cintaku yang tak terbalas pada akhirnya akan memenangkan hatinya.

Namun di pesta ulang tahunku, dia memberikan gelang yang seharusnya untukku kepada saudara tiriku, Jelita, tepat di depan semua orang.

"Biasakan saja, Alya," cibirnya. "Aku akan segera menjadi CEO. Aku tidak bisa terikat hanya pada satu wanita."

Dia menyebutku tidak tahu malu dan jahat, aib bagi nama keluargaku. Dia mempermalukanku, berselingkuh denganku di depan mata dengan Jelita, dan menuntutku menerima perselingkuhannya jika aku ingin menjadi istrinya.

Kekejamannya semakin menjadi-jadi hingga dia menamparku di depan umum dan bahkan mencoba menusukku di hari pernikahanku.

Di kehidupanku yang lalu, pengabdian buta ini membawaku ke dalam pernikahan yang menyedihkan. Dia perlahan-lahan meracuniku, dan aku mati sendirian sementara dia hidup bahagia dengan saudara tiriku.

Tetapi ketika aku membuka mata lagi, aku kembali ke pesta itu, beberapa saat sebelum dia akan memberikan hadiahku kepada orang lain.

Kali ini, aku tahu yang sebenarnya. Dan aku tahu aku tidak akan memilihnya.

Bab 1

Sudut Pandang Alya Wijaya:

Perjanjian itu, ditandatangani dengan tinta dan disegel oleh kematian Ayahku, terasa lebih seperti sebuah hukuman daripada janji. Perjanjian itu menentukan bahwa pada ulang tahunku yang kedua puluh dua, aku akan menikahi seorang Adhitama, dan dengan begitu, menobatkan CEO Adhitama Group berikutnya.

Aku baru saja meninggalkan ruang kerja Ferdinand Adhitama, pintu kayu ek yang berat berbunyi klik di belakangku, beban kata-katanya terasa menekan pundakku. Udara di lorong megah itu terasa pekat dengan aroma kekayaan lama dan keangkuhan.

Saat aku berbelok, aku langsung menabrak satu orang yang paling kuharap bisa kuhindari. Bima Adhitama. Dan dia tidak sendirian. Sekelompok sepupu dan kerabatnya yang lebih muda mengelilinginya, menertawakan sesuatu yang baru saja dia katakan.

Mereka melihatku dan tawa itu mereda. Kelompok itu terbelah seperti Laut Merah, meninggalkan Bima berdiri di sana, gambaran sempurna dari kesombongan dalam setelan jas yang dibuat khusus.

"Wah, lihat siapa yang datang," cibir salah satu sepupu, seorang gadis berwajah tajam bernama Zahra.

Temannya terkikik. "Masih ngejar-ngejar Bima, Alya? Nggak capek?"

"Heran, dia masih berani nunjukkin muka," gumam yang lain, cukup keras untuk kudengar. "Setelah semua drama yang dia buat."

Mereka selalu mengungkit nama Ayahku, sang salah satu pendiri legendaris, seolah-olah arwahnya adalah perisai yang bisa mereka gunakan untuk mempermalukanku.

"Ayahnya bisa bangkit dari kubur kalau lihat kelakuannya," kata Zahra, suaranya meneteskan iba yang palsu. "Putus asa sekali. Benar-benar mencoreng nama baik keluarga Wijaya."

Selama itu, Bima hanya memperhatikanku, mata birunya sedingin dan sekeras langit musim dingin. Dia membiarkan kata-kata mereka menggantung di udara, masing-masing seperti batu kecil tajam yang dilemparkan ke arahku. Di kehidupanku yang lalu, kata-kata mereka akan menjadi belati. Sekarang, itu semua hanyalah kebisingan.

"Ngapain kamu di sini, Alya?" Suara Bima memotong bisikan itu, tajam dan tidak sabar.

Dia maju selangkah, tatapannya menyapu tubuhku dengan jijik.

"Biar kutebak," katanya, senyum kejam bermain di bibirnya. "Kamu habis dari ruangan Ayahku, kan? Mencoba membuat beliau memihakmu."

Dia menunjuk samar ke arah ruang kerja. "Tahu tidak, cerita 'putri dari rekan yang sudah tiada' ini sudah basi. Kamu sudah memanfaatkannya sampai kering."

Kata-katanya dimaksudkan untuk menyengat, untuk membuatku merasa kecil dan menyedihkan. Dia pikir dia sedang merenggut harga diriku.

"Kamu sudah memainkan permainan ini selama bertahun-tahun," lanjutnya, suaranya rendah dan mengancam. "Tapi ini sudah berakhir. Kamu sudah mempermalukanku, kamu sudah mempermalukan dirimu sendiri."

Dia melihat sekeliling ke arah penontonnya, para kerabat yang tersenyum sinis. "Semua orang di Jakarta membicarakan kita. Tentang bagaimana kamu tidak mau melepaskanku. Aku mulai berpikir dua kali tentang seluruh pernikahan ini."

Dia mencondongkan tubuh lebih dekat, aroma parfumnya menyeruak ke ruang pribadiku. "Dan biar jelas, lari ke Ayahku tidak akan mengubah pikiranku. Tidak ada yang bisa kamu lakukan."

Matanya, yang dipenuhi dengan penghinaan yang kukenal, menatap mataku. Itu adalah tatapan yang sama yang dia berikan padaku ribuan kali dalam pernikahan kami yang menyedihkan, tatapan yang mendahului setiap pengkhianatan, setiap kebohongan. Itu adalah tatapan yang memberitahuku bahwa aku bukan apa-apa baginya.

Aku teringat cinta tak terbalas dari kehidupanku yang lalu, cinta yang begitu buta hingga membawaku pada kematian. Kenangan itu menjadi simpul dingin di perutku.

Aku menarik napas perlahan, dengan sengaja, menenangkan diri. Alya yang dia ingat pasti sudah hancur. Dia akan memohon, matanya berlinang air mata.

Tapi Alya yang itu sudah mati.

"Kamu salah, Bima," kataku, suaraku terdengar sangat tenang dan datar.

Aku balas menatapnya tanpa gentar.

"Aku tidak mencoba membuat Pak Ferdinand memihakku. Beliau yang mengundangku."

Aku membiarkan kata-kata itu meresap sejenak sebelum memberikan pukulan terakhir.

"Beliau mengadakan pesta untuk ulang tahunku yang kedua puluh dua. Di sini. Di kediaman Adhitama."

Keheningan yang menyusul benar-benar mutlak. Senyum sinis di wajah para sepupunya membeku, digantikan oleh rahang yang ternganga tak percaya.

"Pesta?" Zahra tergagap. "Di sini? Pak Ferdinand yang jadi tuan rumah?"

Mereka tidak bisa mempercayainya, dan aku mengerti mengapa. Ferdinand Adhitama adalah seorang pertapa. Dia tidak pernah secara pribadi terlibat dalam urusan sosial keluarga selama bertahun-tahun, tidak sejak istrinya meninggal. Kehadirannya hanya untuk ruang rapat dan eselon tertinggi dunia korporat.

Baginya untuk menjadi tuan rumah pesta ulang tahun lebih dari sekadar isyarat. Itu adalah sebuah pernyataan.

Itu adalah sinyal bahwa perjanjian yang dibuat Ayahku dengannya akan segera terwujud. Janji bahwa pada ulang tahunku yang kedua puluh dua, aku akan memilih salah satu putranya untuk menjadi suamiku. Pilihanku tidak hanya akan menentukan masa depanku, tetapi juga siapa yang akan mewarisi saham pengendali Adhitama Group dan menjadi CEO barunya.

Taruhannya sangat besar.

Senyum mengejek perlahan tersungging di wajah Zahra saat dia menoleh ke Bima.

"Wah, wah," desahnya, "selamat ya, sepupu."

Yang lain ikut menimpali, nada mereka manis penuh kekaguman palsu. "Sepertinya kamu akan segera jadi bos besar, Bima."

"Akhirnya dia berhasil mendapatkanmu."

Ekspresi Bima berubah dari kebingungan menjadi keyakinan sombong. Dia menatapku, kilatan kemenangan di matanya, seolah-olah aku baru saja menyerahkan mahkota kepadanya.

"Selamat, Alya," katanya, suaranya diwarnai kemenangan yang merendahkan. "Akhirnya kamu dapat juga yang selalu kamu inginkan."

Dia melangkah lebih dekat, tatapan arogannya menyapu tubuhku. Dia merendahkan suaranya menjadi bisikan, yang hanya ditujukan untukku.

"Tapi jangan pikir ini mengubah apa pun," desisnya. "Aku harap kamu tidak membuat kesalahan yang sama seperti yang kamu lakukan terakhir kali."

Penyebutan "terakhir kali" membuatku merinding. Apakah dia juga ingat?

"Kalau kita akan menikah," lanjutnya, nadanya berubah menjadi daftar tuntutan, "ada syaratnya. Kita akan tinggal di sayap rumah yang terpisah. Kamu tidak akan ikut campur dalam urusan pribadiku. Dan kamu tidak akan mempertanyakan ke mana aku pergi atau dengan siapa aku bersama. Itu syarat dariku. Terima atau tinggalkan."

Aku begitu terkejut dengan kelancangannya, dengan gema kehidupan masa lalu kami dalam kata-katanya, sehingga aku hampir tidak mendengar suara lembut yang memanggil namanya.

"Bima?"

Seorang wanita muda melangkah ke lorong. Itu Jelita Thompson, saudara tiriku. Dia mengenakan gaun putih sederhana yang membuatnya terlihat polos dan rapuh, rambut panjangnya tergerai bergelombang lembut di bahunya. Dia memegangi lengannya, ekspresi kesakitan di wajahnya.

Sikap Bima berubah dalam sekejap. Pria dingin dan penuh perhitungan yang baru saja memberikan ultimatum itu lenyap, digantikan oleh seorang kekasih yang khawatir.

"Jelita? Kenapa kamu bangun dari tempat tidur? Kamu kan sedang tidak enak badan." Dia bergegas ke sisinya, suaranya diwarnai kelembutan yang belum pernah dia tunjukkan padaku sekali pun.

"Maaf," bisiknya, bersandar lemah padanya. "Ayahku memaksa aku datang. Katanya... katanya aku harus ada di sini."

Dia meraih tangannya, sentuhannya lembut. "Tidak apa-apa. Kamu sudah di sini sekarang."

Kemudian, tatapannya beralih kembali padaku, dan dingin itu kembali, lebih tajam dari sebelumnya.

"Lihat dirimu," cibirnya, matanya penuh dengan rasa jijik. "Kamu sehat walafiat, tapi masih butuh rombongan. Jelita sedang demam, dan dia bisa sampai di sini sendirian."

Dia merangkulnya dengan protektif, menariknya menjauh seolah-olah aku adalah penyakit menular.

Saat mereka berjalan menyusuri lorong, dia melirik ke belakang.

"Jangan lupa apa yang kukatakan, Alya," dia memperingatkan, suaranya ancaman rendah. "Jaga sikapmu. Kalau kamu terus bersikap seperti ini, aku tidak akan menikahimu."

Tawa, sunyi dan pahit, naik di tenggorokanku.

Oh, Bima.

Kalau saja kamu tahu betapa aku menginginkan hal itu terjadi.

---

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO Dingin Pemikat Hati
9.2
Shintia berjuang memulai hidup baru pasca putus dari Arya. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali saat Arya muncul sebagai CEO di kantornya. Meski cinta Shintia bersemi lagi, Arya justru menyimpan kebencian mendalam dan sering bersikap kasar. Keadaan kian rumit akibat kesalahpahaman masa lalu dan skandal Shintia dengan Felix yang memicu kemarahan Arya. Mampukah Shintia meluluhkan hati Arya dengan mengungkap alasan tragis perpisahan mereka dua tahun lalu?
Sampul Novel Di Jodohkan Dengan Om Galak
8.2
Nessa, mahasiswi cantik berkepribadian bebas, terpaksa menerima perjodohan dengan Arga, CEO dingin yang pernah ia temui dalam situasi buruk. Meski Arga masih dibayangi masa lalu, keduanya sepakat menjalani pernikahan kontrak selama setahun tanpa sepengetahuan orang tua. Namun, dinamika di antara mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu. Akankah cinta tumbuh di tengah rahasia ini, ataukah kembalinya masa lalu Arga akan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Fallin Love With Jerk Billionaire
7.8
Thania Moran, gadis kaya yang naif dan ceria, mendapati hidup sempurnanya berubah saat bertemu Zachary Devon. Zach adalah pengusaha muda sukses di Amerika yang berhati dingin dan memandang rendah wanita. Meski awalnya saling benci, Thania jatuh hati pada sosok berbahaya itu. Ketegangan memuncak ketika Thania dijodohkan oleh orang tuanya dengan cinta pertamanya sendiri. Di sisi lain, pesona tulus Thania berhasil menaklukkan Zach yang selama ini dikenal sebagai playboy angkuh.
Sampul Novel Gadis buta Milik CEO
8.8
Dunia Laras mendadak gelap setelah insiden tragis merenggut penglihatannya. Mantan mahasiswi ceria ini kini hidup menderita akibat perundungan penggemar fanatik Damar, CEO yang dulu ia cintai. Damar sempat menjauh demi kebaikan Laras, namun keputusannya justru berujung kehancuran bagi sang gadis. Kini, Damar kembali dengan penyesalan mendalam. Ia bertekad menebus kesalahan masa lalu dan berharap Laras mampu melihat ketulusan hatinya di balik kegelapan abadi.
Sampul Novel HOLD ME
9.6
Alice, siswi berprestasi berusia delapan belas tahun, bermimpi menjadi desainer ternama. Namun, dunianya runtuh saat orang tuanya tiada dan Martin, kakaknya sendiri, menjualnya kepada Devan Adipati Gumilang. Devan adalah pemuda kaya raya yang dominan dan dikenal sangat brengsek di Jakarta. Kini, Alice terjebak sebagai pemuas nafsu bagi Devan yang memperlakukannya bak mainan. Mampukah ia meloloskan diri dari cengkeraman pria tampan yang berhati iblis tersebut?
Sampul Novel Jodoh Wasiat Nenek
9.4
Persahabatan masa kecil Jingga dan Davin berujung pada pernikahan karena wasiat nenek mereka. Sayangnya, Davin tak punya rasa cinta dan memilih mengejar karier di luar negeri. Saat kembali, ia membawa wanita lain dan menuntut cerai. Jingga yang terluka akhirnya setuju untuk berpisah. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Namun, Jingga kini membawa seorang anak kecil yang wajahnya sangat mirip Davin. Siapakah sebenarnya identitas bocah itu?