APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel LELAKI "LAIN" SELAIN SUAMIKU

LELAKI "LAIN" SELAIN SUAMIKU

Perselingkuhan suami mungkin terdengar lumrah, namun apa jadinya jika pengkhianatan itu melibatkan dua kepribadian yang berbeda? Sosok Mas Puji kini tampak terbagi menjadi dua identitas yang identik namun berlawanan. Di tengah kebingungan yang melanda, sang istri harus mencari tahu mana sosok suami yang asli dan mana yang palsu. Misteri ini menyelimuti rumah tangga mereka, menciptakan teka-teki rumit tentang siapa sebenarnya pria yang ia nikahi selama ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sakit rasanya tamparan punggung tangan yang terasa meremukkan tulang wajah. Jika saja ada cermin di hadapan, pastilah memantulkan lukisan wajah merona merah.

Perih memang, tapi perlakuannya yang termasuk ke dalam golongan KDRT itu, secara fisik tak seberapa. Tapi perlakuan itu menorehkan luka teramat dalam di sudut hati.

Rupanya lelaki yang telah menghalalkanku puluhan tahun lampau itu, belum meredakan amarahnya. Ia menarik pundakku dan menghempaskan kuat.

Tubuhku jatuh terjengkang. Pada saat itulah ia bergegas membuka pintu. Keluar dan membantingnya keras yang dapat didengar tetangga radius sepuluh meter.

Ia pergi tanpa memperdulikanku. Seketika air mata merembes, luruh membasahi pipi. Perih rasa hati bagai teriris sembilu dan tersiram air garam. Sampai hati mas Puji menjelmakan kekasaran yang baru pertama kualami sejak hampir lebih dua puluh tahun hidup bahagia mendampingi.

Aku marah, aku meradang. Tapi hanya bisa aku pendam dalam hati yang sudah mengangakan luka. Ingin mendinginkan suasana hati. Jika sudah seperti ini, maka kembali ke orang tua adalah langkah bijak untuk mengobati luka hati.

Malu rasanya mengeluh-kesahkan persoalan rumah tangga kepada orang tua. Belumlah dapat membalas jerih-payahnya dalam mengasuh sejak kecil, begitu ada masalah, mereka lagi yang juga pusing mencari upaya agar anak-anaknya bisa menikmati kehidupan yang lebih baik.

Kemana lagi mencurahkan resah hati kalau bukan kepada ibu. Orang tua itu senantiasa membukakan pintu rumahnya, siap menampung keluh-kesah anak dan mencarikan solusi bijaknya.

Tak ada orang lain, sahabat memang banyak dan saudaraku pun ada. Tapi untuk membicarakan masalah konplik rumah tanggaku kepada mereka, rasanya aku belum bisa.

Hanya ibu satu-satunya orang yang kupercaya bisa menampung dan memberikan solusi atas permasalahan yang kuhadapi.

Paling tidak, ada orang lain yang menjadi teman curhat agar permasalahan ini tidak kutanggung sendiri, sebab kalau tidak, bisa saja pikiran logisku kalah dan berujung pada penghakiman diri secara sadis.

Sampai di rumah ibu, hatiku merasa sedikit tenang. Namun gejolak hati tak mampu sepenuhnya kusembunyikan. Hal itu kusadari dari tatapan ibu yang sedikit curiga padaku.

" Ada masalah lagi dengan Puji?" Tanya ibu seperti sudah memahami persoalanku.

Aku hanya menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.

" Ada makanan apa, Bu? Aku laper!" Rengekku tanpa mempedulikan pertanyaan ibu.

Aku pura-pura tidak dengar. Tanpa menunggu jawaban ibu, aku melengos ke dapur. Mencari makanan dengan harapan bisa menenangkan gemuruh hati sejenak. Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Kubawa piring berisi nasi, sayur dan lauk kucampur jadi satu, di ruang tengah di mana ibu sedang sibuk menjahit. Aku selalu berselera menyantap masakan ibu. Bagiku, makanan terenak di dunia, adalah makanan yang diolah dan dimasak oleh ibu.

Terasa nikmat mencicipi hasil racikan perempuan tua yang telah melahirkanku itu. Tapi kali ini terasa beda. Tak sesuap pun yang bisa meniti tenggorokanku. Piring berisi nasi itu lantas kutaruh di atas meja makan ruang tengah.

Teringat kembali perlakuan mas Puji yang tega menamparku. Seketika pelupuk mataku memanas. Bulir-bulir air bening yang sejak tadi coba kutahan, akhirnya tumpah juga.

Buru-buru kuhapus buliran bening yang luruh di pipiku itu. Segera masuk ke bekas kamarku dulu, semasa aku masih gadis. Kukunci pintu dari dalam. Kutumpahkan air mataku di atas pembaringan.

Dengan menangis sedikit melegakan hati. Andalan kaum Hawa jika menghadapi permasalahan berat dalam hidupnya, adalah menangis.

Mungkin karena sudah terlalu lama tidak pernah menangis lagi, sehingga begitu tiba masanya melakoni senjata perempuan itu, rasanya sulit berhenti.

" Tok..tok..tok..!"

Buru-buru kuseka air mata yang meleleh. Ibu mengetuk pintu kamar dan memanggil-manggil namaku.

" Ratih..Ratih, buka pintunya!"

Segera kubukakan pintu dan wajah pun nongol penuh selidik. Aku berusaha untuk tersenyum, tapi justru terlihat aneh lantaran kurasakan pelupuk mata yang mulai menebal, membengkak. Ibu langsung masuk dan duduk di pinggir ranjang, akupun duduk di sisinya.

" Kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri. Kan ibu masih hidup. Barangkali saja ibu punya solusi atas permasalahanmu, atau paling tidak, dengan membaginya, perasaanmu akan sedikit lega."

Suara ibu begitu lembut. Tak bisa lagi kusembunyikan kesedihan yang mendera batin. Tak mampu lagi menyembunyikan tangis yang coba menyeruak lagi.

" Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Bermasalah dengan Puji, kan?" tegur ibu lembut.

Begitu damai mendengar kata-kata ibu, meski aku sudah tidak muda lagi, sudah punya anak yang berusia belasan tahun, tapi di hadapan ibu, aku seperti balita yang merengek lalu mendapatkan kedamaian saat tangan ibu membelai rambutku.

Kuseka air mata dengan ujung gamis, sebelum mengangguk mengiyakan tebakan ibu atas permasalahanku.

" Selama ini jika kuperhatikan, suamimu itu adalah seorang lelaki yang baik, bertanggungjawab dan sayang pada istri dan anaknya."

Aku tersenyum getir mendengar kata-kata ibu yang memuji Mas Puji. Memang benar apa yang dikatakan itu tentang suamiku. Tapi itu beberapa tahun yang lalu. Sekarang ini ia sudah berubah 180°.

Bahkan perubahan itu nyaris tak kukenali. Tidak percaya jika saja bukan aku sendiri yang mengalaminya secara langsung. Ia menghilang beberapa hari, setelah kembali, malah ringan tangan tega menggunakan tangan kekarnya untuk menyakiti tubuhku.

" Apa? Puji menamparmu?"

Ibu terlihat gusar saat mengetahui menantu kesayangannya itu sebagai pelaku KDRT dalam rumah tangga anaknya.

" Tidak masuk akal!" kata ibu menyambung kalimatnya sendiri.

" Ratih tidak bohong, Bu. Tidak ada gunanya berbohong. Memang benar seperti yang kukatakan itu," jawabku meyakinkan.

 Terlihat ibu menarik nafas berat.

" Ya, kau benar Ratih. Setiap orang bisa saja berubah mendadak setiap saat. Boleh jadi, dulu baik. Tapi karena suatu dan alasan yang menurutnya tepat, ia berubah jadi jelek, setidaknya dalam pandangan kita."

Aku masih terisak menahan perih di dada.

" Sayangnya, kau belum tahu apapun alasan tentang mengapa Puji bertindak kasar padamu," kata ibu melanjutkan kalimat seperti masih ada nada pembelaan untuk menantunya.

" Aku tidak tahu bagaimana cara mengetahui alasannya bertindak kasar. Karena dia tidak mau menjawab pertanyaanku. Kejadian itu begitu cepat."

" Ya, sudahlah. Karena memang kita belum tahu alasannya. Bersabar saja, mungkin beberapa hari ke depan permasalahannya akan nampak jelas."

Ibu mengakhiri kalimatnya dan keluar kamar meninggalkan diriku yang masih terkulai lemah. Aku harus introspeksi diri. Kira-kira apa yang aku lakukan.

Kesalahan besar apa yang pernah kulakukan di masa lalu hingga Mas Puji bereaksi keras padaku. Atau ada persoalan berkenaan dengan urusan pekerjaannya yang sulit ia tangani, hingga ia pusing dan mudah marah, termasuk ringan tangan memukulku?

Apakah itu dibenarkan persoalan kantor yang tak bisa dipecahkan, lantas dilampiaskan dalam bentuk kekerasan verbal maupun kekerasan fisik terhadap anggota keluarga di rumah? Ah, aku tidak percaya.

Aku lebih yakin pada perkiraanku sendiri, bahwa Mas Puji berusaha menyembunyikan sesuatu dariku. Dan itu pasti urusan perempuan. Mas Puji selingkuh?

Mengingat kalimat ini, hatiku berdesir kencang. Degup jantungku berpacu sangat cepat, sampai nafasku tersengal-sengal. Ya, Allah ya Rabbi, tolonglah hamba-Mu yang lemah ini.

                             BERSAMBUNG

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Di Pemberhentian Terakhir
9.4
Rana adalah mahasiswi yatim piatu yang berjuang kuliah melalui jalur beasiswa. Kesehariannya hanya terbagi antara belajar dan bekerja hingga ia bertemu Reva, sahabat pertamanya. Namun, ketenangan hidupnya mulai terusik saat Reno muncul dan sosok dari masa lalu kembali hadir. Hubungan mereka kian rumit ketika Dito masuk ke dalam lingkaran pertemanan tersebut. Kini, Rana harus menghadapi konflik perasaan yang melibatkan keempat orang terdekatnya itu.
Sampul Novel Dilema Cinta Penuh Nikmat
9.8
Endah melepaskan segalanya demi momen intim bersama Aslan, pria yang ia puja. Meski berstatus calon istri orang lain, ia memilih menyerahkan diri pada hasrat yang meluap. Di dalam kamar, cumbuan intens Aslan membawanya pada puncak kenikmatan yang tak tertahankan. Meski Endah minim pengalaman, gairahnya tetap membara saat menyentuh kejantanan Aslan. Di tengah rintihan dan rasa sakit yang muncul, ia tetap pasrah mengikuti ritual cinta ini demi menuntaskan dahaganya.
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Boneka di Hadapan Istri Palsu
9.5
Sakti nekat menikahi Anjani, gadis yatim piatu, meski ditentang keluarganya. Namun, ia terpaksa menjalani pernikahan kedua dengan Mala demi mendapatkan donor jantung bagi kakeknya. Di bawah ancaman sang ayah yang mengincar keselamatan Anjani, Sakti terjebak dalam poligami rahasia. Setahun berselang, kebohongan ini terungkap oleh Anjani. Kini, Sakti harus menghadapi kehancuran rumah tangganya di tengah konflik status sosial dan pengkhianatan yang menyakitkan.
Sampul Novel Istri Cadangan
9.8
Nadia hancur saat memergoki suaminya, Reza, bermesraan dengan Karina di kamar tamu rumah mereka sendiri. Alih-alih menyesal, Karina dengan angkuh mengklaim cinta Reza, sementara Reza justru meminta izin untuk menikahinya. Meski dikhianati secara keji, Nadia menolak untuk hancur dan menyerah. Dengan tekad yang membara, ia bangkit menghadapi penghinaan itu dan bersumpah akan membalas rasa sakit hati serta pengkhianatan mereka dengan tuntas.
Sampul Novel Ketika Dunia Hancur, Ia Memilih Wanita Lain
8.9
Dunia Calla hancur saat putrinya kritis di ICU. Di tengah kesendiriannya menggenggam tangan si kecil yang kian dingin, suaminya, Ares, justru menghilang. Ares lebih memilih menjemput cinta pertamanya, Lyanna, yang baru kembali. Saat napas sang buah hati berakhir, Calla meratap dalam sunyi sementara Ares asyik berpesta dan berdansa memeluk Lyanna. Tanpa sadar, kebahagiaan semu itu harus dibayar mahal dengan kehilangan keluarga dan kepercayaan Calla selamanya.
Sampul Novel Pembantu Kaya Tuan Tampan
8.1
Glenn murka karena Lala gagal menyajikan kopi dan justru memaksanya meminum segelas susu hangat. Meski awalnya menolak karena merasa bukan bayi, sang tuan tampan tak berdaya saat pembantunya itu bersikap tegas mengikuti instruksi Bi Narti. Kejadian konyol ini menjadi awal perubahan sikap Glenn yang dikenal sombong. Akankah ketegasan Lala mampu meluluhkan hati majikannya? Ikuti kisah unik hubungan mereka dalam novel romansa yang penuh warna ini.